Materi Lokalita
SUMATERA BARAT > KABUPATEN SOLOK >

Varietas Spesifik Padi Lokal di Kabupaten Solok

Selasa, 31 Agu 2021
Sumber Gambar : sumatra.bisnis.com

Beras Solok sudah lama dikenal masyarakat Sumatera Barat dan daerah-daerah lainnya dengan rasa nasi pera yang khas. Kabupaten Solok merupakan salah satu penghasil beras utama dan bermutu tinggi  yang pada tahun 2019 mencapai luas panen 65.689,5 hektar dengan tingkat produktivitas rata-rata 5,62 t/ha. Lahan sawah di Kabupaten Solok berada pada daerah dengan topografi lereng berjenjang mulai elevasi dataran rendah (300 m dpl) sampai dataran tinggi (1.450 m dpl).

Konsumen Sumatera Barat biasanya menyenangi rasa nasi pera dan enak dengan varietas populer beras Anak Daro, Cisokan, Ceredek Merah, Padi Kuning dan lainnya. Varietas ini berkembang pada spesifik lokasi tertentu dimana varietas unggul sampai saat ini belum banyak berkembang pada agroekosistem tersebut. Disamping itu potensi hasilnya cukup baik dan disenangi oleh banyak petani dan masyarakat.

Sementara varietas unggul yang berkembang didiominasi oleh Cisokan, IR 42 dan Batang Ombilin untuk sawah dataran tinggi. Cisokan dan IR 42 memiliki keterbatasan daya adaptasi dan kemampuan berproduksi pada agro ekosistim spesifik dataran rendah sampai elevasi sedang. Selain itu kedua varietas sangat peka terhadap hama penyakit utama seperti hama wereng, penyakit blas dan tungro.

Varietas lokal mempunyai sifat adaptasi/kesesuaian daerah tertentu, produksi rendah, berbetang tinggi dan kuat, berumur dalam/panjang, tidak respon terhadap input/pemupukan dan berpenampilan masih beragam, mempunyai rasa nasi enak dan disenangi banyak konsumen serta mempunyai harga pasar tinggi. Terdapat puluhan varietas lokal Solok diantaranya varietas Induk Ayam, Jambur Urai, Padi Parak, Padi Putih, Sikadedek, Padi Suntiang, Tambun Data dan Ceredek berasal dari Padang Pariaman. Kesemua varietas lokal ini perlu dipertahankan dan dilestarikan sebagai kekayaan dan aset plasma nutfah daerah.

Karakteristik varietas padi tradisional (lokal) belum teridentifikasi dengan baik sehingga potensi dan peluang pengembangannya sebagai varietas padi lokal unggul belum diketahui. Penampilan populasi varietas lokal dilapangan terlihat masih beragam terutama karakter tinggi tanaman, umur masak, bentuk dan warna gabah. Hal ini akan berpengaruh terhadap produksi yang dihasilkan petani selain itu benih varietas lokal yang digunakan petani bermutu rendah karena diperoleh dari hasil panen padi petani secara terus menerus dan diwarisi turun temurun.

Oleh karena itu perlu dilakukan identifikasi varietas lokal Solok dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik utama, daya adaptasi dan potensi hasilnya. Sehingga produktifitas padi lokal dapat ditingkatkan dan sekaligus dapat memberi legalitas usaha perbenihan guna menjamin kelangsungan kelestarian usaha budidaya padi lokal dengan tetap mempertahankan mutu dan kualitas beras Solok.

Berdasarkan informasi beberapa petani di Kabupaten Solok terdapat cukup banyak varietas lokal dan yang diperoleh benihnya hanya sebanyak 8 varietas lokal dan satu varietas unggul Batang Ombilin. Hasil pengamatan dan identifikasi dilapangan terdapat varietas lokal mempunyai potensi produksi baik untuk dikembangkan sebagai varietas unggul diantaranya Ceredek Putih asal Tanjung Balik, Padi Kutu, Ceredek asal Gaduang Surian dan Ceredek Asal Talang Babungo dengan produksi berturut-turut 4,86 t/ha, 4,77 t/ha, dan 4,64 t/ha. Keempat varietas memiliki karakter utama komponen hasil cukup baik yaitu jumlah anakan berkisar 14,7-19,5 batang/rumpun, jumlah biji/malai sebanyak 151,3-201,5 dan berat 1000 biji 20,6-27,0 gram. Umur tanaman berkisar 126-147 hari setelah semai. Persentase gabah hampa berkisar 7,2-25,6%. Masing-masing varietas berpenampilan cukup beragam berkisar 10-20%.

Penyusun: Slamet Muharmoko, SP, M.Si (PP Madya) 

Sumber: http://sumbar.litbang.pertanian.go.id/index.php/publikasi/karya-ilmiah-peneliti-dan-penyuluh

PENGUNJUNG

2916

HARI INI

64232

KEMARIN

37670792

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook