Diseminasi Teknologi

KULTUR TEKNIS SEBAGAI DASAR PENGENDALIAN HAMA KUTU KEBUL Bemisia Tabaci Genn. PADA TANAMAN KEDELAI

Kamis, 30 Sep 2021
Sumber Gambar : Berbagai sumber

 

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

          Salah satu gangguan dalam meningkatkan produksi kedelai adalah serangan hama kutu kebul Bemisia tabaci (Gennadius). Kehilangan hasil akibat serangan hama kutu kebul ini dapat mencapai 80%, bahkan pada serangan berat dapat menyebabkan puso (gagal panen).

          Peningkatan suhu di bumi karena perubahan iklim global, berakibat juga pada meningkatnya populasi hama ini pada tanaman kedelai.

Sebagian besar pengendalian hama kutu kebul pada tanaman kedelai di tingkat petani sampai kini masih mengandalkan insektisida, namun demikian masih sering kali gagal dalam pelaksanaannya. Pengendalian hama kutu kebul dapat dilakukan dengan berlandaskan strategi penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

          Prinsip operasional yang digunakan dalam pelaksanaan PHT salah satunya adalah budidaya tanaman sehat. Tanaman yang sehat mempunyai ketahanan ekologi yang tinggi terhadap gangguan hama. Pengendalian kultur teknis merupakan tindakan preventif, dilakukan sebelum serangan hama terjadi dengan sasaran agar populasi tidak meningkat sampai melebihi ambang kendalinya.

          Pengendalian hama kutu kebul secara kultur teknis dapat dilakukan dengan cara menanam kedelai lebih awal, pemilihan varietas yang toleran, tanaman penghalang jagung di antara kedelai, sistem pengairan yang teratur, pergiliran tanaman bukan inang, dan sanitasi.

Untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengendalian secara bercocok tanam perlu dipadukan dengan teknik-teknik pengendalian hama lainnya sesuai dengan prinsip-prinsip PHT. Pada tanaman kedelai, komponen teknik pengendalian secara kultur teknis yang dapat di lakukan adalah sebagai berikut:

 

1. Mengatur waktu tanam dan panen

Mengatur waktu tanam dapat dilakukan dengan menanam lebih awal atau menunda waktu tanam. Strategi ini dimaksudkan untuk menghindari periode migrasi dan serangan yang lebih besar, tumpang tindihnya waktu tanam, serta mengatur periode tidak adanya tanaman inang kutu kebul (Stansly dan Natwick 2010). Pada kedelai yang ditanam pada musim kemarau II, antara bulan Juli – November, populasi kutu kebul paling rendah dibanding ketika kutu kebul di tanam pada musim hujan dan kemarau. Dengan mengatur waktu tanam sesuai pola perkembangan kutu kebul maka kerusakan yang disebabkan oleh kutu kebul dapat dihindari. Penanaman lebih akhir juga dapat dilakukan untuk menghindari serangan kutu kebul dikombinasi dengan tindakan sanitasi lahan (Hilje et al. 2001).

Penanaman varietas umur genjah dapat menghindarkan tanaman dari serangan kutu kebul. Kedelai varietas Grobogan, Malabar dan Tidar yang mempunyai umur panen sekitar 74– 78 hari, dapat dijadikan salah satu usaha untuk menghindarkan tanaman dari serangan hama, mengurangi kesesuaian ekosistem dan mengganggu penyediaan makanan atau keperluan hidup hama.

 

2Penanaman varietas tahan

Tanaman yang tahan terhadap investasi kutu kebul atau yang dapat menghambat perkembangan nimfa kerena mengandung zat tertentu dapat membatasi pertumbuhan populasi kutu kebul, mengurangi kerusakan akibat serangan kutu kebul dan mengurangi migrasi masal kutu kebul ke tanaman lain           Varietas kedelai yang tahan terhadap kutu kebul hanya varietas Tengger (Balitkabi 2012), Gema, Detam I, Gepak Ijo, dan Kaba (Sulistyo dan Inayati 2014). Varietas Gepak Kuning, Gepak Ijo, Wilis, Kaba dan Argo

 

3Penanaman tanaman penghalang

Tanaman penghalang merupakan salah satu upaya untuk menghalagi penyebaran, migrasi, dan membatasi mobilisasi hama ke tanaman. Tanaman penghalang juga dapat berperan sebagai pelindung alami terhadap vektor virus yang non persisten seperti aphis dan telah terbukti efektif melindungi tanaman dari infeksi virus. Idealnya tanaman penghalang menggunakan tanaman bukan inang dari hama target.

Pemanfaatan tanaman penghalang untuk mengendalikan kutu telah dilakukan, di antaranya penelitian Moreau (2010) menunjukkan kombinasi tanaman perangkap dan yellow sticky traps mampu menurunkan populasi kutu kebul pada pertanaman cabai sampai 53%.

 

4Sistem pengairan yang teratur

Ketersediaan air berpengaruh terhadap siklus hidup kutu kebul, perkembangbiakannya, dan kemampuannya untuk bertahan hidup. Pengaruh ketersediaan air disekitar pertanaman terhadap populasi kutu kebul antara lain; (1) cekaman air di sekitar pertanaman menyebabkan meningkatnya populasi kutu kebul  (2) air hujan berlebih yang disertai angin dapat mengurangi populasi kutu kebul, (3) pengairan yang konsisten dengan interval pengairan irigasi singkat sesuai kebutuhan tanaman dapat membatasi perkembangan kutu kebul

 

5Pergiliran tanam dan pengaturan pola tanam

Pergiliran tanaman dan pengaturan pola tanam dengan menanam tanaman bukan inang dapat memutus kesinambungan penyediaan makanan bagi kutu kebul di suatu tempat, dan mengurangi migrasi hama antarjenis tanaman yang dapat mengurangi populasi awal hama di suatu tempat. Rotasi tanaman paling efektif untuk mengendalikan hama yang memiliki kisaran makanan sempit dan kemampuan migrasi terbatas terutama pada fase yang aktif makan

 

6. Sanitasi sisa tanaman atau tanaman lain yang dapat dipakai sebagai inang

 Dengan membersihkan sisa-sisa tanaman dapat dikurangi laju peningkatan populasi hama dan ketahanan hidup hama. Pada prinsipnya teknik sanitasi dilakukan dengan membersihkan lahan dari sisa-sisa tanaman singgang, tunggul tanaman atau bagian-bagian tanaman lain yang tertinggal setelah masa panen. Bagian tanaman tersebut seringkali merupakan tempat berlindung hama, tempat berdiapouse, atau tempat tinggal sementara sebelum tanaman utama kembali ditanam. Tindakan sanitasi dapat dilakukan dengan penghancuran: (1) sisa-sisa tanaman yang masih hidup, (2) tanaman atau bagian tanaman yang terserang hama, (3) sisa tanaman yang sudah mati, (4) jenis tanaman lain yang dapat menjadi inang pengganti, dan (5) sisa-sisa bagian tanaman yang jatuh atau tertinggal di permukaan tanah seperti buah dan daun.

 

Penyusun      : Dede Rohayana  (BPTP Lampung)

Referensi      : Berbagai Sumber

PENGUNJUNG

51350

HARI INI

55732

KEMARIN

40809815

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook