Diseminasi Teknologi

VUB INPARI 36 LANRANG DAN INPARI 37 LANRANG ADAPTIF DI LAHAN PASANG SURUT KABUPATEN SAMBAS

Selasa, 28 Sep 2021
Sumber Gambar : BPTP Kalimantan Barat, 2021

      Kabupaten Sambas merupakan salah satu daerah sentra pengembangan padi di Kalimantan Barat. Namun sampai saat ini produktivitas masih rendah. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Prov. Kalimantan Barat, provitas padi Kabupaten Sambas tahun 2019  hanya 24,94 t/ha. Kondisi ini disebabkan sebagian besar petani masih menggunakan varietas lokal yang memiliki potensi hasil yang rendah serta sebagian lahannya merupakan lahan pasang surut yang memiliki kendala di dalam pengembangannya seperti kondisi luapan dan genangan air yang sangat variatif dari satu wilayah ke wilayah lain, jenis tanah yang sangat beragam dengan tingkat kesuburan yang rendah dan variatif serta kemasaman tanah yang tinggi.

      Badan Litbang Pertanian sampai dengan saat ini telah banyak melepas varietas unggul baru yang mempunyai potensi produksi tinggi seperti Inpari 36 Lanrang dan Inpari 37 Lanrang. Varietas ini mempunyai potensi hasil yang tinggi 9,1 - 10,0 t/ha GKG dan rata-rata hasil 6,3 – 6,7 t/ha GKG. Kedua varietas memiliki umur yang relative pendek 114 hari setelah semai (HSS), memiliki daun bendera yang tegak, sehingga kurang disukai burung, bentuk gabah yang ramping, tektur nasi yang pulen. serta memiliki ketahanan terhadap penyakit tungro dan blas. Seperti diketahui, salah satu penyakit utama pada tanaman padi adalah penyakit blas dan menjadi momok bagi petani tak terkecuali di Kabupaten Sambas. Dengan potensi yang tinggi serta ketahanannya terhadap penyakit blas, maka varietas Inpara 36 Lanrang dan Inpari 37 Lanrang diperkenalkan dan diintroduksi di Kabupaten Sambas  dalam bentuk demfarm

       Demfarm VUB Balitbangtan ini dilaksanakan di lahan pasang surut tipe luapan C di desa Lonam Kecamatan Pemangkat Kabupaten Sambas pada musim kemarau 2021 pada bulan April – September 2021 pada kelompoktani Dewi Mulya I dengan 7 petani kooperator, yang bertujuan untuk mengetahui adaptasi varietas Inpari 36 dan Inpari 37 di lahan pasang surut tipe luapan C. Lahan pasang surut tipe luapan C adalah wilayah yang tidak terluapi air pasang, tetapi air pasang mempengaruhi kedalaman muka air tanah kurang dari 50 cm dari permukaan tanah, dimana sumber airnya hanya mengandalkan curah hujan. Dengan dilaksanakannya kegiatan ini dilahan petani diharapkan mereka dapat melihat secara langsung pertumbuhan dan perkembangan varietas Inpari 36 dan Inpari 37.  

       Teknologi yang diterapkan dalam demfram ini adalah teknologi budidaya padi dengan pendekatan pengelolaan tanaman terpadu (PTT) dengan komponen teknologi sebagai  berikut  :

  1. Varietas unggul baru Inpari 36 Lanrang dan Inpari 37 Lanrang
  2. Benih bermutu kelas FS (Fondation seed) label putih
  3. Pengolahan tanah dilakukan dengan olah tanah sempurna menggunakan traktor roda empat
  4. Pengembalian jerami ke lahan.
  5. Penggunaan bibit muda < 21 hari setelah semai (HSS) dengan 2 – 3 tanaman/lubang tanam
  6. Sistem tanam dengan legowo 4:1 tipe 1, dimana pola tanam legowo dengan keseluruhan baris mendapat tanaman sisipan. Digunakannya pola ini, karena pola ini cocok diterapkan pada lahan-lahan kurang subur (lahan sub optimal) seperti lahan pasang surut.
  7. Penyulaman dilakukan 1 (satu) minggu setelah tanam
  8. Penggunaan pemupukan berimbang dengan dosis 200 kg urea/ha, 100 kg TSP/ha dan 75 kg KCl/ha. Pemupukan diberikan sebanyak 3 kali yaitu pada saat berumur < 14 hari setelah tanam (HST) dengan dosis 1/3 urea, semua TSP dan semua KCL, 25 – 28 HST dan 38 – 42 HST menggunakan urea berdasarkan Bagan Warna Daun (BWD). Pemupukan dilakukan secara sebar merata di lahan sawah.
  9. Pengendalian OPT sesuai tingkat serangan
  10. Penyiangan gulma dilakukan sebelum pemupukan.
  11. Panen dengan combine harvester

Teknologi PTT dengan komponen seperti di atas ternyata mampu menghasilkan produksi ubinan rata-rata dengan kadar air 14%, Inpari 36 Lanrang 8,06 t/ha dan Inpari 37 Lanrang 8,6 t/ha. Dari hasil ini menunjukkan bahwa varietas Inpari 36 dan Inpari 37 memiliki adaptasi yang baik di lahan pasang surut di Kabupaten Sambas. Hal ini memberikan angin segar kepada para petani bahwa ternyata dengan pengelolaan budidaya yang benar varietas Inpari 36 dan Inpari 37 yang sebenarnya merupakan varietas untuk lahan irigasi bisa beradaptasi dan memberikan produksi yang tinggi di lahan pasang surut tipe luapan C. Menurut petani hasil yang diperoleh ini lebih tinggi dari yang pernah diperoleh mereka yaitu hanya 6,36 – 6,53 t/ha.  Berdasarkan wawancara singkat dengan petani, mereka respon dengan varietas Inpari 36 dan Inpari 37 ini karena selain memiliki produksi yang tinggi, daun benderanya tegak sehingga kurang disukai burung, serangan OPT terutama blas tahan sehingga pada musim ini tanaman terhindar dari blas, umur yang relative pendek bisa untuk penanaman IP 300 serta  pemasakan gabah yang serentak. Namun menurut mereka Inpari 36 dan Inpari 37 ini memiliki warna daun tidak hijau tua seperti warna daun padi pada umumnya, sehingga terlihat kurang menarik. Walaupun demikin mereka akan menanam kembali Inpari 36 dan Inpari 37 ini pada musim tanam berikut yang telah didaftarkan ke UPTPSB untuk disertifikasi  Kami sarankan agar ditambahkan bahan organik ke sawah, ini terbukti Inpari 37 yang ditanam salah satu petani kooperator dilahan sawah yang diberi bahan organic pupuk kandang dan urine sapi, warna daunnya lebih hijau dibandingkan dengan Inpari 37 yang ditanam tanpa bahan organik tersebut.

Sumber :

Badan Pusat Statistik Prov.Kalbar, 2021. Kalimantan Barat Dalam Angka Tahun 2021. Pontianak

BPTP Kalimantan Barat, 2021. Draf Laporan Akhir VUB Padi Khusus dan VUB Padi Spesifik Lokasi di Kabupaten Sambas. Pontianak

Riza dan Alkasuma, 2008. Pertanian Lahan Rawa Pasang Surut dan Strategi Pengembangannya Dalam Era Otonomi Daerah. Jurnal Sumberdaya Lahan Vol.2 No. 2 Tahun 2008. ISSN 1907-0799. https://media.neliti.com/ media/publications/133313-id-none.pdf

Sasmita et al., 2020. Deskirpsi Varietas Unggul Padi. Inpari Sawah Irigasi (INPARI), Hibrida Padi (HIPA), Inbrida Padi Gogo (INPAGO), Inbrida Padi Rawa (INPARA). Badan Penelitian dan                Pengembangan Pertanian. Kementan

Penyusun : Ir. Sari Nurita, Penyuluh BPTP Kalimantan Barat

PENGUNJUNG

52432

HARI INI

73870

KEMARIN

50758064

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook