Diseminasi Teknologi

Budidaya Seraiwangi

Selasa, 31 Agu 2021
Sumber Gambar : BPTP Bangka Belitung

Pendahuluan

          Seraiwangi merupakan salah satu jenis tanaman penghasil minyak atsiri yang diperoleh melalui hasil penyulingan. Dalam dunia perdagangan minyak ini lebih dikenal dengan sebutan Citronella Oil, di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan “Citronella Oil of Java”.

Minyak atsiri seraiwangi diperoleh dari proses penyulingan bagian daun tanaman seraiwangi.  Di Indonesia minyak seraiwangi merupakan komoditas ekspor dengan daerah sentra produksi seraiwangi di Indonesia adalah Propinsi Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, dan Jawa Timur. Dalam upaya meningkatkan mutu minyak seraiwangi Indonesia, beberapa varietas unggul telah dilepas oleh Kementerian Pertanian antara lain Seraiwangi 1, Sitrona 1 Agribun dan Sitrona 2 Agribun.

Minyak atsiri hasil penyulingan serai wangi dapat dimanfaatkan untuk mengobati rematik dan pegal-pegal pada badan, selain itu juga dapat menghilangkan jerawat dan mengusir nyamuk. Minyak seraiwangi dapat digunakan sebagai 1). Bahan baku industry sabun, pasta gigi dan obat-obatan, 2). Bahan baku parfum berkualitas tinggi, 3). Bahan baku untuk pencuci mulut, 4). Pestisida nabati seperti fungisida, bakterisida, insektisida dan nematisida, dan 5). Saat ini mulai dikembangkan seraiwangi sebagai bioaditif bahan bakar minyak.

Tanaman seraiwangi dapat tumbuh mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 1.200 m dpl. Untuk mendapatkan pertumbuhan daun yang baik diperlukan iklim yang lembab serta intensitas cahaya yang cukup karena akan berpengaruh terhadap kandungan minyak. Pertumbuhan optimal pada tanah yang subur gembur dan kaya akan humus serta tidak tergenang.

 

Teknik Budidaya

1. Penyiapan Lahan

            Tanaman seraiwangi merupakan salah satu tanaman yang muda tumbuh, lahan yang digunakan harus diolah terlebih dahulu supaya bersih dari gulma dan sisa-sisa tanaman yang ada dengan cara dibajak, setelah itu dibiarkan selama sebulan. Setelah satu bulan tanah diberi pupuk dasar dengan pupuk kandang sebanyak 20-30 ton/ha. Pembuatan lubang tanam dilakukan dengan cara ditugal dan jaraknya disesuaikan dengan keperluan serta tingkat kemiringan lahan.

 2. Penyiapan Bahan Tanaman.

            Tanaman seraiwangi diperbanyak secara vegetatif dengan serpihan anakan/rumpun. Serpihan anakan dari rumpun ini dapat ditanam langsung di lapang atau melalui kebun pembibitan terlebih dahulu. Bahan tanaman berbentuk serpihan diambil dari pohon induk terpilih (klon unggul). Daunnya dipangkas setinggi 20 cm dari permukaan tanah untuk mengurangi penguapan selama proses pemisahan. Serpihan/anakan harus mempunyai akar yang sehat dan agar anakan tidak rusak pengambilannya dilakukan dengan cara membongkar rumpun dengan menggunakan garpu. Setelah itu baru kemudian rumpun dipisah-pisahkan.

 3. Cara Penanaman

            Waktu penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan, karena kebutuhan air pada awal pertumbuhan menjadi faktor yang sangat menentukan dalam keberhasilan penanaman. Lubang tanam yang telah dipersiapkan sebelumnya ditanam dengan 2-3 serpihan anakan.

 4. Pemeliharaan

            Kegiatan pemeliharaan meliputi penyulaman, penyiangan atau pembuangan gulma, pembumbunan, pemupukan dan pemberantasan hama dan penyakit. Kegiatan pembumbunan berguna untuk merangsang pertumbuhan dan menjaga agar tunas-tunas baru tidak roboh terkena angin kencang dan memperbaiki drainase. Kegiatan pembumbunan dilakukan 2-3 minggu sekali dan dapat dilakukan bersamaan dengan waktu penyiangan sehingga lebih menghemat biaya pemeliharaan.

            Untuk kegiatan pemupukan dosis pupuk yang dianjurkan yaitu urea 100 kg/ha, SP-36 25 Kg/ha, KCL 125 kg/ha untuk tanaman dengan jarak tanam 100 x 75 cm dikombinasikan dengan pemberian 30 ton/ha pupuk kandang. Pupuk diberikan dengan cara membenamkan di sekitar perakaran tanaman dengan cara melingkar dan dilakukan pada awal musim hujan. Pupuk kandang diaplikasikan satu minggu sebelum tanam, dan saat akan tanam diberikan 1/3 dosis urea dan 1 dosis KCL. TSP/SP-36 diaplikasikan pada saat tanaman berumur 2-3 minggu. Dan 2/3 dosis urea diaplikasi lagi pada saat tanaman berumur 12 minggu (3 bulan).

 5. Pola Tanam

            Tanaman seraiwangi dapat ditumpangsarikan dengan tanaman lain baik tanaman semusim maupun tanaman tahunan. Ada dua macam pilihan penanaman seraiwangi dengan sistem pola tanam yang dapat diterapkan yaitu tanaman seraiwangi sebagai tanaman pokok dengan tanaman semusim sebagai tanaman sela atau tanaman seraiwangi sebagai tanaman sela diantara tanaman perkebunan.

 6. Panen

            Tanaman serai wangi mulai dipanen pada umur 6 bulan setelah tanam dengan cara memangkas/memotong daun dari rumpun tanaman. Pemangkasan dilakukan dengan cara memotong atau memangkas daun yang setinggi 10-15 cm dari permukaan tanah. Panen berikutnya dapat dilakukan setiap 3 bulan sekali tergantung dari kondisi tanaman, curah hujan dan kesuburan tanah.

 

Penyulingan Minyak Seraiwangi

 Minyak seraiwangi mengandung senyawa sitronella sekitar 35-45%, geraniol 85-90%, sitronellal 11-15%, geraniol asetat 3-8%, sitronellal asetat 2-4% dan sedikit mengandung seskuiterpen serta senyawa lainnya. Sebelum disuling, daun seraiwangi hasil pemangkasan sebaiknya dikeringkan dibawah panas matahari selama 4-5 jam (cuaca cerah). Penyulingan dapat dilakukan dengan dikukus atau dapat langsung dengan uap air  selama 4-5 jam. Penyulingan dapat dihentikan apabila minyak sudah tidak keluar lagi. Minyak yang sudah dihasilkan ini sebaiknya dipisah-pisahkan berdasar interval waktu dan lamanya penyulingan agar memenuhi standar ekspor. Penggunaan kertas saring dapat dilakukan untuk memisahkan kotoran dan air dari minyak.

 

PENGUNJUNG

50245

HARI INI

73870

KEMARIN

50755877

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook