Diseminasi Teknologi

SISTEM RAMBATAN TANAMAN MARKISA

Senin, 16 Agu 2021
Sumber Gambar : BPTP Lampung

Masyarakat perlu menjaga daya tahan tubuh terutama di masa pandemi Covid 19, dengan cara mengkonsumsi sayuran dan buahan yang bergizi.  Salah satunya dengan tanaman markisa yang mengandung vitamin A dan vitamin C yang berguna untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan sebagai antioksidan. Kandungan markisa per 100 gram antara lain kalori 90 gr ; air 87,1 gr ; protein 2,2 gr ; lemak 0,7 gr ; karbohidrat ,2 gr ; abu 0,8 gr ; kalsium 13 mg ; phospor 64 mg ; besi 1,6 mg ; sodium 28 mg ; potassium 348 mg ; vit A 700 IU ; riboflavin 0,13 mg, niacin 1,5 mg dan vitamin C 30 mg.    

 

Tanaman markisa dapat menjadi pilihan bagi masyarakat perkotaan untuk membudidayakannya karena mudah dilakukan dan dapat ditanam bagi yang mempunyai lahan perkarangan terbatas. Peanananam markisa disesuaikan dengan luas pekarangan, jika pekarangan sempit markisa dapat ditanam dalam pot. Sedangkan pekarangan yang luas maka dapat dibuat tiang rambatan.  Tiang rambatan dapat terbuat dari bambu, kayu, kawat, pergola besi.  Tiang rambatan markisa dapat juga dijadikan sebagai pagar pekarangan/pembatas atau dapat berfungsi sebagai tanaman peneduh.  Markisa dapat ditanam merambat secara alami di antara pohon yaitu jambu air, jambu biji, mahoni, Nangka dan lain sebagainya sehingga dapat menghemat pembuatan tiang rambatan.  Pemasangan rambatan dilakukan setelah tanaman tumbuh sepanjang 1-1,5 m, kemudian diikat dengan tali rafia yang dihubungkan dengan para-para/lanjaran dibiarkan memanjat mengikuti bentuk rambatan.

 

Model rambatan tanaman markisa yang digunakan adalah sistim T, dobel T, sistim pagar, sistim para-para, atau sistim tunggal (vertikal).  Pemilihan bentuk/ sistim rambatan tergantung dari kondisi lahan/ kemiringan tanahnya.

 Beberapa sistem rambatan yang umum digunakan dalam budidaya markisa yaitu :

 

1. Rambatan Model T

Rambatan model T yang digunakan sebaiknya dibuat dari kawat atau bambu dengan tiang penyangga setinggi 2-2,5 m. Penyangga ditanam dalam barisan dengan jarak 1,5 meter dari pohon markisa. Rambatan model T yang dikombinasikan dengan pemangkasan yang menyisakan 4 cabang utama dapat menghasilkan buah yang lebih banyak, kurang terserang penyakit, kualitas  buah dan produksi lebih baik.  Pemangkasan dilakukan pada saat keluarnya tunas dan pucuk baru dan setelah panen untuk membuang ranting-ranting yang mati.

 

2. Rambatan Model Para-Para

Pemasangan rambatan para-para dilakukan setelah tanaman markisa berumur 2 sampai 3 bulan. Tiang-tiang lanjaran vertikal (tegak) dipasang menurut baris tanaman berjarak 4 m, dan jarak antara satu tiang dengan tiang lainnya dalam barisan lebih kurang 3m. Tinggi tiang lanjaran vertikal 2-3 m. Bagian atas tiang lanjaran vertikal dihubungkan dengan tiang horizontal (mendatar). Para-para dibuat dari tali plastik diameter 2 mm membentuk jaringan net (25 cm x 25cm) pada tiang-tiang horizontal.

 

Kelebihan model para-para antara lain:

  • Buah lebih banyak.
  • Pertumbuhan tanaman lebih mudah diatur dan perawatan menjadi lebih mudah.
  • Batang tanaman lebih banyak mendapat sinar matahari sehingga tidak mudah terserang penyakit busuk batang.
  • Pemanenan buah lebih mudah dan produksi lebih tinggi.

 

Kekurangan model para-para antara lain :

  • Mudah terserang lalat buah, namun demikian pengendalian yang lebih intensif kerusakan buah dapat dikurangi.
  • Biaya pembuatan rambatan relatif lebih tinggi daripada model lainnya.

 

3. Rambatan Model Pagar

Pemasangan lanjaran pagar dilakukan setelah tanaman markisa berumur 2-3 bulan. Pemasangan lanjaran pagar diawali dengan penancapan tiang-tiang lanjaran menurut baris tanaman dan jarak antara satu tiang dengan tiang lainnya 2,5-3 m, kemudian dihubungkan dengan kawat yang disusun bertingkat. Jarak antara satu kawat dengan kawat lainnya 0,50 - 0,70 m. Pemasangan kawat dilakukan secara bertahap disesuaikan dengan pertumbuhan tanaman. Ketinggian tiang rambatan berkisar antara 2,0-2,5 m dari permukaan tanah.

Kelebihan model pagar yaitu :

  • Biaya pembuatan lebih murah dan mudah.
  • Kualitas buah lebih baik, karena serangan lalat buah relatif lebih kecil.
  • Pemeliharaan dan pemanenan lebih mudah
  • Tanaman lebih banyak mendapat sinar matahari sehingga tidak mudah terserang  penyakit busuk akar.

 

Kekurangan model pagar yaitu :

  • Bunga yang menjadi buah berkurang karena banyak bunga tertutupi oleh daun.
  • Pertumbuhan tanaman kurang sempurna.
  • Produksi tanaman rendah.

 

4. Rambatan Menggunakan Pucuk Bambu

Rambatan dari pucuk bambu ditancapkan di sekitar tanaman mulai berumur 2-3 bulan setelah tanam. Pertambahan rambatan disesuaikan  dengan perkembangan tanaman. Rambatan yang dipergunakan berupa pucuk bambu kering yang tingginya antara 2-2,5 m. Jumlah rambatan yang dipergunakan sampai tanaman tidak berproduksi lagi berkisar antara 8-10 batang. Pucuk bambu untuk tiap tanaman.

Kelebihan model pucuk bambu yaitu :

  • Produksi lebih tinggi dibanding rambatan model pagar
  • Hampir seluruh bunga yang terbentuk akan menjadi buah.
  • Perkembangan tanaman seperti pertambahan dan peletakan cabang lebih leluasa.

 

Kekurangan model pucuk bambu yaitu :

  • Pertumbuhan tanaman akan kesegala arah dan agak sulit mengaturnya.
  • Perawatan tanaman dan pemanenan buah agak sulit
  • Murah terserang penyakit disebabkan kelembaban sekitar tanaman lebih tinggi

 

Penulis : Ely Novrianty (BPTP Lampung)

 

Sumber :

Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian

PENGUNJUNG

42187

HARI INI

68073

KEMARIN

37477292

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook