Gerbang Nasional

PERTANIAN ORGANIK, PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN

Rabu, 01 Des 2021
Sumber Gambar : agroeduwisata mulyaraharja

[JAKARTA] Pertanian organik merupakan salah satu dari sekian banyak cara yang dapat mendukung pelestarian lingkungan. Sistem produksi pertanian organik didasarkan pada standar produksi yang spesifik dan teliti dengan tujuan untuk menciptakan agroekosistem yang optimal dan lestari berkelanjutan baik secara sosial, ekologi maupun ekonomi dan etika. Persyaratan untuk pangan yang diproduksi secara organik berbeda dengan produk pertanian lain, di mana prosedur produksinya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari identifikasi dan pelabelan, serta pengakuan dari produk organik tersebut.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian pada agenda kegiatan Ngobrol Asyik (Ngobras) volume 33 bertemakan pertanian organik pertanian ramah lingkungan, dilaksanakan pada hari Selasa (30/11/2021) mengatakan bahwa ketahanan pangan saja belum cukup. Sekarang muncul konsep keamanan pangan, artinya pangan yang kita konsumsi harus betul-betul aman. Pangan tidak boleh tercemar oleh bahan-bahan agrokimia yang dapat mencemari tubuh kita.

“Pendampingan diperlukan kepada penyuluh dan petani bagaimana caranya membuat pupuk organik, kompos dan pestisida nabati. Selain menghimbau untuk menggunakan bahan bahan organik, kita juga mengarahkan apa saja pengganti dari bahan kimia tersebut”.jelas Dedi.

Petani diarahkan untuk beralih dengan menggunakan pupuk organik, tidak bergantung kepada pupuk kimia bersubsidi. Selain itu juga menggunakan pestisida nabati.

Narasumber Ngobras Imam Hanafi, penyuluh pertanian Kota Bogor menceritakan latar belakang berkembangnya pertanian organik di Kota Bogor awal mulanya melihat sumberdaya alam, ada lahan sawah ada 23 Ha yang masih konvensional pola tanamnya. Biasanya ada pertemuan setiap bulannya, dan dari situlah mulai mengenalkan cara tanam yang awalnya tidak beraturan menjadi lebih serempak. Lalu selanjutnya memperkenalkan pertanian yang organik. 

“Tantangan yang dihadapi dalam pertanian organik cukup banyak, dari segi sumberdaya manusia maupun sumberdaya alam. Dari sisi sumberdaya manusia yaitu kebiasaan petani. Memang sulit mengubah kebiasaan petani, namun dalam suatu komunitas pasti ada 1 (satu) orang ketua yang dapat mengubah kebiasaan petani tersebut”.jelas Imam.

Ketua Poktan Lemah Duhur, Muhammad Aneng yang hadir mendampingi Imam Hanafi mengatakan bahwa saat ini telah beralih dari pertanian non organik ke pertanian organik.

“Penggunaan pupuk organik menyelamatkan alam dan tanaman lebih sehat” ujar Muhammad Aneng.

Sebagai informasi pertanian organik di Kota Bogor saat ini sudah memiliki sertifikat dari LSO dan setiap awal tahun disurati untuk mengingatkan sertifikasi ulang. Berkas yang harus disiapkan ada 14 item, diantaranya peta lokasi, peta lahan, sejarah tata guna lahan. hvy

PENGUNJUNG

50907

HARI INI

73870

KEMARIN

50756539

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook