Materi Penyuluhan

Budidaya Padi di Lahan Rawa Pasang Surut

Rabu, 28 Jul 2021
Sumber Gambar : https://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/index.php/en/info-berita/info-teknologi/produksi-padi-di-lahan-pasang-surut-di-lahan-terdampak-salinitas

Upaya  mewujudkan kedaulatan pangan merupakan komitmen pemerintah yang  tiada henti dilakukan melalui peningkatan produksi padi. Strategi peningkatan produksi nasional saat ini  dan  kedepan ditempuh melalui peningkatan produktivitas (intensifikasi) dan perluasan areal tanam, baik melalui peningkatan Indek Pertanaman (IP) maupun perluasan  lahan  baku  sawah.

Upaya  tersebut optimis dapat direalisasikan karena tersedianya berbagai inovasi dan teknologi hasil penelitian, terutama yang dihasilkan oleh Badan Penelitian dan  Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), meskipun teknologi tersebut baru  sebagian yang  diterapkan oleh petani.

Teknologi sistem produksi padi sawah pasang surut intensif, super dan aktual (RAISA) merupakan rangkai komponen teknologi yang pada prinsipnya mengambil dari Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi pasang surut. Namun  demikian komponennya menjadi aktual, karena menggunakan hasil inovasi Balitbangtan terkini untuk pengelolaan dan sistem produksi padi di lahan rawa  pasang surut. Dikatakan intensif karena teknologi  ini  mendorong peningkatan  hasil dan  peluang peningkatan  indeks  pertanaman dari  1 menjadi  2 atau  3 kali  dalam satu tahun.

Beberapa komponen dari teknologi RAISA antara lain:

  1. Persiapan Lahan

Penyiapan lahan dapat dilakukan menggunakan traktor.  Traktor rotari dan singkal digunakan pada lahan potensial, sedangkan pada lahan sulfat masam dilakukan dengan rotari mata  pisau tajam, dan tanpa Singkal agar  tidak mengangkat lapisan Fe  atau  pirit dari dalam tanah. Kedalaman  olah  tidak  lebih  dari  20  cm  atau  kedalaman  ideal 12-15  cm. Keuntungan menggunakan traktor dalam penyiapan lahan adalah untuk  mengurangi kepadatan tanah dan  dapat mempercepat waktu tanam. Herbisida perlu diaplikasikan untuk memastikan kebersihan lahan. Aplikasi  dapat dilakukan  secara bertahap, antara lain:

  1. Pra tanam: metsulfuron, etil klorimuron, & 2,4 D natrium atau 2,4-D dimetil amina atau  glifosat atau  paraquat diklorid atau  Aplikasi dilakukan pada 1 minggu sebelum tanam/olah tanah terakhir pada tanam pindah.
  2. Pra tumbuh:  tefuriltrion, triafamon. Aplikasi khusus untuk  sistem tanam benih    Diaplikasikan  setelah benih  tumbuh.
  3. Purna tumbuh : Fenoksaprop-p-etil, Etoksisulfuron atau  Pyriftalid, Bensulfuron. Aplikasi  dilakukan  pada saat  bibit/tanaman  umur14-21 HSS.

Pada sistem tanam benih langsung (tabela), aplikasi herbisida dilakukan saat pra  tanam, pra tumbuh  dan  purna  tumbuh,  sedangkan pada sistem  tanam pindah  (tapin),  aplikasi  herbisida  dilakukan  pada pra tanam dan  purna  tumbuh  saja.

  1. Pengelolaan Tata Air Mikro

Di lahan pasang surut, pengelolaan air secara makro maupun mikro sangat penting. Penataan dan pengelolaan air secara makro dilakukan dengan membangun saluran irigasi primer dan  sekunder dengan pintu air di muara saluran tersier. Jaringan tata air makro sangat berpengaruh terhadap keberhasilan di tingkat mikro. Pengelolaan Tata  Air mikro (TAM) bertujuan untuk (1) menyediakan air sesuai kebutuhan tanaman, (2) menyimpan atau  konservasi air pada saat kemarau dan membuang kelebihan air saat pasang besar dan  musim hujan, (3) mencuci unsur atau  senyawa racun  dan  memperkaya unsur hara  bagi tanaman, (4) mencegah degradasi lahan akibat kekeringan dan  atau  kebakaran lahan, (5) menjaga kualitas air di petakan lahan dan  saluran, dan  (6) mencegah pertumbuhan gulma. Pengelolaan tata  air mikro mencakup pengaturan dan  pengelolaan air pada saluran kuarter  dan  petakan lahan  yang  sesuai  dengan kebutuhan tanaman.

Sistem pengelolaan air untuk  tanaman pangan dapat dibedakan antara lain: (1) sistem handil, (2) sistem tata  air satu arah,  (3) sistem tabat,  (4) sistem tata  air satu arah  dan tabat  konservasi (SISTAK), dan (5) sistem  drainase  dangkal.

Sistem Handil. Sistem handil merupakan sistem tradisional petani rawa,  berupa saluran kecil yang  digali secara gotong  royong  dari tepi sungai  menjorok  masuk ke lokasi  usahatani  sepanjang 2-3 km, lebar 2-3 m dan  dalam saluran 0,5-1,0  m (Idak, 1982).  Sistem ini disebut sistem  pengelolaan air  dua  arah,  yaitu pengaturan air  masuk (irigasi) dan  keluar (drainase) dari dan  ke areal usahatani melalui saluran yang sama sehingga pergantian air hanya terjadi pada daerah muara yang dekat  dengan sungai/sekunder. Umumnya  praktek  ini diterapkan petani ditingkat tersier dan  kuarter  pada lahan pasang surut tipe luapan B. Sistem  ini  mempunyai beberapa kelemahan diantaranya tingkat pencucian  dan  penyegaran dari  air  pasang kurang  efektif.

Sistem Tata  Air Satu Arah.  Sistem tata  air aliran satu arah  (one way  flow system) adalah model pengaturan air, dimana air masuk (irigasi) dan  keluar (drainase) melalui saluran yang  berbeda sehingga secara berkala terjadi pergantian air mengikuti siklus satu arah.  Sistem pengelolaan air satu arah  ini memerlukan bangunan pintu air (flapgate dan  stoplog) pada muara saluran. Pintu air pada saluran irigasi dirancang membuka ke dalam saat pasang dan  menutup saat surut, sedangkan pada saluran drainase dirancang sebaliknya. Penerapan sistem  ini cocok  untuk  rawa  pasang surut tipe luapan A dan  B, selain pada tingkat tersier juga penerapannya perlu didukung pada tingkat sekunder. Sistem  satu arah  ini  dimaksudkan untuk  menciptakan terjadinya sirkulasi air dalam satu arah  baik air permukaan maupun air bawah tanah karena adanya perbedaan tinggi muka  air dari saluran tersier irigasi  dan  drainase.  Model  saluran ini  akan   membantu pencucian kandungan Fe  dan  beberapa mineral beracun lainnya seperti Aluminium. 

Sistem Tabat. Pada lahan tipe luapan C atau  D, terjadi drainase harian yang  intensif sehingga pada saat kemarau atau  menjelang kemarau muka  air tanah (ground  water  level) dapat turun mencapai >1 m sehingga tanaman mengalami cekaman kekurangan air. Upaya mempertahankan tinggi muka  air tanah, perlu dibuat dam/tabat pada masing-masing muara saluran sekunder atau  tersier. Tinggi tabat bervariasi  tergantung kebutuhan, misalnya  untuk  palawija/sayuran 

Sistem Tata Air Satu Arah dan Tabat Konservasi (SISTAK). Pada tipe luapan B yang  tidak terluapi air pasang pada musim kemarau diperlukan kombinasi antara sistem tata  air satu arah  dengan tabat konservasi (SISTAK), sedangkan pada tipe luapan B yang  terluapi air pasang di musim kemarau cukup  diterapkan tata  air satu arah.

Sistem Drainase Dangkal. Sistem ini diterapkan pada lahan tipe luapan C untuk palawija dan sayuran. Saluran tersier dan kuarter  diatur sedemikian rupa  agar  hanya berfungsi sebagai saluran drainase terutama pada musim hujan. Pada areal pertanaman dibuat saluran- saluran drainase  dangkal  yang  akan   berfungsi  sebagai saluran pembuang. Sistem ini perlu didukung dengan tabat  konservasi untuk mempertahankan tinggi muka  air  sesuai kebutuhan tanaman. 

  1. Pengaturan Cara Tanam dan Populasi Tanaman

Sistem budidaya padi yang  diterapkan di petani dipengaruhi oleh ketersediaan air, lahan, dan  kekurangan tenaga kerja. Beberapa cara tanam yang  sudah diterapkan diantaranya sistem tanam tapin, tabela, dan  salibu. Perbedaan antara sistem tapin dan  tabela terletak pada kondisi benih yang digunakan. Sistem tapin banyak diterapkan di lahan sawah irigasi sedangkan sistem tabela banyak diterapkan di lahan gogo dan  lahan  rawa.  Terdapat dua  metode tabela,  yaitu  1) Sebar kering/ dry seeding (sebar benih kering ke tanah kering), 2) Sebar basah/wet seeding (sebar benih pra germinasi di tanah basah). Penaburan benih dalam larikan dapat menggunakan alat tanam benih langsung (atabela). 

Karakteristik varietas yang  dibutuhkan pada sistem tabela adalah mampu   berkecambah dalam  kondisi anaerob, perakaran dalam sehingga tidak mudah rebah, jumlah anakan sedikit, malai panjang dengan jumlah gabah bernas tinggi. Karakter lain yang diinginkan adalah dapat memperbaiki seedling anchorage, mengurangi kemampuan bertunas (anakan), umur lebih panjang, daun  bendera yang luas, malai besar dengan kapasitas  sink  yang  lebih  tinggi  (Pane 2003). 

Manajemen budidaya lainnya yang  dianggap cukup  berpeluang untuk  peningkatan hasil yaitu melalui pengaturan populasi tanaman. Pendekatan hasil merupakan perkalian antara kemampuan varietas menghasilkan malai produktif, jumlah gabah per  malai, dan  berat gabahnya. Oleh karena itu, pengaturan populasi tanaman per ha yang lebih tinggi diharapkan dalam berbanding lurus dengan peningkatan jumlah malai per ha. 

Sistem tanam legowo merupakan cara  tanam padi sawah dengan pola beberapa barisan tanaman yang  kemudian diselingi satu barisan kosong. Tanaman yang seharusnya ditanam pada barisan yang kosong dipindahkan sebagai tanaman sisipan di dalam barisan. 

  1. Varietas Unggul Baru (VUB) Spesifik Lokasi dan Benih Bermutu

Varietas unggul merupakan salah satu komponen utama teknologi yang  terbukti mampu   meningkatkan produktivitas padi dan  cepat diadopsi petani karena murah  dan  penggunaannya lebih praktis. Pemerintah telah melepas beberapa varietas unggul padi spesifik lahan pasang surut, sehingga petani dapat lebih leluasa memilih varietas yang  sesuai dengan teknik budidaya dan  kondisi lingkungan setempat. Rekomendasi benih bermutu  untuk  lahan adalah 40-60  kg/ ha  untuk  tabela dan  30-40  kg/ha  untuk  tanam pindah. Varietas unggul baru padi spesifik lahan pasang surut antara lain Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 6, Inpara 7, Inpara 8 Agritan, Inpara 9 Agritan, Purwa, Inpara 10 BLB.  

Benih bermutu  adalah benih dengan tingkat kemurnian dan  vigor yang  tinggi. Benih varietas unggul berperan tidak hanya sebagai pengantar teknologi tetapi juga menentukan potensi hasil yang  bisa dicapai, kualitas gabah yang  akan  dihasilkan, dan  efisiensi produksi. Penggunaan benih  bersertifikat  atau   benih  dengan vigor  tinggi menghasilkan bibit  yang  sehat  dengan perakaran lebih banyak, sehingga  pertumbuhan tanaman lebih  cepat dan  merata.

  1. Aplikasi Pupuk Hayati

Biotara merupakan pupuk hayati yang adaptif dengan tanah masam lahan rawa  dan  mampu  meningkatkan produktivitas tanaman serta keberlanjutan sumber daya  lahan. Biotara mengandung konsorsia mikroba decomposer (Trichoderma sp.), pelarut P  (bacillus sp.), dan penambat N (azospirillum sp.). Keunggulan dari pupuk  hayati biotara adalah dapat mengikat N, meningkatkan ketersediaan hara  P  tanah, mendekomposisi sisa-sisa organik dan  memacu pertumbuhan. Selain itu pupuk  hayati biotara juga dapat meningkatkan efisiensi pemupukan N dan  P  sampai dengan 30%  dan  meningkatkan hasil padi sampai dengan 20%  di lahan rawa.

Sebelum pupuk  hayati biotara diaplikasikan, bahan organik (jerami dan  gulma) disebar merata pada saat pengolahan tanah. Pupuk  hayati biotara dengan dosis 25  Kg/ha  kemudian diaplikasikan dengan cara disebar merata atau  dilarutkan dengan air dan  disemprotkan merata pada sisa jerami atau  gulma. Setelah 15 hari, sisa jerami/gulma dibalik samil dibenamkan pada lapisan olah tanah dan  lahan siap ditanami.

  1. Ameliorasi dan Remediasi

Lahan  sulfat  masam biasanya  memiliki  pH rendah, kelarutan Al, Fe,  dan  Mn tinggi, ketersediaan hara  P  dan  rendah serta kejenuhan basa rendah. Oleh karena itu perlu ditambah bahan pembenah tanah (amelioran). Ameliorasi lahan merupakan upaya memberikan bahan amelioran untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah sehingga kondisi tanah menjadi lebih sesuai (favorable) bagi tanaman. Petani di lahan sulfat masam menggunakan beberapa bahan amelioran, antara lain bahan organik, pupuk organik, kompos, gypsum, fosfat alam, biochar dan  kapur.  Selain pupuk  kandang, petani bisa menggunakan jerami padi dan  gulma insitu dengan teknologi tapulikampar. Kegiatan ini  merupakan proses pengomposan secara  alami  pada kondisi anaerobik yang dapat mengurangi kehilangan nitrogen dan mengkhelat unsur Fe dan Al.

Remediasi adalah kegiatan pemulihan tanah yang sudah mengalami degradasi  baik  fisik,  kimia  maupun  biologi.  Proses ini  dapat meningkatkan pH,  retensi air dan  hara,   aktivitas biota tanah dan mengurangi keracunan dan  pencemaran. Remediasi dapat dilakukan dengan remediasi hayati (bioremediation) menggunakan mikroorganisme; (2) remediasi kimia (chemo remediation) menggunakan kapur, zeolit, arang aktif, biochar dan resin; dan  (3) remediasi secara fisik (physic remediation) dengan cara  pengenceran dan  pencucian.  Salah  satu remediasi  hayati  dilakukan  dengan memanfaatkan gulma yang  banyak ditemukan yaitu purun  tikus dan rumput  bulu babi  (Wahida, 2017).

  1. Pemupukan berimbang berdasarkan Perangkat Uji Tanah

Rawa (PUTR)

Pemupukan bertujuan untuk menambah unsur hara  dari luar ke dalam tanah agar  tingkat ketersediaannya meningkat. Penambahan unsur hara  dilakukan berdasarkan status hara  tanah dan  kebutuhan tanaman agar  kondisi hara  dalam tanah berimbang atau  sesuai target produktivitas tanaman yang akan  dicapai. Penentuan takaran N, P dan K berdasarkan uji tanah dapat menggunakan alat Perangkat Uji Tanah Rawa  (PUTR), sedangkan pemberian pupuk N susulan menggunakan Bagan Warna  Daun  (BWD). Waktu  pemupukan: berikan semua NPK pada umur 0-10 hst, 50% pupuk urea pada umur 24-27 hst, dan sisanya diaplikasikan pada 43-47  hst (Balitra, 2015).  Dosis pupuk  NPK 15-15-15 secara blanket (rekomendasi paket)  sebanyak total 200 kg/ha  NPKdan  Urea  125 kg/ha. 

  1. Pengendalian hama dan penyakit terpadu dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT)  terpadu dan pemanfaatan refugia sebagai perangkap tanaman

Penyebab utama tingginya serangan hama penyakit adalah: 1) lokasi lahan rawa  pasang surut dekat  dengan hutan,  dan  2) sempitnya areal pertanaman varietas  unggul sehingga serangan  hama penyakit terkonsentrasi. Pengendalian hama penyakit diarahkan pada strategi pengelolaan hama terpadu (PHT) melalui penggunaan varietas tahan dan  musuh alami, penggunaan pestisida sebagai alternatif terakhir. Hama  utama tanaman padi adalah wereng batang cokelat, penggerek batang, dan  tikus. Sedangkan penyakit penting adalah blast daun dan leher, hawar daun bakteri, dan tungro. Pengendalian hama dan penyakit diutamakan dengan tanam serempak, penggunaan varietas tahan, pengendalian hayati, biopestisida, fisik dan mekanis, feromon, dan mempertahankan populasi musuh alami. Penggunaan insektisida kimia selektif adalah cara  terakhir jika komponen pengendalian lain tidak mampu  mengendalikan hama penyakit. Komponen pengendalian hama dan  penyakit  tanaman padi  adalah  sebagai  berikut:

  • Tanam serempak dan pergiliran  varietas
  • Penggunaan varietas berpotensi hasil tinggi dan tahan hama penyakit
  • Mempertahankan keberadaan musuh alami di lingkungan setempat
  • Pemantauan populasi hama atau  serangan penyakit  secara rutin
  • Pengendalian hama wereng sedini mungkin, ketika populasinya pada pertanaman merupakan generasi ke-1. Pada umumnya, keberhasilan pengendalian wereng cokelat jika sudah memasuki generasi ke-2  atau  ke-3  akan  sangat kecil, bahkan mengalami kegagalan
  • Penggunaan pupuk N sesuai  anjuran  (tidak  berlebihan)
  • Pengendalian dengan insektisida secara tepat (dosis, sasaran, waktu,  cara  dan  bahan aktif)
  • Penyebaran penyakit tungro dapat dihambat melalui penekanan aktivitas  pemencaran  wereng hijau  dengan modifikasi  sebaran tanaman dan  mengatur kondisi  pengairan  (menggenangi  sawah yang  terserang tungro)
  • Sanitasi lingkungan untuk menghilangkan sumber inokulum penyakit dan memutus siklus hidup hama melalui eradikasi ratun/singgang
  • Berdasarkan tangkapan wereng batang cokelat dan  penggerek batang padi:
    1. Apabila tangkapan  wereng batang  coklat  (WBC)  imigran (makroptera) pada lampu perangkap terdiri atas satu generasi (seragam), maka  persemaian hendaknya dilakukan 15  hari setelah puncak tangkapan. Apabila populasi WBC beragam (tumpeng tindih), maka  persemaian dilakukan 15  hari setelah puncak tangkapan ke-2
    2. Waktu tanam yang  dianjurkan adalah 15  hari setelah puncak penerbangan ngengat PBP generasi pertama. Apabila generasi penggerek batang padi (PBP) di lapangan tumpeng tindih, waktu tanam dianjurkan 15 hari setelah puncak penerbangan ngengat generasi  berikutnya
  • Penggunaan pestisida nabati BioProtector yang berbahan aktif senyawa eugenol,  sitronelol,  dan    Hasil  penelitian sebelumnya  menerangkan bahwa senyawa  tersebut efektif mengendalikan berbagai hama penting pada tanaman padi seperti wereng batang cokelat, keong  mas, dan  walang sangit. Eugenol yang terkandung di dalam formula juga bersifat fungisidal sehingga diharapkan  mampu   menekan  pertumbuhan penyakit  yang disebabkan oleh jamur pathogen. Bahan aktif pestisida nabati yang diaplikasikan ke pertanaman beberapa waktu kemudian akan terurai terutama 14 setelah terkena cahaya/sinar matahari dan selanjutnya akan  berfungsi sebagai pupuk  organik sehingga secara langsung mampu  memperbaiki pertumbuhan tanaman padi. Hasil penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwa aplikasi BioProtector mampu meningkatkan produksi tanaman 10 hingga 15%.  Aplikasi  BioProtector  sebaiknya dilakukan sekitar seminggu setelah bibit tanaman padi dipindahkan ke lapang. Aplikasi BioProtector selanjutnya diulang dua kali dengan selang waktu  7-10  hari kemudian. Aplikasi terakhir dilakukan satu atau  dua  kali saat tanaman padi sudah memasuki fase generatif dimana bulir-bulir padi mulai terisi. Aplikasi pada fase tersebut dilakukan untuk  mengendalikan populasi walang sangit sekaligus untuk  menyediakan hara  setelah bahan organik tanaman yang berperan sebagai  bahan aktif  pestisida terurai terkena sinar matahari.
  • Pengendalian hama tikus dilakukan sebagai berikut:
  • Di daerah endemik tikus,  penerapan TBS  (Trap  Barrier  System) dan  tanaman perangkap dilakukan 3  minggu lebih awal untuk monitoring dan  pengendalian. TBS berukuran 25 m x 25 m dapat mengamankan tanaman padi dari serangan tikus seluas 8-10 ha di sekelilingnya.
  • LTBS berupa bentangan pagar plastik/terpal  setinggi  60  cm, ditegakkan dengan ajir bambu setiap jarak 1 m, dilengkapi bubu perangkap setiap jarak 20 m dengan pintu masuk berselang-seling arah.  LTBS dipasang  di  perbatasan daerah tikus  atau  pada saat ada  migrasi  tikus.  Pemasangan LTBS dipindahkan  setelah  tidak ada  tangkapan tikus atau  sekurangkurangnya dipasang selama 3 malam  berturut-turut.
  • Metode pengendalian tikus berdasarkan stadia tanaman padi sebagai berikut:

Metode pengendalian dengan tanam serempak pada stadia tanaman padi semai, tanam dan matang. Metode pengendalian dengan sanitasi habitat pada stadia tanaman padi bera, olah tanam, semai dan bunting. Metode pengendalian dengan gropyok massal pada stadia tanaman padi bera, olah tanah, semai dan bunting. Metode pengendalian dengan fumigasi pada stadia tanaman padi bunting dan matang. Metode pengendalian dengan LTBS  (berupa bentangan pagar plastik/terpal  setinggi  60  cm, ditegakkan dengan ajir bambu setiap jarak 1 m, dilengkapi bubu perangkap setiap jarak 20 m dengan pintu masuk berselang-seling arah) pada stadia tanaman padi bera, olah tanah, tunas, dan batang. Metode pengendalian dengan TBS  (Trap  Barrier  System) pada stadia tanaman padi olah tanah, dan semai. Metode pengendalian dengan rodentisida pada stadia tanaman padi bera.

Peningkatan produksi padi di Indonesia akan terus dilakukan sejalan dengan laju peningkatan penduduk dan alih fungsi lahan serta sejumlah tantangan lainnya melalui optimalisasi dan  pengembangan budidaya pada berbagai agroekosistem. Pengelolaan agroekosistem  yang beragam melalui pemanfaatan inovasi dan  teknologi spesifik lokasi menjadi  kunci utama keberhasilan.

Upaya   optimalisasi dan  pengembangan padi pada berbagai agroekosistem yang  mengacu pada rekomendasi spesifik lokasi ini diharapkan dapat mencapai target  peningkatan produksi padi setiap tahunnya serta berimplikasi terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan  petani.

DAFTAR PUSTAKA

Rekomendasi Budidaya  Padi Pada  Berbagai  Agroekosistem, Balai Besar  Penelitian Tanaman Padi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian tahun 2020.

PENGUNJUNG

18712

HARI INI

89943

KEMARIN

35567178

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook