Materi Lokalita
SULAWESI SELATAN > KABUPATEN SINJAI > SINJAI BARAT

PENGENDALIAN PENYAKIT KRESEK PADA TANAMAN PADI (Xanthomonas Oryzae) OLEH : ABDUL RAHMAN, SP

Minggu, 01 Agu 2021
Sumber Gambar :

Gejala serangan

                Bila serangan terjadi pada awal pertumbuhan, tanaman menjadi layu dan mati, gejala ini disebut kresek.  Gejala kresek sangat mirip dengan gejala sundep yang timbul akibat serangan penggerek batang pada fase vegetatif.  Pada tanaman dewasa penyakit hawar daun bakteri menimbulkan gejala hawar (blight).

                Gejala kresek di mulai dari tepi daun, berwarna ke abu-abuan dan lama kelamaan daun menjadi kering.  Bagian yang kering ini akan semakin meluas kerah tulang daun hingga seluruh daun tampak mengering.  Bila serangan terjadi saat berbunga, proses pengisian gabah menjadi tidak sempurnah, menyebabkan gabah tidak terisi peniuh atau bahkan hampa.  Pada kondisi seperti ini kehilangan hasil biasa mencapai  50-70 persen.

                 Penyakit kresek termasuk dalam kategori penyakit yang terbawa benih. Artinya, benih tanaman padi berasal dari tanaman yang terinfeksi, maka penyakit akan berkembang pada tanaman selanjutnya, selain benih penyakit kresek juga dapat di tularkan melalui air, angnin, dan alat-alat pertanian.

Faktor-Faktor yang mempengaruhi perkenvbangan penyakit

                Perkembangan penyakit hawar daun bakteri/Kresek sangat di pengaruhi oleh kelembaban tinggi dan suhu rendah (20-22 oC) itu sebabnya pada musim hujan yang sehari-harinya tertutup awan, penyait ini berkembang sangat baik, disisi lain taingkat keparahan penyakit kresek di pengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :

  • Pemupukan nitrogen yang tinggi tanpa dibarengi pemupukan kalium
  • Kondisi cuaca (Angin kencang, hujan)
  • Perkembangan meningkat seiring pertambahan umur tanaman
  • Fase pembungaan merupakan periode kritis peningkatan keparahan penyakit
  • Varietas rentan penyakit kresek.

Pengendalian penyakit Hawar daun Bakteri

                Jika ternyata sudah terlanjur terjadi serangnan kresek, maka tindakan pengendalian harus segera dilakukan.  Pengendalian penyakit kresek dapat dilakukan dengan berbagai cara , namun yang perlu diperhatikan adalah pengendalian sebaiknya di lakukan dengan menggunakan prinsip Pengololaan Hama terpadu (PHT). Dalam hal ini pengendalian harus memperhatikan keseimbangan ekosistem, dan penggunaan pestisida kimia sebag ai alternatif terakhir.

  1. Teknik budidaya.

Untuk menekan perkembangan penyakit hawar daun bakteri/kresek di sarankan pengendalian secara terpadu mencakup cara budidaya dengan perlakuan bibit secara baik, jarak tanam tidak terlalu rapat, pengairan secara berselang, pemupukan sesuai dengan kebutuhan tanaman dan gunakan varietas tahan.

Bakteri penyebab Hawar Daun Bakteri menginfeksi tanaman melalui luka dan lubang alami. Oleh karena itu, momotong bibit sebelum ditanam sangat tidak dianjurkan karena karena akan mempermudah terjadinya infeksi oleh bakteri phatogen.

  1. Penggunaan varietas tahan

Pengendalian Penyakit Hawar Daun Bakteri yang selama ini di anggap paling efektif adalah dengan menggunakan varietas tahan.  Namun teknologi ini dihambat oleh adanya kemampuan Bakteri phatogen membentuk patotipe (Strain) baru yang lebih virulen yang menyebabkan ketahanan varietas tidak mampu bertahan lama.  Adanya kemampuan phatogen bakteri Xoo membentuk patotipe baru yang lebih virulen juga menyebabkan pergeseran dominasi patotipe phatogen ini terjadi dari waktu kewaktu.

  1. Pengendalian secara kimiawi.

Untuk pengendalian secara kimiawi, biasa di lakukan dengan penyemprotan bakterisida, misalnya agrept, bactaxin, plantomycin dan lain-lain.  Untuk hasil yang maksimal bisa di campur dengan fungisida berbahan aktif tembaga hidroksida misalnya nordox atau kocide.

untuk menggunakan pestisida kimia hendaknya merujuk pada rekomendasi dan ketentuan yang berlaku dan mengacu pada dosis yang tertera pada kemasan produk. Penggunaan yang tidak sesuai atau melebihi dosis anjuran akan berakibat patal bagi tanaman dan menyebabkan kerusakan lingkungan. Beriut beberapa fungisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan penyakit hawar daun bakteri antara lain: Benlox 50 WP adalah fungisida  sistemik berhahan aktif binomil 50% bersifat protektif dan kuratif, dengan dosis 2 g/l air volume tinggi., Nordox 56 WP. Dengan bahan aktif tembaga oksida dosis 1 sendok makan pertangki 15 liter.

 

 

 

PENGUNJUNG

23008

HARI INI

89943

KEMARIN

35571474

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook