Gerbang Nasional

LEAN FARMING BUDIDAYA BAWANG MERAH BERBASIS KAWASAN PERDESAAN BERORIENTASI AGRIBISNIS

Rabu, 17 Nov 2021
Sumber Gambar : https://distan.lomboktimurkab.go.id/

[ JAKARTA ] Konsep pengembangan pertanian saat ini banyak dikembangkan yaitu konsep pertanian cerdas. Petani dituntut untuk berpikir secara inovatif dan kritis karena society 5.0 menawarkan masyarakat yang berpusat pada manusia yang membuat seimbang antara kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial. Salah satu contoh pertanian cerdas adalah Smart Green House, Smart Irrigation System.

Salah satu penerapan teknologi pertanian untuk komoditas bawang merah diagendakan pada kegiatan Ngobrol Asyik (Ngobras) Penyuluhan volume 31 dengan tema Lean Farming Budidaya Bawang Merah Berbasis Kawasan Perdesaan Berorientasi Agribisnis yang dilaksanakan pada hari selasa (16/11/2021) yang dilaksanakan di AOR BPPSDMP secara virtual.

 Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nuryamsi yang memberikan arahan pada kegiatan tersebut mengatakan daya saing merupakan hal penting dalam pertanian karena sering dijadikan permasalahan. Di Indonesia, produk perkebunan merupakan produk yang efisien karena komoditas tropis dan tumbuh baik dan sesuai di daerah tropis. Suhu, tanah dan kelembaban sudah sesuai dengan kondisi lingkungan sehingga produksinya lebih efisien.

“Yang harus dibangun adalah keunggulan kompetitif yang bisa ditangulangi dengan efisiensi produksi. Produksi tidak boleh boros. Contohnya kedelai di Indonesia kurang efisien”. Dedi.

Lebih lanjut Dedi menjelaskan bahwa biaya produksi kedelai cukup tinggi sehingga harga di pasar pun perlu harga yang tinggi. Otomatis daya saing dengan produk impor cukup tinggi karena harga kedelai impor lebih murah daripada biaya produksi kedelai di Indonesia.

Susanto, Duta Petani Andalan Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur selaku narasumber Ngobras menjelaskan pada paparannya Lean farming merupakan metode perbaikan terus menerus untuk menghilangkan pemborosan.

Jadi Belum dilakukan proses pengaturan produksi karena belum terbentuk kelembagaan ekonomi petani bawang merah yang berbasis korporasi. Jika terbentuk korporasi maka akan menjadi mandiri benih, kemudahan akses modal, alsintan, pengeringan, penjualan, memiliki gudang pengering dan akhirnya bisa ekspor bawang merah.

“langkah-langkah menuju lean farming, meliputi Perbaikan produksi, Memberikan nilai tambah, Memiliki peta/mapping, Mengatur material/produksi berkelanjutan, dan Mengilangkan semua pemborosan”. jelas Susanto.

Pemetaan daerah Kabuoaten Nganjuk memiliki target 67 ha namun baru terlaksana 4,5 ha di dusun grendul, klagen rejoso kab nganjuk. Saat ini masih belum diujikan lab dan menggunakan benih tajuk.

Memberi nilai tambah bagi petani dapat dilakukan dengan cara pengurangan pembelian pestisida. Dengan mengurangi pestisida, hasil dapat meningkat dari 17 menjadi 18 ton/ha. Selain itu juga bisa hemat tenaga dan pikiran serta bisa panen bawang merah juga ikan.

Saat ini belum dilakukan proses pengaturan produksi karena belum terbentuk kelembagaan ekonomi petani bawang merah yang berbasis korporasi.

 “Jika terbentuk korporasi maka akan menjadi mandiri benih, kemudahan akses modal, alsintan, pengeringan, penjualan, memiliki gudang pengering dan akhirnya bisa ekspor bawang merah”. tutup Susanto.hvy

PENGUNJUNG

58085

HARI INI

73870

KEMARIN

50763717

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook