Materi Penyuluhan

HAMA DAN PENGENDALIANNYA UNTUK MENJAGA MUTU MELON

Senin, 13 Sep 2021
Sumber Gambar : Direktorat Perlindungan Hortikultura

Buah melon salah satu tanaman semusim yang dapat ditanam pada musim kemarau. Akhir-akhir ini banyak petani yang mengembangkan, karena pasaran bagus di dalam negeri maupun untuk ekspor. Pada zaman modern ini konsumen menuntut  bahan makanan bermutu baik untuk keamanan pangan. Untuk mendapatkan mutu produk dan jaminan keamanan pangan dapat diupayakan mulai dari budidaya tanaman, termasuk pengendalian hama tanaman. Berikut beberapa jenis hama dan pengendaliannya yang perlu diketahui para petani untuk menjaga melon tetap bermutu baik.

 

Hama Lalat Buah

Hama ini disebabbkan oleh Bactrocera cucurbitae Coquilett dan melon yang diserang akan timbul gejala pada buah berwarna kehitaman dan keras, adanya bercak bulat membusuk dan berlubang kecil, akhirnya buah akan rusak dan rontok.

Pengendaliannya dapat dilakukan 2 cara, yaitu cara kultur teknis dan cara fisik/mekanik. Cara kultur teknis, yaitu dengan melakukan sanitasi lingkungan dan mengumpulkan buah yang terserang baik yang jatuh maupun yang masih di pohon kemudian dimusnahkan dengan cara: (1) Buah melon yang terserang dimasukan ke dalam kantong plastik, ikat yang kencang agar larva/lalat tidak bisa keluar; atau (2)  Kubur ke dalam tanah sedalam + 1 meter untuk memastikan bahwa larva tidak berkembang menjadi pupa. Selain sanitasi, juga dapat dengan menanam selasih di sekeliling kebun sebagai tanaman perangkap. Sedangkan cara fisik/mekanik, dengan pembungkusan buah melon dengan kertas/kantong plastik. Dapat juga dapat menggunakan perangkap yang terbuat dari toples plastik atau botol plastik bekas air minum (seperti pada gambar), lalu diisi dengan “atraktan” (bahan pemikat lalat buat) yang terdiri dari metil eugenol, protein hidrolisa atau selasih. Selain itu dilakukan pemasangan kapur barus untuk mengusir lalat buah dengan digantungkan 3 bungkus setiap bedeng.

 

Hama Thrips

Penyebabnya Thrips parvispinus Karny dan gejalanya terlihat pada daun muda atau tunas menjadi keriting dan tanaman menjadi kerdil. Serangga menghisap cairan daun dan bersembunyi di celah-celah daun pucuk yang belum terbuka. Hama aktif menyerang pada pagi hari atau senja dan serangan sangat tinggi pada musim kemarau.

Cara pengendaliannya ada 3 (tiga) cara, yaitu cara kultur teknis, cara fisik/mekanis, dan cara kimiawi. Cara kultur teknis, dengan melakukan sanitasi lingkungan dan memusnahkan sisa tanaman serta inang lain di sekitar tanaman. Cara fisik/mekanis, yaitu memangkas bagian tanaman yang terserang kemudian dibakar di tempat yang jauh dari kebun melon. Cara kimiawi, yaitu penggunaan insektisida berbahan aktif dimetoate 400 gram per liter, sipermetrin 30,36 gram per liter, tetasipaermetrin 30 gram per liter.

 

Hama Kutu Daun

Penyebabnya kutu aphids (Aphis gossypli Glover), dengan gejala daun tanaman menggulung dan pucuk tanaman menjadi keriting akibat cairan daunnya dihisap hama. Ciri lain yaitu terdapat getah cairan yang mengandung madu dan dari kejauhan terlihat mengkilap, pada tanaman banyak dijumpai semut hitam.

Pengendalian dapat dilakukan 2 (dua) cara, yaitu cara kultur teknis dan cara kimiawi. Cara kultur teknis dengan melakukan sanitasi kebun, caranya membersihkan gulma di sekitar pertanaman. Daun yang terserang hama dipangkas, lalu dimusnahkan dengan cara dibakar. Kemudian jangan menggunakan pupuk nitrogen berlebihan. Sedangkan cara kimiawi, dengan menyemprotkan insektisida berbahan aktif tetasipermetrin 30,36 gram per liter terutama pada bagian pucuk tanaman.

 

Hama Kumbang Daun

Penyebabnya Aulacophora femoralis Motschulsky, gejalanya terlihat adanya luka bekas serangan berupa keratin konsentris pada daun. Pada stadia larva, hama menyerang jaringan perakaran sampai pangkal batang. Kerusakan pada akar atau pangkal batang dapat menyebabkan tanaman menjadi layu.

Pengendalian ada 3 (tiga) cara, yaitu cara kultur teknis, cara fisik/mekanis, dan cara kimiawi. Cara kultur teknis dapat dilakukan dengan pergiliran tanaman yang tidak satu family dengan Cucurbitaceae. Sedangkan cara sanitasi kebun dengan membersihkan gulma di sekitar pertanaman, pengolahan tanah harus sempurna agar mematikan kumpulan telur atau pupa hama yang masih terdapat dalam tanah, dan penyekatan lahan dengan plastik transparan/klambu nyamuk. Untuk cara fisik/mekanis dilakukan dengan pencabutan tanaman yang terserang, lalu dibakar. Kemudian cara kimiawi dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif profenofos, diafentiuron, metidation.

 

Hama Ulat Perusak Daun

Penyebabnya Palpita sp. dan Spodoptera litura, dengan gejala daun-daun tanaman yang terserang menjadi meranggas hingga tinggal tulang daunnya. Bahkan jika tanaman sudah berbuah ulat ini menggerogoti kulit buah. Kadang-kadang merusak bunga sehingga menggagalkan pembentukan buah.

Pengendalian ada 3 (tiga) cara, yaitu cara kultur teknis, cara fisik/mekanis, dan cara kimiawi. Cara kultur teknis dilakukan dengan pemangkasan cabang-cabang sekunder, sehingga hanya batang utama yang dipelihara dan pemangkasan agar aerasi di lingkungan tanaman menjadi lancar serta serangan ulat menjadi lebih mudah terkendali. Selain itu dengan pemasangan lampu perangkap agar serangga tidak sampai berkembang biak. Sedangkan pengendalian cara fisik/mekanis dilakukan dengan penangkapan lalat buah menggunakan alat perangkap (sex pheromone) yang diberi methyl eugenol untuk Spodoptera litura. Cara ini sama dengan pengendalian hama lalat buah. Kemudian pengendalian cara kimiawi, dengan menggunakan insektisida berbahan aktif betasiflutrin 25 gram per liter.

 

Hama Tungau

Penyebabnta Tetranycus cinnabarinus boisduva dan gejalanya pada daun terdapat luka nekrotis berupa titik-titik kuning yang makin lama makin menghitam, kemudian daun yang terserang melengkung dan terpelintir. Pada bagian bawah daun yang terserang akan terlihat sekumpulan hama yang tampak seperti titik-titik merah dan kuning.

Pengendaliannya dapat dilakukan 3 (tiga) cara, yaitu cara kultur teknis, cara fisik/mekanis, dan cara kimiawi. Cara kultur teknis, dilakukan sanitasi kebun dengan membersihkan gulma sekitar tanaman. Sedangkan pengendalian cara fisik/mekanis dilakukan dengan mencabut tanaman yang terserang berat dan dibakar. Kemudian pengendalian cara kimiawi, dengan menggunakan akarisida berbahan aktif propargit.

 

Penulis: Susilo Astuti H. (Penyuluh Pertanian Pusluhtan)

 

 

Daftar Pustaka:

  1. Mengenal Lalat Buah. Direktorat Jenderal Hortikultura, Direktorat Perlindungan Hortikultura. Kementerian Pertanian. 2020.
  2. Pengelolaan Organisme Pengganggu Tumbuhan Secara Ramah Lingkungan Pada Tanaman Melon. Direktorat Perlindungan Hortikultura Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian. 2015.
  3. Buku Pintar Budi Daya Tanaman Buah Unggul Indonesia. Jagakarsa – Jakarta Selatan: PT Agromedia Pustaka. 2009.
PENGUNJUNG

16905

HARI INI

89943

KEMARIN

35565371

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook