Diseminasi Teknologi

TEKNIS PERBENIHAN JAGUNG HIBRIDA

Selasa, 31 Agu 2021
Sumber Gambar : Koleksi tim perbenihan jagung hibrida BPTP Lampung

PENDAHULUAN

Jagung merupakan salah satu dari tiga tanaman sereal utama di dunia yang menempati posisi penting dalam perekonomian maupun ketahanan pangan nasional karena pemanfaatannya yang luas sebagai sumber pangan, pakan ternak, dan bahan baku industri. Salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas dengan biaya rendah yakni penggunaan varietas jagung hibrida. Pada tahun 2015, penggunaan jagung hibrida di Indonesia baru mencapai 56% dari total 3,79 juta ha luas panen jagung, dan sisanya petani menggunakan jagung bersari bebas dengan tingkat produktivitas yang lebih rendah dibandingkan hibrida.

Penelitian jagung hibrida di Indonesia diawali pada tahun 1950an oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian. Hibrida silang puncak dan silang tunggal yang dibentuk pada tahun 1950an sampai dengan 1970an menunjukkan hasil yang sama atau lebih tinggi 20-40% dibandingkan populasi dasarnya atau varietas komposit introduksi saat itu (Varietas Perta dan Kalingga) tetapi hibrida yang dihasilkan tersebut tidak dilepas sebagai varietas.

Varietas unggul yang dihasilkan dari kegiatan pemuliaan akan berdampak pada peningkatan produktivitas, produksi dan nilai tambah usahatani jagung karena daerah produksi jagung di Indonesia sangat beragam kondisi agroklimatnya dan masing-masing membutuhkan varietas yang sesuai. Varietas yang toleran cekaman lingkungan merupakan komponen penting dalam stabilitas hasil jagung.

Penggunaan benih hibrida pada budidaya jagung sudah umum digunakan petani untuk mendapatkan produksi tinggi. Jagung hibrida memiliki tingkat produksi yang tinggi, dapat mencapai 8-12 ton per hektar, namun kekurangannya hasil panen tidak dapat dijadikan benih untuk ditanam kembali karena produksinya akan turun mencapai 30 % hal ini menimbulkan ketergantungan bagi petani terhadap benih jagung hibrida tersebut, selain itu harga jagung hibrida jauh lebih mahal. Lebih lanjut, kurangnya pengetahuan dan keterampilan petani dalam menangkarkan benih jagung hibrida sangat terbatas.

 

SYARAT LOKASI

Jagung merupakan salah satu tanaman berumah dua yaitu memiliki bunga jantan (malai) dan bunga betina (tongkol) yang terpisah. Secara alami, jagung merupakan salah satu tanaman yang dapat menyerbuk sendiri tanpa bantuan manusia. Lebih lanjut, hasil persilangan sendiri tanaman jagung mengakibatkan terjadinya depresi inbreeding, dan persilangan dua tetua yang homozigot menghasilkan F1 yang sangat vigor. Oleh karena itu, pemilihan lokasi untuk perbenihan jagung harus memenuhi beberapa syarat. Syarat minimal lokasi yang perlu diperhatikan yaitu:

  1. Lahan yang digunakan harus subur atau diusahakan dapat ditingkatkan terlebih dahulu kesuburannya dengan pemberian amelioran (pembenah tanah).
  2. Lahan dapat diisolasi dari pertanaman jagung lainnya atau pada radius minimal 200 m tidak ada pertanaman jagung lain disekitarnya. Isolasi juga dapat dilakukan dengan membedakan waktu pertanaman dengan tanaman jagung lainnya sekitar ≥21 hst (isolasi waktu).
  3. Pengaturan air yaitu tersedia sumber air pengairan untuk antisifasi penyimpangan musim hujan dan tidak tergenang atau banjir saat hujan.

 

BUDIDAYA UMUM

 Penyiapan Lahan

Lahan dibajak sempurna hingga gembur, merata dan bebas gulma.  Drainase terutama pada bagian-bagian yang berpotensi tergenang jika terjadi hujan lebat. 

Pemupukan

Pemupukan diberikan sebanyak 2 kali, dimana pada setiap aplikasi perlu disesuaikan dengan stadia pertumbuhan tanaman. Pupuk diberikan dengan cara menugal ± 5 cm dari pangkal akar tanaman, kemudian lubang ditutup kembali setelah pupuk diberikan. Rekomendasi umum pemupukan an organik sebagai berikut:

  • Pupuk dasar pada umur 7-10 hst menggunakan NPK dengan dosisi 200 kg/ha dicampur dengan urea 100 kg/ha.
  • Pupuk kedua pada umur 28-35 hst urea dengan dosis 200 kg/ha + NPK 50 kg/ha
  • Pada lahan yang kurang subur dapat ditambahkan pupuk kandang/kompos 2 ton/ha dan dolomit.

Penyiangan

Penyiangan pertama menggunakan herbisida sistemik selektif dan dianjurkan menggunakan jenis Paket Anti Gulma Jagung (PAG) yang mengandung bahan aktif ATRAZ 600SC + ALERON 60SC + BESMOR. Pengendalian dilakukan sesuai dengan dosis yang dianjurkan dan semprot pada lahan jagung umur 2-3 minggu. Penyiangan kedua dapat dilakukan dengan menggunakan herbisida kontak atau secara manual dengan cangkul. Penyiangan menggunakan herbisida kontak dapat dilakukan dengan sprayer yang pada ujung nozzle-nya ditambahkan alat pelindung agar percikan herbisida tidak mengenai daun tanaman. Penyemprotan dianjurkan pada pagi hari dengan cara mengarahkan nozzle sedekat mungkin dengan permukaan tanah.

Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama utama yang biasanya dijumpai pada pertanaman jagung adalah lalat bibit, penggerek batang dan tongkol. Khusus untuk pencegahan serangan hama lalat bibit (terutama pada daerah endemik lalat bibit), dapat dilakukan dengan pemberian carbofuran bersamaan dengan penanaman benih dalam lubang tanam, takaran 10-15 kg (produk)/ha. Pengendalian hama penggerek batang dilakukan jika ada gejala serangan hama, untuk itu dapat diberikan carbofuran melalui pucuk tanaman dengan takaran 10 kg produk/ha (3-4 butir/tanaman). Untuk ulat FAW dianjurkan penyemprotan sedini mungkin yaitu saat mulai ada gelaja serangan dengan menggunakan insektisida jenis Fenite atau Mertiur pada sore menjeang magrib atau di malam hari.

Pengairan

Pemberian air perlu dilakukan jika tanaman menunjukkan gejala kekurangan air (daun mulai menggulung). Pendistribusian air sebaiknya dilakukan melalui alur-alur di antara baris tanaman yang telah dibuat saat pembumbunan. Selama pertumbuhan tanaman jagung pada musim kemarau biasanya memerlukan pemberian air sampai 6-8 kali (tergantung saat tanam dan tekstur tanahnya).

 

PENANAMAN

Jarak tanam yang dianjurkan 70 cm antar baris dan 25 cm dalam baris, 2-1 biji per lubang secara berselang-seling (Pada barisan yang sama, jika pada lubang pertama memasukkan 2 biji, lubang berikutnya 1 biji, berikutnya 2 biji, berikutnya 1 biji dan seterusnya). Rasio antara tanaman betina dan jantan adalah 4:1. Penanaman dilakukan dengan cara tugal sesuai dengan jarak tanam yang digunakan. Jika tersedia, lubang tanam dianjurkan ditutup dengan menggunakan pupuk organik yang sudah matang dengan dosis 1 ton/ha. Saat tanam hendaknya lubang tanam tidak terlalu dalam supaya benih mudah tumbuh menembus permukaan tanah/penutup lubang.

Waktu tanam induk jantan dan betina disesuaikan dengan selang waktu umur bunga jantan dan betina masing-masing varietas sehingga waktu penyerbukannya sesuai. Sebagai contoh selang waktu tanam benih jantan dan betina adalah sebagai berikuit:

  1. Perbenihan varietas Nakula Sadewa 29: tetua pejantan (G102612) ditanam 4-5 hari lebih awal dari tanaman betinanya (MAL 03).
  2. Perbenihan varietas JH 37: tetua pejantan (CLYN 231) ditanam 3-4 hari setelah tanam tetua betina atau tetua betina ditanam lebih awal.

 

ROGUING/SELEKSI

Salah satu syarat dari benih bermutu adalah memiliki tingkat kemurnian genetik yang tinggi, oleh karena itu rouging perlu dilakukan dengan benar dan dimulai pada fase vegetatif sampai akhir pertanaman. Roguing dilakukan terhadap tanaman yang menyimpang dari rata-rata umum atau tidak sesuai dengan deskripsi dan penciri khusus serta tanaman yang terserang hama dan penyakit, baik pada tanaman induk betina maupun induk jantan.  Kegiatan ini dilakukan pada saat tanaman berumur 2-4 minggu setelah tanam, menjelang penyerbukan, dan menjelang panen. Sesaat setelah penyerbukamn berakhir, dilakukan pembabatan tanaman pejantan.

 

PENCABUTAN BUNGA JANTAN (DETASSELING)

Dalam memproduksi benih jagung hibrida, pencabutan bunga jantan pada induk tanaman bentina wajib dilakukan secara tepat waktu, yaitu sebelum mekarnya  bunga jantan pada tanaman betina (saat masih terbungkus daun bendera). Hal ini untuk mencegah agar tidak terjadi penyerbukan sendiri atau penyerbukan sesama galur/induk tanaman betina. Untuk mencegah agar tidak ada tanaman yang terlewatkan tidak tercabut bunga jantannya, maka pencabutan dilakukan setiap hari selama periode berbunga. Pencabutan bunga jantan ini sebaiknya dilakukan pada pagi hari.

 

PANEN DAN PROSESING

Pertanaman untuk produksi benih dapat dipanen apabila sudah dinyatakan lulus sertifikasi lapangan oleh BPSB. Sebelum panen dilakukan, perlu disiapkan peralatan yang akan digunakan untuk panen yaitu karung, terpal, karung, alat pengering/lantai jemur dan mesin pemipil. Semua peralatan tersebut dibersihkan sebelum digunakan. Tahapan yang dilakukan yaitu:

  1. Penen dilakukan setelah benih masak fisiologis atau kelobot telah mengering berwarna kecoklatan (biji telah mengeras dan pangkal biji telah mulai membentuk lapisan hitam/black layer minimal 50% di setiap barisan biji). Pada saat itu biasanya kadar air biji telah mencapai kurang dari 30%.
  2. Semua tongkol yang telah lolos seleksi pertanaman di lapangan dipanen, kemudian dijemur di lantai jemur sampai kering sambil dilakukan seleksi tongkol (tongkol yang memenuhi kriteria diproses lebih lanjut untuk dijadikan benih).
  3. Penjemuran tongkol dilakukan sampai kadar air biji mencapai sekitar 16%, selanjutnya dipipil dengan mesin pemipil pada kecepatan sedang agar biji tidak pecah/retak atau dengan alat pemipil khusus benih produksi Balitsereal yaitu PJM1- BALITSEREAL atau alat pemipil lainnya yang menjamin benih yang dipipil tidak pecah atau mengalami pelukaan secara fisiologis.
  4. Setelah biji terpipil, dilakukan sortasi biji dengan menggunakan ayakan yang diameternya 3 great, yaitu saringan untuk biji besar, biji sedang dan biji kecil. Dengan demikian, ukuran biji pada setiap lot benih seragam.
  5. Biji-biji yang terpilih sebagai benih dijemur kembali atau dikeringkan dengan alat pengering (untuk mempercepat proses pengeringan) sampai kadar air mencapai 9-10%. Benih siap dikemas.
  6. Pengemasan dilakukan dalam kemasan kantong plastik yang mempunyai ketebalan 0,2 mm, sebaiknya plastik yang digunakan tidak tembus cahaya dan berwarna putih, benih yang sudah dikemas diberi label hasil pemeriksaan benih oleh BPSB untuk didistribusikan. Sisa benih yang belum terdistribusi, sebaiknya disimpan dalam ruang ber AC agar umur benih lebih lama.

Penyusun: Fauziah Yulia Adriyani (Penyuluh BPTP Lampung)

Sumber bacaan: Petunjuk Teknis Teknologi Produksi Benih Jagung Hibrida (Balitsereal Maros)

PENGUNJUNG

50093

HARI INI

68073

KEMARIN

37485198

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook