Diseminasi Teknologi

PENGANTAR GOOD AGRICULTURE PRACTICES (GAP) TANAMAN PANGAN

Kamis, 28 Okt 2021
Sumber Gambar : Koleksi pribadi Sugito, SP

PENDAHULUAN

 Pengembangan sektor pertanian khususnya sub sektor Tanaman Pangan merupakan salah satu strategi kunci dalam memacu pertumbuhan ekonomi di Indonesia, karena selain berperan sebagai sumber penghasil devisa yang besar, juga merupakan sumber kehidupan bagi sebagian besar penduduk Indonesia.

Untuk sub sektor Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian telah mencanangkan swasembada padi dan jagung berkelanjutan serta pencapaian swasembada kedelai. Target pencapaian produksi tahun 2015 padi sebesar 73,40 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) dengan pertumbuhan 2,21%, jagung sebesar 20,31 juta ton Pipilan Kering (PK) dengan pertumbuhan 5,57% dan kedelai sebesar 1,50 juta ton Biji Kering (BK) dengan pertumbuhan 60,81%.

Dalam rangka pencapaian target produksi padi, jagung, dan kedelai, salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengintegrasikan dukungan kegiatan antar sub sektor lingkup pertanian dan lintas sektor serta antar wilayah.

Kegiatan budidaya tanaman, panen, penanganan pascapanen dan pengolahan hasil padi, jagung dan kedelai merupakan tahapan yang penting dalam pencapaian peningkatan produksi pertanian. Seluruh tahapan ini akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas produk. Untuk itu diperlukan budidaya pertanian yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP), penanganan pascapanen yang baik atau Good Handling Practices (GHP) dan pengolahan hasil yang baik atau Good Manufacturing Practices (GMP).

Standar Operasional Prosedur (SOP)

Pengertian SOP

SOP (Standar Operasional Prosedur) yaitu merupakan pedoman tertulis yang dibuat untuk dilaksanakan secara bersama untuk mendukung atau mendorong tercapainya tujuan organisasi. SOP juga merupakan tata cara atau tahapan yang dibakukan yang harus dilalui untuk menyelesaiakan suatu proses kerja tertentu.

Tujuan SOP

Tujuan dari pembuatan SOP adalah untuk memudahkan petani dalam melaksanakan semua prosedur yang ada seperti;

  • Agar petani menjaga konsistensi dan tingkat kerja
  • Agar mengetahui dengan jelas peran dan fungsi tiap-tiap posisi dalam organisasi
  • Memperjelas alur tugas, wewenang dan tanggung jawab  dari petani terkait
  • Melindungi organisasi/unit kerja dari kesalahan administrasi
  • Untuk menghindari kegagalan/kesalahan, keraguan, duplikasi dan efisiensi

Fungsi SOP

Beberapa fungsi SOP adalah:

  • Memperlancar tugas petani/unit kerja
  • Sebagai dasar hukum bila terjadi penyimpangan
  • Mengetahui dengan jelas hambatan-hambatannya dan mudah dilacak
  • Mengarahkan petani/unit kerja untuk sama-sama disiplin dalam bekerja
  • Sebagai pedoman dalam melaksanakan pekerjaan rutin

Waktu Pelaksanaan SOP

SOP dibuat atau harus ada sebelum suatu pekerjaan dilakukan dan digunakan untuk menilai apakah pekerjaan itu sudah dilakukan dengan baik atu tidak.

Keuntungan adanya SOP

Dengan adanya SOP maka suatu proses pekerjaan akan diuntungkan, karena dapat menjadi pedoman, alat komunikasi dan pengawasan serta menjadikan pekerjaan diselesaikan secara konsisten. Di samping itu para petani/ unit kerja akan lebih memiliki percaya diri dalam bekerja dan tahu apa yang harus dicapai

 Pengertian GAP dan GHP

GAP (Good Agriculture Practise) adalah merupakan cara budidaya tanaman pertanian yang baik / benar dengan memperhatikan pedoman atau petunjuk teknis dan ramah lingkungan

GHP (Good handling Practise) adalah merupakan usaha pengamanan hasil produksi dan  mutu melalui penanganan kegiatan pasca panen

 Tujuan Penerapan GAP dan GHP

Tujuan dari penerapan GAP dan GHP adalah untuk menghasilkan produk tanaman pagan dengan produktivitas tinggi, mutu produk baik, aman dikonsumsi, mempunyai daya saing dan ramah lingkungan

Prinsip Penerapan GAP dan GHP

Pembuatan GAP dan GHP mempunyai prinsip-prinsip penerapan yaitu:

  • Bersifat umum dan tidak spesifik komoditas
  • Merupakan proses pembelajaran bagi petani dan pelaku usaha
  • Dinamis sesuai dengan perkembangan teknologi

 

Srategi Penerapan GAP dan GHP 

1. Sosialisasi GAP dan GHP

    Sosialisasi sangat penting dilakukan, karena untuk mengenalkan pengertian, tujuan dan prinsip dari GAP dan GHP itu sendiri

2. Koordinasi dengan antar instansi

    Koordinasi dilakukan antar instansi, supaya tidak terjadi tumpang tindaih dalam mengambil kebijakan dan jug untuk memperlancar palaksanaan di lapangan.

3. Penyusunan, penyempurnaan dan perbanyakan SOP

    Segera dilakukan penyusunan, penyempurnaan dan perbanyak SOP

4. Penerapan GAP budidaya

     Setelah dilakukan penyusunan dan penyempurnaan maka GAP budidaya suatu komoditas segara diterapkan dilapangan

5. Penerapan Sistem pencatatan

Untuk dilakukan system pencatatan yang tertib, supaya setiap kegiatan pekerjaan akan mudah mengontrol atau mengevaluasi

6. Identifikasi kebun

Setiap kebun yang akan dijadikan tempat usaha budidaya supaya dilakukan identifikasi

7.Pemberian Penghargaan produk

Diberikan penghargaan kepada suatu produk yang telah melaksanakan SOP dari GAP dan GHP

8.Labelisasi

Pemberian labelisasi pada setiap produk yang telah lulus uji, untuk menguatkan bahwa produk tersebut sudah melalui proses standarisai operasiona dan cara budidaya yang baik.

 Ruang Lingkup GAP dan GHP

Ruang lingkup dalam penerapan GAP atau GHP ditandai dengan Tiga titik Kendali yaitu :Wajib, Sangat dianjurkan dan Anjuran, meliputi: Lahan, Penggunaan Benih dan varietas tanaman, Penanaman, Pemupukan, Perlindungan Tanaman, Pengairan, Pengelolaan/Pemeliharaan tanaman, Panen, Penanganan Pasca Panen, Alat Mesin pertanian, Pelestarian lingkungan, Tenaga Kerja, Fasilitas kebersihan, Pengawasan pencatatan dan penelusuran balik

PENGUNJUNG

49283

HARI INI

58280

KEMARIN

43279660

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook