Gerbang Nasional

Maksimalkan Produktivitas Jagung Dengan Menggunakan Varietas Jagung Hibrida Berpotensi Hasil Tinggi

Sabtu, 24 Jul 2021
Sumber Gambar : Pusat Penyuluhan Pertanian

[ JAKARTA ] Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong petani jagung menggunakan benih varietas unggulan. Kandungan vitamin yang lebih tinggi dibandingkan dengan jagung biasa bisa dijadikan alternatif pemenuhan karbohidrat atau makanan pokok masyarakat.
 
Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) menyebut bahwa kebutuhan jagung dalam negeri perlu mendapat jaminan terpenuhi hingga peningkatan volume ekspor. Saat ini, beberapa sentra penghasil jagung sudah mencapai target produktivitas sekitar 8-9 ton/ha, walaupun rata-rata produktivitas jagung lokal saat ini masih sekitar 6,4 ton/ha.
 
Menurut Mentan, peran penting komoditas jagung diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan produksi dan pendapatan petani. “Kandungan gizi pada jagung tidak kalah dibandingkan dengan beras. Bahkan, kandungan serat dan beta karoten yang terdapat pada jagung lebih tinggi daripada beras.”. jelas Mentan.

Hal senada diungkapkan oleh Kepala Badan Penytuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi pada agenda kegiatan Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) volume 26, jumat (23/07/2021) dengan tema Varietan dan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Jagung yang dilaksanakan di AOR BPPSDMP secara virtual. Beliau mengatakan Jika kita mengkonsumsi pangan lokal, berarti meningkatkan pendapatan petani di Indonesia. Maka selain imunitas meningkat juga dapat meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia dan membuat petani indonesia meningkat imunnya.

Lebih lanjut Dedi mengatakan dengan pangan lokal, kita semua sehat dan petani dapat tersenyum. Jagung tidak akan impor dalam beberapa tahun ini dan diharapkan akan ekspor ke luar negeri khususnya Asia Tenggara. Implementasikan di masing-masing daerahnya.Ada peningkatan produktivitas jagung, jangan sampai stagnan. “Lebih baik kita  menjual dalam bentuk pakan ternak, tidak hanya jagung yang dipipil.”.ujar Dedi.

Sementara itu narasumber kegitan MSPP Dr. Muhammad Azrai, SP, MP, Kepala Balai Penelitian Tanaman Serealia menjelaskan pada tayangannya mengenai varietas jagung hibrida Kementerian Pertanian yang terdiri atas beberapa generasi, yaitu generasi semar 1-10 IETAS, generasi Bima 1-20, generasi HJ 21, HJ 22 dan HJ 28 serta generasi NASA 29, JH 234, JH 27-32, JH 36, JH 45, JHARING 1, JHANA 1 dan JHG.

Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa pemberian pupuk berbeda antar lokasi dan jenis jagung yang digunakan. Dengan menggunakan pupuk organik dan anorganik maka kesuburan tanah akan berkesinambungan. “Rekomendasi pupuk untuk memperoleh hasil tinggi adalah 350-400 kg urea + 300 kg pupuk majemuk (phonska atau NPK pelangi).”. jelas Azrai.

Pupuk organik diaplikasikan sebagai penutup lubang tanam benih dengan takaran 1-2 ton/ha atau 1 genggam/lubang. Inovasi teknologi merupakan kunci utama keberhasilan budidaya yang terdiri dari varietas unggul, benih sumber, teknologi budidaya yang efisien spesialisasi lokasi dan panen/pascapanen. Dalam memilih varietas harus menggunakan benih yang bersertifikat dengan memperhatikan potensi hasilnya, kesesuaian dengan kondisi lingkungan, umur tanaman, ketahanan hama atau penyakit, daun tetap hijau pada saat masak fisiologis, warna biji dan disenangi baik petani maupun pedagang.

“Kunci utama untuk memaksimalkan produktivitas jagung adalah dengan cara penggunaan varietas jagung hibrida berpotensi hasil tinggi, penggunaan benih bersertifikat dengan daya tumbuh >90%, gunakan sistem tanam jajar legowo yang tepat, pemupukan yang tepat dan pemberian pupuk organik.” tutup Azrai.. hvy

PENGUNJUNG

17410

HARI INI

89943

KEMARIN

35565876

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook