Materi Penyuluhan

FAKTOR UTAMA YANG BERPENGARUH DALAM MENENTUKAN POLA TANAM NILAM

Jum'at, 09 Jul 2021
Sumber Gambar : www.google.com

Nilam merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang penting dalam menghasilkan devisa negara.   Minyaknya bernilai ekonomi tinggi, dapat digunakan sebagai fiksatif dalam industri parfum dan kosmetik.  Luas areal pertanaman nilam di Indonesia terus meningkat. Akan tetapi perkembangan areal pertanaman nilam belum diikuti oleh peningkatan produktivitas, mutu serta stabilitas harga. Rendahnya produktivitas nilam di Indonesia sebagian besar salah satunya disebabkan oleh penerapan teknologi budidaya yang kurang sesuai persyaratan.

Pada era globalisasi petani dituntut mempunyai kemampuan untuk menghasilkan produk yang mampu bersaing.  Oleh karena itu teknologi budidaya yang baik memiliki peluang untuk dapat menghasilkan produksi dengan mutu yang sesuai standard.  Untuk itu dalam pelaksanaannya perlu memperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh dalam menentukan pola tanam. 

Selama pertumbuhannya tanaman nilam dipengaruhi oleh faktor lingkungan yaitu faktor tanah, iklim dan jenis tanaman.  Tanah yang terbaik untuk penanaman nilam mempunyai pH 5 – 7 dengan tingkat kandungan unsur N berkisar antara 0,21 – 0,75%, kandungan P2O5 berkisar antara 10 – 25 ppm dan kandungan K2O lebih dari 0,3 me/100g.  Selain unsur kimia tanah, unsur fisik tanah yang menentukan pola tanam nilam adalah tekstur tanah, drainase dan kedalaman air tanah.  Tanah dengan tekstur liat berpasir, drainase baik dan kedalaman air tanah lebih dari 75 cm sangat baik bagi tanaman nilam.

Unsur iklim yang paling menentukan pola tanam nilam adalah curah hujan, bulan kering dan intensitas cahaya.  Iklim dengan curah hujan 1.750 – 3.000 mm/tahun, bulan kering kurang dari 2 bulan dan intensitas cahaya 75 – 100% adalah faktor iklim terbaik untuk tanaman nilam. 

Jenis tanaman yang cocok untuk digunakan dalam kegiatan pola tanam adalah tanaman yang mampu bersinergi dengan nilam.  Tanaman yang rakus akan hara serta menjadi inang hama dan penyakit serta tanaman yang pertumbuhannya menaungi nilam sebaiknya dihindari untuk ditanam bersama.  Untuk teknologi budidaya pola tanam nilam dapat dilakukan secara pola tumpang sari, pola tanam berurutan, pola rotasi dan sistem lorong. 

Tanaman nilam dapat dibudidayakan dengan pola tumpang sari dengan tanaman tahunan, kacang-kacangan, cabai ataupun dengan akar wangi.  Hal ini dikarenakan tanaman nilam dapat ditanam sebagai tanaman pokok maupun tanaman sela.  Sebagai tanaman pokok, nilam dapat ditanam dengan tanaman kacang-kacangan sedangkan sebagai tanaman sela, nilam dapat ditanam dengan tanaman tahunan. 

Budidaya tanaman nilam dapat pula digunakan pola tanam berurutan.  Tanaman nilam tidak selamanya ditanam melainkan setelah panen lahan diberakan atau ditanami dengan tanaman lainnya.  Sistem ini memiliki keuntungan karena dapat memutus siklus hama dan penyakit.  Pada pola tanam berurutan, nilam dapat dipanen pada menjelang akhir musim hujan dan setelah itu ditanam tanaman lain sebagai pengganti.

Pada pola rotasi, tanaman nilam tidak ditanami di satu lahan terus menerus.  Setelah lahan digunakan untuk menanam nilam beberapa kali, lahan ditanami tanaman lainnya.  Pola ini dimungkinkan apabila lahan yang ditanami nilam sudah mengalami penurunan tingkat kesuburan karena kandungan unsur N,P, K, Ca dan pH rendah.  Seandainya dipaksakan ditanami nilam akan memerlukan biaya perbaikan lahan yang cukup besar.  Oleh karenanya untuk menghindari biaya tinggi maka dilakukan rotasi dengan menghentikan penanaman nilam.  Lahan dapat diberakan atau ditanami dengan tanaman lain yang mampu meningkatkan kesuburan.  Sedangkan penanaman nilam dapat dilakukan di lahan lainnya dalam jangka waktu tertentu baru kemudian kembali ke lahan yang ditinggalkan tadi. 

Pola sistem lorong, tanaman nilam ditanam diantara tanaman lain yang berupa pohon.  Hal yang perlu diperhatikan dalam pola sistem lorong ini adalah intensitas cahaya yang masuk.  Tanaman nilam yang kurang mendapatkan intensitas matahari, kadar minyaknya akan lebih rendah dibandingkan yang ditanam di lahan terbuka.  Untuk itu usahakan tanaman pokok yang ditanam bersama dengan nilam pada pola sistem lorong ini tidak menaungi nilam secara penuh tetapi dicari tanaman yang masih mampu memberikan intensitas cahaya tidak kurang dari 75%. 

Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan)

Sumber :

Rosihan Rosman, 2011.  Pola Tanam Nilam.  Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik. Status Teknologi Hasil Penelitian Nilam.  https://balittro.litbang.pertanian.go.id/wp-content/uploads/2013/07/Isi-Monograf-NILAM-2011.pdf (pertanian.go.id)

PENGUNJUNG

41218

HARI INI

68073

KEMARIN

37476323

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook