Materi Lokalita
JAWA TENGAH > KABUPATEN KLATEN > WONOSARI

Penggerek Batang

Senin, 30 Agu 2021
Sumber Gambar : PENGGEREK BATANG

PENGGEREK BATANG

OLEH; YAYUK SRI RAHAYU, SP

Di Desa Sekaran Kecamatan Wonosaari Kaabupaaten Klaaaaten, pertanaman, serangan penggerek batang padi bisa terjadi semenjak di persemaian sampai masa pertumbuhan dan perkembangannya. Kadang-kadang lebih dari satu jenis penggerek yang menyerang tanaman padi, kedatangannya pun tidak bersamaan sehingga bagi sebagian petani merasa kesulitan dalam pengendaliannya.

Dengan mengetahui gejala serangan penggerek batang padi, jenis dan waktu serangannya maka pengendalian hama ini tidaklah sulit. Metode pengendalian hama penggerek batang padi yang dimaksud adalah Pengendalian Hama Terpadu (PHT) atau Management Pest Control, yaitu suatu metode pengendalian hama yang manggabungkan atau mengintegrasikan berbagai teknik pengendalian yang kompatibel dan berkesinambungan.

Dalam metode ini, mekanisme penekanan populasi hama dilakukan dengan mengelola tanaman, lingkungan dan musuh alaminya. Ada beberapa hal penting atau prinsip dalam PHT, yaitu : budidaya tanaman sehat, pengamatan secara berkala dan pelestarian musuh alami. Apabila prinsip-prinsip tersebut dilaksanakan dengan benar, para petani akan mampu merekomendasikan sendiri tindakan pengendalian yang harus dilakukan untuk menekan populasi hama sehingga tidak menimbulkan kerugian secara ekonomis.

Perubahan cara bercocok tanam yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini seperti penggunaan varietas baru, jarak tanam dan  penggunaan pupuk nitrogen yang berlebihan  dapat mempengaruhi perkembangan populasi dan tingkat kerusakan penggerek.

  1. Pengaruh pemupukan nitrogen dan fosfat

Pada tanaman yang dipupuk nitrogen dosis tinggi, telur penggerek ditemukan lebih banyak dengan perkembangan larva penggerek lebih baik.  Larva penggerek lebih berhasil menggerek dan hidup pada tanaman yang dipupuk nitrogen daripada yang tidak dipupuk.

Pemupukan nitrogen meningkatkan pertumbuhan tanaman, kandungan air tanaman dan tanaman menjadi lebih sukulen, sehingga lebih rentan terhadap penggerek.  Pupuk fosfat tidak berpengaruh terhadap perkembangan larva penggerek padi, tetapi berpengaruh terhadap efisiensi serapan nitrogen oleh tanaman menjadi lebih baik.  Kandungan silika yang tinggi dalam batang mengurangi tingkat kerusakan tanaman oleh penggerek padi.

  1. Varietas

Beberapa faktor seperti morfologi, anatomi dan fisiologi tanaman mempengaruhi pertumbuhan penggerek padi.  Sifat-sifat fisiologi seperti kandungan air dan pati yang tinggi lebih disukai penggerek padi.  Walaupun belum ada varietas yang dinyatakan tahan terhadap penggerek, namun di lapang terlihat adanya perbedaan tingkat kerusakan. Hal ini dapat dimanfaatkan dalam upaya pengendalian.

  1. Jarak tanam

Pertanaman padi dengan jarak tanam jarang akan mendapat serangan dan kerusakan akibat penggerek yang lebih berat daripada pertanaman padi dengan jarak tanam rapat. Hal tersebut disebabkan pada pertanaman yang lebih rapat, suhu dan kelembaban nisbi akan menjadi tinggi, dan hal ini akan mengakibatkan kematian yang tinggi pada larva yang baru keluar dari telur.

Teknik-teknik pengendalian yang digunakan dalam PHT yaitu teknik pengendalian dengan budidaya tanaman (cultural practices), teknik pengendalian secara fisik/mekanik (physical control), secara biologis (biological control) dan teknik pengendalian dengan kimia (pesticide control). Dalam penerapannya, teknik-teknik tersebut bisa dilakukan sendiri-sendiri maupun bersamaan tergantung situasi pertanaman, tingkat serangan dan populasi musuh alami.

Teknik Budidaya (Cultural Practices)

Pengendalian hama penggerek batang padi dengan teknik budidaya yaitu cara penekanan populasi hama maupun pencegahan resiko kerugian akibat serangan penggerek batang padi dengan cara bercocok tanam.

Cara-cara yang dapat dilakukan dalam bercocok tanam padi untuk menghindari serangan hama penggerek batang, antara lain :

  1. Penggunaan varietas tahan

Secara genetis belum ada varietas yang tahan terhadap serangan penggerek batang padi, tetapi secara morfologi tanaman ada beberapa sifat yang tidak disukai serangga tersebut sehingga memungkinkan terhindar dari kerusakan yang berat.

 Tanaman padi yang tidak disukai penggerek batang padi adalah varietas-vareitas yang bertipe semi-kerdil, bentuk morfologinya adalah berbatang pendek, mempunyai lapisan lignin yang tebal pada jaringan batang dan pelepah daun serta jumlah sel silika yang besar.

  1. Penentuan waktu tanam

Pengendalian penggerek batang padi dalam PHT adalah segala upaya untuk menghindari kerusakan tanaman, kehilangan hasil atau kerugian secara ekonomis akibat sundep dan/atau beluk. Tindakan ini bisa bersifat upaya pengendalian populasi maupun pencegahan serangan.

Penentuan waktu tanam yang tepat diharapkan bisa menghindari serangan penggerek batang padi. Ini dikarenakan penerbangan ngengat serangga hama ini mempunyai kekhasan, pada waktu-waktu tertentu jumlahnya sangat banyak dan di saat yang lain praktis sedikit. Di daerah tropis yang biasa ditanami padi 2 atau 3 kali dalam setahun, siklus hidup penggerek batang padi tidak pernah putus. Di sini endemik serangan sundep/beluk, pembuatan persemaian sebaiknya dilakukan 7-10 hari setelah puncak penerbangan ngengat penggerek.

Pencegahan serangan penggerek batang padi dengan menentukan waktu tanam yang tepat sebenarnya sudah dilakukan sejak dulu. Ini dibuktikan adanya kalender tanam (pranata mangsa) sebagai acuan waktu penanaman.

  1. Rotasi tanaman

Di daerah tropis yang mengenal dua musim dalam setahun biasanya mempunyai pola tanam Padi-Padi-Bera atau Padi-Padi-Palawija. Untuk menghindari serangan penggerek batang padi perlu dilakukan rotasi tanaman. Pergiliran tanaman dengan menanam komoditas selain padi dilakukan untuk memutus siklus hidup serangga penggerek batang, misalnya dengan pola Padi-Palawija-Bera, Padi-Palawija-Palawija atau Padi-Sayur-Palawija.

Pengendalian dengan rotasi tanaman memungkinkan dilakukan di lahan yang beririgasi setengah teknis atau tadah hujan, sedangkan di lahan beririgas teknis rotasi tanaman sebaiknya dilakukan secara berkala dalam wilayah yang luas

  1. Pengolahan tanah dan penggenangan

Pengolahan tanah yang sempurna yaitu membalikkan lapisan olah tanah sampai sisa-sisa tanaman terpendam kemudian digenangi selama beberapa hari sehingga larva yang tertinggal di dalam batang bisa mati dan pupa gagal menjadi ngengat.

  1. Sanitasi lahan

Sanitasi lahan yaitu membersihkan lingkungan pertanaman yang terserang sundep/beluk dengan intensitas sedang sampai berat. Cara ini dilakukan dengan memotong sisa-sisa tanaman hingga pangkal batang dan membakarnya sehingga pupa yang bersemayam di pangkal batang bisa mati terbakar. 

Pengendalian Fisik/Mekanik (Physical/Mecanical Control)

Teknik pengendalian ini cukup efektif untuk mencegah serangan penggerek batang padi. Pengendalian fisik.mekanik dilakukan oleh petani secara langsung maupun dengan alat (perangkap).

 

 

 

  1. Pemungutan kelompok telur

Tindakan pengendalian ini dilakukan dengan memungut kelompok telur di persemaian. Cara ini efektif untuk mencegah sundep pada tanaman yang baru pindah (transplanting).

Beberapa Keuntungan pengendalian dengan cara ini antara lain :

  • Lebih mudah dilakukan karena terbatas di lahan persemaian yang ukurannya lebih sempit dibandingkan bila tanaman sudah dipindahtanamkan.
  • Larva yang baru menetas dari sebuah kelompok telur bisa mencapai 200 bahkan lebih, sehingga sangat efektif mencegah serangan sundep.
  • Tanaman yang baru pindah dari persemaian masih beradaptasi di lingkungan baru, jaringan belum kompak dan lemah sehingga mudah ditembus oleh larva.
  1. Penggunaan perangkap

Perangkap yang biasa digunakan adalah lampu karena ngengat penggerek batang tertarik pada cahaya. Lampu ditempatkan di pertanaman, di bawahnya terdapat bak/baki berisi air sehingga ngengat yang sampai ke lampu akan terjatuh ke air. Selain kupu penggerek batang, perangkap ini juga bisa menangkap serangga  hama lain yang aktif pada malam hari dan tertarik pada cahaya. Dengan perangkap lampu, jumlah ngengat yang tertangkap bisa dihitung sehingga bisa diketahui periode puncak penerbangan ngengat.

Teknik ini cukup efektif untuk peramalan serangan penggerek batang padi sehingga menarik sebagian peemerhati masalah pertanian dengan mengembangkan perangkap lampu. Saat ini telah ditemukan Water Electric Light Trap (WELT) yaitu perangkap lampu menggunakan cahaya violet dengan jaring kawat di sekelilingnya yang dialiri listrik (seperti pada raket nyamuk). Perangkap ini lebih banyak menangkap serangga karena ketertarikan terhadap cahaya violet lebih disukai.

Pengendalian Biologi (Biological Control)

Pengendalian secara biologi dengan menggunakan musuh alaminya, baik predator, parasitoid maupun virus/jamur patogenik. Contoh predator yang memakan kelompok telur adalah jangkrik, sedangkan yang memangsa ngengat penggerek adalah kelelawar dan laba-laba.

Bangsa tabuhan (Trichogramma sp.) juga merupakan musuh alami penggerek batang padi. Serangga ini memarasit kelompok telur penggerek. Musuh alami lain adalah virus dan jamur entomopatogenik, yaitu cendawan yang berkembang biak dengan tubuh serangga sebagai inangnya. Metharrizium anisopliae adalah salah satu contoh jamur yang menyerang larva penggerek batang padi.

Teknik pengendalian secara biologis banyak dikembangkan dalam pertanian organik karena mekanisme penekanan terhadap populasi serangga hama sangat kuat, tidak menimbulkan dampak negatif pada tanaman serta tidak menimbulkan kerusakan lingkungan. Saat ini, musuh-musuh alami serangga hama diperbanyak atau dikembangbiakkan secara khusus menjadi agensia hayati. 

Pengendalian Kimiawi (Pesticide Control)

Pengendalian secara kimiawi atau dengan pestisida sebaiknya hanya dilakukan bila populasi serangga hama atau intensitas serangan penggerek batang telah melebihi ambang pengendalian. Pada tanaman padi dalam masa pertumbuhan (stadia vegetatif) penggunaan pestisida bila tingkat serangannya lebih dari 5%, sedangkan pada vase generatif jika intensitasnya 15% atau lebih.

Dengan pestisida, populasi serangga hama dapat ditekan dan turun secara cepat bahkan reaksinya bisa langsung dilihat (knockdown effect). Namun demikian, kelebihan itu harus dibayar dengan harga tinggi karena selain mahal, penggunaan pestisida juga berdampak terbunuhnya musuh alami ataupun binatang lain yang berada di sekitar pertanaman.

Ini bisa menimbulkan ledakan hama kedua (resurgensi) dan munculnya sifat kekebalan terhadap pestisida tersebut (resistensi). Selain dampak negatif terhadap lingkungan, penggunaan pestisida juga dapat meninggalkan residu pada produk pertanian yang bisa menimbulkan gangguan kesehatan terhadap manusia.

Pestisida merupakan alternatif terakhir dalam sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT) jika tingkat serangannya sudah melebihi ambang ekonomi atau populasinya telah mencapai ambang pengendalian. Saat ini, pestisida yang beredar di pasaran sangat banyak bahkan satu jenis bahan aktif bisa lebih dari 3 merek dagang. Oleh karena itu, penggunaan pestisida sebaiknya memperhatikan 5+1 (lima plus satu) tepat, yaitu : tepat jenis, tepat sasaran, tepat waktu, tepat dosis, tepat cara atau tepat aplikasi dan tepat harga.

PENGUNJUNG

3833

HARI INI

64232

KEMARIN

37671709

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook