Materi Penyuluhan

MENINGKATKAN NILAI TAMBAH JAHE MELALUI SERTIFIKASI BENIH

Kamis, 15 Jul 2021
Sumber Gambar : https://shopee.co.id/Jahe-Gajah-Bersertifikat.

Nilai tambah artinya penabahan nilai suatu komoditas karena mengalami suatu proses. Benih jahe bersertifikat merupakan benih jahe yang sudah diakui mutunya oleh lembaga yang diberikan wewenang, harganya akan lebih tinggi dari benih yang tidak bersertifikat.  Benih jahe bersertifikat dapat diperoleh dari budidaya petani sendiri dengan memperhatikan cara-cara budidaya yang baik dan benar serta mendapatkan sertifikasi dari instansi yang berwewenang, yaitu Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSBTPH) terdekat.

Pengajuan permohonan sertifikasi benih dapat dilakukan oleh petani, baik perorangan atau kelompok tani atau gabungan kelompok tani yang sudah melakukan usaha benih jahe. Berikut hal-hal yang perlu diketahui untuk mendapatkan sertifikasi benih jahe.

 

Syarat Mendapatkan Sertifikasi

Pemohon sertifiikasi benih jahe harus memenuhi syarat, yaitu: 1) Dapat menyediakan lahan, sumber daya pendukung lainnya (tenaga, saprodi, peralatan) sesuai jumlah benih yang akan diproduksinya dan mampu memeliharanya. Sebagai pertimbangan, lahan 1 hektar rata-rata menghasilkan + 25 ton rimpang jahe segar dan untuk benih perlu dilakukan sortasi (pemilihan sesuai persyaratan benih); 2) Memiliki Prosedur Operasional Standar (SOP) yang telah ditetapkan oleh masing-masing produsen; 3) Memiliki atau dapat menyediakan benih sumber/penghasil benih sumber yang varietas telah dilepas oleh Menteri Pertania; 4) Mematuhi petunjuk-petunjuk dari instansi penyelenggara sertifikasi setempat; dan 5) Membayar biaya sertifikasi yang besarnya ditetapkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

 

Cara Mengajukan Sertifikasi

Pemohon untuk mendapatkan sertifikasi benih jahe harus melalui cara berikut: 1) Permohonan sertifikasi benih jahe secara tertulis kepada Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSBTPH) sebagai Instansi Penyelenggara Sertifikasi Benih Hortikultura Benih setempat; 2) Permohonan diajukan 10 hari sebelum mulai menanam benih; 3) Satu permohonan hanya berlaku untuk satu unit sertifikasi; 4) Lahan perbanyakan benih harus jelas batas-batasnya, seperti parit dan jalan. Satu unit sertifikasi mempunyai luas maksimal 1 hektar yang dapat terdiri dari beberapa petak terpisah-pisah. Jarak antar petak maksimal 10 meter dan tidak dipisahkan oleh varietas tanaman lain dan perbedaan waktu tanam maksimal 7 hari. Dalam satu unit sertifikasi hanya dapat ditanam satu varietas, satu kelas benih dan satu kali tanam; 5) Permohonan dilampirkan: (a) Label benih jahe yang akan ditanam sesuai dengan kelasnya; (b) Sket peta lokasi yang akan digunakan untuk lahan benih; (c) Perencanaan tanam, meliputi: kelas dan varietas benih, perkiraan volume/jumlah benih yang akan ditanam, dan tanggal tanam.

 

Prosedur Sertifikasi Benih

Secara garis besar prosedur sertifikasi benih jahe, yaitu: 1) Pemerikaan pendahuluan, dengan memastikan kebenaran: nama dan alamat pemohon,  lahan tidak ditanami dengan tanaman satu famili minimal satu musim tanam, dan benih sumber yang akan digunakan; 2) Isolasi tanaman, dengan menjaga jarak minimal 3 meter dan harus terpisah dengan tanaman yang sejenis atau satu famili atau dari varietas lain 3) Pemeriksaan lapangan, harus disampaikan pada instansi berwewenang paling lambat 10 hari sebelum pemeriksaan; 4) Roguing, sebelum pemeriksaan pertanaman, produsen harus memelihara tanaman jahe dengan roguing, yaitu: pencabutan rumput, gulma, varietas lain dan tanaman yang terserang hama penyakit.

 

Peran Penyuluh Pertanian

Penyuluh Pertanian harus selalu mendorong produsen benih jahe sebagai penangkar benih jahe bersertifikat dengan melakukan hal-hal sebagai berikut: 1) Mempelajari cara memperoleh sertifikasi benih jahe dan mencari informasi yang lebih mendalam ke Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSBTPH) setempat; 2) Mengidentifikasi petani/kelompok tani/gabungan kelompok tani perodusen benih jahe yang mempunyai potensi untuk mendapatkan sertifikasi; dan 3) Memberikan pemahaman kepada petani yang mempunyai potensi sebagai produsen benih jahe; 4) Mengantarkan produsen benih jahe yang ingin mendapatkan sertifikasi ke Dinas Pertanian kabupaten/kota yang menangani hortikultura.

 

Selamat mencoba.

 

Penulis : SUSILO ASTUTI  HANDAYANI  (Pusluhtan)

 

Daftar Pustaka:

  1. Teknis Sertifikasi Benih Hortikultura (Nomor: 201/Kpts/SR.130/D/11/2016. Direktorat Perbenihan Hortikultura, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian. 2016.
  2. --------. 2008. Teknologi Budidaya Jahe. Bogor: Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
  3. --------. 2007. Profil Perbenihan Tanaman Jahe. Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi, Direktorat Jenderal Hortikultura.
PENGUNJUNG

3505

HARI INI

44467

KEMARIN

32356063

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook