Materi Penyuluhan

STANDART OPERASIONAL PROSEDUR PELUANG EKSPOR EDAMAME

Selasa, 10 Agu 2021
Sumber Gambar : Internet

 

Kedelai sayur (Edamame )berasal dari bahasa Jepang. Eda berarti cabang dan mame berarti kacang atau dapat juga disebut buah yang tumbuh di bawah cabang. Edamame, yang umumnya dikonsumsi segar sebagai kedelai rebus, disukai oleh masyarakat Jepang, Cina, dan Korea dan negara lainnya. Ini menjadi peluang export yang cukup menjajnikan bagi petani dan pengusaha di Indonesia .

Kedelai (Glycine max Merr) bukan tanaman baru bagi masyarakat Indonesia, walaupun budi daya kedelai pertama dilakukan di Cina sejak tahun 2800 SM, atau 4800 tahun yang lalu. Pada zaman penjajahan, Rhumphius pada tahun 1750 melaporkan bahwa kedelai sudah mulai dikenal di Indonesia sebagai tanaman bahan makanan dan pupuk hijau (Romburgh 1892). Hingga sekarang kedelai merupakan salah satu sumber protein penting di Indonesia, baik sebagai bahan pangan yang diolah secara sederhana seperti direbus, digoreng, dan disayur untuk dimakan sehari-hari, maupun sebagai bahan baku industri pangan, susu, kecap, pakan ternak, dan lain-lain. Penggunaan kedelai terbesar di Indonesia adalah untuk industri pangan: (tahu, tempe, kecap, tauco) dan pakan ternak (Sudaryanto 1996). Peng-gunaan kedelai segar sebagai sayuran dan kudapan kurang 5% dari total hasil panen.

Berdasarkan ukuran bijinya, kedelai dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, yaitu (Chen et al. 1991):

  1. Berbiji kecil, bobot biji 6-15 g/100 biji, umumnya dipanen dalam bentuk biji (grain soybean), pada saat tanaman berumur tiga bulan.
  2. Berbiji besar, dengan bobot biji diatas 15-29 g/100 biji, ditanam di daerah subtropik maupun tropik, dipanen dalam bentuk biji (grain soybean). Hasil biji umumnya digunakan sebagai bahan baku minyak, susu, dan makanan lain.
  3. Berbiji sangat besar, bobot 30-50 g/100 biji, biasanya ditanam di daerah subtropik, seperti Jepang, Taiwan, dan Cina, dipanen dalam bentuk segar, polong masih hijau, disebut juga kedelai sayur (vegetable soybean), berumur dua bulan. Kelompok kedelai ini di Jepang disebut edamame. Persyaratan kedelai edamame lebih ditekankan kepada ukuran polong muda, dengan lebar 1,4-1,6 cm, dan panjang 5,5-6,5 cm (Shanmugasundaram et al. 1991).

Di Indonesia, kedelai sayur atau edamame telah dikembangkan sejak tahun 1995. Di Jember, Jawa Timur, edamame telah diproduksi dalam bentuk segar beku untuk ekspor dan sekaligus mengisi pasar dalam negeri. Sejalan dengan tuntutan masyarakat akan makanan sehat dan bergizi tinggi, edamame yang dibekukan dengan teknologi pengawetan beku dapat dikonsumsi kapan diperlukan tanpa bergantung musim. Oleh karena itu, kedelai sayur sebagai komoditas agribisnis cukup potensial dikembangkan dalam aktivitas agroindustri internasional.

Edamame atau kedelai sayur, edamame berasal dari bahasa Jepang. Eda berarti cabang dan mame berarti kacang atau dapat juga disebut buah yang tumbuh di bawah cabang. Edamame, yang umumnya dikonsumsi segar sebagai kedelai rebus, disukai oleh masyarakat Jepang, Cina, dan Korea. Benihnya semula berasal dari Jepang. Orang Eropa, terutama Inggris lebih mengenal jenis kedelai ini dengan nama vegetable soybean (kedelai sayur) atau green soybean atau sweet soybean dan orang Cina menamakannya mou dou. Agar tidak rancu dengan kedelai biasa (grain soybean), edamame dapat didefinisikan sebagai kedelai berbiji sangat besar (>30 g/100 biji) yang dipanen muda dalam bentuk polong segar pada stadia tumbuh R-6, dan dipasarkan dalam bentuk segar (fresh edamame) atau dalam keadaan beku (frozen edamame) (Benziger and Shanmugasundaram 1995).

Jepang merupakan konsumen dan pasar utama edamame, baik dalam bentuk segar maupun beku. Total kebutuhan edamame beku di Jepang berkisar antara 150.000-160.000 t/tahun. Produksi dalam negerinya sekitar 90.000 t/tahun, sehingga kekurangannya sebanyak 60.000-70.000 ton diimpor dari negara produsen edamame lainnya, seperti Taiwan, Cina, Thailand, Indonesia dan Vietnam. Taiwan mengekspor edamame ke Jepang sejak tahun 1978 sebanyak 30.000-40.000 t/tahun, dengan nilai 80 juta dolar Amerika setiap tahun. (Benziger and Shanmugasundaram 1995).

Total impor Jepang untuk sayuran beku pada tahun 1995 sebanyak 650.434 ton, posisi impor edamame hanya sekitar 8%. Meskipun volume impornya relatif kecil, edamame penting peranannya dalam ekspor produk sayur-mayur beku ke Jepang. Lebih dari 50% total buah-buahan dan sayuran yang diekspor Taiwan ke Jepang setiap tahunnya adalah edamame. Khusus ekspor edamame Taiwan ke Jepang, jumlahnya menurun dari tahun ke tahun digantikan Cina. Indonesia adalah negara keempat di Asia yang berhasil mengembangkan dan mengekspor edamame ke Jepang setelah Taiwan, Cina, dan Thailand.

Di Jepang, edamame ditanam seluas 14.700 ha dengan produksi 116.000 ton/tahun. Hampir seluruh hasil panen edamame Jepang dikonsumsi segar tanpa pembekuan, selama musim semi hingga musim gugur. Pada musim dingin dan awal musim semi, kebutuhan edamame dipasok dari luar negeri sebanyak 43.000 t/tahun berupa edamame beku (Iwamida and Ohim 1991).

Di Indonesia edamame dicoba ditanam pada tahun 1990 di Gadog, Bogor, Jawa Barat, dan hasilnya dipasarkan dalam bentuk segar di pasar dalam negeri. Pada tahun 1992 edamame dicoba pula pengembangannya di Jember dan sejak tahun 1995 hasilnya mulai dipasarkan dalam bentuk segar beku dan diekspor ke Jepang.

Peluang pasar kedelai sayur di dalam negeri cukup luas, karena masyarakat Indonesia menyukai kedelai rebus. Bedanya, selama ini kedelai rebus yang tersedia di pasar berbiji kecil, 10-11 g/100 biji kering. Penghasil kedelai muda untuk rebusan terutama adalah Cianjur, Jawa Barat dan wilayah sekitar kota-kota besar.  (Lilik Winarti,  , Pusat Penyuluhan Pertanian)

Sumber  3Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor.

PENGUNJUNG

41971

HARI INI

68073

KEMARIN

37477076

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook