Diseminasi Teknologi

KESEHATAN TERNAK KAMBING

Selasa, 28 Sep 2021
Sumber Gambar : koleksi pribadi Fauziah YA

Kambing dan domba merupakan salah satu ternak unggulan di Indonesia dengan populasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Usaha beternak kambing dan domba memiliki peluang bisnis yang cukup menjanjikan dikarenakan tingginya permintaan kambing dan domba terutama untuk pemenuhan kebutuhan hari raya keagamaan maupun adat. Pelaku bisnis yang menekuni bidang ini juga masih belum banyak. Selain itu permintaan ekspor ke beberapa negara masih belum dapat dipenuhi.

Perkembangan populasi kambing dan domba di Indonesia hingga tahun 2019 terus mengalami peningkatan. Hingga tahun 2018 trend peningkatan rata-rata sebesar 2,5% per tahun (Outlook daging kambing/domba, Kementan, 2018). Berdasar data statistik peternakan tahun 2019, populasi ternak kambing Indonesia 18,98 juta ekor, domba 17,80 juta ekor. Selama 6 tahun terakhir, daerah sentra populasi kambing dan domba di Indonesia berada di provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Utara.

 

PENTINGNYA MEMPERHATIKAN KESEHATAN TERNAK

 

Salah satu kunci sukses untuk mencapai produktivitas yang optimal dalam beternak kambing dan domba adalah penerapan manajemen kesehatan yang baik. Dengan menerapkan manajemen kesehatan ternak yang baik, diharapkan gangguan serangan penyakit dapat diminimalkan.

Pemeriksaan kesehatan pada ternak kambing dan domba secara berkala sangat diperlukan agar ternak kambing tetap terjaga dari gangguan penyakit. Pemeriksaan atau pemantauan kesehatan sebaiknya dilakukan setiap hari yang bertujuan untuk memantau kondisi kesehatan ternak dan mengetahui ada tidaknya abnormalitas pada ternak tersebut. Jika ditemukan gejala ternak sakit atau adanya abnormalitas, dapat segera dilakukan tindakan penanganan.

Dalam melakukan pemeriksaan kesehatan ternak, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti nafsu makan, kondisi area sekitar (pengamatan feses, urin, ada tidaknya darah), mengamati kondisi ternak (hidung, kejernihan mata dan bulu ternak, ), mengamati cara ternak berdiri dan bergerak, jalan normal atau pincang, ada tidaknya luka atau pembengkakan. Kambing atau domba yang sakit dapat menunjukkan gejala seperti:

  • Nafsu makan berkurang
  • Tubuh terlihat lemah, lesu
  • Rambut kasar, kusam, rontok
  • Menggaruk-garuk badan
  • Mata sayu/ suram, mulut dan hidung kering
  • Berat badan menyusut
  • Adanya luka di tubuh
  • Sempoyongan, ambruk
  • Kotoran tidak normal (warna, bau, encer/ keras)
  • Jalan picang

Apabila saat memeriksaan ternak ditemukan gejala di atas, patut dicurigai bahwa kambing atau domba tersebut dalam kondisi tidak sehat. Sehingga untuk menghindari terjadinya penularan atau penyebaran penyakit lebih lanjut sebaiknya dipisah di kandang lain. Selama dipisahkan, ternak dipelihara dengan baik, diberikan pakan dan minum sesuai kebutuhannya serta dilakukan pemeriksaan klinis setiap hari untuk mengetahui perkembangan penyakit tersebut. Kemudian segera lakukan penanganan sesuai arahan penyakit atau memanggil tenaga medis dokter hewan atau mantri untuk penanganan lebih lanjut.

Penting bagi peternak dan pelaku usaha untuk selalu memperhatikan kesehatan ternak. Jika ternak tersebut terlanjur sakit akan menyebabkan kerugian ekonomi, seperti:

  • Penurunan bobot badan
  • Gangguan pertumbuhan (pertambahan berat badan harian menjadi lebih rendah)
  • Penurunan nafsu makan & efisiensi pakan
  • Penurunan kualitas daging, kulit dan jeroan
  • Penurunan harga jual ternak
  • Peningkatan biaya pengobatan
  • Penurunan status reproduksi (dewasa kelamin atau umur beranak pertama terlambat, calving interval atau jarak antar kelahiran menjadi lebih panjang)
  • Penurunan kekebalan tubuh, sehingga ternak lebih rentan terinfeksi penyakit
  • Penularan pada manusia (zoonosis)
  • Pada kasus yang parah dapat menyebabkan kematian

 

GANGGUAN KESEHATAN TERNAK

 

Gangguan kesehatan ternak kambing dan domba dapat disebabkan oleh penyakit non infeksius maupun infeksius.

Penyakit non infeksius

  1. Kembung
  • Gangguan pencernaan yang disertai penimbunan gas di lambung akibat proses fermentasi berjalan cepat. Pembesaran lambung oleh gas yang terbentuk, bisa dalam bentuk busa yang bercampur isi rumen (kembung primer) dan gas bebas yang terpisah dari isi rumen (kembung sekunder).
  • penyebab: pemberian leguminosa atau polong-polongan berlebih dan sedikit padi-padian (jagung, kedelai) atau terlalu banyak konsentrat yang mengandung pati dan kandungan klorofil hijauan terlalu tinggi.
  • Gejala: ternak nampak resah dan berusaha menghentakkan kaki, sisi perut kiri menggembung atau menonjol, apabila bagian perut ditepuk/dipukul dengan jari akan terdengar suara mirip suara drum, ternak mengalami kesulitan bernapas atau sering bernpas melalui mulut, nafsu makan menurun drastis.
  • Penanganan: pemberian obat kembung misalnya Bloatex dengan dicekokkan langsung ke dalam mulut. Apabila keadaan ternak sudah parah maka upaya pengeluaran gas perlu dilakukan dengan cara menusuk perut ternak sebelah kiri dengan trokar oleh tenaga medis terlatih.
  1. Keracunan sianida
  • Penyebab: makan daun yang banyak mengandung asam sianida, seperti singkong, cantel atau sorgum segar.
  • Gejala: kambing menggigil, berdiri sempoyongan, susah benafas, gemetar, meronta-ronta, kejang, pupil mata melebar, selaput lendir memerah, mengeluarkan air liur, sering berak dan kencing. biasanya terlihat setelah dua jam memakan pakan tersebut (Mulyono, 2004).
  • Penanganan: tenaga medis dengan penyuntikan natrium nitrit, natrium sulfat secara intravena (melalui pembuluh darah vena).

 

  1. Penyakit kejang rumput (Grass tetani)
  • Penyebab: kekurangan kadar mineral magnesium (Mg) dan kalsium (Ca) dalam bahan pakan. Kekurangan konsumsi mineral akan menyebabkan gangguan syaraf.
  • Gejala: kejang pada kaki yang menyebabkan sulit berjalan, mudah terangsang dan gelisah oleh gangguan suara keras, sering urinasi atau kencing jika tidak ditangani bisa menyebabkan kematian (Sodiq dan Abidin, 2002).
  • Penanganan: menyuntikkan cairan yang mengandung mineral magnesium dan kalsium secara intravena.

 

Penyakit infeksius

  1. Echtyma Contagiosa (ORF)
  • Penyakit menular yang sering disebut dengan bengoran atau dakangan.
  • Penyebab: virus Parapox, dimana virus tersebut sensitif terhadap semua jenis desinfektan seperti Medisep, Zaldes, Desinsep, Antisep.
  • Gejala: terbentuknya keropeng pada kulit di daerah bibir. kelopak mata, alat genital, ambing, kaki & daerah yang jarang ditumbuhi bulu. Peradangan kemudian melepuh, mengeluarkan cairan dan membentuk kerak. Pada kondisi yang parah atau jika ada infeksi sekunder, dapat meyebabkan kelainan bibir atau bahkan kematian. ORF menyerang ternak muda & dewasa. ORF bersifat zoonosis atau menular ke manusia.
  • Penularan: dari tenak sakit ke ternak sehat, baik kontak langsung dengan luka kulit maupun secara tidak langsung melalui material atau peralatan yang terkontaminasi virus.
  • Penanganan: memisahkan ternak sakit dari ternak sehat, untuk mencegah infeksi sekunder dapat diberikan antibiotik seperti Medoxy LA, G-Mox LA atau Trimezyn Bolus. Pemberian multivitamin juga perlu diberikan untuk memperbaiki kondisi tubuh (ADE-Plex Inj, Vita B Plex Bolus). Kulit yang mengalami luka dapat diberikan pengobatan lokal atau dioles dengan Iodium tincture (Antisep).
  1. Pink eye
  • Sering disebut radang mata, katarak atau penyakit bular mata.
  • penyebab: bakteri Rickettsia conjungtivae, Mycoplasma conjungtivae, maupun Brahnanella catarali.
  • Penularan: horisontal dari ternak sakit ke ternak sehat baik melalui kontak langsung melalui sekresi mata maupun secara tidak langsung melalui debu, vektor lalat maupun peralatan yang tercemar bakteri. Pink eye menyerang semua umur ternak dengan tingkat kematian kurang dari 5% namun tingkat kesakitan cukup tinggi hingga 70-80%.
  • Gejala: mata merah dan meradang, sensitif terhadap cahaya (menghindari cahaya), keluar air mata berlebihan, kornea mata keruh, pembuluh darah tepi kornea mata membesar, infeksi dapat terjadi pada satu mata atau dua mata.
  • Penanganan: memisahkan ternak sakit dari ternak sehat, pengobatan dengan antibiotik yang efektif untul bakteri gram negatif, seperti Medoxy-LA atau Neo Meditril-I. Menghindarkan ternak dari sinar matahari langsung, memberikan multivitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan mempercepat penyembuhan dengan ADE-Plex Inj, atau Injeksi Vitamin B Kompleks. Sanitasi dan desinfeksi kandang setiap hari dengan Zaldes, Medisep, mencegah debu berlebihan supaya tidak memperparah kondisi serta yang tak kalah penting yakni mengendalikan lalat di area kandang.
  • Pengendalian lalat tersebut dapat dibantu dengan menggunakan Flytox untuk membunuh lalat dewasa dan Larvatox untuk membunuh larva lalat dengan mencampurkan ke dalam pakan.
  1. Cacingan
  • Penyakit parasit dalam atau endoparasit yang sering menyerang ternak adalah cacingan.
  • Penyebab: cacing dalam tubuh ternak, baik pada saluran percernaan, pernapasan, hati, maupun pada bagian tubuh lainnya.
  • Gejala: penurunan nafsu makan, gangguan pencernaan berupa konstipasi dengan tinja kering (kasus kronis), diare (kasus berat), lemas, anemia, pertumbuhan terhambat dan penurunan produktivitas. Pada kasus yang disebabkan Bunostomum spp. dapat muncul timbunan cairan di kulit terutama sekitar rahang.
  • Penularan dapat terjadi melalui rumput yang tercemar oleh larva infektif cacing, melalui cemaran feses yang mengandung telur cacing, maupun melalui inang antara seperti siput pada penularan cacing trematoda.
  • Penanganan: pemberian obat cacing (Nemasol K, Vermizyn SBK), pemberian multivitamin (ADE-Plex Inj, Vita B-Plex Bolus), sanitasi kandang dan peralatan kandang dengan membersihkan kandang dan peralatan serta mencuci dan mendesinfeksi secara rutin serta pemberantasan inang perantara yaitu siput
  1. Scabies (gudigan, kudis)
  • Penyakit kulit menular yang disebabkan parasit luar tubuh yakni tungau dan bersifat zoonosis atau menular ke manusia. Scabies disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei menyerang semua umur ternak terutama ternak muda.
  • Penularan: secara horisontal yakni kontak langsung dengan hewan sakit maupun tidak langsung melalui material yang tercemar tungau Sarcoptes.
  • Gejala klinis: kulit kemerahan, kemudian terbentuk seperti lepuhan dan terjadi peradangan, terkadang hingga keluar cairan karena adanya iritasi kemudian permukaan kulit terbentuk keropeng atau kerak. Ternak merasa gatal dan menggaruk atau menggesekkan tubuhnya sehingga terjadi luka.
  • Penanganan: pisahkan ternak sakit dari ternak sehat kemudian dilakukan pengobatan untuk membunuh tungau misalnya dengan Wormectin Plus Bolus, Wormectin Plus atau Wormectin Injeksi dan yang tak kalah penting dengan menjaga kebersihan kandang dan semprot kandang dengan antiektoparasit misalnya Delatrin.

 

MENJAGA TERNAK TETAP SEHAT

 

Agar kambing dan domba yang dipelihara memiliki daya tahan tubuh yang baik dan tidak mudah terserang penyakit maka perlu memperhatikan beberapa faktor, seperti:

 

Pemeliharaan yang baik

  • Ukuran kandang untuk kambing penggemukan dan perah minimal 120 x 150 cm per ekor, dengan tinggi panggung 70 cm sedangkan untuk budi daya untuk kandang induk dan dua anak 120 x 120 cm per ekor, kandang induk atau pembesaran setelah lepas sapih 100 x 125 cm per ekor dan kandang pejantan 110 x 125 cm per ekor (Verwandi, 2019). Pastikan sirkulasi udara dalam kandang baik dan tidak banyak debu.
  • Pembersihan area kandang secara rutin. Menggunakan desinfektan seperti Medisep atau Zaldes minimal seminggu sekali, membersihkan tempat pakan dengan mengambil sisa pakan dan kotoran. Kotoran yang berada dibawah kandang panggung perlu juga untuk rutin dibersihkan minimal sekali dalam seminggu.
  • Kontrol vektor dan ektoparasit di area kandang. Ektoparasit adalah jenis parasit yang hidup dengan menempel pada tubuh ternak seperti serangga misalnya lalat, kutu, tungau, caplak maupun pinjal. Parasit jenis ini dapat menyebabkan ternak menjadi kurus. Biasanya saat ternak terjangkit ektoparasit, nafsu makannya juga akan hilang. Penyemprotan ke lantai dan sela-sela kandang dilakukan secara rutin dengan obat anti ektoparasit.

 

Pemberian pakan berkualitas

  • Pemberian pakan dengan kandungan nutrisi yang seimbang dan sesuai kebutuhan menghasilkan produktivitas yang optimal dan meningkatkan daya tahan tubuh ternak.
  • Pemberian pakan konsentrat dapat diberikan dua kali sehari dan sebaiknya habis dalam sekali waktu untuk menghindari tumbuhnya jamur dan pembusukan yang bisa memicu adanya penyakit.
  • Hindari pemberian pakan berupa hijauan yang masih muda dalam jumlah banyak, karena kandungan mineral magnesium dan kalsiumnya masih rendah.
  • Jika memotong rumput sebaiknya rumput tersebut dipotong diatas permukaan air
  • Pemberian hijauan juga perlu dilayukan terlebih dahulu untuk mengurangi kadar air yang dapat memicu terjadinya kembung maupun penularan cacingan.
  • Jika digembalakan, usahakan tidak terlalu pagi dan gunakan tempat penggembalaan secara bergilir/berpindah tempat serta hindari tempat penggembalaan yang becek.

 

Kontrol kesehatan secara rutin

  • Pemeriksaan klinis harian, tindakan karantina ketika ternak baru datang untuk menghindari penularan penyakit, isolasi ternak yang sakit dan tindakan pengobatan.
  • Kontrol kesehatan harian dapat dilakukan tiap pagi misalnya sekaligus saat pemberian pakan. Jika terlihat ada kambing atau domba yang sakit, maka segera lakukan pemeriksaan klinis secara menyeluruh, kemudian diisolasi dan tidak boleh dicampur dengan ternak lain yang dilanjutkan dengan pengobatan.
  • Kandang tertular sebaiknya dikosongkan, dibersihkan, dicuci dan didesinfeksi misalnya dengan Formades atau Sporades kemudian istirahat kandang minimal 2 minggu.
  • Ternak yang mati akibat penyakit didesinfeksi kemudian dikubur atau dibakar.

 

Penyusun: Fauziah Yulia Adriyani (Penyuluh BPTP Lampung)

Sumber: dari berbagai sumber

PENGUNJUNG

55854

HARI INI

73870

KEMARIN

50761486

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook