Materi Penyuluhan

MENCEGAH TURUNNYA PRODUKSI KARET DENGAN PENGENDALIAN OPT

Senin, 06 Sep 2021
Sumber Gambar : https://www.bing.com/images.....

Karet selain merupakan komoditi penyumbang devisa negara kedua setelah kelapa sawit, karet juga mempunyai peran ekonomis, karet juga mempunyai peran sosial karena menjadi sumber penghidupan bagi jutaan penduduk  Indonesia. Secara ekologis karet mendukung pelestarian lingkungan hidup, sumberdaya alam dan keaneka ragaman hayati.  Indonesia menjadi produsen karet ke-2 setelah Thailand,

Walau karet sering diterpa isu gejolak anjloknya harga karet yang membuat petani menjerit, namun tentunya berbagai upaya terus dilakukan pemerintah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani karet. 

Potensi karet sangat signifikan, dimana luas areal seluas 3.671.302 ha, produksi  sebanyak 3.630.268 ton, Produktivitas sebanyak 1.161kg/ha, didominasi oleh perkebunan rakyat (85%), menciptakan lapangan kerja bagi 2,5 juta KK dengan rata-rata luas kepemilikan + 1,25 ha, sedangkan untuk volume ekspor sebesar 2,99 juta ton dengan nilai US$ 5,10 Milyar. Mengingat peluang karet dipasar dunia sangat menjanjikan, produksi karet harus dijaga agar tidar turun produksinya. Salah satu upaya agar produksi karet tidak turun adalah dengan meminimalkan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).  Sehubungan dengan hal tersebut pekebun perlu memahami tentang pengetahuan praktis tentang OPT karet sebagai berikut:

 Jenis OPT pada tahap perkembangan tanaman

  1. Jamur akar putih menyerang pada: 1) pembibitan karet; 2) tanaman belum menghasilkan; dan 3) tanaman menghasilkan.
  2. Gugur Daun Karet menyerang pada: 1) pembibitan karet; 2) tanaman belum menghasilkan; dan 3) tanaman menghasilkan.
  3. Jamur Upas menyerang pada: 1) tanaman belum menghasilkan; dan 2) tanaman menghasilkan.
  4. Alang-alang menyerang pada: 1) tanaman belum menghasilkan; dan 2) tanaman menghasilkan
  5. Kering Alur Sadap menyerang pada tanaman menghasilkan
  6. Kanker Garis menyerang pada tanaman menghasilkan
  7. Mouldy Rot menyerang pada tanaman menghasilkan
  8. Gejala yang dapat diamati
    1. Gejala Jamur Akar Putih daun pucat kuning dan tepi atau ujung daun terlipat kedalam, daun gugur dan ujung ranting mati, pada leher akar terdapat jamur Rhizomorf berwarna putih menempel pada permukaan kulit akar, dan pada serangan berat, akar tanaman menjadi
    2. Gejala jamur upas ada 4 (empat) stadium yaitu : 1) sarang laba-laba; 2) membintil; 3) corticium; 4) nekator.
    3. Gejala serangan Oidium sp yaitu pada daun terdapat bercak tembus cahaya dan permukaan bawahnya terdapat koloni berwarna putih.
    4. Gejala serangan Corynespora sp yaitu pada daun terdapat guratan menyerupai tulang ikan sejajar pada urat daun
    5. Gejala serangan Colletotrichum sp yaitu pada daun terdapat bercak coklat kehitaman dan tepi daun menggulung.
    6. Gejala Kering Alur Sadap yaitu sebagian sebagian alur sadap tidak mengeluarkan lateks, beberapa minggu biasanya seluruh alur sadap tidak lagi mengeluarkan lateks, pada bagian yang tidak keluar lateks warnanyaluruh alur sadap tidak lagi mengeluarkan lateks, pada bagian yang tidak keluar lateks warnanyaubah menjadi cokelat, kulit batang pecah-pecah dan terjadi pembengkakan atau tonjolan pada batang.

 TINDAKAN PENGENDALIAN     

Dengan mempertimbangkan aspek-aspek ekologi, ekonmis. sosial dan teknis, cara pengendalian dapat dilakukan dengan pencegahan bila serangan tidak berhasil dicegah, perlu dilakukan tindakan korektif yang dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  1. Pencegahan
  1. Jamur putih degan melakukan: 1) Membersihkan lahan yang akan digunakan dari tunggul tanaman; 2) Tidak menanam ubi kayu dan ubi jalar sebagai inang penyakit jamur akar putih
  2. Jamur upas dengan melakukan: 1) Menanam klon tahan; 2) Mengatur jarak tanam agar kebun tidak lembab
  3. Gugur daun karet dengan melakukan: 1) Menggunakan bibit yang tidak tertular penyakit; 2) Menggunakan klon yang tahan; 3) Penanaman multiklon pada areal yang luas; 4) Mengatur jarak tanam agar kebun tidak lembab
  4. Kering alur sadap melakukan penyadapan tidak berlebihan (sesuai jadwal)
  5. Kanker garis dengan melakukan: 1) Mengatur kelembaban; 2) Tidak menyadap terlalu dekat dengan permukaan tanah
  6. Mouldy rot dengan melakukan: 1) Menanam klon tahan; 2) Menyadap klon dengan benar (tidak terlalu dalam)

 Tindakan Korektif

  1. Jamur akar putih pada seangan tanaman ringan atau berat dilakukan hal-hal sebagai berikut: 1) Eradikasi tanaman terserang; 2) Penggunaan agens hayati   Tri choderma sp; 3) penggunaan fungisida Bayleton 250 EC (2,5 ml/l   air), Calixin 750 EC (5,0 ml/l   air) dan Anvil 50 SC (5,0 ml/  l air), penaburan fungisida   Bayfidan 3G dengan dosis   5-10 g/pohon; 4)  Menanam tanaman   antagonis seperti lidah,   mertua dan kunyit; 5) Membuat parit isolasi  pada   tanaman tetangga yang   terserang jamur akar putih; 6) Membuat parit isolasi  pada   tanaman tetangga yang   terserang jamur akar putih; 7) Penggunaan belerang
  2. Jamur upas pada stadia terakhir atau pada stadia sarang laba-laba dan stadia corticium dengan melakukan: 1) Potong dan bakar bagian Tannaman yang terserang; 2) -Pengolesan fungsida yang   Terdaftar
  3. Gugur daun karet pada serangan >50% atau pada waktu flush dilakukan dengan: 1) Pemupukan dgn unsur K yang tinggi; 2) -Fungsida kontak yang terdaftar
  4. Kering alur sadap pada serangan ringan ata pada wktu penyadapan berlebihan dengan melakukan: 1) Penambahan pupuk KCl; 2) Pemberian formulasi   oleokimia; 2) Menghentikan penyadapan selama 1 tahun pada didang sadap yang diobati; 3) Tetap menyadap di bidang/sisi yang lain; 4) Menghindari penyadapan yang terlalu sering; 5) Pengerokan kulit yang kering sampai batas 3-4 mm dari kambium dgn menggunakan alat pengerok atau pisau sadap. Kulit yang dikerok diolesi dgn Antico F-96 setiap 1 bulan sebanyak 3 kali ulangan
  5. Kanker garis bila penyakit menyerang selama musim hujan dilakukan pemberian fugisida yang terdaftar
  6. Mouldy rot bila ditemukan serangan penyakita dilakukan dengan memberikan Disinfektans terhadap pisau sadap dana memberikan fungsida terdaftar

 

Mengingat komoditi karet merupakan komoditi unggulan sebagai salah sumber penghasil devisa negara, maka dengan pengendalian OPT dengan sistim PHT pada tanaman karet merupakan hal yang harus menjadi perhatian para pekebun agar terhindar dari turunnya produksi karet. (Sri Puji Rahayu/yayuk_edi@yahoo.com).

PENGUNJUNG

21061

HARI INI

89943

KEMARIN

35569527

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook