Materi Penyuluhan

Penumbuhan dan Pengembangan Korporasi di Areal Perkebunan

Kamis, 08 Jul 2021
Sumber Gambar : https://www.google.com/search?q=gambar+koperasi+perkebunan&rlz=1C1GCEA_enID951ID951

Berdasarkan Permentan No.18 Tahun 2018, Korporasi petani adalah Kelembagaan Ekonomi Petani berbadan hukum berbentuk koperasi atau badan hukum lain dengan sebagian besar kepemilikan modal dimiliki oleh petani.  Koperasi menempatkan manusia sebagai modal sosial yang potensial untuk dikembangkan menjadi kekuatan kolektif, efisien dan produktif dalam rangka mencapai kesejahteraan bersama.

Korporasi petani memungkinkan seluruh kegiatan pertanian dari mulai pengadaan benih/bibit, pengolahan/produksi, hingga distribusi ke konsumen akhir diintegrasikan dan dikelola oleh korporasi petani sedemikian rupa sehingga nilai tambah terbesar dari kegiatan pertanian bisa dinikmati petani

Dalam upaya peningkatan kesejahteraan pekebun, Direktorat Jenderal Perkebunan  telah merencanakan pengembangan korporasi petani pada 2020-2024. Calon major project direncanakan terdapat di 50 kabupaten yang dilaksanakan di 30 provinsi di Indonesia. Kegiatan yang dilakukan dari mulai persiapan pembentukan korporasi hingga ke tahap pemandirian korporasi.

 

Tahap Persiapan Pembentukan Korporasi Petani.

Tahap persiapan pembentujan korporasi dilakukan pada tahun pertama.  Hal-hal yang akan dilakukan pada tahun pertama adalah: (a) Proses pembentukan dan pengenalan bisnis kluster; (b) Penyiapan infrastruktur pendukung; (3) Konsolidasi petani, pelaku bisnis lain dan kelembagaan petani; (d) Pelatihan dan bimbingan teknis; (e) Penentuan target pasar / off taker; (f) Penyusunan business plan; (g) Penyiapan dan penguatan kelembagaan koperasi.

Tahap Pembentukan Korporasi Petani

Pada tahun kedua, kegiatan yang dilakukan adalah pembentukan korporasi petani. Kegiatan yang dilakukan adalah: (a) Implementasi business plan; (b) Implementasi mesin dan peralatan; (c) pelaksanaan Coaching manajerial dan kewirausahaan; (d) Kesepakatan kelembagaan korporasi; (e) Pendirian perusahaan korporasi petani; (f) Pengurusan Perijinan; (g) Perluasan target pasar; dan (h) Pembukaan akses pembiayaan.

Tahap Pengembangan Usaha Korporasi.

Pada tahun ketiga mulai dilakukan pengembangan usaha korporasi petani, yang terdiri dari: (a) Implementasi business plan; (b) Optimalisasi komitmen stakeholder; (c) Perluasan target pasar; (d) Diversifikasi usaha korporasi petani; (e) Peningkatan akses pembiayaan dan (f) Peningkatan Jejaring Kemitraan.

Tahap Pemandirian Korporasi.

Pada tahun keempat, dilakukan Pemandirian Korporasi Petani. Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah: (a) Optimalisasi komitmen stakeholder; (b) Pengembangan diversifikasi usaha korporasi petani; (c) Peningkatan akses pembiayaan; dan (d) Peningkatan jejaring kemitraan

Pada tahun 2020 Ditjenbun telah melakukan pembinaan di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, dengan komoditas yang dikembangkan adalah kopi. Korporasi Kopi yang telah terbentuk di Kabupaten Bandung adalah PT. Java Preanger Lestari Mandiri.

Pada tahun 2021, Ditjen Perkebunan telah mengalokasikan anggaran untuk calon major project di 8 Provinsi. Kegiatan yang dilakukan di Kabupaten Kolaka Utara adalah : (a) Peremajaan kakao 1500 ha; (b) Penerapan pengendalian hama terpadu OPT kakao 50 ha; (c) Sarana pasca panen tanaman kakao 6 unit; (d) Sarana fasilitasi pengolahan cokelat 2 unit; (e) Prasarana pasca panen tanaman kakao 6 unit; (f) Prasarana fasilitasi pengolahan cokelat 2 unit.

Kegiatan yang dilakukan pada korporasi petani aren di Kabupaten Lebak adalah (a) Sarana fasilitasi pengolahan aren 2 unit; dan (b) Prasarana fasilitasi pengolahan aren 2 unit;

Kegiatan yang dilakukan pada korporasi petani kelapa di Kabupaten Purbalingga adalah: (a) Peremajaan tanaman kelapa 100 ha; (b) Sarana fasilitasi pengolahan kelapa 4 unit; (c) Prasarana fasilitasi pengolahan kelapa 4 unit.

Kegiatan yang dilakukan pada korporasi petani lada di Kabupaten Bangka Selatan adalah: (a) Penerapan pengendalian hama terpadu OPT Lac. 50 ha; (b) Perluasan tanaman lada 100 ha; (c) Rehabilitasi tanaman lada 200 ha; dan (d) Intensifikasi tanaman lada 500 ha.

Kegiatan yang dilakukan pada Koperasi Petani Kopi Kabupaten Tana Toraja adalah: (a) Peremajaan tanaman kopi arabika 200 ha; (b) Sarana pasca panen tanaman kopi 1 unit; (c) Sarana fasilitasi pengolahan kopi 3 unit; (d) Prasarana pasca panen tanaman kopi 1 unit; dan (e) Prasarana fasilitasi pengolahan kopi 3 unit.

Kegiatan yang dilakukan pada korporasi petani kelapa di Kabupaten Halmahera Utara adalah: (a) Peremajaan tanaman kelapa 100 ha; (b) Sarana pasca panen tanaman kelapa 2 unit; (c) Sarana fasilitasi pengolahan kelapa 1 unit; (d) Prasarana pasca panen tanaman kelapa 2 unit; (e) Prasarana fasilitasi pengolahan kelapa 1 unit; (f) Pemeliharaan kebun induk tanaman kelapa tahun 8, 5 ha. Kegiatan yang dilakukan pada korporasi petani kakao Kabupaten Jembrana adalah: (a) Peremajaan tanaman kakao 124 ha; (b) Sarana fasilitasi pengolahan cokelat 1 unit; (c) Sarana fasilitasi pengolahan cokelat 1 unit.

Kegiatan yang dilakukan pada korporasi petani kopi di Kabupaten Buleleng: (a) Peremajaan tanaman kopi arabika 313 ha; (b) Sarana prasarana tanaman kopi 1 unit; (c) Sarana fasilitasi pengolahan kopi 3 unit; (d) Prasarana pasca panen tanaman kopi 1 unit; (e) Prasarana fasilitasi pengolahan kopi 3 unit.

Kegiatan korporasi petani kakao di Kabupaten Gunung Kidul yaitu Penerapan pengendalian hama terpadu OPT kakao 50 ha.

Dengan terlaksananya kegiatan Pengembangan Korporasi Petani dari Ditjen Perkebunan, diharapkan pekebun akan menerima keuntungan yang lebih besar dibanding keuntungan yang diperoleh pada saat ini sehingga dapat meningkat kesejahteraannya, (Sri Wijiastuti, Pusat Penyuluhan Pertanian).

Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan

PENGUNJUNG

2313

HARI INI

64232

KEMARIN

37670189

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook