Materi Lokalita
KALIMANTAN UTARA > KABUPATEN BULUNGAN > TANJUNG SELOR

MATERI PENYULUHAN PERTANIAN TEKNOLOGI BUDIDAYA CABAI CAKRA

Sabtu, 31 Jul 2021
Sumber Gambar : Dokumentasi Admin CyberExt
  1. PENDAHULUAN

 

LATAR BELAKANG

 

Salah satu upaya untuk mencapai tujuan pembangunan pertanian diantaranya ditempuh melalui kegiatan penyuluhan pertanian. Penyuluhan pertanian sebagai suatu pendidikan non formal yang ditujukan untuk meningkatkan kesjahteraan petani dan keluarganya mempunyai kedudukan yang strategis dalam pembangunan pertanian, karena tujuan dari penyuluhan pertanian adalah untuk merubah prilaku petani.

Hal ini dapat ditempuh dengan beberapa cara/metode penyuluhan antara lain adalah: ceramah, diskusi, penyebaran leaflet, penyebaran Brosur, pameran petanian, anjang sana, siaran radio dan lain sebagainya. Beberapa diantaranya sudah sering dilakukan atau dilaksanakan. Namun pada kesempatan ini kami mencoba untuk melaksanakan metode penyuluhan dengan pembuatan dan pembagian materi penyuluhan berupa Brosur tentang budidaya Cabai Cakra di wilayah binaan Tanjung Buka SP 1 ini.

 

TEKNIK BUDIDAYA

Persiapan Lahan

Budidaya tanaman cabai harus diperhatikan sejak persiapan lahan, karena akan berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman serta sekaligus sebagai penerapan prinsip PTT. Pengolahan tanah dilakukan secara sempurna dengan mencangkul untuk membersihkan lahan dari kotoran akar bekas tanaman lama dan segala macam gulma yang tumbuh. Hal tersebut dilakukan agar pertumbuhan akar tanaman cabai tidak terganggu dan untuk menghilangkan tumbuhan yang menjadi inang hama dan penyakit. Apabila lahan skala luas banyak ditumbuhi gulma, pembersihannya dapat menggunakan herbisida sistemik dengan bahan aktif isopropil amina glifosat dengan dosis 2 - 4 liter per hektar. Selanjutnya lahan dibajak dan digaru dengan hewan ternak ataupun dengan bajak traktor. Pembajakan dan penggaruan bertujuan untuk menggemburkan, memperbaiki aerasi tanah dan untuk menghilangkan organisme penggangu tanaman (OPT) yang bersembunyi di tanah.

Selain persiapan tersebut di atas ada beberapa tahapan yang perlu diperhatikan sebagai berikut :

  1. pH tanah diusahakan 6 - 7, apabila pH kurang lakukan penaburan kapur pertanian atau dolomit untukmeningkatkan pH. Tanah yang terlalu asam akan menyebabkan daun cabai berwarna putih kehijauan, serta rentan terhadap serangan virus dan penyebab penyakit lainnya. Pengukuran pH tanah juga perlu dilakukan dengan alat pH meter atau dengan kertas lakmus. Untuk menaikkan pH tanah dilakukan pengapuran lahan menggunakan dolomit atau kapur gamping dengan dosis 2 - 4 t/ha atau 200 - 400 g/m2 tergantung Ph tanah yang akan dinaikkan. Kapur diberikan pada saat pembajakan atau pada saat pembuatan bedengan bersamaan dengan sebar kompos atau pupuk kandang.
  2. Setelah tanah diolah sempurna dibuat bedengan dengan ukuran lebar 100 - 110 cm, tinggi bedengan 40 - 60 cm, jarak antar bedengan 80 cm, panjang bedengan 10 - 12 m atau disesuaikan lebar parit, dan lebar parit 50 - 60 cm. Mengingat sifat tanaman cabai yang tidak bisa tergenang air, maka dalam pengaturan/ploting bedengan dan pembuatan parit harus ada saluran drainase yang baik.
  3. Pupuk kandang yang diperlukan sebanyak 10 - 20 t/ha atau 0,5 - 1 zak untuk 10 m panjang bedengan. Pemupukan dilakukan dengan cara menabur pupuk secara merata di atas bedengan. Luas lahan 1.000 m2 diperlukan pupuk urea 35 kg, SP36 20 kg, KCl 20 kg, dan pupuk kandang 1.500 - 2000 kg. Dosis pupuk yang diberikan disesuaikan dengan kondisitanah dan varietas/jenis tanaman cabai.
  4. Bedengan untuk tanaman cabai bisa menggunakan mulsa plastik ataupun tidak. Penggunaan mulsa plastik membawa konsekuensi menambah biaya. Kegunaan menggunakan mulsa adalah :
  • Pemberian pupuk dapat dilakukan sekaligus sebelum pemasangan mulsa;
  • Manfaat mulsa warna hitam yaitu menahan sinarmatahari sehingga memberikan warna gelap yang dapat menekan pertumbuhan gulma;
  • Manfaat mulsa warna perak yaitu dapat memantulkan sinar matahari dan mempengaruhi perkembangan hama terhambat;
  • Suhu dan kelembaban tanah relatif stabil;
  • Menghindarkan hilangnya unsur hara oleh guyuran air hujan dan penguapan;
  • Buah cabai yang berada di atas permukaan tanah terhindar dari percikan air tanah sehingga dapat mengurangi risiko berjangkitnya penyakit busuk buah;
  • Mengurangi pekerjaan penyiangan dan penggemburan tanah;
  • Menekan penguapan air dari dalam tanah.

Mulsa plastik hitam perak dipasang dan dibuat lubang tanam, dengan jarak tanam 50 x 65 cmpada daerah rendah dan 60 x 70 cm pada daerah tinggi, yang dilakukan secara zigzag atau sejajar.

 

 

 

PEMBIBITAN

 

Penyemaian benih dalam pembibitan cabai diperlukan benih yang berkualitas dan media tumbuh yang baik. Sungkup atau naungan dibuat dengan mempertimbangkan arah sinar matahari bergerak. Prinsipnya pada pagi hari bisa mendapatkan sinar matahari secara optimal.

 

Prosedur penyemaian benih sebagai berikut.

  • Merendam benih cabai dengan air hangat secukupnya, diamkan minimal 3 jam untuk siap ditanam. Benih yang mengambang dalam rendaman jangan digunakan. Setiap benih cabai dimasukkan ke dalam media sedalam 0,5 cm, lalu ditutup dengan kompos yang halus.
  • Menutup polybag yang telah ditanam benih cabai dengan kertas koran, lalu disiram sampai basah agar kelembabannya terjaga, lalu naungan ditutup dengan insect screen atau daun rumbia, bisa juga dengan jerami padi .
  • Menyiram koran yang menutupi polybag dengan air sampai basah pagi dan sore hari. Setelah 3 hari atau setelah terlihat cabai mulai tumbuh, maka kertas koran diangkat. Penyiraman berikutnya dengan sprayer, usahakan media tanaman tetap basah.
  • Bibit cabai dapat ditanam di bedengan setelah umur 21 – 24 hari atau tumbuh 4 helai daun sejati.

 

PENANAMAN

 

  • Penanaman bibit pada bedengan dilakukan setelah berumur 21 – 24 hari.
  • Jarak tanam 50 x 60 cm untuk dataran rendah dan 60 x 75cm untuk dataran tinggi.
  • Untuk menanggulangi stress saat pindah tanam, penanaman dilakukan pada sore hari atau pagi hari sekali. Setelah selesai tanam dilakukan penyiraman air secukupnya dengan cara disemprotkan dengan tekanan rendah dan merata sampai keakarnya.
  • Penanaman diusahakan serentak selesai dalam 1 hari.

Hasil pengamatan pada pengujian tanaman cabai menunjukkan bahwa tinggi tanaman dan produktivitas cabai yang ditanam menggunakan mulsa plastik memberikan keragaan yang lebih baik jika dibandingkan dengan tanaman cabai tanpa mulsa. Hal ini disebabkan karena pada pertanaman cabai tanpamulsa terhambat akibat serangan hama penyakit.

Penyebab hama dan penyakit yang menyerang tanaman cabai antara lain thrips, ulat tanah, virus kuning (bulai), dan layu Fusarium. Serangan hama dan penyakit pada pertanaman cabai tanpa mulsa lebih tinggi daripada menggunakan mulsa.

 

PEMELIHARAAN TANAMAN

 

  1. Pengairan

Air sangat diperlukan dalam pertumbuhan tanam. Kekurangan air pada tanaman cabai akan menyebabkan tanaman kerdil, buah cabai menjadi kecil dan mudah gugur.

  1. Pemasangan Ajir

Pemasangan ajir dilakukan pada tanaman umur 7 hst, ajir dibuat dari bambu dengan tinggi 1 - 1,5 m. Apabila ajir terlambat dipasang akanmenyebabkan kerusakan pada akar yang sedang berkembang. Pengikatan tanaman pada ajir dilakukan mulai umur 3 minggu sampai dengan 1 bulan yaitu mengikatkan batang yang berada di bawah cabang utama dengan tali plastik pada ajir. Pada saat tanaman berumur 30 - 40 hst, ikat tanaman di atas cabang utama dan ikat juga pada saat pembesaran buah yaitu pada umur 50 - 60 hst, agar tanaman tidak rebah dan buah tidak jatuh.

  1. Pewiwilan / Perempelan

Tunas yang tumbuh di ketiak daun perlu dihilangkan dengan menggunakan tangan yang bersih. Perempelan dilakukan sampai terbentuk cabang utama yang di tandai dengan munculnya bunga pertama. Tujuan perempelan untuk mengoptimalkan pertumbuhan.

  1. Pemupukan Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman cabai biasanya memerlukan pupuk tambahan/susulan. Caranya dengan menyiapkan ember atau tong besar ukuran 200 l, masukkan 10 kg kompos, ditambah 5 kg NPK 16-16-16, (2 sendok makan untuk 10 l air). Campuran ini diaduk merata untuk 2000 pohon (100 ml per pohon). Pemupukan dilakukan dengan kocor setiap minggu, dimulai pada umur 14 hst sampai dengan minimal 8 kali selama masa pemeliharaan tanaman. Kucuran pupuk diusahakan tidak terkena tanaman secara langsung.

  1. Penyiangan

Gulma selain sebagai tanaman kompetitor juga dapat sebagai tempat berkembangnya hama dan penyakit tanaman cabai oleh karenanya penyiangan harus dilakukan untuk membersihkan daerah sekitar tanaman dari gulma. Penyiangan dapat dilakukan secara manual dengan garu atau mencabut gulma secara hati-hati.

  1. Pengendalian hama dan penyakit

Produktivitas yang dicapai petani pada umumnya masih berada pada tingkat di bawah potensi hasil. Salah satu penyebab masih belum dicapainya potensi hasil tersebut adalah gangguan hama dan penyakit tanaman jika tidak mendapat perhatian. Serangan hama dan penyakit dapat menyebabkan tanaman mengalami kerusakan parah, dan berakibat gagal panen. Uraian di bawah ini mengulas beberapa hama dan penyakit utama cabai dan cara-cara pengendaliannya sesuai dengan strategi pengelolaan hama terpadu (PHT). Hama dan penyakit utama cabai serta pengendaliannya dapat dijelaskan sebagai berikut :

 

Hama-Hama Tanaman Cabai Dan Pengendaliannya

  1. Kutu daun persik (Myzus persicae Sulz.)

Kutu daun persik dapat menyebabkan kerugian secara langsung, yaitu mengisap cairan tanaman. Tanaman yang terserang daunnya menjadi keriput dan terpuntir, dan pertumbuhan tanaman menjadi terhambat (kerdil). Kerusakan pada daun muda yang menyebabkan bentuk daun keriput menghadap ke bawah adalah ciri spesifik gangguan kutu daun. Bagian daun  ekas tempat isapan kutu daun berwarna kekuningan. Populasi kutu daunyang tinggi dapat menyebabkan klorosis dan daun gugur, jugaukuran buah menjadi lebih kecil. Kutu daun menghasilkan cairan embun madu yang dapat menjadi tempat untuk pertumbuhan cendawan embun jelaga pada permukaan daun dan buah.

Selain itu, kutu daun persik dapat menyebabkan kerugian secara tidak langsung, karena perannya sebagai vektor penyakit virus. Penyakit virus yang dapat ditularkan oleh kutu daun persik pada tanaman cabai merah, antara lain penyakit virus menggulung daun kentang (PLRV) dan penyakit virus kentang Y (PVY).

Pada kondisi ekosistem yang masih seimbang, beberapa musuh alami di lapangan sangat potensial dalam mengurangi populasi kutu daun. Musuh alami tersebut antara lain parasitoid Aphidius sp., kumbang macan Menochillus sp., dan larva Syrphidae, Ischiodon scutellaris.

Cara pengendalian :

  • Secara mekanik dilakukan dengan pembersihan semua gulma dan sisa tanaman inang kutu daun yang ada di sekitar areal pertanaman cabai;
  • Penggunaan mulsa plastik hitam perak dapat mengurangi masuknya kutu daun dari luar pertanaman cabai;
  • Pengaturan pola tanam, misalnya tumpangsari dengan bawang daun, pola tumpang gilir dengan bawang merah, tanaman bawang dapat bersifat sebagai pengusir hama kutu daun;
  • Secara biologis dilakukan dengan pemanfaatan musuh alami tersebut di atas;
  • Pengendalian secara kimia dapat dilakukan pada tingkat kerusakan daun/tanaman contoh sekitar 15 %, dengan insektisida yang berbahan aktif fipronil atau diafenthiuron. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada sore hari.

 

  1. Thrips (Thrips parvispinus Karny).

Hama Thrips menyukai daun muda. Mula-mula daun yang terserang memperlihatkan gejala noda keperakan yang tidak beraturan, akibat adanya luka dari cara makan hama tersebut. Setelah beberapa waktu, noda keperakan tersebut berubah menjadi kecoklatan terutama pada bagian tepi tulang daun. Daun-daun mengeriting ke arah atas. Pada musim kemarau perkembangannya sangat cepat sehingga populasinya lebih tinggi. Penyebarannya sangat  terbantu oleh angin, karena Thripsdewasa tidak bisa terbang dengan sempurna. Pada musim hujan populasinya relatif rendah karena banyak Thrips yang mati tercuci oleh curah hujan.

Pada kondisi ekosistem yang masih seimbang, populasi hama Thrips di alam dikendalikan oleh musuh alami. Musuh alami hama Thrips yang potensial antara lain, kumbang Coccinellidae, kepik Anthocoridae, kumbang Staphylinidae, dan larva Chrysopidae.

Cara pengendalian :

  • Secara mekanik dilakukan dengan pembersihan semua gulma dan sisa tanaman inang hama Thrips yang ada di sekitar areal pertanaman cabai;
  • Penggunaan mulsa plastik hitam perak dapat mencegah hama Thrips mencapai tanah untuk menjadi pupa sehingga daur hidup Thrips akan terputus. Pemasangan mulsa jerami di musim kemarau akan meningkatkan populasi predator di dalam tanah yang pada akhirnya akan memangsa hama Thrips yang akan berpupa di dalam tanah;
  • Pengaturan pola tanam, misalnya pola tumpang gilir dengan bawang merah akan menekan serangan hama Thrips pada tanaman cabai muda;
  • Secara biologis dilakukan dengan pemanfaatan musuh alami;
  • Pengendalian secara kimia dapat dilakukan pada tingkat kerusakan daun/tanaman contoh sekitar 15 %, dengan insektisida yang berbahan aktif fipronil atau diafenthiuron. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada sore hari.

 

 

  1. Tungau (Polyphagotarsonemus latus Banks).

Gejala umum adalah tepi daun keriting menghadap ke bawah seperti bentuk sendok terbalik dan terjadi penyempitan daun. Daun yang terserang berwarna keperakan pada permukaan bawah daun. Daun menjadi menebal dan kaku, pertumbuhan pucuk tanaman terhambat. Gejala ini tampak dalam waktu yang relatif cepat, 8 - 10 hari setelah terinfeksioleh beberapa ekor tungau, daun-daun akan menjadi cokelat. Pada 4 - 5 hari kemudian pucuk-pucuk tanaman seperti terbakar dan pada serangan yang berat pucuk tanaman akan mati, buah cabai menjadi kaku, permukaan kasar dan bentuk terganggu. Serangan berat terjadi pada musim kemarau.

Cara pengendalian :

  • Secara mekanik dilakukan dengan pembersihan semua gulma dan sisa tanaman inang hama tungau. Diusahakan pertanaman cabai tidak berdekatan dengan pertanaman singkong yang merupakan inang potensial hama tungau;
  • Tanaman yang terserang berat dicabut atau pucuk-pucuknya dipotong kemudian dikumpulkan dan dibakar;
  • Pengendalian secara kimia dapat dilakukan pada tingkat kerusakan daun/tanaman contoh sekitar 15 %, dengan menggunakan akarisida, antara lain; yang berbahan aktif amitraz, abamektin, dikofol, atau

 

  1. Hama Lalat Buah (Bactrocera dorsalis Hendel)

 

Gejala serangan lalat buah pada buah cabai ditandai dengan ditemukannya titik hitam pada pangkal buah. Jika buah dibelah, di dalamnya ditemukan larva lalat buah. Serangga betina dewasa meletakkan telur di dalam buah cabai, yaitu dengan cara menusukkan ovipositornya pada pangkal buah muda (masih hijau). Selanjutnya telur akan menetas menjadi larva di dalam buah cabai sehingga buah membusuk dan gugur. Serangan berat terjadi pada musim hujan. Hal ini disebabkan oleh bekas tusukan ovipositor terkontaminasi

oleh cendawan sehingga buah yang terserang cepat membusuk dan gugur.

Pada siang hari, serangga dewasa sering dijumpai pada daun atau bunga cabai. Lalat buah bersifat polifag, selain menyerang buah cabai juga menyerang buah lainnya seperti mangga, belimbing, pisang, apel, dan jeruk. Larva yang panjang sekitar 6 - 8 mm, mampu melenting dengan lincah menggunakan ujung tubuhnya yang lancip. Pada serangan lanjut, buah cabai akan gugur. Selanjutnya larva keluar dari buah dan membentuk pupa di dalam tanah.

Cara pengendalian :

  • Secara mekanik dilakukan dengan mengumpulkan semua buah cabai yang rontok kemudian dibakar, karena larva di dalam buah cabai akan berubah jadi pupa yang akhirnya menjadi lalat buah baru. Dengan cara ini, siklus hidup lalat buah akan terputus;
  • Penggunaan atraktan yang berbahan aktif metyl eugenol, caranya diteteskan pada kapas dan dimasukkan ke dalam botol bekas air mineral. Penggunaan perangkap ini dimaksudkan untuk menekan serangan lalat buah. Pemasangan perangkap ini dilakukan sebulan setelah tanaman cabai ditanam. Jumlah perangkap yang diperlukan 40 buah/ha, dengan dosis 1 ml/perangkap. Dua minggu sekali, perlu ditambahkan lagi atraktan tersebut. Pemasangan atraktan ini dilakukan sampai akhir panen;
  • Penggunaan insektisida secara berselang-seling. Insektisida yang dapat dipilih antara lain yang berbahan aktif alfa sipermetrin, betasiflutrin, dan deltametrin. Penyemprotan dilakukan pada pagi hari ketika sayap lalat buah masih basah sehingga menyulitkan dirinya untuk terbang. Untuk meningkatkan efikasi insektisida dapat ditambah dengan bahan perekat perata.

 

  1. Hama Ulat Penggerek Buah (Helicoverpa armigera Hubner)

Buah cabai merah yang terserang ulat penggerek buah menunjukkan gejala berlubang dan tidak laku di pasaran. Jika buah dibelah, di dalamnya terdapat ulat. Hama ulat buah menyerang buah cabai dengan cara mengebor dinding buah cabai sambil memakannya. Umumnya instar pertama ulat penggerek buah menyerang buah yang masih hijau. Pada musim hujan, serangan ulat penggerek buah ini akan terkontaminasi oleh cendawan, sehingga buah yang terserang akan membusuk.

Hama ulat penggerek buah bersifat polifag, inang selain cabai yaitu tomat dan kedelai. Hama ini tersebar luas di Indonesia dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Pada stadia ulat dewasa akan turun ke dalam tanah dan berubah menjadi kepompong. Beberapa saat kemudian kepompong menjadi ngengat, ngengat betina dapat bertelur sampai 1000 butir selama hidupnya.

Cara Pengendalian:

  • Secara kultur teknik yaitu pengaturan pola tanam, dimana tidak menanam cabai pada lahan bekas tanaman tomat dan kedelai;
  • Secara mekanik dilakukan dengan membersihkan buah-buah cabai yang terserang kemudian dibakar;
  • Penggunaan musuh alami yang menyerang hama ulat buah, antara lain parasitoid telur Trichogramma nana, parasitoid larva Diadegma argenteopilosa, dan cendawan Metharrhizium;
  • Penggunaan insektisida kimia. Insektisida yang dapat dipilih antara lain yang berbahan aktif emamektin benzoat 5 % atau lamda sihalotrin 25 g/lt. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada malam hari dengan ditambah bahan perekat perata.

 

Penyakit-penyakit tanaman cabai dan pengendaliannya :

  1. Antraknose

Penyakit antraknose disebabkan oleh dua jenis jamur yaitu Colletotrichum capsici dan Colletotrichum gloeosporioides. Gejala pada biji berupa kegagalan berkecambah dan pada kecambah menyebabkan layu semai. Pada tanaman yang sudah dewasa menyebabkan mati pucuk, pada daun dan batang yang terserang menyebabkan busuk kering. Buah yang terserang C. capsici menjadi busuk dengan warna seperti terekspos sinar matahari (terbakar) yang diikuti busuk basahberwarna hitam, karena penuh dengan rambut hitam (setae),  jamur ini pada umumnya menyerang buah cabai menjelang masak (buah berwarna kemerahan). Jamur C. gloeosporioides memiliki dua strain yaitu strain R dan G. Strain R hanya menyerang buah cabai masak yang berwarna merah, sedangkan strain G dapat menyerang semua bagian tanaman, termasuk buah cabai yang masih berwarna hijau maupun buah yang berwarna merah.

Populasi C. gloeosporioides di alam jauh lebih banyak daripada C. capsici. Kedua jenis pathogen tersebut dapat bertahan di biji dalam waktu yang cukup lama dengan membentuk acervulus, sehingga merupakan penyakit tular biji.

Cara pengendalian :

  • Menanam benih yang sehat dan bebas patogen di lahan yang juga bebas dari patogen;
  • Melakukan perawatan benih (biji) dengan merendam dalam air hangat (550 C) selama 30 menit, atau perawatan benih dengan fungisida efektif yang direkomendasikan;
  • Melakukan sanitasi pada pertanaman dengan cara membakar bagian tanaman yang terserang untuk menekan populasi patogen sejak awal;
  • Menanam varietas cabai yang toleran terhadap penyakit;
  • Melakukan pergiliran tanaman dengan menanam tanaman yang bukan sebagai inang pathogen:
  • Melakukan sanitasi terhadap berbagai gulma yang menjadi inang alternatif patogen, seperti Borreria ;
  • Menanam varietas cabai berumur genjah dalam upaya memperpendek periode tanaman terekspos patogen;
  • Menggunakan fungisida efektif yang direkomendasikan menekan perkembangan patogen secara bijaksana, terutama pada saat pematangan buah;
  • Melakukan prosesing (pascapanen) dengan cara mengeringkan buah cabai dengan cepat atau disimpan pada suhu 0° C dapat membebaskan buah dari serangan patogenselama 30 hari.

 

  1. Busuk Phytophthora

Penyakit tersebut disebabkan oleh jamurPhytophthora capsici. Patogen dapat menyerang pada seluruh bagian tanaman. Serangan pada tanaman yang masih di persemaian dapat menimbulkan gejala layu semai. Infeksi pada batang dimulai dari pangkal batang, yang menunjukkan gejala busuk basah, berwarna coklat kehitaman. Infeksi pada tanaman yang muda menyebabkan kematian tanaman. Infeksi pada tanaman yang telah dewasa menyebabkan batang tanaman mengeras dan akhirnya layu. Infeksi pada daun menyebabkan daun tampak seperti disiram air panas dan akhirnya daun mengering dan gugur. Infeksi pada buah menyebabkan buah berwarna hijau gelap dan busuk basah. Jamur dapat bertahan didalam tanah maupun biji, mampu bertahan dari kondisi yang tidak menguntungkan dengan membentuk oospora.

 

Cara pengendalian :

  • Sanitasi lapangan dari gulma yang dapat menjadi inang alternatif dan tanaman sakit, untuk meminimalkan sumber inokulum awal;
  • Merawat benih dengan fungisida efektif untuk jamur golongan oomycetes, misalnya yang berbahan aktif metalaksil;
  • Melakukan pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukansebagai inang patogen;
  • Tidak menanam varietas yang rentan, terutama di lokasi yang sudah banyak terdapat patogen;
  • Menggunakan mulsa plastik untuk menghindari penyebaran patogen dari buah, daun, dan batang atas ke dalam tanah atau sebaliknya;
  • Membuat tata air yang baik untuk menekan perkembangan jamur dalam bentuk oospora maupun zoospora;
  • Menggunakan fungisida efektif yang bersifat sistemik yangdirekomendasikan secara bijaksana, terutama untuk tanaman dewasa.
  1. Layu Fusarium

Penyebab penyakit layuFusarium adalah jamur Fusarium  oxysporum var. vasinfectum.Infeksi pertama umumnya terjadi pada pangkal batang yang langsung berhubungan dengan tanah. Pangkal batang tersebutmenjadi busuk dan berwarnacoklat tua. Infeksi lanjut menjalar ke daerah perakaran dan  menyebabkan kerusakan pada akar (busuk basah). Apabilakelembaban  lingkungan cukup tinggi, bagian pangkal batang tersebut berubah warna menjadi keputih-putihan karena banyak terbentuk spora. Infeksi yang parah menyebabkan seluruh bagian tanaman menjadi layu karena transport air dan nutrisi ke bagian atas tanaman terganggu.

Jamur membentuk makro konidia (dengan dua - enamsepta) dan mikro  konidia (sel tunggal) dan klamidospora (hifa berdinding sel tebal). Klamidospora dapat bertahan lama pada kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan untuk pertumbuhan jamur. Suhu untuk pertumbuhan optimal jamur berkisar antara 24 - 27 oC, sehingga penyakit layu Fusarium tersebut banyak berkembang di daerah dataran rendah, terutama yang berdrainase kurang baik. Patogen dapat menyebar melalui hembusan angin dan aliran air.

Cara pengendalian :

  • Membuat tata air yang baik untuk dapat mengatur lengas tanah dan kelembaban lingkungan, supaya perkembangan jamur Fusarium dapat dihambat;
  • Tidak menanam varietas cabai yang rentan penyakit terutama pada lokasi yang sudah terinfeksi patogen;
  • Pengolahan tanah yang baik dan ditutup dengan plastik putih selama 3 hari. Dengan cara tersebut suhu tanah dapat mencapai 70°C yang berakibat pada penekanan sumber inokulum awal;
  • Melakukan pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan sebagai inang patogen;
  • Menggunakan fungisida efektif yang direkomandasikan secara bijaksana.
  1. Bercak Daun Cercospora

Penyakit bercak daun pada cabai disebabkan oleh jamur Cercospora capsici. Gejala pada daun berupa bercak sirkuler dengan bagian tengah berwarna abu-abu, dan bagian luarnya berwarna coklat tua. Pada kelembaban tinggi, bercak cepat melebar, kemudian mengering dan pecah dan akhirnya gugur. Daun yang terinfeksi berat berubah warna menjadi kuning dan gugur ke tanah.

Jamur dapat bertahanlama dari musim ke musim padasisa-sisa tanaman  yang terinfeksi atau dapat terbawa biji. Serangan yang parah umumnya pada tanaman yang memasuki fase pembungaan. Penyebaran penyakit melalui spora yang ditiup angin, percikan air hujan, air siraman, dan alat pertanian pekerja kebun. Perkembangan penyakit sangat cepat apabila kondisi lingkungan sangat kondusif, yaitu kelembaban relative udara lebih dari 90 %, dengan suhu udara 28 - 32o C. Penyakit lebih sering merugikan pada tanaman cabai yang ditanam di dataran tinggi daripada yang ditanam di dataran rendah.

Cara pengendalian :

  • Menanam benih yang sehat dan bebas patogen;
  • Melakukan sanitasi lapangan terhadap gulma yang menjadi inang alternatif patogen serta tanaman yang terinfeksi dan dimusnahkan, untuk mengurangi sumber inokulum awal;
  • Menbuat tata air yang baik untuk menjaga kelengasan tanah dan kelembaban lingkungan yang dapat menghambat perkembangan patogen;
  • Menggunakan fungisida efektif yang direkomendasikan secara bijaksana.

 

  1. Layu Bakteri

Penyebab penyakit layu bakteri adalah bakteri Ralstonia solanacearum. Gejala layu secara tiba-tiba dapat terjadi pada tanaman muda maupun dewasa. Jaringan pembuluh batang bagian bawah rusak dan akar berwarna kecoklatan. Apabila jaringan batang atau akar dipotong melintang dan dicelup dengan air yang jernih, jaringan sakit akan mengeluarkan cairan keruh seperti susu yang merupakan koloni bakteri.

Bakteri berbentuk batang dengan ukuran 0,5 x 1,5 _m, tidak membentuk spora, bersifat aerob dan termasuk golongan gram negatif. Bakteri menginfeksi tanaman lewat luka pada bagian akar dan masuk ke dalam jaringan pembuluh untuk memperbanyak diri. Infeksi lebih lanjut menyebabkan jaringan pembuluh rusak dan tidak dapat berfungsi mengangkut air dan nutrisi ke bagian atas tanaman. Bakteri mampu bertahan hidup di dalam tanah dalam jangka waktu yang lama. Tanaman inang alternatif umumnya yang termasuk dalam Solanaceae seperti tomat, terung, tembakau dan kentang.

Cara pengendalian :

  • Melakukan pergiliran tanaman dengan menanam tanamanyang bukan sebagai inang patogen. Pergiliran dengan menanam padi sawah (diairi) sangat membantu menekan populasi patogen di dalam tanah;
  • Membuat saluran drainase yang baik untuk mencegah genangan air;
  • Menanam varietas cabai yang tahan penyakit.

 

  1. Virus Kuning (Pepper Yellow Leaf Curl Virus – Bulai)

Penyakit virus kuning yang umum disebut penyakit bulai cabai disebabkan oleh virus Gemini. Patogen juga dapat menyerang tanaman tomat serta tanaman lain yang termasuk dalam Solanaceae dan Cucurbitaceae. Penyakit ditularkan melalui vektor kutu kebul (Bemicia tabaci). Kerusakan yang ditimbulkan sangat bervariasi, tergantung kondisi lokasi pertanaman dan stadia tanaman saat terinfeksi. Semakin awal tanaman terinfeksi virus, semakin besar kehilangan hasil yang disebabkannya. Gejala yang timbul pada cabai besar berupa menguningnya daun tanaman, daun mengecil dan keriting, tanaman menjadi kerdil, bunga rontok yang berakibat tanaman tidak menghasilkan buah. Pada cabai rawit gejala yang timbul adalah menguningnya seluruh daun dan tanaman dapat menjadi kerdil bila infeksi terjadi sejak awal pertumbuhan tanaman, sehingga tanaman bisa tidak menghasilkan (gagal panen).

Cara pengendalian :

  • Menggunakan benih yang sehat dan bebas patogen. Pembuatan benih dapat dilakukan dengan menyungkup pesemaian dengan kain kasa berlubang halus untuk menghindari masuknya vektor tabaci, sehingga virus tidak dapat ditularkan;
  • Melakukan sanitasi lapangan dari gulma yang menjadi inang alternatif maupun tanaman sakit sejak awal untuk menekan populasi inokulum awal;
  • Menanam varietas cabai yang toleran. Cabai rawit dinyatakan lebih toleran dibandingkan cabai besar;
  • Menggunakan pupuk organik cair yang mengandung unsure hara makro, mikro, dan zat pengatur tumbuh sehingga tanaman menjadi sehat yang dapat bereaksi lebih tahan terhadap serangan patogen;
  • Membuat pagar keliling hidup dari tanaman jagung, yang ditanam rapat sebanyak enam baris secara zigzag, untuk menahan vektor tabaci masuk ke areal pertanaman dari tanaman disebelahnya yang terinfeksi. Penanaman pagar hidup sebaiknya pada saat 5 - 6 minggu sebelum tanam cabai;
  • Menyusun pola tanam dan melakukan pergiliran tanaman dengan menanam tanaman yang bukan sebagai inang alternatif bagi pathogen
  • Menekan populasi vektor tabaci dengan insektisida efektif yang direkomendasikan secara bijaksana, sehingga laju infeksi penyakit menjadi lebih kecil.

 

  1. Penyakit Mosaik

Penyakit mosaik pada cabai disebabkan oleh Cucumber Mosaic Virus (CMV), atau gabungannya dengan beberapa virus lain seperti Tobacco Mosaic Virus (TMV), Potato Virus Y (PVY) dan Chilli Veinal Mottle Virus (CVMV). Tanaman yang terinfeksi menjadi kerdil, warna daun belang hijau muda dan hijau tua, ukuran daun lebih kecil daripada daun yang sehat. Pada tulang daun terdapat jaringan tanaman yang menguning atau hijau gelap dengan tulang daun yang tumbuh lebih menonjol, serta pinggiran daun bergelombang.

Virus masuk ke dalam jaringan tanaman melalui luka, memperbanyak diri dan menyebar ke seluruh jaringan tanaman (sistemik). Penularan virus dapat secara mekanis (bersinggungan antara tanaman sakit dan sehat)serta dapat melalui vektor serangga kutu daun Myzus persicae dan Aphis gossypii. Khusus TMV tidak dapat ditularkan melalui vektor, tetapi dapat menular melalui biji.

Cara pengendalian :

  • Melakukan sanitasi lapangan terhadap gulma dan tanaman sakit, selanjutnya dimusnahkan untuk mengurangi sumber inokulum awal;
  • Menghindari kontak dengan tanaman sakit pada saat bekerja;
  • Mengurung perbenihan tanaman cabai dengan kain kasa halus untuk mencegah masuknya vektor mencapai benih tanaman;
  • Untuk mencegah penularan TMV melalui biji, maka biji cabai direndam dalam larutan natrium fosfat 10 % selama satu jam.
  • Mengendalikan serangga vektor penyakit dengan insektisida efektif yang direkomendasikan secara bijaksana.
PENGUNJUNG

59818

HARI INI

74088

KEMARIN

35206632

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook