Diseminasi Teknologi

TEKNOLOGI BUDIDAYA JAGUNG HIBRIDA PADA LAHAN KERING MASAM DI BANGKA BELITUNG

Rabu, 30 Jun 2021
Sumber Gambar : Koleksi BPTP Bangka Belitung

Kementerian Pertanian terus berupaya meningkatkan produksi jagung untuk memberikan hasil yang maksimal guna mencukupi kebutuhan jagung nasional termasuk di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sepanjang Tahun 2015-2019, terjadi peningkatan luas tanam jagung di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang awalnya seluas 553 hektar menjadi 1.131 hektar, hal ini tentu saja berpengaruh positif pada peningkatan produksi jagung dari 666 ton menjadi 2.776 ton (BPS Babel, 2020). Upaya peningkatan produksi jagung nasional masih terbuka lebar baik melalui peningkatan produktivitas maupun perluasan areal tanam, utamanya di luar Pulau Jawa. Meskipun produksi jagung meningkat, namun rata-rata tingkat produktivitas jagung   nasional baru mencapai 5,4 t/ha. Kegiatan penelitian mengenai komoditas jagung hibrida  dari berbagai institusi litbang baik pemerintah maupun swasta telah mampu menyediakan teknologi budidaya jagung dengan tingkat produktivitas 8,0 – 10,0 ton/ha dengan potensi hasil 12 t/ha, tergantung pada potensi lahan dan teknologi budidayanya.

          Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian melalui Balai Penelitian Tanaman Serealia telah banyak menghasilkan inovasi  teknologi budidaya jagung untuk masing-masing agroekosistem yang beragam. Teknologi budidaya yang dimaksud meliputi varietas unggul, benih bermutu, penyiapan lahan yang hemat tenaga, populasi tanaman yang optimal, pemupukan yang efisien,               pengendalian organisme pengganggu tanaman secara terpadu, serta teknologi pasca panen yang efisien sesuai dengan kondisi lahan dan sosial ekonomi masyarakat. Memadukan sejumlah komponen teknologi yang sesuai dengan lingkungan tumbuh tanaman jagung diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi  produksi, dan meningkatkan pendapatan petani. Keberhasilan perbaikan produkivitas dan pendapatan tersebut pada gilirannya akan berdampak pada peningkatan produktivitas jagung nasional sehingga terwujud swasembada jagung yang berkesinambungan.

          Pengembangan tanaman jagung di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dilakukan pada berbagai agroekosistem lahan dengan karakteristik beragam sehingga untuk mengoptimalkan provitas jagung hibrida diperlukan teknologi yang sesuai dengan agroekosistem pengembangannya masing-masing. Namun demikian penerapan     teknologi budidaya jagung oleh petani saat ini, pada umumnya masih bersifat parsial, dan anjuran teknologi belum seluruh diterapkan dan cenderung kurang memperhatikan kondisi agroekosistemnya. Seperti halnya menanam jagung pada lahan kering tentunya berbeda dengan menanam jagung pada agroekosistem lahan rawa, lahan sawah irigasi, dan lahan sawah tadah hujan. Lahan kering memiliki tingkat kesuburan tanah yang rendah, terutama pada tanah-tanah yang tererosi, sehingga lapisan olah tanah menjadi tipis dan kadar bahan organik rendah. Kondisi ini makin diperburuk dengan terbatasnya penggunaan pupuk organik, terutama pada tanaman pangan semusim seperti tanaman jagung.

 

Budidaya Jagung Hibrida Lahan Kering Masam

          Jagung sampai saat ini masih merupakan komoditas strategis di beberapa daerah, jagung masih merupakan bahan makanan pokok kedua setelah beras. Jagung juga mempunyai arti penting dalam pengembangan industri di Indonesia karena merupakan bahan baku untuk industri pangan maupun industri pakan ternak, khususnya pakan ayam. Dengan semakin berkembangnya industri pengolahan pangan di Indonesia maka kebutuhan akan jagung akan semakin meningkat pula.

          Usaha peningkatan produksi jagung di Indonesia telah digalakan melalui dua program utama yakni: (1) Ekstensifikasi (perluasan areal)  dan (2) intensifikasi (peningkatan produktivitas). Program peluasan areal tanaman jagung selain memanfaatkan lahan kering juga lahan sawah, baik sawah irigasi maupun lahan sawah tadah hujan melalui pengaturan pola tanam. Usaha peningkatan produksi jagung melalui  program intensifikasi adalah  dengan melakukan perbaikan teknologi dan manajemen pengelolaan. Usaha-usaha tersebut nyata meningkatkan produktivitas jagung terutama dengan penerapan  teknologi inovatif yang lebih berdaya saing (produktif, efisien dan berkualitas).

          Menurut Setiawan (1993), pertumbuhan, produksi dan mutu hasil jagung dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan seperti kesuburan tanah.  Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesuburan tanah adalah dengan pemberian pupuk, baik pupuk organik maupun pupuk anorganik. Aplikasi pupuk tidak selamanya memberikan hasil yang maksimal, karena dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain takaran, cara dan waktu  pemberian  yang  tepat.

          Saat ini peningkatan luas tanam untuk tanaman pangan mengalami kendala terbatasnya lahan produktif akibat konversi lahan pertanian menjadi non pertanian yang umumnya terjadi di Pulau Jawa sehingga perluasan ke lahan sob optimal menjadi pilihan, salah satunya adalah lahan kering. Lahan kering iklim basah tersebar di Sumatera, Kalimantan, Papua, Sulawesi bagian tengan, Jawa Barat dan Jawa Tengah bagian tengah dan selatan (Hidayat dan Mulyani, 2002). Menurut Sitorus (2004), lahan kering adalah lahan yang kondisi fisik, kimia, dan biologinya kurang mendukung untuk budidaya tanaman, terutama tanaman pangan. Lahan kering memiliki tingkat kesuburan tanah yang rendah, terutama pada tanah-tanah yang tererosi, sehingga lapisan olah tanah menjadi tipis dan kadar bahan organik rendah.

          Pemanfaatan lahan kering yang ada di Kepulauan Bangka Belitung saat ini belum sepenuhnya optimal, salah satu teknologi yang dapat diterapkan antara lain system tanam dan pola tanam. Perakitan pola tanam yang tepat di lahan kering ditentukan oleh karakteristisk lahan dan iklim, utamanya pola hujan, serta karakteristik tanamannya sehingga pada satu jenis lahan kering bisa berbeda rakitan pola tanamnya (Ceunfin et al., 2017). Secara teknis peningkatan produksi pangan dapat dilakukan melalui penerapan pola tumpang sari tanaman dan tumpang gilir tanaman, kunci utamanya adalah dengan sistem penyisipan tanaman pada tanaman utama dengan konfigurasi jarak tanam yang tepat (Hermawati, 2016).

BUDIDAYA JAGUNG HIBRIDA

Jagung yang memiliki nama latin Zea Mays ini merupakan tanaman pangan yang mengandung karbohidrat. Salah satunya adalah budidaya jagung hibrida yang merupakan persilangan jagung keturunan secara langsung dari dua atau lebih dari varietas jagung yang berkualitas. Pada umumnya, tanaman jagung mempunyai berbagai ukuran tinggi, sekitar 2 meter sampai 2,5 meter, bahkan ketinggian yang bisa mencapai 12 meter. Tangkai yang ada pada batang jagung beruas memiliki ukuran 20 cm/ruas, namun pada daun jagung yang berukuran lebar 9 cm serta panjang 120 cm ini tidak memiliki tangkai. Sedangkan pada tanaman jagung hibrida memiliki keunggulan tambahan seperti, bertongkol dua, ukuran tongkol dan biji yang lebih besar, serta waktu pemanenan lebih cepat.

Syarat Tumbuh Jagung Hibrida

          Tanaman jagung dapat tumbuh baik di dataran rendah maupun dataran tinggi dengan lahan yang terpapar cahaya matahari langsung minimal 8 jam per hari, memiliki kadar keasaman tanah (pH) 5,5-7,5, memiliki cukup kandungan unsur hara, dekat dengan sumber air untuk penyiraman serta memiliki tanah yang gembur (bisa dibajak terlebih dahulu agar gembur)

Adapaun tahapan pelaksanaan kegiatan yang dilakukan antara lain:

  1. Penyiapan Lahan

          Lahan yang akan dijadikan lahan tanam diolah terlebih dahulu. Tanah pada lahan digemburkan terlebih dahulu dengan cara dicangkul atau dibajak sembari dibuat alur-alur untuk pemberian pupuk dasar. Lakukan pemupukan dasar dengan menggunakan pupuk kandang dan pupuk kimia. Selain itu, dapat pula dilakukan pengapuran dengan menggunakan kapur dolomit.

          Pada lahan kering masam setelah dilakukan pengolahan tanah, maka dilakukan pemberian kapur (Dolomit) untuk meningkatkan pH tanah guna mendukung pertumbuhan tanaman jagung. Kapur ditabur di atas permukaan tanah 1-2 minggu sebelum ditanami dengan dosis 1-2 ton/ha dan diaduk hingga kedalaman 20 cm.

  1. Varietas Unggul

Varietas jagung yang ditanam harus dapat beradaptasi atau toleran pada kondisi lahan kering masam yang ber-pH tanah rendah. Penggunaan varietas yang sesuai dan disertai dengan teknik budidaya yang tepat diyakini dapat meningkatkan produktivitas tanaman jagung. Varietas unggul jagung yang sesuai untuk lahan kering   masam antara lain: Nakula Sadewa (NASA) 29, JH-29, JH-37, NK-212, P-35, dan Bima 14 Batara.

  1. Benih Bermutu

Penggunaan benih bersertifikat dengan vigor tinggi sangat disarankan. Daya tumbuh benih ≥ 90%. Kebutuhan benih untuk jagung adalah 20­25 kg/ha. Umumnya benih jagung yang dipasarkan sudah diberi perlakuan benih (seed treatment) untuk mencegah serangan penyakit bulai. Khusus pada daerah endemik pada musim tanam tertentu dimana selalu ada serangan berat sehingga perlu ditambahkan fungisida berbahan aktif metalaksil atau propineb (antara lain fungisida Trivia, Antracol dan lain-lain), sebanyak 3-5 g/kg benih.

  1. Penanaman

Sistim tanam yang dianjurkan dalam paket budidaya jagung di lahan kering masam antara lain adalah: Sistim tanam jajar legowo dengan jarak tanam (40-100) cm x 20 cm  menggunakan 1 biji per lubang tanam; Sistim tanam zig-zag dengan jarak tanam 25x12,5x75 cm menggunakan 1 biji per lubang tanam; Sistim tanam tegel dengan jarak tanam 75x20 cm menggunakan 1 biji per lubang tanam: dan Sistem tanam tumpangsari Jagung-Kacang Tanah, dengan jarak tanam jagung (60x12,5x30 cm)/2 baris;  dan jarak tanam kacang Tanah (30x15x30 cm)/7 baris.

  1. Pemupukan

Pada lahan kering masam dosis pemberian bahan organik dapat berupa pemberian kotoran ayam sebanyak ± 2 t/ha diberikan pada saat tanam sebagai sebagai penutup lubang tanam. Pemberian pupuk anorganik dilakukan pada umur ± 10 hari setelah tanam dengan dosis 400 kg NPK/ha, kemudian pada umur 31 HST dengan dosis 100 kg/ha Urea, dan 45 HST dipupuk kembali dengan takaran 100 kg/ha Urea.

  1. Penyiangan

Periode kritis tanaman jagung terhadap gulma pada saat sebelum berbunga, sehingga dianjurkan agar dapat dikendalikan pada umur 15 – 25 HST. Jika masih ada gulma pada umur 30­40 HST, lakukan penyiangan kedua menggunakan herbisida kontak atau menggunakan cangkul sekaligus pembumbunan.

  1. Pemberian Air pada Jagung Hibrida

Pada pertanaman MT I (Musim Hujan) di lahan kering masam, kebutuhan air tanaman dapat dipenuhi dari air hujan. Akan tetap pada pertanaman MT II (Musim Kemarau) hujan akan berkurang pada fase generatif sehingga diperlukan adanya sumur air dangkal untuk pemberian air tanaman khususnya menjelang pembungaan dan pengisian biji. Kekurangan air pada fase pembungaan sampai pengisian akan menurunkan hasil sekitar 66 – 83%. Untuk efisiensi penggunaan air maka pemberian air dapat dilakukan 10-14 hari sekali dengan menggunakan pompa air tanah  dangkal melalui alur antar barisan tanaman. Lakukan penyiraman secara rutin setiap seminggu sekali atau sesuai kondisi lahan dan cuaca.

 

 

  1. Pemberian Air pada Jagung Hibrida

Lakukan pula penyiangan pada gulma atau tanaman pengganggu lainnya yang tumbuh disekitar tanaman jagung dengan interval setiap 2-3 minggu sekali.

  1. Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalian hama dan penyakit tanaman jagung, selain melalui perlakukan benih, juga dengan teknik budidaya yang tepat, diantaranya penggunaan varietas tahan/toleran,    sanitasi, dan pergiliran.

Pengendalian Hama

Hama utama pada tanaman jagung meliputi Penggerek Batang jagung (Ostrinia furnacalis Guen), fall armyworm (FAW)/ulat tentara jagung (Spodoptera frugiperda.), penggerek tongkol jagung (Helicoverpa armigera Hbn. Noctuidae: Lepidotera), lalat bibit (Atherigona sp), dan hama kumbang bubuk (Sitophilus zeamais). Pengendalian hama secara kimiawi dilakukan berdasarkan hasil pemantauan seperti riwayat serangan hama serta ambang batas kendali hama.

Pengendalian Penyakit

Pengendalian penyakit jagung dapat dilakukan dengan mengadakan pergiliran tanaman, penanaman jagung secara serempak, usahakan agar pertanaman tidak terlalu rapat sehingga kelembaban tidak terlalu tinggi serta drainase dan sanitasi lahan yang baik. Untuk mengendalikan penyakit bulai, umumnya benih yang beredar telah dicampur dengan fungisida metalaksil, namun apabila masih ada gejala seranga, makan untuk mengendalikan dapat digunkan fungisida berbahan aktif Propineb antara lain fungisida Trivia, antracol dan lain- lain. Untuk menekan serangan penyakit bercak daun dan busuk pelepah dianjurkan menggunakan fungisida dengan bahan aktif mancozeb dan carbendazim. Penyakit hawar daun dapat dikendalikan dengan fungisida dengan bahan aktif mankozeb dan dithiocarbamatem. Penyakit karat dapat dikendalikan dengan fungisida dengan bahan aktif benomyl.

  1. Panen dan Pasca Panen

Panen dilakukan jika kelobot tongkol telah mengering, biji telah mengeras, dan telah terbentuk lapisan hitam (black layer) pada biji yang terletak ujung tongkol. Tongkol yang sudah dipanen segera dijemur, tidak dianjurkan menyimpan tongkol dalam keadaan basah karena dapat menyebabkan tumbuhnya jamur. Pemipilan biji setelah tongkol kering (kadar air biji + 20%). Jagung pipil dikeringkan lagi sampai kadar air biji mencapai sekitar 15% dan dimasukkan dalam karung. Tidak dianjurkan menyimpan jagung pada kadar air biji >15% dalam karung untuk waktu lebih dari satu bulan.

 

Menyusun Materi Penyuluhan Pertanian melalui media elektronik

Judul                      : Teknologi   Budidaya    Jagung     Hibrida   Pada Lahan Kering Masam di

                                  Bangka Belitung

Ditulis oleh                : Minas  Tiurlina  Panggabean, SP, M.Si         (BPTP     Kepulauan

                                  Bangka Belitung)

Sumber Bacaan          :  Berbagai sumber

PENGUNJUNG

3674

HARI INI

64232

KEMARIN

37671550

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook