Diseminasi Teknologi

Teknologi Salibu

Senin, 27 Sep 2021
Sumber Gambar : BBP2TP Balitbangtan

Upaya    pemerintah    mewujudkan    swasembada    dan swasembada   berkelanjutan   untuk   komoditas   padi   terus dilakukan. Berbagai inovasi untuk meningkatkan produktivitas padi dan pencapaian target produksi telah dihasilkan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian  (Balitbangtan),  seperti  beberapa  varietas  unggul  spesifik lokasi, Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT),  dan  lain-lain.    Saat  ini  salah  satu  teknologi  budidaya  padi  salibu mulai  berkembang  di  Sumatera  Barat  dan  dicoba  di  beberapa  daerah  seperti  Jawa  Timur,  Kalimantan  Selatan, Kalimantan  Utara,  Sulawesi  Tengah,  Sumatra  Selatan,  Riau,  Aceh,  Sumut,  Babel,  NTB  dan  daerah lainnya.

Budidaya  padi  salibu  merupakan  varian  teknologi  budidaya  ratun,  yaitu    tunggul  setelah  panen  tanaman  utama  yang  tingginya  sekitar  25  cm, dipelihara selama 7-10 hari atau dibiarkan hingga keluar tunas baru.  Apabila  tunas  yang  keluar  kurang  dari  70%  maka  tidak disarankan  untuk  dilakukan  budidaya  salibu.  Jika  tunas  yang tumbuh > 70% maka potong kembali secara seragam hingga ketinggian  3-5  cm,  kemudian  dipelihara  dengan  baik  hingga panen.

Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari penerapan budidaya padi salibu adalah hemat tenaga kerja, waktu, dan biaya, karena tidak dilakukan pengolahan tanah dan penanaman ulang dan menekan kebiasaan  petani  membakar  jerami  setelah  panen.  Budidaya  padi  salibu  dapat  meningkatkan produktivitas padi per unit area dan per unit waktu, sehingga dapat meningkatkan indek panen dari sekali menjadi dua sampai tiga  kali  panen  setahun. Jika  dibandingkan  dengan  teknologi  ratun konvensional, salibu mampu menghasilkan jumlah anakan yang  lebih  banyak  dan  seragam,  produktivitas  bisa  sama bahkan lebih tinggi dari tanaman utamanya. Penerapan budidaya padi salibu dengan memanfaatkan varietas berdaya hasil tinggi, tentu  akan  lebih  menggairahkan  aktivitas  usahatani,  karena  dapat  diperoleh  tambahan  hasil  yang  sangat  nyata  (Erdiman, 2015 komunikasi pribadi).

Beberapa verietas padi yang telah dikaji dan ditanam dengan sistem salibu di beberapa lokasi mampu berproduksi dengan baik, seperti varietas Batang Piaman, Cisokan, Inpari 19, Inpari 21, Logawa dan lain-lain.  Menurut Susilawati et al. (2011) beberapa varietas  padi  hibrida  dan  padi  tipe  baru  seperti  Hipa  3,  Hipa  4, Hipa 5, Rokan, dan Cimelati terbukti mampu menghasilkan ratun  dengan  baik,  sehingga mampu  menghasilkan  tanaman  salibu dengan  baik.  Berdasarkan  hasil  pengamatan Erdiman (2014), budidaya padi salibu mampu berproduksi sama atau  lebih  tinggi  dibandingkan  tanaman  utamanya,  rata-rata umur  padi  salibubisa  sama  atau  lebih  pendek  dari  tanaman  utamanya.

Lahan Agroekosistem yang dapat digunakan untuk Teknologi Salibu

Lahan Irigasi Desa

  • Kondisi lahan subur dengan sistem pengairan yang mudah diatur atau  dikendalikan  secara  swadaya  oleh  kelompok   
  • Jika saat  panen  kondisi  tanah  kurang  basah,  maka  masukkan  air  ke  lahan  segera  setelah  dilakukan  panen  tanaman  utama,  yang  menyisakan  tunggul  tanaman setinggi  25  cm  dari  permukaan  tanah,  untuk  mencapai kondisi kapasitas lapang.
  • Tunggul sisa  panen  dibiarkan  selama  7-10  hari  setelah  panen atau hingga keluar anakan baru, apabila tunas yang keluar  kurang  70%  dari  populasi  maka  tidak  disarankan untuk dilakukan budidaya salibu.
  • Jika tunas  yang  tumbuh  >  70%  dari  populasi  lakukan pemotongan  ulang  tunggul  sisa  panen  secara  seragam dengan   alat   pemotong   hingga   tersisa   3-5 cm   dari permukaan   Perombakan sisa jerami bekas potongan tunggul padi dipercepat menggunakan dekomposer.

 Lahan Tadah Hujan

  • Sebelum tanam  tanaman  utama  dilakukan  pengolahan  tanah secara sempurna dan penambahan  bahan organik sekitar 2-5 ton/ha.
  • Saat panen tanaman utama upayakan kondisi tanah tidak terlalu kering,  jika  kering  maka  lakukan  pemberian  air  segera  setelah  panen  dengan  ketinggian  2-5  cm  untuk  mencapai kondisi kapasitas lapang.
  • Sisa pemotongan   panen   tanaman   utama   sebaiknya  diletakkan  di  sekitar  tanaman  atau  sebagai  penutup  permukaan  tanah  untuk  mempertahankan  kelembaban tanah.
  • Tunggul sisa  panen  dibiarkan  selama  7-10  hari  setelah  panen atau hingga keluar anakan baru, apabila tunas yang keluar  kurang  70%  dari  populasi  maka  tidak  disarankan  untuk dilakukan budidaya salibu.
  • Jika tunas  yang  tumbuh  >  70%  dari  populasi  dilakukan  pemotongan  ulang  tunggul  sisa  panen  secara  seragam  dengan   alat   pemotong   hingga   tersisa   3-5   cm   dari  permukaan tanah.  Perombakan sisa jerami bekas potongan tunggul padi dipercepat menggunakan dekomposer.

 Lahan Pasang Surut

  • Teknologi budidaya padi salibudi lahan pasang surut harus dilakukan kajian  dan  sebaiknya  dipilih  lokasi-lokasi  yang  memiliki tipe luapan A ke B yang tidak tergenangi ketika air pasang.
  • Sistem budidaya padi sistem ratun di lahan pasang surut selama ini banyak dilakukan pada musim tanam periode Oktober – Maret, dan diasumsikan bahwa sistem budidaya salibu juga dapat dilakukan.
  • Tunggul sisa  panen  dibiarkan  selama  7-10  hari  setelah  panen atau hingga keluar anakan baru, apabila tunas yang keluar  kurang  70%  dari  populasi  maka  tidak  disarankan  untuk dilakukan budidaya salibu.
  • Jika tunas  yang  tumbuh  >  70%  dari  populasi  lakukan  pemotongan  ulang  tunggul  sisa  panen  secara  seragam  dengan   alat   pemotong   hingga   tersisa   3-5   cm   dari  permukaan tanah. Perombakan sisa jerami sisa potongan tunggul padi dipercepat menggunakan dekomposer.

 

 

Disusun oleh   : Edwin Herdiansyah, SP

Sumber           : Balitbangtan

PENGUNJUNG

50297

HARI INI

73870

KEMARIN

50755929

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook