Gerbang Daerah
> >

Merobohkan Hewan Kurban

Selasa, 20 Jul 2021
Sumber Gambar : Dokumentasi Moh Ali Hamidy dan Jalu Rahman Dewantara/detikcom

Merobohkan hewan kurban merupakan hal yang krusial dalam proses penyembelihan. Pada masa pandemi covid-19 ini, merobohkan hewan sering kali membutuhkan banyak tenaga yang mengakibatkan terjadinya kerumunan. Kesulitan ini terutama untuk penanganan hewan besar seperti sapi, kerbau atau unta.

Di Kabupaten Kudus yang mayoritas ternak besar yang disembelih adalah kerbau, merobohkannya menjadi masalah yang lebih serius. Penanganan kerbau lebih sulit dibandingkan sapi. Sapi lebih mudah dikendalikan dan diarahkan daripada kerbau. Kerbau sering berontak, terutama jika ditangani oleh orang yang tidak dikenal.

Bagi pengelola dan panitia kurban yang tidak terbiasa menangani ternak yang akan disembelih, merobohkan ternak merupakan masalah yang rumit dan berat. Merobohkan hewan yang akan disembelih dengan tidak benar akan menyakitkan, menyebabkan ternak stres dan tegang. Akibatnya adalah kualitas daging yang dihasilkan akan menurun, mudah rusak bahkan mudah busuk.

Sebenarnya ada cara yang lebih efektif dan efisien untuk merobohkan hewan, dengan sedikit orang dan tidak melukai hewan kurban. Alat yang dibutuhkan hanya tali tambang yang panjang. Dengan tehnik ini sapi dengan perlahan akan mudah dirobohkan dan mudah untuk disembelih.

Langkah awalnya adalah dengan mengikat sapi di bagian leher dengan tali mati. Tali tersebut kemudian ditarik masuk melalui kaki depan. Kemudian diputar melingkari punggung sebanyak dua kali simpul ikatan.

Selanjutnya, setelah dua kali melingkari punggung sapi, tali tersebut dimasukkan melalui kaki bagian belakang. Dan tali siap ditarik dengan perlahan, maka sapi akan roboh. Setelah sapi roboh, agar tidak melukai penyembelih, kaki sapi dikat menjadi satu. Sapi pun siap disembelih.

Tehnik merobohkan sapi ini tidak membutuhkan banyak orang dan waktu yang dibutuhkan juga tidak terlalu lama. Tehnik ini diajarkan oleh dosen Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Bagi pengelola dan panitia kurban, tehnik ini bisa dicoba untuk mempermudah menanganan hewan kurban. Proses pemotonghan menjadi lebih simpel, tidak membutuhkan banyak orang dan sesuai dengan protokol kesehatan.

Teknik ini bisa disosialisasikan oleh para penyuluh pertanian di wilayah binaan masing-masing kepada para pengelola dan panitia kurban. Kalau perlu diadakan pelatihan singkat bagi pengelola dan panitia kurban. Sehingga proses pemotongan menjadi lebih mudah dan daging yang dihasilkan menjadi lebih berkualitas memenuhi kriteria ASUH (aman, sehat, utuh dan halal).

 

Moh. Ali Hamidy EAF, S.Pt., M.Si.
Penyuluh Pertanian Madya
Koordinator PPL Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kudus
Pengurus PERHIPTANI DPW Jawa Tengah
Ketua PERHIPTANI DPD Kabupaten Kudus

PENGUNJUNG

4019

HARI INI

44467

KEMARIN

32356577

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook