Materi Penyuluhan

INTEGRASI KELAPASAWIT DAN TERNAK YANG MENGUNTUNGKAN

Kamis, 22 Jul 2021
Sumber Gambar : http://www.gogle.com/.....

Sejak tahun 1986, telah dilaksanakan program transmigrasi dan adanya kebijakan pengembangan perkebunan kelapa sawit dengan pola PIR (Perkebunan Inti Rakyat), hal ini membuka kesempatan ternak sapi potong masuk ke wilayah pengembangan perkebunan. Penerapan pola PIR pada pengembangan perkebunan kelapa sawit dipandang cukup berhasil, sehingga usaha perkebunan rakyat kelapa sawit dewasa ini terus meningkat.

 

Pemanfaatan hasil ikutan pengolahan kelapa sawit untuk bahan pakan sapi potong, akan membuka peluang pengembangan sapi potong yang pengembangannya sulit karena keterbatasan lahan untuk penggembalaan dan lahan tanaman hijauan untuk. pakan ternak.  Dengan integrasi kebun kelapa sawit dan ternak sapi potong, lahan akan tambah subur yang akan berdampak pada meningkatnya produksi tandan buah segar (TBS), hal ini disebabkan adanya tambahan pupuk organik sekaligus juga akan memperbaiki biofisik tanah.

 

Manfaat lain yang diperoleh dengan sistem integrasi kelapa sawit dengan ternak sapi potong adalah : 1) membrantas gulma tanaman sehingga menghemat biaya pengendalian gulma tanaman dengan menggunakan bahan kimia; 2) mengurangi biaya transportasi (dari lokasi panen ke tempat penjualan/penyimpanan); 3) menghasilkan pupuk organik; 4) dari kotoran sapi dapat menghasilkan bio gas. Dengan menggunakan sistem ini, berarti akan memproses daur ulang sumberdaya yang ada dari limbah menjadi produk yang bermanfaat (pupuk dan bio gas), sesuai dengan konsep low external input agriculture system,      

Perkebunan rakyat kelapa sawit yang telah cukup berkembang akan terus dipacu kelanjutannya upaya pengembangannya dengan pola integrasi kelapa sawit dan sapi potong.  Hal ini selain adanya keuntungan-keuntungan tersebut, terlebih karena  adanya potensi lain yang dapat dikembangkan yaitu : 1) adanya peningkatan pendapatan pekebun dan keluarganya karena selain penghasilan dari kelapa sawit juga dari hasil ternak; 2) mendukung peningkatan produksi daging sapi untuk subtitusiimpor; 3) menekan resiko penurunan pendapatan pekebun karena adanya fluktuasi harga kelapa sawit; 3) mendukung program sistem pertanian yang tidak monokultur lagi (kelapa sawit saja); 4) mendukung program ketahanan pangan; dan 5) sebagai upaya adanya pengembangan wilayah; 6) Pola integrasi kelapa sawit dan sapi potong secara teknis dapat dilaksanakan dan secara ekonomis menguntungkan; dan 7) mendorong adanya gerakan pengembangan perkebunan kelapa sawit rakyat berintegrasi  dengan ternak sapi potong

 

Penyebaran ternak sapi potong berada di Jawa, Bali, NTB dan NTT, sedang kelapa sawit hampir 100% berada diluar wilayah tersebut,  yaitu kelapa sawit 72% di Sumatera dan 23% di Kalimantan.  Sedangkan, sentra ternak sapi tradisional umumnya berada pada sentra tanaman pangan, dengan ciri khas yaitu, lahannya sempit, hijauan berasal dari limbah tanaman pangan yang bersifat musiman.  Dalam memperoleh pakan, peternak harus melalui cara merumput atau memanfaatkan limbah tanaman padi/palawija bahkan pada waktu tertentu (saat sawah bero) peternak harus membeli.  Dengan sistem integrasi di perkebunan kelapa sawit, kebutuhan pakan akan tersedia terus menerus, sehingga menguntungkan bagi pekebun kelapa sawit dan sekaligus peternak sapi potong.

 

Potensi hasil samping

Potensi hasil samping dan limbah perkebunan kelapa sawit sebagai pakan ternak, sebagai berikut :

Bahan pakan (Bahan kering/ BK) yang dihasilkan per ha kebun sawit :

Pelepah dan daun sawit : 23 helai x 130 pohon x 7 kg x 36% BK = 7.534,8 kg

Bungkil inti sawit            : 22 ton TBS x 2,3% bungkil inti sawit x 93% BK = 470,58 kg

Lumpur sawit                               : 22 ton TBS x 5% sludge x 24,08%       = 264,88 kg

Total BK                         :  8.270,26 kg

Kebutuhan BK/ekor sapi : 3,5% bobot badan metabolik

Asumsi berat seekor sapi (lokal) : 200 kg

Kebutuhan BK/ekor/tahun : 3,5% x 200 kg x 365 hari = 2.555 kg

Daya tampung kebun kelapa sawit/hektar = 8.270,26/2.555 = 3,2 ekor

 

Pola integasi ternak sapi potong dengan perkebunan kelapa sawit cukup menguntungkan untuk peternakan rakyat, karena sapi diusahakan dalam satu sistem yang terintegrasi, sehingga biaya pakan sangat kecil dikawasan perkebunan, pengembangan sapi potong juga sangat layak bila dilakukan dengan pola “zero waste” dan “zero cost”. Dalam hal ini fungsi sapi potong bukan sekedar penghasil sapi bakalan, tapi juga sebagai tenaga kerja dan penghasil kompos.

 

Pembangunan pola integrasi ternak sapi potong dengan perkebunan kelapa sawit sangat potensial untuk menggerakan perekonomian berbasis pertanian di pedesaan, menghasilkan komoditi ekspor, memperkuat ketahanan pangan, mendorong pertumbuhan perekonomian daerah dan meningkatkan penghasilan petani, serta yang tidak kalah penting adalah adanya ketenangan berusaha yang berkeadilan.

 

Untuk mewujudkan pembangunan integrasi ternak sapi potong dan perkebunan kelapa sawit perlu dukungan dan komitmen dari berbagai pihak, koperasi petani, pengusaha/investor, perbankan, perguruan tinggi, para peneliti, pemerintah daerah dan pemerintah pusat. (Ir.Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com)

PENGUNJUNG

4011

HARI INI

44467

KEMARIN

32356569

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook