Materi Lokalita
SULAWESI SELATAN > KABUPATEN BANTAENG > ULUERE

Penyuluhan Pertanian 4.0 (Proses Adopsi Inovasi TIK oleh Penyuluh Pertanian Lapangan)

Kamis, 30 Sep 2021
Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi

Latar Belakang

Era 4.0 (dibaca: four point zero) adalah zaman dimana hampir segala lini kehidupan dipengaruhi dan atau memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Tidak terkecuali dalam kegiatan penyuluhan pertanian. Oleh karenanya muncul sebuah istilah yang mengadopsi penamaan era tersebut, yaitu: Penyuluhan 4.0. Istilah ini berarti bahwa penyuluhan pertanian saat ini telah memanfaatkan dukungan teknologi informasi komunikasi dalam pelaksanaannya. Namun benarkah demikian?

Istilah tersebut di atas tentunya tidak muncul begitu saja. Hal ini berdasarkan fakta di lapangan yang memperlihatkan bahwa saat ini petani lebih tertarik memanfaatkan teknologi media komunikasi dan atau media sosial untuk mencari informasi yang berkaitan dan mendukung kegiatan usahataninya. Mereka tidak jarang ditemukan bertanya di salah satu media sosial hal-hal yang ingin diketahuinya dari keberhasilan suatu usahatani. Tidak jarang pula didapati mereka menonton video budidaya usahatani yang sedang atau akan digelutinya. Dan juga seringkali ditemukan mereka membagikan informasi usahataninya kepada petani lain melalui media sosial. Perubahan perilaku petani ini tentu menjadi alasan utama sehingga penyuluhan pertanian harus segera beradaptasi, memanfaatkan TIK yang sangat pesat perkembangannya saat ini, berbenah dan bermanifestasi menjadi Penyuluhan 4.0.

Undang-Undang No. 16 tahun 2006 mendefisinikan Penyuluhan Pertanian sebagai proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumberdaya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Defenisi tersebut menyiratkan bahwa saat ini proses pembelajaran pelaku utama dan pelaku usaha sudah seyogyanya memanfaatkan TIK dalam penyajiannya. Contoh kecil misalnya dalam hal media pembelajaran yang menggunakan media sosial seperti facebook untuk menyebarluaskan informasi pertanian, atau membuat video berupa panduan budidaya suatu komoditas tanaman dan mengunggahnya ke youtube, sehingga dapat ditonton oleh masyarakat petani.

Kementerian Pertanian, dalam hal ini Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) menyadari bahwa untuk dapat mewujudkan Penyuluhan 4.0 dibutuhkan kesiapan sumber daya manusianya, khususnya Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL yang selanjutnya disebut Penyuluh). Penyuluh adalah ujung tombak pembangunan pertanian, yang menyampaikan informasi, kebijakan pemerintah kepada masyarakat pertanian, baik itu pelaku utama, pelaku usaha, dan stakeholder pertanian. Oleh karenanya, dukungan sarana dan prasarana yang diadakan dalam beberapa tahun belakangan ini, pada akhirnya membutuhkan SDM yang mampu untuk mengoperasikannya.

Penulis merupakan salah satu penyuluh yang memiliki wilayah binaan, yaitu Desa Bonto Lojong, Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng. Dalam keseharian sering bergaul dengan penyuluh yang berlokasi di desa lainnya, umumnya penyuluh senior. Penulis mengamati bahwa meskipun Kementan sedang menggalakkan Sistem Informasi yang mendukung kegiatan penyuluhan, faktanya dilapangan masih terdapat beberapa penyuluh yang belum mengetahui, bahkan ada pula yang bersikap apatis (acuh tak acuh).

Hal terakhir tentang SDM penyuluhan, selanjutnya menjadi dasar penyusunan tulisan ini. Harapan penulis bahwa tulisan ini mampu memberikan salah satu solusi dalam usaha percepatan adopsi TIK oleh Penyuluh dalam rangka melaksanakan tupoksinya, dan mendukung pembangunan pertanian di Indonesia, yang Maju, Mandiri, Modern. 

Tujuan

Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk: 1). Menjelaskan kendala yang dihadapi dalam proses adopsi TIK oleh Penyuluh; dan 2). Menjelaskan solusi untuk kendala yang dihadapi dalam proses adopsi TIK oleh Penyuluh

Penyuluhan Pertanian 4.0

Maju, Mandiri, Modern. Ini adalah slogan yang digaungkan beberapa tahun belakangan ini sejak Syahrul Yasin Limpo menjabat sebagai Menteri Pertanian di Indonesia. Maju berarti bahwa masing-masing stakeholder pertanian berupaya keras untuk meningkatkan kinerjanya dibanding hari kemarin; Mandiri berarti adanya upaya untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki sehingga mengurangi ketergantungan dari pihak luar; dan Modern berarti menerapkan teknologi yang akan menjadi pendorong dalam penumbuhan dan pengembangan sektor pertanian di Indonesia. Slogan tersebut tidak hanya menargetkan petani sebagai pelaku utama pertanian, namun juga pemerintah khususnya penyuluh yang menjadi ujung tombak pertanian.

Undang-Undang No. 16 Tahun 2006 mendefinisikan bahwa kegiatan penyuluhan adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumberdaya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Penjelasan tersebut selanjutnya jika dikaitkan dengan pemanfaatan TIK dalam pelaksanaannya, maka secara singkat disebut Penyuluhan Pertanian 4.0.

Perkembangan teknologi saat ini memang cukup pesat dan hampir memasuki semua bidang kehidupan manusia, tidak terkecuali bidang penyuluhan pertanian. Sebagai proses pembelajaran, penyuluhan saat ini tidak hanya dilakukan dengan cara tatap muka yang konvensional, namun juga melalui media komunikasi dan atau video confrence dimana petani pelosok akan mampu menerima penyuluhan langsung dari pemerintah pusat yang jaraknya ratusan bahkan ribuan kilometer. Penyuluh tidak perlu lagi rutin turun ke lapangan untuk memberikan informasi inovasi kepada petani, cukup dengan menggunakan teknologi smartphone yang bisa digunakan untuk berkomunikasi sekaligus saling berkirim pesan dalam bentuk gambar atau video. Pun petani tidak perlu lagi menunggu penyuluh berkunjung ke tempatnya, dia secara langsung dapat berkomunikasi untuk menyampaikan keluhan atau meminta saran untuk usahataninya.

Disisi lain, Pemerintah dalam hal ini Kementan juga berinovasi dengan mengembangkan sistem informasi bidang penyuluhan. Sistem informasi ini selain bertujuan untuk mendukung perwujudan ‘Satu Data Indonesia’, juga ditujukan untuk memudahkan penyuluh dalam proses administrasi dan pelaporan kinerjanya. Sebut saja Simluhtan (Sistem Informasi Penyuluhan Pertanian) yang berisi data seluruh penyuluh di Indonesia, baik itu PNS, Swadaya, hingga Swasta. Terdapat juga data kelembagaan petani, baik itu poktan, gapoktan, KWT, dan kelembagaan ekonomi petani lainnya. Sistem informasi ini selanjutnya menjadi acuan oleh stakeholder pertanian lainnya. Cyber Extension (Cybext) juga salah satu sistem informasi yang tujuannya untuk memberikan informasi publik, baik itu kepada pemerintah, swasta, maupun masyarakat pertanian. Di dalamnya terdapat informasi berita dari segala penjuru nusantara, tulisan, hingga karya ilmiah yang disusun oleh penyuluh. Di Google Play Store sendiri tidak terhitung jumlah aplikasi yang dibuat untuk mendukung penyuluhan pertanian, baik itu yang dibuat secara resmi oleh pemerintah maupun oleh individu pertanian lain. Singkatnya, sistem informasi yang dibuat dan muncul ini menunjukkan bahwa penyuluhan pertanian di Indonesia saat ini juga sedang berbenah untuk menyambut Era 4.0.

Penyuluh 4.0

Undang-Undang No. 16 Tahun 2006 mendefinisikan penyuluh sebagai perorangan dari Warga Negara Indonesia yang melakukan kegiatan penyuluhan. Defenisi ini berarti bahwa penyuluh merupakan subjek dan pelaku utama atau pelaku usaha adalah objek dari kegiatan penyuluhan. Berdasarkan logika tersebut maka agar kegiatan penyuluhan berjalan efektif, subjek seharusnya yang pertama kali mendapatkan informasi, atau mengetahui lebih dulu dibanding objek sasaran. Yang selanjutnya berarti bahwa subjek penyuluh harus menjadi lebih proaktif, baik itu dalam hal getting knowledge maupun shaping skill. Dengan demikian maka slogan Maju, Mandiri, Modern dapat terimplementasi dengan pola Top-Down, dari subjek ke objek.

Seperti halnya dengan proses adopsi inovasi pertanian yang terjadi pada petani, kenyataan di lapangan saat ini menunjukkan bahwa penyuluh juga mengalami proses adopsi TIK. Adopsi disini diartikan sebagai suatu proses penerimaan oleh penyuluh terhadap TIK yang bermanfaat dalam menunjang pelaksanaan tupoksinya. Dengan adanya penerimaan diharapkan terjadi perubahan yang tidak hanya pada pengetahuan dan sikap, tapi juga keterampilan mereka.

Kesamaan proses tersebut di atas selanjutnya mengasumsikan kesamaan tahapan proses adopsi inovasi. Secara singkat, tahapan adopsi yang umum diketahui adalah: 1) awareness; 2) interest; 3) evaluation; 4) trial; dan 5) adoption. Kelima tahapan ini selanjutnya akan dianalisis lebih lanjut untuk mengetahui faktor yang mungkin menghambat proses adopsi TIK oleh penyuluh.

Analisis Tahapan Adopsi Inovasi

Sebelum seorang individu atau masyarakat mau menerima atau menerapkan suatu inovasi, secara umum terdapat tahapan yang akan berlangsung sebelumnya. Berikut ini adalah tahapan tersebut yang dirangkum dari Mundy (2000), dan dianalisis lebih lanjut untuk menentukan hal yang mungkin menjadi kendala serta solusi yang bisa diambil. Agar memudahkan penjelasan, diberikan salah satu contoh kasus yang sedang viral saat tulisan ini dibuat yaitu penentuan titik koordinat dan luas lahan petani, dimana dengan memanfaatkan TIK yang sedang berkembang saat ini kegiatan tersebut seharusnya lebih mudah dilaksanakan. Hanya dengan menggunakan smartphone (ponsel pintar), penyuluh akan mampu melaksanakan hal tersebut, dengan menggunakan aplikasi yang terdapat di Google Play Store dengan nama GPS Fields Area Measurement.

a) Awareness (Kesadaran). Tahap ini adalah tahap awal yang ditandai dengan mulai tahu dan sadarnya penyuluh bahwa terdapat aplikasi smartphone yang berfungsi dalam penentuan titik koordinat dan luas lahan petani. Kendala yang biasa muncul di tahap ini adalah penyuluh bersikap apatis terhadap informasi yang diterimanya itu, sehingga informasi itu akan hilang dengan sendirinya.

b) Interest (Minat). Setelah seorang penyuluh mengetahui adanya aplikasi itu, tahapan selanjutnya dia berminat mengetahui lebih lanjut. Dia mulai mencari informasi tambahan tentang aplikasi itu. Di tahapan ini hal yang mungkin menjadi kendala adalah sikap proaktif individu, apakah akan melakukan follow-up dengan mencari informasi tambahan atau sekedar ‘masuk telinga kanan, keluar telinga kiri’.

c) Evaluation (Penilaian). Di tahapan ini seorang penyuluh akan melakukan penilaian terhadap kelebihan atau kekurangan, kesesuaian dengan sumberdaya yang dimilikinya, serta besar atau kecilnya manfaat yang akan diperoleh. Hal ini berarti dia telah melakukan tindak lanjut hingga memiliki informasi yang lebih banyak tentang aplikasi itu, sehingga mampu melakukan penilaian. Kendala yang mungkin muncul di sini adalah informasi yang diperoleh untuk melakukan penilaian kurang lengkap, sehingga hasil penilaiannya tidak komprehensif.

d) Trial (Percobaan). Ketika sampai di tahapan ini, diasumsikan penyuluh telah memasang (instal) aplikasi di smartphone-nya. Selanjutnya akan coba digunakan dalam skala kecil. Kendala yang mungkin muncul di sini adalah disebabkan kurang lengkapnya informasi di tahapan sebelumnya, maka kemungkinan dia tidak tahu atau akan kesulitan mengoperasikannya.

e) Adoption (Penerimaan). Berdasarkan hasil evaluation and trial, penyuluh tersebut akan tiba di tahapan ini. Jika ternyata penggunaannya praktis dan efektif dalam menentukan titik koordinat dan luas lahan, maka dia akan menggunakannya lagi dan menerapkannya dalam skala yang lebih luas atau malah sebaliknya.

Solusi yang bisa diambil untuk mengatasi kendala yang terdapat dalam beberapa tahapan adopsi inovasi di atas dibagi ke dalam 3 (tiga) bagian, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Berikut ini adalah penjelasannya:

a) Sikap. Penyuluh sebaiknya bersikap open-minded atau terbuka terhadap perkembangan teknologi yang ada saat ini, khususnya yang berkaitan langsung dengan tupoksi dan aktivitas keseharian. Dengan memelihara sikap terbuka, tentunya akan memiliki peluang meluasnya wawasan dan bertambahnya pengetahuan.

b) Pengetahuan. Setelah sebelumnya memiliki sikap yang terbuka, maka diharapkan seorang penyuluh untuk selalu belajar dalam rangka mengembangkan pengetahuan dan potensi dirinya. Dia bisa belajar melalui media online yang tersedia saat ini atau juga mengikuti webinar yang berkaitan dengan aktivitasnya, serta berdiskusi dengan teman penyuluh lainnya

c) Keterampilan. Saat ini banyak tersedia video tentang cara untuk melakukan sesuatu yang umumnya bisa diakses melalui media sosial seperti Facebook, Youtube, dan semacamnya. Juga sering diadakan pelatihan online untuk suatu jenis keterampilan yang ingin dikembangkan. Selain itu, bisa juga dilakukan dengan belajar langsung kepada teman penyuluh yang lebih dahulu mengadopsi suatu inovasi. Dan terakhir, sesuai ungkapan ‘practice makes perpect’, maka berulang kali melakukan sesuatu tentunya akan semakin mengasah keterampilan seseorang.

Pembahasan di atas menyiratkan bahwa tahapan adopsi inovasi TIK sesungguhnya adalah proses yang sifatnya internal, dalam artian terjadi di dalam pikiran penyuluh. Sebuah proses mental yang pada akhirnya akan menentukan apakah dia siap mengadopsi suatu inovasi TIK ataukah sebaliknya. Sejalan dengan itu maka solusi yang ditawarkan juga cenderung mengarah ke perubahan internal (mental pikiran) individu penyuluh. Hal ini beralasan karena untuk mengubah perilaku seseorang, perlu untuk merubah pikirannya terlebih dahulu. Seperti bunyi sebuah ungkapan “Change your mindset, change your behaviour”.

Penutup

Berdasarkan hasil pembahasan di atas, maka ditarik beberapa kesimpulan berdasarkan tujuan penulisan makalah ini, yaitu:

  • Tahapan adopsi inovasi adalah proses internal individu atau proses mental pikiran seseorang dalam menentukan apakah menerima (adopsi) atau menolak suatu inovasi;
  • Kendala yang biasanya muncul dalam tahapan adopsi inovasi umumnya bersifat internal, yang berarti berkaitan dengan mental pikiran individu penyuluh;
  • Solusi yang bisa diambil untuk mengatasi kendala tersebut juga diarahkan ke proses mental pikiran;
  • Bersikap terbuka di era 4.0 sangat diperlukan agar informasi yang diperoleh dapat mengubah cara pandang seseorang, dimana hal itu yang akan mengubah cara berperilaku nantinya;
  • Mengembangkan diri dengan selalu belajar dan mengasah keterampilan sangat baik dilakukan agar tetap sinkron dan berkembang seiring perkembangan zaman, yang tentunya diharapkan mampu berpengaruh terhadap pelaksanaan tupoksi dan aktivitas keseharian.

 

Daftar Pustaka

  • Mundy, Paul. 2000. Adopsi dan Adaptasi Teknologi Baru. PAATP3. Bogor.
  • Undang-Undang Republik Indonesia No. 16 Tahun tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan.

 

 

Penulis: Suhardi Baharuddin - PPL Desa Bonto Lojong, Kec. Uluere, Kab. Bantaeng

PENGUNJUNG

51829

HARI INI

55732

KEMARIN

40810294

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook