Diseminasi Teknologi

SISTEM HIDROPONIK: SOLUSI PERTANIAN DI KETERBATASAN LAHAN DAN MEDIA TANAH

Rabu, 30 Jun 2021
Sumber Gambar : Koleksi pribadi Fauziah YA

PENDAHULUAN

Indonesia memiliki sumber daya hayati yang sangat kaya namun ironisnya tingkat konsumsi sebagian penduduk Indonesia masih dibawah anjuran pemenuhan gizi.  Oleh karena itu salah satu upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan dan gizi keluarga dapat disediakan di lingkungannya. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pemanfaatan lahan pekarangan yang dikelola oleh rumah tangga (Saliem, 2011).

Penataan pekarangan disesuaikan dengan komoditas eksisiting dan luas pekarangan. permasalahan pemanfaatan pekarangan sebagai sumber pangan keluarga di daerah perkotaan adalah lahan yang sempit yang dapat diatasi dengan teknik vertikultur. Lebih lanjut, permasalahan lainnya di perkotaan adalah keterbatasan tanah sebagai media tanam. Oleh karena itu, model vertikultur hidroponik merupakan alternatif terbaik dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi serta penambahan pendapatan keluarga melalui pemanfaatan pekarangan.

 

SEJARAH HIDROPONIK

          Hidroponik berasal dari bahasa yunani hydro (air) dan ponos (mengerjakan) dengan demikian, hidroponik adalah cara budidaya tanaman dengan menggunakan medium air/bukan tanah. Perkembangan hydroponik dimulai dari zaman Babilonia. Keberadaan taman gantung merupakan salah satu bukti bahwa budidaya tanaman tanpa menggunakan media tanah sudah dikenal sejak dahulu. Selain itu, penggunaan rakit rumput oleh suku Aztek memperkuat bukti tersebut. Hidroponik mulai dikembangkan di Amerika pada tahun 1900-an dan secara komersial dikembangkan di Indonesia pada tahun 1980-an.

 

KEUNGGULAN HIDROPONIK

  1. Kualitas dan hasil tanaman lebih tinggi. pemanfaatan lahan menjadi lebih efisiensi, hama penyakit menjadi lebih mudah dikendalikan, hasil tanaman menjadi lebih bersih karena media tanam yang digunakan bukan tanah dan nutrisi lebih mudah dikendalikan dan lebih tepat.
  2. Lebih terbebas dari hama dan penyakit. Patogen tular tanah: Fusarium oxysporum, F. solani, Ralstonia solanacearum, Curvularia sp., Phytophthora infestans, Helminthosporium purpureum, dan Pseudomonas.
  3. Penggunaan air dan pupuk lebih hemat
  4. Ramah lingkungan

 

KLASIFIKASI HIDROPONIK

Berdasar Media :

  1. Kultur air
  2. Kultur agregat : menggunakan bahan anorganik seperti pasir, kerikil, rock wool atau bahan organik seperti arang sekam, serbuk gergaji, sabut kelapa
  3. Aeroponic : gas/kabut

 

BEBERAPA JENIS SISTEM HIDROPONIK

Wick System

  • teknik yang paling sederhana dan populer untuk
  • Nutrisi mengalir ke media tanam melalui sejenis sumbu. 
  • Bekerja dengan baik untuk tanaman kecil.
  • Tidak bekerja baik untuk tanaman yang membutuhkan banyak air.

Ebb & Flow System

  • Media tumbuh ditempatkan dalam wadah berisi larutan nutrisi.
  • Kemudian nutrisi dikembalikan ke dalam penampungan, dan begitu seterusnya.
  • Memerlukan pompa yang dikoneksikan ke timer.
  • Gunakan wadah yang cukup besar dan atur jarak antar tanaman.
  • Media cukup baik untuk sistem ini: rockwool, vermiculite, coconut fiber.

NFT (Nutrient Film Technique) System

  • Cara yang paling populer dalam istilah hidroponik.
  • Menggunakan aliran air (nutrien) sebagai medianya
  • Konsep à menempatkan tanaman dalam wadah dimana akar menggantung dalam larutan nutrisi.
  • Sistem ini terus menerus mengalirkan nutrisi yang terlarut dalam air (tidak memerlukan timer)
  • Cocok untuk jenis tanaman berdaun.

Aeroponic

  • Hasil lebih baik dan tercepat dibandingkan sistem lainnya.
  • Larutan nutrisi yang diberikan berbentuk kabut disemprotkan ke akar.

Drip system

  • Sistem tetes (drip system)
  • Menggunakan timermengontrol pompa.
  • Sistem ini lebih populer untuk menanam tanaman sayuran buah seperti tomat, cabai, melon, paprika, dan terong. 

Water Culture System

  • Tanaman dapat ditempatkan di rakit yang mengapung di air nutrisi.
  • Dengan sistem ini, akar tanaman terendam dalam air dan udara diberikan kepada akar tanaman melalui pompa akuarium dan diffuser udara.
  • Semakin banyak gelembung, akar akan tumbuh dengan cepat untuk mengambil nutrisi dalam air.

 

 Disusun oleh Fauziah Yulia Adriyani (Penyuluh BPTP Lampung)

Sumber: dari berbagai sumber

PENGUNJUNG

3875

HARI INI

64232

KEMARIN

37671751

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook