Diseminasi Teknologi

PENGENDALIAN HAMA UTAMA TANAMAN MELON (Cucumis melo, L)

Jum'at, 16 Jul 2021
Sumber Gambar : Koleksi pribadi Sugito, SP

Pendahuluan

Melon (Cucumis melo L.) merupakan tanaman buah semusim yang termasuk dalam famili Cucurbitaceae. Melon berasal dari lembah panas Persia atau daerah Mediterania yang merupakan perbatasan antara Asia Barat dengan Eropa dan Afrika. Saat ini di Indonesia melon telah banyak dibudidayakan  karena mempunyai nilai komersial yang tinggi dengan kisaran pasar yang luas dan beragam, mulai dari pasar tradisional hingga pasar modern, restoran dan hotel.

Dengan semakin meluasnya penanaman melon di lapangan langsung  tentunya juga semakin banyak muncul tantangan yang dihadapi oleh petani yaitu adanya serangan hama dan penyakit. Berbeda dengan penanaman melon di dalam rumah kaca atau green house, di mana kondisi lingkungan dapat di atur sehingga perkembangan organisme pengganggu tanaman dapat diminimalkan. Keberhasilan petani dalam melakukan budidaya suatu tanaman termasuk melon apabila dapat mengendalikan hama dan penyakit tanaman yang mengganggu, sehingga dapat diperoleh hasil panen yang tinggi. Serangan hama pada tanaman melon menjadi momok menakutkan bagi petani, karena sering menimbulkan kegagalan dalam panen. Hama yang menyerang tanaman melon disebabkan oleh serangan berbagai jenis insek dalam berbagai stadia dan kutu-kutuan. Pengendalian hama akan efektif jika dilakukan dengan menggabungkan beberapa cara, yaitu secara kultur teknis, cara fisik/mekanis, dan cara kimiawi. Beberapa hama utama pada tanaman melon dan cara pengendaliannya.

a. Thrips

Hama Thrips parvispinus  menyerang bagian daun muda, daun tua dan buah.  

 Ciri dan gejala: Daun muda dan tunas menjadi keriting, daun tua yang terserang menjadi kering, buah rontok dan abnormal, tanaman menjadi kerdil.

Pengendalian : Menjaga kebersihan lingkungan, memangkas bagian tanaman yang terserang, penyemprotan pestisida alami yang terbuat dari rendaman biji sirsak kering dan dihaluskan 14 hari sekali, penyemprotan insektisida berbahan aktif dimetoate 400g/l, tetasipermetrin 30, 306g/l.

b. Kutu Daun

Hama kutu daun disebabkan oleh Aphids (Aphis gossypii) yang menyerang pucuk daun.

Ciri dan Gejala : Daun menggulung, pucuk tanaman keriting karena cairan daunnya dihisap, pembentukan bunga terhambat.

Pengendalian: Memangkas bagian tanaman yang terserang dan membuang, Memasang perangkap seperti yellow sticky trap yang terbuat dari impra board yang kedua sisinya dilapisi oleh cairan oli, Menyemprotkan insektisida berbahan aktif tetasipermetrin-30 36g/l atu dimethoate perfekthion 400 EC (1-2ml/l).

c. Penggorok Daun (leaf miner)

 Hama penggorok daun disebabkan oleh lalat daun yang menyerang dibagian daun.

 Ciri dan Gejala: Terliahat alur-alur tak beraturan berwarna putih pada daun akibat larva yang menggorok jaringan daun, Bila terjadi serangan berat, daun akan tampak putih karena yang tersisa hanya lapisan tipis bagian luar saja.

 Pengendalian: Memangkas daun yang terserang dan memusnahkan dari areal pertanaman, Penyemprotan insektisida sistemik seperti Trigard (siromazin 75 %) 14 hari sekali, Penyemprotan Curacron 500 EC untuk mengendalikan leaf miner stadia dewasa 14 hari sekali dengan dosis anjuran.

 d. Lalat Buah

Hama lalat buah ada dua macam, yaitu Dacus sp dan Bactrocera cucurbitacea. Yang menyerang dengan meletakan telor pada buah waktu masih muda.

 Ciri dan Gejala : Penampilan buah tampak sehat dari luar namun daging buah busuk dan mengandung larva, buah berwarna kehitaman dan keras, timbul bercak bulat hitam membusuk dan berlubang kecil, buah rusak dan rontok.

Pengendalian : Memetik dan memusnahkan buah yang terserang, menanam selasih di sekeliling kebun sebagai tanaman perangkap, membungkus buah pada saat masih kecil, memasang perangkap yang dilengkapi antraktan berbahan aktif metil eugenol, Menyemprotkan insektisida berbahan aktif deltametrin sesuai anjuran.

 e. Ulat Daun

 Hama ulat daun berupa ualat jengkal (palpita sp) dan ulat grayak (Spodoptera litura)yang menyerang bagian daun.

Ciri dan Gejala : Daun menggulung dan berlubang-lubang, Pada serangan parah yang tersisa hanya tulang daun, Terdapat bekas gigitan pada kulit buah.

Pengendalian : Menangkap dan memusnahkan ulat dan daun yang terserang, Memasang perangkap yang dilumuri methyl eugenol untuk menangkap imago ulat grayak, Menyemprotkan insektisida berbahan aktif deltametrin sesuai anjuran.

 f. Kumbang Daun /Oteng-oteng

Hama kumbang daun Aulacophora femoralis, saat bentuk larva menyerang bagian akar dan saat bentuk dewasa menyerang bagian daun.

Ciri dan Gejala : Luka bekas gigitan berbentuk lingkaran pada daun oleh serangga dewasa, larva menyerang jaringan perakaran hingga pangkal batang sehingga tanaman menjadi layu.

Pengendalian : Pengolahan tanah yang sempurna sebelum tanam (mematikan telur/pupa yang ada di dalam tanah), Tanaman yang layu segera dicabut dan dibakar, Sterilisasi media dengan Basamid G dengan dosis 40 g/m2, Penyemprotan insektisida Larvin 75 Wp, Pegasus 500 EC.

 g. Tungau

 Hama tungau ada dua yaitu Tungau kuning (Polyphagotarsonemus latus) dan tungau merah ( Tetranycus cinnabarinus) yang menyerang bagian daun.

 Ciri dan Gejala : Titik-titik halus pada daun berwarna kuning yang semakin lama berubah menjadi hitam, Daun melengkung dan terpelintir berwarna kuning atau coklat, Bagian bawah daun berwarna abu-abu dengan jaring-jaring halus dan terdapat sekumpulan hama yang tampak seperti titik-titik berwarna kuning, oranye atau merah.

 Pengendalian : Membersihkan gulma di sekitar tanaman, Mencabut dan membakar tanaman yang terserang, Menyemprot dengan akarisida Meotrhin 50 Ec.

 

Penulis : Sugito, SP

Referensi :

  • Margianasari, dkk : Bertanaman Melon Ekslusif dalam pot

 

PENGUNJUNG

46529

HARI INI

64232

KEMARIN

37714405

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook