Diseminasi Teknologi

Pengendalian OPT pada Tanaman Jagung

Kamis, 14 Okt 2021
Sumber Gambar : Ria Maya (BPTP Bangka Belitung)

Pendahuluan

Organisme pengganggu tanaman yang lebih dikenal dengan istilah OPT merupakan salah satu faktor penghambat produksi tanaman yang dapat merugikan tanaman secara ekonomis. Tindakan pengendalian merupakan langkah yang tepat untuk mengurangi tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh OPT. Pengendalian OPT terdiri atas dua tahapan yaitu preventif (pencegahan) dan kuratif (mengobati). Tindakan preventif dapat dilakukan dengan cara melakukan pengolahan tanah secara intensif, pengaturan jarak tanam, penanaman tepat waktu, pengairan yang sehat, pembuatan drainase yang baik, pengapuran tanah, pemupukan berimbang, pemangkasan cabang dan daun, serta penanaman tanaman perangkap. Sedangkan tindakan kuratif dapat dilakukan dengan cara pemangkasan, penyemprotan pestisida, penggenangan sesaat dan pemanfaatan musuh alami.

            Pada tanaman jagung OPT yang banyak menyerang pertamanan adalah dari jenis hama, teknik pengendalian dapat dilakukan dengan konsep pengendalian hama terpadu. Pengendalian hama terpadu merupakan suatu konsep pengendalian OPT dengan pendekatan ekologi yang merupakan gabungan pengendalian yang kompatibel dalam suatu tindakan pengendalian. Komponen pengendalian terdiri dari  budidaya tanaman sehat, pemanfaatan musuh alami, pengamatan rutin dan pemantauan, dan petani sebagai PHT.

Hama Utama Tanaman Jagung

 

  1. Penggerek Batang jagung

              Gejala penggerek batang pada tanaman jagung dicirikan dengan adanya lubang kecil pada daun, lubang gorokan pada batang dengan kotoran menutupi lubang gerekan, dan bunga jantan atau pangkal tongkol sehingga mudah patah.  Penggerek batang mulai menyerang tanaman pada umur tanaman masih muda yaitu sekitar 2 minggu. Ngengat betina meletakan telur secara berkelompok pada bagian bawah helai daun dan larva muda akan merusak daun muda, bunga jantan dan bunga betina. Larva instar tua akan merusak dengan membuat lubang gerekan pada batang. Serangan berat dapat menyebabkan kerusakan tanaman sampai 80%.

              Teknis pengendalian dapat dilakukan dengan cara pengaturan waktu tanam yang tepat, pergiliran tanaman, tanam serempak, tumpang sari dengan tanaman kedelai atau kacang tanah, dan pemangkasan bunga jantan 25%. Penggunaan pestisida juga dapat dilakukan secara selektif berbahan aktif monokotrofos, triazofos, dikhlorofos, dan karbofuran. Penggunaan dengan insektisida karbofuran dengan dosis 3−4 butir per tanaman melalui pucuk tanaman pada tanaman yang mulai terserang.

 

  1. Ulat Grayak

            Serangan ulat grayak ditandai dengan gejala adanya bekas gesekan dari larva atau ulat, pada permukaan atas daun atau disekitar pucuk tanaman jagung ditemukan serbuk kasar seperti serbuk gergaji. Ulat grayak akan merusak bagian pucuk dan daun muda muda dengan cara menggerek daun sehingga daun berlubang-lubang. Ulat mulai makan dari tepi daun, sehingga yang tersisa hanya tulang daun dan batang, hal ini dapat mengakibatkan tanaman jagung menjadi mati. Pada populasi serangan yang tinggi, ulat grayak juga akan menyerang bagian tongkol jagung.

            Tindakan pengendalian dapat dilakukan dengan pengolahan tanah yang intensif, pergiliran tanaman, tanam serempak, untuk tingkatan serangan yang sedikit dapat dilakukan dengan pengumpulan larva atau pupa dan pemusnahan tanaman dengan cara dibakar serta penggunaan perangkap feromonoid seks. Pengunaan pestisida efektif untuk yang berbahan aktif monokotrofos, diazinon, khlorfiripos, triazofos, dikhlorofos, sianofenfos, dan karbaril.

  1. Penggerek Tongkol Jagung

            Penggerek tongkol jagung dapat merusak daun dan tongkol jagung. Serangan ditandai dengan gejala adanya lubang-lubang melintang pada daun tanaman stadia vegetatif, rambut tongkol jagung terpotong, ujung  tongkol ada bekas gerekan, terdapat terowongan dalam tongkol jagung dan sering kali ditemukan larvanya. Kotoran larva yang merupakan bulatan-bulatan kecil ditemukan di sekitar daun, bunga jantan, bunga betina dan batang yang digerek. Larva tua akan menggerek tongkol dan biji jagung yang muda.

       Tindakan pengendalian dapat dilakukan dengan pengelolaan tanah yang baik, menanam varietas jagung yang kelobotnya menutup rapat tongkol dan penyemprotan insektisida. Penyemprotan insektisida decis dapat dilakukan setelah terbentuknya rambut jagung pada tongkol dan diteruskan 1-2 hari hingga rambut jagung berwarna coklat.

 

Penyakit Utama Tanaman Jagung

 

  1. Bulai

       Gejala serangan ditandai dengan terdapat garis keputih-putihan sampai kekuningan pada daun atau sepanjang pelepah daun, diikuti dengan kerdilnya tanaman. Bentuk daun menyempit, tebal, dan tegak. Penyakit ini sangat lazim ditemukan pada kondisi lembab. Infeksi penyakit pada tanaman tua masih dapat membentuk buah namun pertumbuhannya kerdil. Beberapa spesies penyakit bulai juga menyebabkan kurang sempurnanya pembentukan bunga jantan, menghalangi terbentuknya bunga betina dan pembentukan tongkol.

       Pengendalian dengan cara menanam tanaman yang tahan bulai, melakukan periode waktu bebas tanaman jagung minimal dua minggu sampai satu bulan, penanaman serentak, pergiliran tanaman dengan tanaman selain jagung. Eradikasi tanaman yang terinfeksi bulai, penggunaan fungisida metalaksil pada benih jagung (Ridomil atau Saromil) 5 gram metalaksil/kg benih.

 

  1. Karat

         Gejala yang ada yang disebabkan oleh penyakit karat adalah bercak bercak kecil berbentuk bulat sampai oval terdapat pada permukaan daun jagung di bagian atas dan bawah, penyakit karat biasanya berkembang baik pada musim penghujan ataupun musim kemarau. Tindakan pengendalian dapat dilakukan dengan cara menanam varietas tahan, eradikasi tanaman yang terinfeksi karat daun dan gulma, dan penggunaan fungisida dengan berbahan aktif benomil.

  1. Busuk Pelepah

           Serangan busuk pelepah ditandai dengan gejala hawar dimulai dari bagian daun yang paling dekat dengan tanah, serangan ini dapat menyebabkan tanaman menjadi layu karena adanya hambatan transportasi unsur hara dan air. Gejala pada serangan awal pembusukan pada waktu biji berkembambah dan berkurangnya luas daun. Teknik pengendalian menggunakan varietas tahan, jarak tanam yang tidak terlalu rapat, drainase yang baik, pergiliran tanaman, penggunaan fungisida berbahan aktif mencozeb dan cerbendazim.

 

Gulma

 

         Gulma dibedakan menjadi gulma rumput, gulma teki, dan gulma berdaun lebar. Pengendalian gulma dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Pengendalian gulma tidak langsung dapat dilakukan dengan teknik pengolahan tanah sempurna, pengunaan benih bermutu/berlabel, irigasi dan pengaturan genangan air, serta pengaturan populasi tanaman. Pengendalian gulma secara langsung dapat dilakukan dengan cara mencabut gulma secara manual dengan tangan atau menggunakan alat gasrok atau landak.

 

 

 Sumber Bacaan : Berbagai Sumber

PENGUNJUNG

53484

HARI INI

55732

KEMARIN

40811949

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook