Diseminasi Teknologi

Penyakit Pra Panen pada Tanaman Ubi Kayu

Kamis, 30 Sep 2021
Sumber Gambar : BPTP Bangka Belitung

Pendahuluan

          Tanaman ubi kayu merupakan tanaman yang sudah lama dikenal dan dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia. Ubi kayu sebagian besar dibudidayakan di lahan kering, baik ditanam secara monokultur maupun tumpangsari. Ubi kayu kaya akan sumber karbohidrat yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, pakan, bahan baku industri dan bahan bakar (fuel). Komoditas ubi kayu seringkali dijadikan sebagai tanam sekunder sehingga kurang mendapatkan perhatian yang cukup dalam usaha taninya. Teknologi budidaya yang digunakanpun masih tergolong sederhana dan bahkan tidak dilakukan pemeliharaan yang intensif sehingga hasil panen yang didapatkan masih sangat rendah.

          Namun pada budidaya ubi kayu dengan pengelolaan insentif juga masih ditemukan beberapa permasalahan yang dialami petani diantaranya adalah serangan penyakit tanaman. Serangan penyakit ini jika tidak ditangani dengan segera pada akhirnya akan menimbulkan kerugian yang besar. Penyakit yang menyerang tanaman ubi kayu terdiri atas penyakit pra panen dan penyakit pasca panen. Beberapa penyakit pra panen ini disebabkan antara lain oleh jamur, bakteri dan virus.

Jamur

          Di Indonesia saat ini terdapat lebih dari tujuh penyakit utama yang disebabkan oleh berbagai jenis jamur, baik yang menyerang pada bagian daun, batang maupun umbi.

 1. Bercak Daun Coklat.

Gejala penyakit berupa bercak kecil berwarna putih hingga coklat muda yang terjadi pada daun daun di batang bagian bawah (daun tua) dan makin sedikit terdapat pada daun yang muda. Ditepi bercak kadang dibatasi lingkaran berwarna agak ungu. Bercak ini akan mengakibatkan daun mengkerut dan mudah rontok. Komponen pengendalian dapat dilakukan dengan penggunaan varietas tahan atau toleran, pengaturan jarak tanam, dan penyemprotan fungsisida secara selektif.

 2. Bercak Daun Baur.

            Gejala berupa bercak daun yang berukuran besar, berwarna coklat tanpa batas yang jelas, terkadang bercak besar berada pada ujung daun mencapai seperlima luas daun, dan berbentuk seperti huruf V terbalik.  Permukaan atas bercak berwarna coklat merata, tetapi permukaan bawah pada pusat bercak  yang berwarna coklat terdapat warna keabu-abuan yang sebetulnya merupakan konidia jamur. Secara umum penyakit bercak daun baur tidak menimbulkan kerugian hasil secara nyata, sehingga tindakan pengendalian masih dapat di toleransi.

3. Bercak Daun Putih.

            Penyakit ini lebih banyak muncul pada kondisi agak sejuk. Gejala diawali dengan bercak klorotik bulat pada permukaan atas daun yang kemudian berkembang menjadi bercak luka bulat berwarna putih dibagian tengah berdiameter 1,5-2 mm. Bercak dapat membesar hingga 3-5 mm dengan tepi bercak berwarna ungu atau coklat kemerahan dikelilingi lingkaran halo klorotik. Warna bercak kemudian memudar hingga berwarna keputihan. Secara umum penyakit ini tidak banyak merugikan tanaman, namun pada varietas yang rentan dapat mengakibatkan daun menjadi rontok.

4. Bercak Daun Cincin.

            Gejala penyakit dicirikan dengan bercak cincin melingkar dengan bercak coklat besar tanpa batas tepi bercak yang jelas, terdapat pada kedua sisi daun, bentuknya membulat dengan diameter 1-3 cm, umumya terdapat pada ujung atau tepi daun yang berdekatan dengan tulang daun.  Serangan penyakit dapat menyebabkan daun rontok, dan dapat menyerang tunas yang masih muda yang dapat mengakibatkan mati pucuk tanaman dan tanaman mati.

            Antraknose menyerang pada permukaan batang utama, cabang, tangkai daun, daun buah serta pucuk tanaman. Pada permukaan batang nampak adanya tonjolan-tonjolan kecil semacam bisul. Penyakit ini disebut juga penyakit kanker batang. Pangkal tangkai daun yang sakit mudah patah dan daun menjadi layu. Serangan yang parah menyebabkan mati pucuk dan pada bagian gabus terjadi pengkerutan. Kanker batang akibat serangan penyakit antraknose juga menyebabkan  mati pucuk dan batang mudah patah. Kompenen pengendalian dapat dilakukan dengan cara menanam varietas tahan atau toleran, menanam bibit yang sehat, sanitasi lahan, rotasi tanaman, mengatur waktu tanam, pengendalian biologis dan tindakan pengendalian dengan penyemprotan fungisida kimia/nabati.

5. Busuk Kering Umbi.

            Penyakit ini terbagi menjadi dua infeksi jamur yaitu jamur akar putih dan penyakit busuk hitam. Pada jamur akar putih gejala serangan yang khas adalah adanya benang miselia berwarna putih seperti kapas pada sebagian atau keseluruhan permukaan akar/ubi dan pangkal batang. Pada serangan yang berat, permukaan kulit ubi pecah dan berkembang menjadi busuk kering yang akan merusak seluruh bagian umbi. Sedangkan pada busuk hitam gejala khas penyakit ini adalah warna hitam dan kanker pada ubi dan pangkal batang. Bagian dari ubi yang terinfeksi mengalami perubahan warna dan tekstur elastis dan mengeluarkan cairan apabila diperas. Gejala luar tampak dengan adanya daun menguning dan rontok. Komponen pengendalian untuk akar putih adalah pembakaran pada sisa sisa akar tanaman pada lahan yang akan diusahakan, dan dengan menanam bibit ubi kayu yang sehat. Untuk busuk hitam pengendalian dilakukan dengan menghilangkan dan membakar senua bagian tanaman ubi kayu yang terinfeksi jamur, juga dilakukan rotasi tanaman, penggunaan bibit yang sehat, bebas dari infeksi jamur penyebab busuk kering.

6. Busuk Batang/Umbi.

            Gejala umum yang terjadi adalah layu, daun gugur dan akhirnya tanaman mati. Apabila tanaman yang terinfeksi dicabut, maka pada tanaman yang terinfeksi  umur muda perkarannya dan pangkal batang membusuk. Pada tanaman yang telah dewasa sebagian atau seluruh umbinya menjadi busuk. Kerugian tanaman ubi kayu akibat infeksi penyakit busuk akar atau umbi ini dapat berupa kehilangan hasil umbi dan penurunan kualitas hasil tanaman. Komponen pengendalian yaitu dengan penerapan budidaya tanaman sehat meliputi penggunaan varietas/klon ubi kayu yang tahan atau toleran penyakit, pemilihan lokasi dan pengelolaan tanah dan tanaman yang baik.

Bakteri

            Penyakit bakteri yang sering menyerang tanaman ubi kayu terdiri atas 4 penyakit yaitu hawar bakteri, bercak daun menyudut, layu bakteri, dan busuk batang/akar. 

1. Hawar Bakteri Ubi Kayu

            Serangan bakteri terjadi pada daun dan batang. Gejala awal berupa lesio berwarna abu-abu mirip bekas tersiram air panas. Lesio dibatasi oleh tulang tulang daun sehingga berbentuk menyudut, kemudian meluas dan mati pucuk. Serangan hawar bakteri dapat menyebabkan penurunan berat umbi dan penurunan kualitas umbi yang dihasilkan. Komponen pengendalian dapat dilakukan dengan penggunaan varietas tahan, menanam bibit yang sehat, sanitasi lahan, pengelolaan tanaman, pengendalian gulma, perbaikan nutrisi, dan pengendalian biologi.

2. Bercak Daun Menyudut.

            Gejala khas infeksi bakteri ini adalah berupa bercak daun menyudut dengan perkembangan bercak lebih melambat. Pada serangan berat, mengakibatkan nekrosis dan daun rontok. Secara umum penyakit bercak daun menyudut tidak banyak menimbulkan kerusakan dan kerugian pada tanaman ubi kayu.

3. Layu bakteri/Layu Mendadak.

Gejala infeksi serangan layu bakteri adalah tanaman menjadi layu dan mati mendadak, daun layu, kering namun untuk sementara masih melekat poada batang, perubahan pada warna jaringan pembuluh batang dan akar serta busuk pada umbi. Komponen pengendalian yang dapat dilakukan antara lain menanam bibit sehat, eradikasi tanmaan sakit, dan sanitasi lingkungan, rotasi tanaman.

 4. Busuk Lunak Batang/Umbi.

            Gejala berupa busuk batang dan cabang, luka hitam dan kanker, nekrosis pada akar dan layu tunas muda, cabang serta mati pucuk. Serangan lebih lanjut dapat mengakibatkan busuk lunak pada umbi. Komponen pengendalian antara lain menanam bibit yang sehat, rotasi tanaman dan pengendalian biologi.

Virus

            Beberapa jenis virus yang menyerang tanaman ubi kayu antara laian adalah Cassava Common Mosaic Virus, Cassava Green Mottle Virus, Cassava Vein Mosaic Virus, Cassava Ivorian Bacillifiform Virus, African Cassava Mosaic Virus, Cassava brown Streak  Virus dan Cassava  Frogskin disease

1. Cassava Common Mosaic

            Daun tanaman ubi kayu yang terinfekasi menunjukan gejala khas mosaik, daun terkadang mengalami perubahan bentuk. Tanaman yang terserang akan kerdil dan dapat kehilangan hasil mencapai 60 %. Komponen pengendalian dapat dilakukukan dengan menggunakan perbanyakan tanaman dari bibit yang sehat dan mencabut bibit tanaman yang terinfeksi.

 2. Cassava Green Mottle Virus.

            Gejala pada daun yang muncul menunjukan belang sistematik dengan nekrosis, namun pada daun berikutnya tidak menunjukan gejala meskipun mengandung virus. Daun paling muda mengeriting, tepi daun mengalami distorsi dan menunjukan pola belang hijau dan kuning. Tanaman yang terinfeksi tidak akan menghasilkan umbi atau kecil dan berkayu bila dimasak. Pengendalian dilakukan dengan menanam bibit yang sehat dan mencabut tanaman yang telah terinfeksi.

 3. Cassava Vein Mosaic Virus.

            Gejala berupa mosaik tulang daun yang tidak biasa terlihat pada daun yang sangat muda. Helaian daun yang menunjukan gejala menggulung ke bawah. Monitoring dan roguing  dengan mencabut bibit tanaman yang terinfeksi virus ini merupakan cara yang efektif untuk mengendalikan penyakit.

 

PENGUNJUNG

51656

HARI INI

55732

KEMARIN

40810121

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook