Materi Penyuluhan

Budidaya Padi di Lahan Kering dan Tadah Hujan

Rabu, 28 Jul 2021
Sumber Gambar : Balai Besar Penelitian Tanaman Padi 2020

Upaya mewujudkan kedaulatan pangan merupakan komitmen pemerintah yang tiada henti dilakukan melalui peningkatan produksi padi. Strategi peningkatan produksi nasional saat ini dan kedepan ditempuh melalui peningkatan produktivitas (intensifikasi) dan perluasan areal tanam, baik melalui peningkatan Indek Pertanaman (IP) maupun perluasan  lahan  baku  sawah. 

Upaya tersebut optimis dapat direalisasikan karena tersedianya berbagai inovasi dan teknologi hasil penelitian, terutama yang dihasilkan oleh Badan Penelitian dan  Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), meskipun teknologi tersebut baru sebagian yang  diterapkan oleh petani. 

Lahan sawah tadah hujan (STH) merupakan lumbung padi kedua setelah lahan sawah irigasi (Anonim, 1992). Luas lahan STH di Indonesia sekitar 2,1 juta ha dan  900.000 ha diantaranya berada di pulau Jawa. Lahan  STH  tidak mempunyai sumber air irigasi kecuali betul-betul mengharapkan air hujan yang datangnya tidak menentu. Dalam musim yang  normal, lahan STH dapat ditanami tiga kali setiap tahun  (Pane et al.,  1999).

Lahan  sawah tadah hujan tersebar di beberapa provinsi  di Indonesia. Dilihat dari luasan, sawah tadah hujan bisa menjadi lumbung pangan kedua bagi Indonesia, namun demikian rata-rata produksi baru mencapai 3,0  t/ha  hingga 4,0  t/ha,  sedangkan hasil penelitian IRRI, hasil produksi di lahan tadah hujan bisa mencapai 7,5 t/ha. Ketidakpastian intensitas dan distribusi curah hujan merupakan faktor pembatas yang  menentukan keberhasilan produksi di lahan sawah tadah hujan. Usaha tani padi sawah tadah hujan memiliki kemungkinan keberhasilan tinggi pada daerah yang memiliki bulan basah antara 4 hingga 8 bulan; yang dikombinasikan dengan pengelolaan air yang efisien  dan  teknologi  budidaya  yang  tepat.

Beberapa paket budidaya padi produksi tinggi untuk daerah sawah tadah hujan, antara lain:

  1. Pemilihan Varietas Padi Unggul yang Tepat.

Varietas padi merupakan salah satu teknologi yang mudah diadopsi oleh petani yang  mampu  meningkatkan produktivitas padi. Berdasarkan tipologi lahan sawah tadah hujan, beberapa varietas unggul yaitu Inpari 26, Inpari 27, Inpari 28 Kerinci, Batutegi, Sarinah, Towuti sangat sesuai untuk lahan STH pada ketinggian lahan diatas 700 m dpl (meter  diatas permukaan laut), namun kurang  dari ketinggian 2000  m dpl. Pilihan varietas padi lebih beragam untuklahan STH dataran rendah hingga menengah, dengan ketinggian tempat kurang dari 700 m dpl. Beberapa varietas Inpari 10 Laeya,  Inpari 11, Inpari 12, Inpari 13, Inpari 18, Inpari 19, Inpari 20, Inpari 33, Inpari 32 HDB, Inpari 22, Inpari 38 Tadah Hujan Agritan,  Inpari  39 Tadah Hujan Agritan,  Inpari  42 Agritan  GSR,  Inpari 43 Agritan GSR  dan  Silugonggo sesuai untuk  ditanam pada bulan basah, sedangkan beberapa varietas  berumur  pendek (kurang  dari 90 hari) seperti Dodokan  akan  sesuai ditanam pada lahan STH yang masuk dalam kategori bulan kering. Penggunaan padi unggul umur pendek berguna untuk menghindari kekurangan air pada saat tanaman memasuki  phase generatif  (menjelang  panen).

  1. Penyiapan Lahan

Penyiapan lahan dapat dilakukan pada musim kemarau (atau kondisi tanah kering karena pengeringan lahan saat panen musim tanam sebelumnya). Ada 3 macam penyiapan lahan yang  dapat  diterapkan  sesuai  dengan kondisi  tanah, ketersediaan  air dan  lingkungan.

 Tanpa olah tanah (TOT)

Langkah-langkah persiapan lahan tanpa olah tanah (TOT) adalah sebagai  berikut:

  1. Lahan dibersihkan  dari  Gulma  dengan cara  disemprot  dengan herbisida pra-tanam dengan bahan aktif metsulfuron, etil klorimuron, & 2,4 D natrium atau 2,4-D dimetil amina atau glifosat atau paraquat diklorid atau Triasulfuron Cara  aplikasi herbisida Pra-tanam adalah:

a.1. Lahan  dalam  kondisi  kering

a.2.  Aplikasi  herbisida  sesuai  dengan dosis  anjuran

a.3.  Lahan  dibiarkan hingga gulma/rumput menguning/mengering dan akar gulma sudah mati. Beberapa herbisida seperti Round-up memerlukan waktu  sekitar 5 hari hingga perakaran mati, namun untuk  herbisida kontak  seperti Gramoxone, hanya memerlukan waktu 1 hingga 2 hari hingga gulma mati.

  1. Jika pada musim sebelumnya lahan ditanami padi, maka penyiapan lahan dengan sistem TOT dalam kondisi kering, dapat dilakukan dengan menambahkan bio-dekomposer untuk mempercepat pelapukan jerami sisa musim tanam sebelumnya.
    • Olah Tanah Kombinasi (Kering dan Basah)

Tahap-tahap penyiapan  lahan  dengan olah  tanah kombinasi, sebagai  berikut:

  1. Penyemprotan herbisida pra-tanam setidaknya 5 hari sebelum pengolahan tanah pertama.
  2. Penyiapan lahan dengan cara olah kering menggunakan wheel tractor (traktor roda) dengan bajak singkal (piringan) dalam kondisi kering tanpa air. Kondisi lahan dan hasil pembajakan disajikan dalam Gambar 3.
  3. Setelah pengolahan pertama, dapat dilanjutkan dengan olah tanah menggunakan rotary. Bajak rotary  dapat dilakukan dalam kondisi tanpa air jika sistem tanam yang akan dilakukan adalah tanam benih langsung (tabela); tetapi jika akan  menggunakan sistem tanam pindah  maka   sebaiknya  rotary  dan  pengolahan  tanah akhir (levelling)  dapat dilakukan  dalam  kondisi 
  4. Sistem Tanam – Sebar Benih Langsung
  5. Tabela Basah

Hambur atau Sebar Benih Langsung dengan tangan (manual broadcasting). Kelebihan dari hambur atau sebar benih langsung adalah hemat tenaga kerja dan waktu, namun demikian dengan sistem hambur maka pengelolaan tanaman khususnya pengendalian gulma dan hama penyakit relatif lebih sulit. Di wilayah sentra tanaman padi seperti di Sulawesi dan Sumatera, Petani seringkali dihadapkan pada kondisi tanah dan kelangkaan tenaga kerja serta kelangkaan mesin pertanian sehingga hambur benih menjadi pilihan utama. Hal-hal yang  perlu diperhatikan agar  hasil padi tinggi dengan sistem hambur, antara lain:

  1. Jika penyiapan lahan dilakukan dengan olah tanah basah (sempurna) maka hambur   dapat dilakukan  pada kondisi permukaan tanah agak  keras dan  tidak terlalu melumpur, untuk mengurangi resiko benih akan  terendam di dalam lumpur. Cara sederhana untuk mengukur kekerasan tanah yang sesuai untuk tabela,  adalah:

a.1.  Menguji dengan menyebar 10  benih ditas tanah, jika seluruh benih masih terlihat diatas tanah, berarti kekerasan tanah permukaan sudah sesuai  untuk  tabela

a.2.  Dengan menggunakan bola golf, Jika lebih dari setengah dari bola golf masih terendam ke dalam tanah, maka kondisi tanah permukaan masih terlalu melumpur/lembut untuk tabela. Dikhawatirkan akan  banyak benih yang  terendam masuk ke dalam tanah dan mati sehingga persen perkecambahan akan  menurun.   

  1. Persiapan dan  perlakuan  benih

Perlakuan benih dibedakan antara sistem hambur dengan menggunakan tangan, dan atabela dengan menggunakan alat seperti atabela atau  drum seeder.

b.1. Hambur  atau  sebar langsung  dengan tangan

  1. Benih bernas diseleksi dengan merendam benih dalam air bersih. Benih yang terendam adalah ciri benih bernas sedangkan benih yang mengapung adalah benih  kurang  bagus dan  sebaiknya 
  2. Benih bernas direndam selama 48 jam untuk mematahkan dormansi benih dan mempercepat proses perkecambahan.
  3. Benih ditiriskan selama 24 jam hingga calon akar (coleoptile) sudah muncuk diujung benih. Perlakuan benih hingga calon akar muncul sangat penting agar benih segera tumbuh menjadi bibit setelah disebar di sawah.
  4. Untuk lokasi yang mengalami masalah dengan hama burung, benih dapat dicampurkan dengan insektisida, sebagai contoh Sedangkan untuk lokasi yang tidak mengalami masalah hama burung,  benih dapat dicampur  dengan pupuk  hayati,  seperti AgriRice.

b.2. Sebar benih  dengan menggunakan alat  tanam benih langsung  (atabela)

  1. Benih bernas diseleksi.
  2. Benih bernas direndam selama 8-10 jam. Perendaman benih tidak lebih  dari  10  jam  untuk  mematahkan dormansi benih, namun calon akar  belum muncul.
  3. Benih dikeringkan selama 8-10 jam.
  4. Memasukkan benih padi ke dalam pipa “drum” penabur benih “seeder”.
  5. Atabela ditempatkan  diatas  lahan  sawah yang  telah diolah,  dan  siap  digunakan  dengan cara 

Atabela dapat berfungsi dengan optimal pada lahan sawah dengan kedalaman lapisan olah tanah kurang  dari 20 cm. Jika kedalaman lapis olah tanah diatas 30 cm (lebih dari setengah roda atabela terendam dalam tanah) maka akan sulit untuk menariknya, dan persentase benihyang masuk ke dalam tanahdan tidak dapat berkecambah akan meningkat.

  1. Pengendalian Gulma

Gulma dapat dikendalikan, baik dengan cara kimiawi menggunakan herbisida, maupun dengan cara manual (atau mekanik) baik secara manual dengan tenaga manusia, maupun menggunakan alat sederha seperti gasrok, serta menggunakan mesin seperti power weeder. Pengendalian gulma terpadu bisa dilakukan dengan cara menggabungkan pengendalian mekanik di awal pertumbuhan tanaman, dan  dibarengi dengan pengendalian secara kimia dengan herbisida selektif pada saat bibit  sudah tinggi (pasca tumbuh).

Kelangkaan tenaga kerja di bidang pertanian menyebabkan pengendalian gulma secara kimiawi dengan aplikasi herbisida menjadi satu alternatif yang  penting untuk dikembangkan. Aplikasi hersida bisa dilakukan sebanyak 3 kali, masing-masing (a).  Herbisida pra-tanam yang  diaplikasikan sekitar 7 hari sebelum tanam, atau pada saat pengolahan tanah ke-2; (b) herbisida  selektif  pra-tumbuh, diberikan pada saat benih sudah berkecambah (terlihat dari calon akar  yang sudah tumbuh).  Untuk benih yang sebelum disebar diberikan perlakuan priming  air,  pada hari  ke-3  setelah  sebar, benih  mulai  berkecambah; dan  (c)  Herbisida purna  tumbuh  diberikan ketika tanaman sudah memiliki sekitar 2-3 daun,  atau  sekitar umur 14 hss.

Di  sentra produksi  padi  yang  masih  memungkinkan  untuk menggunakan tenaga kerja untuk  penyiangan, maka  pengendalian gulma secara manual bisa dilakukan, masing-masing pada (a) 14 hari setelah sebar atau  ketika bibit memiliki 2 hingga 4 daun.  Penyiangan gulma  dilakukan  bersamaan dengan penyulaman  (penanaman bibit) di tempat yang kerapatan bibit rendah; dan  (b) Penyiangan pada umur 28 hss. Penyiangan mekanik, selain manual dengan tangan, bisa juga dilakukan dengan menggunakan gasrok. Pengendalian gulma secara mekanik ini, meskipun memerlukan tenaga kerja yang  lebih banyak, namun memiliki beberapa keunggulan antara lain ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan kimia. Disamping itu, penyiangan mekanik dapat meningkatkan aerasi tanah sehingga perakaran padi dapat berkembang dengan baik.

  1. Pengelolaan Pemupukan

Pada prinsipnya pemupukan untuk  sistem tanam benih langsung hampir sama dengan sistem tanam pindah. Namun demikian, agar efektif dan efisien, dosis pemupukan disesuaikan dengan populasi (jumlah rumpun)  tanaman dan  ketersediaan hara  dalam tanah. Salah satu masalah dalam pengembangan tabela adalah populasi tanaman yang tinggi  dapat memicu  kerebahan tanaman. Untuk menghindari kerebahan tanaman, maka pemberian pupuk Nitrogen dapat dilakukan berdasarkan tingkat  kehijauan  warna  daun  padi.

Secara umum,  pemupukan di lahan sawah tadah hujan meliputi dosis pupuk  NPK 15-15-15  sebanyak 350  kg/ha  dan  150 kg Urea/ha. Pupuk  diaplikasikan 3 kali, masing-masing dengan dosis:

  • Aplikasi ke-1: Pada umur  10-15  hari  setelah  sebar dengan dosis 150 kg NPK dan  50 kg Urea/ha
  • Aplikasi ke-2: Pada umur  28-35  hari  setelah  sebar, dengan dosis 100 kg NPK dan  100 kg Urea.
  • Aplikasi ke-3: Pada umur  45-55  hari  setelah  sebar, dengan dosis 100 kg NPK . Pengurangan pupuk Urea pada saat pengisian gabah dimaksudkan untuk  mengurangi kemungkinan tanaman rebah (lodging) karena populasi tanaman pada sistem tanam benih langsung  sangat tinggi.
  1. Pengendalian Hama Penyakit Terpadu
    • Tikus

Pengendalian hama tikus dapat dilakukan dengan pemasangan LTBS (Linear Trap Barrier System) dan  TBS (Trap  Barrier System).

  • Wereng Coklat

Pengendalian wereng coklat dapat dilakukan dengan penanaman varietas tahan wereng coklat (Inpari 19, Inpari 13, Inpari 33, Inpari 42 Agritan GSR).  Varietas tahan dapat menekan perkembangan populasi. Disamping itu, monitor pertanaman perlu secara rutin dilakukan, paling lambat 2 minggu sekali, untuk mengetahui tingkat predator dan hamanya supaya tetap  seimbang.

  • Virus

Beberapa langkah yang  harus dilakukan dalam pengendalian virus tungro,  antara lain  dengan penanaman varietas  tahan (Inpari 7 Lanrang, Inpari 8, Inpari 9 Elo) serta pergiliran vareitas padi, dan melakukan tanam serempak minimal pada luasan 50 ha. Pengendalian vector tungro berupa wereng hijau juga merupakan kunci pengendalian, disamping itu kita perlu menghilangkan sumber inokulum sebelum tanam, eradikasi singgang ataupun tanaman yang terinfeksi serta deteksi awal: inokulum awal, keberadaan vector. Pengamatan/ monitoring serta aplikasi insektisida (bahan aktif: Imidakloprid, pymetrozine) juga diperlukan jika tungro  sudah melewati ambang.

Peningkatan produksi padi di Indonesia akan terus dilakukan sejalan dengan laju peningkatan penduduk dan alih fungsi lahan serta sejumlah tantangan lainnya melalui optimalisasi dan pengembangan budidaya pada berbagai agroekosistem. Pengelolaan agroekosistem yang beragam melalui pemanfaatan inovasi dan  teknologi spesifik lokasi menjadi  kunci utama keberhasilan.

Upaya   optimalisasi dan  pengembangan padi pada berbagai agroekosistem yang  mengacu pada rekomendasi spesifik lokasi ini diharapkan dapat mencapai target  peningkatan produksi padi setiap tahunnya serta berimplikasi terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan  petani.

 

DAFTAR PUSTAKA

Rekomendasi Budidaya  Padi Pada  Berbagai  Agroekosistem, Balai Besar  Penelitian Tanaman Padi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian tahun 2020.

PENGUNJUNG

15587

HARI INI

89943

KEMARIN

35564053

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook