Materi Penyuluhan

Memilih Varietas Jagung dan Pemupukan Agar Menghasilkan Produksi Maksimal

Kamis, 12 Agu 2021
Sumber Gambar :

Jagung (Zea mays) adalah salah satu jenis tanaman pangan penghasil karbohidrat,  memiliki tinggi yang bervariasi antara 2-2,5 meter, dengan tangkai batangnya yang beruas-ruas berukuran sekitar 20 cm/ruas, daun jagung tidak memiliki tangkai tetapi memiliki lebar antara 9 cm dengan panjang kurang lebih 120 cm.

Inovasi teknologi merupakan kunci utama keberhasilan budidaya tanaman yang terdiri dari varietas unggul, benih sumber, teknologi budidaya yang efisien spesialisasi lokasi dan panen/pascapanen. Dalam memilih varietas sebaiknya menggunakan benih yang bersertifikat dengan memperhatikan potensi hasilnya, kesesuaian dengan kondisi lingkungan, umur tanaman, ketahanan hama atau penyakit.

Jagung hibrida merupakan jenis jagung keturunan langsung (F1) hasil persilangan 2 atau lebih varietas jagung yang memiliki sifat unggul dari masing-masing varietas yang disilangkan. Dengan varietas jagung hibrida terdiri atas beberapa generasi, yaitu generasi semar 1-10 IETAS, generasi Bima 1-20, generasi HJ 21, HJ 22 dan HJ 28 serta generasi NASA 29, JH 234, JH 27-32, JH 36, JH 45, JHARING 1, JHANA 1 dan JHG. Sifat unggul yang ditawarkan biasanya yaitu mampu bertongkol 2, ukuran biji lebih besar, ukuran tongkol lebih besar, masa panen lebih singkat dan lain sebagainya.

Pertanaman dengan persiapan lahan terdiri atas pengolahan tanah dan pembuatan saluran drainase atau saluran irigasi. Saluran irigasi dibuat untuk pengaliran air dari areal pertanaman, terutama pada musim hujan, karena tanaman jagung peka terhadap kelebihan air. Sedangkan pada sistem tanam legowo dengan mengatur baris tanam sehingga terdapat ruang yang lebih longgar dan barisan tanam lebih rapat dengan populasi tepat. Sistem tanam legowo memudahkan untuk peningkatan indeks tanam, pengendalian gulma dengan cara herbisida dan berpeluang untuk menanam tanaman kacang-kacangan pada barisan legowo.

Tanaman jagung sangat peka terhadap persaingan hara dan air dengan gulma pada awal perkembangan (20hst). Sebaiknya pengendalian gulma dilakukan pada saat awal pertumbuhan yaitu 15-25 hst. Herbisida pasca tumbuh awal diaplikasikan di awal pertumbuhan biji-biji gulma.

Adapun Ciri-ciri tongkol normal pada tanaman jagung yaitu:

  1. Ujung kelobot penuh berisi biji. Jagung yang kahat kalium,ujung tongkol tidak berbiji penuh, bijinya jarang dan tidak sempurna.
  2. Jagung yang kahat fosfor yaitu pembentukan biji yang tidak sempurna, tongkol kecil dan sering bengkok.
  3. Jagung yang kahat nitrogen tongkolnya kecil dan ujung tongkol tidak berbiji. Jagung yang kekeringan persarian tidak sempurna pada saat pembentukan biji.

Kunci utama untuk memaksimalkan produktivitas jagung adalah dengan cara penggunaan varietas jagung hibrida berpotensi hasil tinggi, penggunaan benih bersertifikat dengan daya tumbuh >90%, gunakan sistem tanam jajar legowo yang tepat, pemupukan yang tepat dan pemberian pupuk organik.

Pemberian pupuk yang berbeda antar lokasi dan jenis jagung yang digunakan. Dengan menggunakan pupuk organik dan anorganik maka kesuburan tanah akan berkesinambungan. Rekomendasi pupuk untuk memperoleh hasil tinggi adalah 350-400 kg urea + 300 kg pupuk majemuk (phonska atau NPK pelangi). Pupuk organik diaplikasikan sebagai penutup lubang tanam benih dengan takaran 1-2 ton/ha atau 1 genggam/lubang.

Gejala kekurangan pupuk KCl (K) yaitu daun berwarna kuning, bagian pinggir biasanya berwarna coklat seperti terbakar, tulang daun tetap hijau, gejala warna kuning membentuk huruf V terbalik, gejala tampak pada daun bagian bawah. Gejala kekurangan pupuk ZA (S) yaitu pangkal daun berwarna kuning, gejala tampak pada daun yang terletak dekat pucuk. Gejala kekurangan pupuk Magnesium (Mg) yaitu garis-garis keputihan sepanjang tulang daun dan sering kali timbul warna ungu pada bagian bawah dari daun tua.

Panen dilakukan jika kelobot tongkol telah mengering atau berwarna coklat, biji telah mengeras, dan telah terbentuk lapisan hitam ≥50% pada setiap baris biji. Panen lebih awal atau pada kadar air biji masih tinggi menyebabkan biji keriput, warna kusam, dan bobot biji lebih ringan, apabila terlambat panen, apalagi pada musim hujan, bisa menyebabkan tumbuhnya jamur, bahkan biji berkecambah.

Diperlukan manajemen pascapanen untuk menunjang perbaikan mutu jagung yaitu mulai dari panen, pengupasan, pengeringan, pemipilan/pengeringan kedua, penyimpanan, pengangkutan, klasifikasi dan standarisasi mutu agar menghasilkan produksi yang maksimal. (Jk)

PENGUNJUNG

45274

HARI INI

68073

KEMARIN

37480379

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook