Materi Penyuluhan

VARIETAS DAN PERBENIHAN EDAMAME SESUAI STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)

Selasa, 10 Agu 2021
Sumber Gambar : Internet

Sifat morfologis dan fisologis Edamame kedelai berbiji besar dipanen muda, saat polong telah mengisi penuh. Klasifikasi edamame sama dengan kedelai biasa, yaitu:

Ordo       : Polypetales

Famili                     : Leguminosae

Sub-famili             : Papilionoideae

Genus : GlycineSub-genus : Species Soya

Varietas                 : Ryokkoh, Chamame, Ocunami, Tsurunoko, dan sebagainya

Edamame merupakan tanaman legume semusim, tumbuh tegak, daun lebat, dengan beragam morfologi. Tinggi tanaman berkisar antara 30 sampai lebih dari 50 cm, bercabang sedikit atau banyak, bergantung pada varietas dan lingkungan hidupnya. Daun pertama yang keluar dari buku sebelah atas kotiledon berupa daun tunggal berbentuk sederhana dan letaknya berseberangan (unifoliolat). Daun-daun yang terbentuk kemudian adalah daun-daun trifoliolat (daun bertiga).

Varietas edamame yang pernah dikembangkan di Indonesia seperti Ocunami, Tsurunoko, Tsurumidori, Taiso dan Ryokkoh adalah tipe determinit, dengan bobot biji relatif sangat besar. Kedelai biasa (grain soybean) dikatakan berbiji sedang jika bobot 100 bijinya berksiar antara 11-15 g, dan berbiji besar bila bobot 100 biji lebih dari 15 g (Sumarno 1993). Saat ini varietas yang dikembangkan untuk produk edamame beku adalah Ryokkoh asal Jepang dan R 75 asal Taiwan. Ukuran warna, dan bentuk biji edamame bervariasi, yakni: (i) bobot 30-50 g/100 biji, (ii) warna biji kuning hingga hijau, (iii) bentuk biji bulat hingga bulat telur, dan (iv) warna hilum gelap hingga terang. Warna bunga varietas Ryokkoh putih, sedangkan varietas lainnya ungu.

Varietasn dan Pembenihan, Varietas edamame yang pernah diadaptasikan di Indonesia oleh PT Mitratani Dua Tujuh adalah Ryokkoh, Taiso, Tsurunoko, dan Tsurumidori. Dalam perkembangannya, varietas yang cocok dan diterima pembeli adalah Ryokkoh, dengan kode R 305 dari Jepang. Karena mahalnya harga benih Ryokkoh asal Jepang, maka mulai tahun 1998 dimasukkan benih varietas Ryokkoh dari Taiwan dengan kode R 75, dan dikembangkan sampai tahun 2006. Varietas R 305 maupun R 75 telah dilepas oleh Menteri Pertanian RI. Mulai tahun 2002 diadaptasikan varietas Chamame yang beraroma pandan asal Taiwan. Varietas ini ditanam sesuai dengan permintaan konsumen, dan ekspor dalam setahun baru 3- 4 container (satu container 21 ton). Saat ini PT Mitratani Dua Tujuh di Jember Jawa Timur telah melakukan persilangan dan introduksi varietas/galur dari Jepang dan Taiwan, dalam upaya mendapatkan varietas edamame khas Indonesia.

Untuk mengatasi harga benih yang mahal dilakukan perbanyak benih di dalam negeri. Kegiatan ini ternyata memerlukan proses, waktu, dan biaya yang tidak sedikit. Setelah beberapa tahun, akhirnya didapatkan daerah yang sesuai untuk perbanyakan perbenihan yaitu pada tempat dengan ketinggian > 600 m dpl. Di daerah ini umur panen edamame > 85 hari setelah tanam (HST). Multiplikasi atau perbanyakan sekaligus merupakan cara pemurnian tanaman dari penyimpangan deskripsi, sehingga benih yang dihasilkan terjamin kemurniannya.

Proses pengeringan biji untuk benih memerlukan waktu relatif lama dan bertahap, agar didapatkan benih dengan daya tumbuh > 85% dan dapat disimpan lama, lebih dari satu tahun. Pengeringan benih kedelai berbiji sangat besar memerlukan teknologi khusus, kalau dikeringkan pada suhu di atas 38°C kulit bijinya pecah.

Sebagai makanan kegemaran bangsa Jepang, edamame dapat dikatakan sebagai produk spesifik atau fancy product, yang sangat erat hubungannya dengan selera khas, tetapi juga bersifat subyektif. Oleh karena itu hanya varietas yang disukai dan diterima konsumen yang bisa masuk ke pasar. Cara budi daya kedelai seperti yang sudah dipublikasikan Sumarno (1993), Arsyad dan Syam (1998), dan Lii (1990) tidak sesuai untuk edamame. .  (Lilik Winarti,  , Pusat Penyuluhan Pertanian)

Sumber  3Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor

PENGUNJUNG

41914

HARI INI

68073

KEMARIN

37477019

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook