Materi Lokalita
SULAWESI SELATAN > KABUPATEN SINJAI > SINJAI BARAT

PENGENDALIAN HAMA TIKUS DI LAHAN SAWAH (Rattus Argentiventer) Oleh ABDUL RAHMAN, SP. PENYULUH PERTANIAN MADYA

Selasa, 31 Agu 2021
Sumber Gambar :

Tikus sawah (Rattus argentiventer) adalah hama yang relatif  sulit di kendalikan.  Perkembang biakan hama tikus sangat cepat secara teoritis satu pasang tikus mampu berkembang biak menjadi 1.270 ekor dalam setahun, walaupun ini jarang terjadi tapi ini menggambarkan betapa pesatnya perkembangan populasi tikus kurun waktu setahun,  serta daya rusak pada tanaman cukup tinggi menyebabkan hama tikus menjadi ancaman pada setiap pertanaman padi.  Kerusakan tanaman yang di akibatkan serangan tikus sangat besar, karena menyerang tanaman sejak di pesemaian, pertanaman baru sampai hingga menjelang pelaksanaan panen.   Berkaitan dengan hal tersebut maka berbagai upaya dapat di lakukan untuk menekan perkembangan populasi tikus harus dilakukan terus menerus mulai dari pesemaian, pertanaman sampai panen dengan menggunakan berbagai teknik secara terpadu.  Peran serta dan kerjasama masyarakat / kelempok tani, penentu kebijakan dalam hal ini Dinas tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan, penyuluh  Pertanaian , POPT , dan tokoh masyarakat sangat di perlukan dan berkolaborasi  dalam melakukan pengendalian hama tikus.

Beberapa teknik pengendalian yang dapat di lakukan :

  1. TBS (Trap Barrier System)

Pemagaran plastik mengelilingi petakan pesemaian atau sawah yang di lengkapi perangkap bubu pada taiap jarak tertentu.

Cara pemasangan TBS

  • Pilih petakan sawah yang berukuran 20 x 50 m2 atau sesuaikan kondisi lapangan.
  • Pasang ajir bambu setiap bentangan satu meter
  • Gunakan tali atau kawat untuk menegakkan pagar lastik pada petakan, pagar perlu di benamkan 10 cm kedalam tanah agar tikus tidak menorobos pada bagian bawah pagar di pasang setinggi 60 cm untumk mencegah loncatan diatas permukaan tanah
  • Buat saluran air di luar pagar minimal setengah meter.
  • Pasang paling sedikit 1-2 bubu pada masing-masing sisi9Pasang serapat mungkin dengan pagar, agar tikus tudak menorobos masuk selain lubang perangkap.
  • Pasang jalan masuk dengan meletakkan lumpur di depan pintu masuk perangkap.
  1. Gropyokan

Pengendalian dengan peralatan lengkap (Pemukul, emposan, jaring , dan sebagainya) yang dilakukan olen seluruh komponen masyarakat  yang terkoodinir dan terncana dalam satu hamparan pertanaman.

  1. Pengumpanan

Pengumpanan dapat dilakukan dengan dua cara:

  • Pengumpanan dengan hanya memberikan makanan kepada tikus berupa dedak halus pada lalulintas disekitar areal persawahan untuk mencegah tikus sampai di pertanaman.
  • Pengumpanan racun tikus dengan rodentisida akut atau anti kagulan yang di campur dengan gabah tau beras kemudian di letakkan pada lalu lintas tikus. Dan perlu dingat bahan yang dijadikan umpan jangan sampai terkena tangan karena penciuman tikus sangat tajam, kemudi pelume umpan malam kedua harus lebih banyak dari malam pertaman.
  1. Pemasangan jaring

Jaring di pasang pada salah satu sisi hamparan sawah, kemudian di sisi lain secara bersama-sama di lakukan penggiringan tikus dan di tepi jaring beberapa orang menunggu dengan alat pemukul.

  1. Penggenangan

Penggenangan lubang tikus pada saat sebelum pesemaian, dan junga penggenangan pada areal pertanaman untuk  mengurangi tingkat serangan pada pertanaman.

  1. Sanitasi

Sanitasi lingkungan dilakukan dengan melakukan pembersihan pada pematang sawah, pengairan dan areal di sekitar pertanaman dengan jalan membersihkan semak-semak, serta membongkar sarang tikus yang ada secara serentak dalam satu hamparan.

  1. Pengendalian hayati

Pengendalian dengan menggunakan musuh alami, seperti kucing, anjing, dan burung hantu.

  1. Penggunaan pestisida nabati

Pestisida nabati adalah pestisida yang di buat dengan memanfaatkan bahan-bahan alami yang ada disekitar kita untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman, seperti tumbuhan, pestisida nabati memiliki ke untungan :

  • Relative aman.
  • Ramah lingkungan
  • Murah dan mudah di dapatkan
  • Tidak menyebabkan keracunan dan tidak akan menyebabkan hama menjadi resisten. Sdangkan kekurangannya adalah penggunaannya harus berulan-ulang, tidak tahan lama, daya kerjanya lambat dan tidak membunuh hama secara langsung.

Ada beberapa jenis tanaman yang dapat di gunakan sebagai bahan pestisida nabati untuk mengendalikan hama tikus pada padi sawah adalah cabai (capsikum annuum), bbuah jengkol Phitecellobium) dan buah popaya tua (carica papaya).

Cara Membuatnya

  • Buah jengkol dikupas lalu di rendam selama 24-36 jam sampai keluar bau menyengat dengan perbandingan 1 kg jengkol 10 liter air, hasil rendaman tadi dapat di semprotkan kepada tanaman padi untuk mengusir hama tikus.
  • Cabai di tumbuk halus, di rendam selama semalam, kemudian di saring dan dapat langsung di semprotkan kepada tanaman.
  • Pembuatan pestisida nabati dengan pepaya tua yaitu buah pepaya tua dikupas, di potong-potong kecil seperti bola dadu kemudian di sebarkan di tempat-tempat yang sering di lewati tikus dengan catatan harus pakai kaos tangan mulai pada saat di kupas sampai penaburannya.
  1. Penaturan pola tanam

Pengaturan pola tanam di lakukan rotasi antara padi dan palawija dan pengaturan pola tanam secara serempak.

WAKTU PENGENDALIAN

  1. Masa Pra Tanam

Di lakukan kegiatan: sanitasi, gropyokan massal, penggenangan, perbaikan pematang, penanaman taman perangkap yan di pasangi TBS.

  1. Masa pesemaian

Masih di lakukan pemasangan TBS, pengomposan belerang, penggenangan, pemasangan umpan, baik umpan biasa maupun umpan beracun serta pengawasan .

  1. Masa Pertanaman Padi

Dilakukan beberapa teknik pengendalian secara ter[padu antara lain TBS, Pengemposan Belerang, pemasanngan jaring, pengumpanan racun tigus, penggunaan pestisida nabati , gropyokan dan sanitasi serta tidak lepas dari pengawasan.

PENGUNJUNG

3141

HARI INI

64232

KEMARIN

37671017

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook