Materi Lokalita
SUMATERA BARAT > KABUPATEN SOLOK >

Sistem Tanam Padi Padat Produksi

Jum'at, 27 Agu 2021
Sumber Gambar : Met`21

Terhampar hijauan daun padi nan subur di lahan sawah Kelompoktani Muaro Tangkonan Nagari Tanjung Balik Kecamatan X Koto Diatas Kabupaten Solok Sumatera Barat. Kelompok yang beranggotakan 27 orang tersebut, dengan ketua Bapak Jasril, seluruhnya berusaha tani padi sawah. Walau dengan kondisi tanah yang pada umumnya adalah tanah PMK (Podsolik Merah Kuning), namun tingkat produksinya cukup dapat dibanggakan.

Melalui bimbingan PPL kecamatan, dibawah komando Kepala BPP Bapak Dwipa Ujianta, S.Pt, khususnya pada pengawalan dan pendampingan penerapan teknik budidaya yang fokus pada pupuk, telah dapat dirasakan oleh para petani bahwa hasil padinya terus mengalami peningkatan. Bahkan ada diantaranya yang telah mendapatkan peningkatan hasil padi hingga 100% dari produksi sebelumnya.

Beliaulah Bapak Amrizal, SP, sebagai PPL WKPP Tanjung Balik telah mencoba secara konsisten membina para petani dalam berbudidaya padi walau secara sederhana tetapi hasilnya nyata dapat meningkatkan produksi. Teknologinya ia beri nama Sistem Tanam Padi Padat Produksi melalui penerapan pupuk yang baik dengan 3T: tepat jenis, tepat dosis dan tepat waktu.

Secara umum, para petani telah mulai memperhatikan pupuk sebagai nutrisi tanaman dari segi jenisnya, baik pupuk yang terkait peruntukkannya dengan pertumbuhan tanaman (vegetatif) ataupun pupuk yang terkait peruntukkannya dengan produksi tanaman (generatif).    Jenis-jenis pupuk tersebut telah diketahui para petani memiliki fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan perkembangan tanamannya.

Para petani di Nagari Tanjung Balik umumnya juga telah dapat memahami bahwa pupuk harus diberikan sesuai dengan dosisnya yang tepat. PPL telah memiliki hitungan praktis bahwa setiap 10 kg benih dosis pupuk yang diberikan totalnya adalah sebanyak 1 kg pupuk pada luas lahan faktual yang diusahakan. Sehingga diperlukan data luas lahan yang akurat agar dapat dihitung kebutuhan benihnya dan dosis pupuknya.

Selanjutnya terakhir, PPL telah membimbing petani dalam hal waktu pemberian pupuk tanamannya. Bahwa hal itu termasuk yang harus diperhatikan agar senantiasa terjaga keseimbangannya di tanah. Prinsipnya hanya diberikan dua kali yaitu pada 20-25 HST (Hari Setelah Tanam) dan pada 40-45 HST, tergantung kondisi tanaman yang ada.

Sebagai penunjang penerapan teknologi tersebut diiringi juga oleh pemberian pupuk kandang lebih kurang 6 karung per hektar. Bibit ditanam dengan jarak tanam 25 x 20 cm pada umur bibit 20 HSS (Hari Setelah Semai) dan ditanam sekitar 5 bibit per lubang tanam. Dengan pengelolaan budidaya tersebut telah didapatkan jumlah rumpun hingga 200 ribu rumpun per hektar, dengan rata-rata anakan produktif setelah padi berumur 30 HST dapat berjumlah 25 anakan.

Dengan pengelolaan budidaya padi sebagaimana diatas, jika dapat diterapkan pada seluruh lahan padi sawah baik ditingkat kabupaten atau propinsi bahkan tingkat nasional, Pak PPL menduga akan dapat meningkatkan produksi padi 15-50% dari produksi padi sebelumnya.

 

Penyusun:

Slamet Muharmoko, SP, M.Si (PP Madya - PP Kab. Solok)

Sumber tulisan: liputan langsung di lapangan.

PENGUNJUNG

3695

HARI INI

64232

KEMARIN

37671571

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook