Diseminasi Teknologi

Pemanfaatan Limbah Tongkol Jagung Sebagai Pakan Ternak Ruminansia

Jum'at, 27 Agu 2021
Sumber Gambar : BPTP Lampung

    Ikilm di Indonesia mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan, pada saat musim penghujan ketersediaan hijauan melimpah sedang pada musim kemarau ketersediaannya terbatas karena menurunnya pertumbuhan hijauan. Di samping itu kendala lain di daerah padat penduduk adalah keterbatasan lahan untuk penanaman hijauan pakan ternak karena prioritas pemanfaatan lahan adalah untuk industri, perumahan dan penanaman tanaman pangan. Terbatasnya ketersediaan pakan dapat menyebabkan turunnya produktivitas ternak seperti turunnya bobot badan, turunnya produksi susu, jeleknya kondisi tubuh induk sehingga bila dikawinkan induk tidak bunting-bunting.

   Pada usahatani jagung pipilan dihasilkan produk utama berupa jagung pipilan dan produk sampingan berupa jerami jagung (batang dan daun jagung), kulit dan janggel jagung. Produk samping tersebut sudah biasa dipakai untuk bahan pakan sapi kecuali tongkol jagung. Tongkol jagung biasanya dibuang atau dibakar padahal sebetulnya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak ruminansia.

    Pemanfaatan tongkol jagung yang umumnya adalah untuk bahan bakar, bioetanol setelah difermentasi. Sedangkan pemanfaatannya sebagai pakan ternak belum banyak dikembangkan secara optimal. Hal ini mungkin disebabkan oleh kualitasnya yang relatif rendah seperti pada limbah pertanian lainnya. Tongkol jagung ini mempunyai kadar protein yang rendah (2,94) dengan kadar lignin (5,2%) dan cellulose yang tinggi (30%), dan kecernaan ± 40%. Tongkol jagung yang hanya digiling biasanya dipakai untuk campuran ransum sapi potong hanya sebanyak 10% dari susunan ransum.

    Dalam pembuatan silase harus kondisi penyimpanan dalam keadaan kedap udara, kandungan bahan kering 30-40% atau kandungan kadar air 60-70%, pH silase 3 – 4.  Apabila karbohidrat terlarut tidak cukup tersedia maka material tersebut tidak terfermentasi secara baik karena tidak cukup tersedia sumber karbohidrat untuk diubah menjadi asam laktat oleh bakteri lactobaccilus, akibatnya akan dihasilkan silase dengan kualitas yang rendah. Beberapa sumber karbohidrat terlarut yang biasa dipakai dalam pembuatan silase dan dapat memperbaiki kualitas silase tonggkol jagung di antaranya molasses, dedak padi dan jagung giling.

    Proses pembuatan silase dari tongkol jagung caranya tongkol jagung digiling dicampur dengan sumber karbohidrat terlarut (dedak padi, molasses dan jagung giling) sebanyak 2% dari bahan kering, kemudian dibasahi dengan air sehingga didapatkan kadar air + 60%, kemudian ditutup rapat dalam keadaan kedap udara disimpan selama 21 hari, setelah itu baru dibuka dan siap digunakan untuk pakan ternak. Silase yang bagus baunya agak asam manis karena adanya fermentasi oleh bakteri asam laktat yang mengubah karbohidrat dalam tongkol jagung menjadi asam laktat, pH harus asam biasanya di bawah pH 4. Silase ini dapat disimpan lama asal disimpan dalam keadaan tertutup rapat.

 

 

Disusun oleh   :  Edwin herdiansyah, SP

Sumber           :  Balitnak, Balitbangtan

PENGUNJUNG

43209

HARI INI

68073

KEMARIN

37478314

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook