Materi Penyuluhan

Cara Pengambilan Contoh Tanah

Minggu, 27 Jun 2021
Sumber Gambar : Koleksi Pribadi

Sumberdaya lahan/tanah merupakan sumberdaya alam yang semakin penting. Selain karena luasannya yang sangat terbatas, pemanfaatannya juga harus disesuaikan dengan potensinya berdasarkan hasil penelitian. Penelitian ilmu tanah bertujuan untuk memahami sifat-sifat, dinamika, dan fungsi tanah sebagai bagian dari landskap dan ekosistem. Suatu persyaratan dasar untuk memahami hal tersebut adalah mempelajari informasi sumberdaya tanah yang meliputi karakteristik morfologi tanah dan   karakteristik lainnya  yang diperoleh melalui pemeriksaan tanah di lapangan.

Selain contoh tanah diambil untuk tujuan klasifikasi tanah dan evaluasi lahan terdapat contoh-contoh tanah yang bersifat khusus, antara lain:

  1. Contoh clod dan ped atau contoh bongkah tanah asli dengan ukuran + 10 ml volum Contoh tanah ini digunakan untuk penetapan kadar air pada berbagai tegangan air (pF), atau pengamatan pori-pori tanah dengan menggunakan lensa  binokuler.  Agar  contoh  tanah  mudah  dipindahkan atau dibawa dalam keadaan tidak terganggu, contoh tanah diambil menggunakan ring sample.
  2. Contoh tanah utuh atau undisturbed soil samples, yaitu contoh tanah yang diambil menggunakan ring atau tabung, dari beberapa lapisan, untuk penetapan sifat fisik tanah seperti bulk density (BD), permeabilitas, dan daya hantar hidraulik. Contoh tanah diambil pada dua kedalaman, yaitu kedalaman 0 -20 cm dan 20 - 40 cm. Setiap kedalaman diambil contoh ring lebih dari sekali pengambilan sebagai ulang
  3. Contoh tanah utuh dalam kotak-kotak logam digunakan untuk pengamatan mikromorfologi melalui irisan tipis (thin sections).
  4. Contoh tanah  komposit,  yaitu  contoh  tanah  yang  dikumpulkan  dari beberapa titik pengamatan melalui pemboran yang dicampur merata menjadi satu contoh yang homogen, digunakan untuk keperluan analisis status kesuburan tan Contoh tanah komposit ini merupakan kumpulan dari beberapa anak contoh tanah lapisan atas. Apabila terdapat lapisan organik, maka lapisan tersebut tidak diikutsertakan dalam pengambilan. Pengambilan contoh tanah dilakukan pada lahan potensial dengan kemiringan lahan < 25%. Contoh tanah diambil pada kedalaman 0 - 20 cm dari 10 - 15 tempat (anak contoh) dengan radius 50 m. Dari 10 - 15 anak contoh tersebut kemudian dicampur rata dan diambil sekitar 1 kilogram.
  5. Pengambilan contoh tanah alami yang belum teroksidasi terutama dari tanah-tanah rawa pasang surut. Contoh tanah ini dipakai untuk menganalisis unsur-unsur dalam kondisi reduksi (tidak terpengaruh oksidasi), misalnya senyawa pirit (FeS2). Cara pengambilannya harus sesegera mungkin dimasukkan kedalaman botol atau kantong plastik berwarna gelap,  kemudian  ditekan  dari  samping  dan  dari permukaan bagian atas untuk mengeluarkan semua udara agar tidak terjadi oksidasi selama  transportasi, selanjutnya  segera  mungkin  ditutup  atau  diikat dengan rapat dan disimpan dalam kondisi tidak terkena sinar matahari secara langsung, agar contoh tanah tidak mengalami oksidasi.

Untuk contoh tanah komposit dapat dipergunakan pada Perangkat Uji Tanah. Perangkat Uji Tanah adalah alat bantu analisis yang dapat menentukan rekomendasi pupuk spesifik lokasi secara langsung,cepat, mudah di lapang.

Untuk mengetahui unsur hara secara cepat Kementerian Pertanian telah mengeluarkan alat bantu analisis yang dapat menentukan rekomendasi pupuk spesifik lokasi secara langsung, cepat, mudah di lapang yaitu PUTS (Perangkat Uji Tanah Sawah), PUTK (Perangkat Uji Tanah Kering), dan PUTR (Perangkat Uji Tanah Rawa).

Perbandingan antara pengukuran dengan Perangkat uji tanah dan analisis rutin dilaboratorium.

Analisis di Laboratorium:

  1. Prosedur baku/lama.
  2. Mengekstrak berbagai bentuk hara.
  3. Bebagai jenis bahan kimia asam/basa kuat.
  4. Pengukuran dengan alat canggih: AAS, MPAS, Spetro.
  5. Angka Kuantitatif, ketelitian tinggi (ppm, ppb).

 

Rapid Soil Test Kit atau Perangkat uji Tanah:

  1. Prosedur Cepat.
  2. Hanya mengekstrak bentuk hara tersedia.
  3. Bahan kimia asam/basa/garam lemah.
  4. Pengukuran secara kolorimeri/warna.
  5. Angka kualitatif ketelitian lebih rendah (rendah, sedang, tinggi).

PUTS (Perangkat Uji Tanah Sawah), PUTK (Perangkat Uji Tanah Kering), dan PUTR (Perangkat Uji Tanah Rawa) semoga dapat membantu untuk rekomendasi pemupukan yang Tepat.

Sumber Informasi: Pedoman Pengamatan Tanah Di Lapangan, Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian Tahun 2017.

PENGUNJUNG

3369

HARI INI

64232

KEMARIN

37671245

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook