Diseminasi Teknologi

BUDIDAYA RUMPUT Brachiaria decumbens (Bede)

Jum'at, 25 Jun 2021
Sumber Gambar : Koleksi pribadi

Rumput Brachiaria adalah salah satu rumput gembala yang memiliki produksi lebih baik jika dibandingkan dengan rumput lapangn, memiliki nilai nutrisi yang tinggi, lebih tahan pada musim kemarau dan cocok untuk daerah tropis. Rumput ini berasal dari daerah Afrika (Uganda, Kenya, Tanzania) menyebar ke berbagai daerah termasuk ke daerah Asia dan Pasifik. Rumput ini juga berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia karena bisa tumbuh baik di wilayah manapun di Indonesia, termasuk pada daerah asam (pH 3,5-5,5) seperti di Kalimantan Timur (Ibrahim dan Jacobson, 1985).

Di Indonesia rumput bede banyak dijumpai di pinggir jalan, penggir selokan, lapangan, pematang sawah dan di tempat-tempat lainnya yang berbatu. Rumput bede perlu dikembangkan dan dikelola dengan baik karena sebagai salah satu sumber penyediaan pakan ternak yang dapat menanggulangi kekurangan pakan ternak pada musim kemarau yang merupakan masalah bagi para petani peternak. Keistimewaan rumput ini adalah tahan hidup di musim kemarau (tahan kering), selain itu karena mempunyai perakaran yang sangat kuat dan cepat menutup tanah sehingga dapat mengurangi erosi (Siregar, 1987).

Brachiaria decumbens (Bede) atau disebut juga Rumput Signal biasanya ditanam untuk padang penggembalaan permanen, tetapi juga ditanam atau dikonservasi pada sistem potong angkut oleh peternak kecil. Rumput Bede berdaun kaku, pendek, berbulu halus, warna hijau gelap dan bertekstur agak kasar. Rumput ini merupakan bahan hay yang baik, karena batangnya kecil mudah menjadi kering. Rumput bede dapat tumbuh baik pada ketinggian 0-1200 m (dataran rendah sampai dataran tinggi) dengan curah hujan 762-1500 mm/tahun, kemasaman tanah pH 6-7 (Kismono dan Susetyo, 1977). Dengan pengelolahan tanah yang baik, pemupukan yang tepat serta interval potong yang cocok rumput bede dapat menghasilkan produksi segar 171 ton/ha/th dengan produksi kering 36,1 ton/ha/th dengan interval potong 6 minggu (Siregar, 1987).  

Syarat Tumbuh

Rumput ini dapat tumbuh pada musim kering kurang dari 6 bulan. Tumbuh baik pada jenis tanah apapun termasuk tanah berpasir atau tanah asam, seperti dilaporkan oleh Mannetje dan Jones (1992) yang melaporkan bahwa Brachiaria brizantha, Brachiaria decumbens dan Brachiaria humidicola sangat toleran terhadap tanah-tanah yang asam dan respon terhadap pemupukan yang mengandung unsur N, P, K, walaupun tidak tahan terhadap tanah berdrainase rendah. Tahan terhadap injakan, dan renggutan (AAK, 1983). Tinggi tempat yang cocok untuk tanaman ini sampai 3000 m dpl dengan suhu optimal untuk tumbuh adalah 30–35oC (Anonim, 1999).

Perbanyakan rumput ini biasanya menggunakan biji, biji yang dibutuhkan per hektar adalah 1,5 –12 kg/Ha tergantung pada kualitas biji. Biji biasanya di sebarkan kemudian ditanam pada kedalaman kurang lebih 2-4 cm pada tanah. Biji yang baru panen sulit untuk berkecambah, oleh karena itu sebaiknya biji ditoreh terlebih dahulu, direndam menggunakan asam sulfat atau disimpan dahulu selama 6-8 bulan sebelum digunakan. Selain menggunakan biji, rumput Brachiaria brizantha dapat diperbanyak dengan menggunakan sobekan atau stek batang (Schultze-Kraft dan Teitzel, 1992).

 

TEKNIK BUDIDAYA

Pengendalian gulma.

Budidaya berbagai jenis tanaman tidak terlepas dari keberadaan gulma. Gulma adalah tumbuhan yang tumbuh di sekitar tanaman budidaya yang pertumbuhannya tidak dikehendaki dan umumnya merugikan karena dapat menghambat pertumbuhan, mengakibatkan penurunan kuantitas dan kualitas produksi. Pengendalian gulma cara kimiawi dengan menggunakan herbisida, dilakukan sebelum pengolahan lahan. Cara ini efektif dilakukan karena dapat mengemat waktu dan tenaga.

Pengolahan lahan

Pengolahan lahan merupakan suatu proses mengubah sifat tanah dengan mempergunakan alat pertanian sehingga diperoleh lahan pertanian yang sesuai dengan kebutuhan. Pembajakan tanah dapat dilakukan sebanyak 2 kali dan dengan kedalaman bajak 12-20 cm dari permukaan tanah. Penggaruan tanah  dilakukan sehingga struktur dan tekstur tanah memungkinkan untuk ditanami.

Penanaman

Penanaman rumput Brachiaria decumbens diawali dengan pemilihan bibit. Bibit yang dipilih harus sesuai dengan lengkungan dan mudah dikembangkan serta dikelola agar memperoleh mutu dan produksi yang baik. Bibit rumput Brachiaria decumbens dapat diperoleh dari anakan (pols) atau biji, namun menggunakan anakan (pols) lebih baik karena lebih cepat tumbuh dan resiko kematian lebih kecil. Penanaman dengan pols harus memotong bagian ujung vegetatifnya terlebih dahulu hingga tersisa 15 – 20 cm agar tanaman tidak terlalu banyak mengalami penguap dan layu. Waktu tanam yang baik ialah saat awal atau pertengahan musim hujan. Hal ini dikarena rumput Brachiaria decumbens pada awal pertumbuhannya membutuhkan air yang lebih banyak. Dalam setiap lubang dapat ditanaman bibit rumput Brachiaria decumbens sebanyak 2-3 batang dengan posisi tegak lurus. Cara atau sistem penanaman rumput Brachiaria decumbens dapat dilakukan dengan cara tunggal, campuran dan lorong/alley cropping.

Pemupukan

Tujuan pemupukan adalah memberikan zat hara makanan dalam tanah yang digunakan tanaman serta memperbaiki struktur tanah sehingga dapat meningkatkan produksi rumput baik kualitas maupun kuantitasnya. Pemberian pupuk sangat dianjurkan untuk disesuaikan dengan kandungan tanah pada lahan tanam. Pada penanaman rumput Brachiaria decumbens di lahan kering masam dengan kandungan pH tanah kurang dari 7 diajurkan atau harus dilakukan penambahan bahan organik/pupuk kandang dengan dosis ±0,22 kg/ha.

Pemeliharaan

Hasil produksi tanaman sangan ditentukan oleh faktor pemeliharaanya. Pada awal pemeliharaan diperlukan pemeliharaan intensif terutama pada penyiangannya. Saat rumput Brachiaria decumbens sudah tumbuh subur akan membentuk hamparan sehingga gulma tidak mudah tumbuh.

Pemanenan/pemotongan

Pamanenan atau pemotongan harus dilakukan pada periode yang tepat, hal ini untuk menjamin pertumbuhan rumput secara optimal dengan kandungan gizi tinggi. Pemotongan pertama dilakukan saat rumput Brachiaria decumbens telah berumur 2 bulan. Pemotongan berikutnya dilakukan setiap 40 hari di musim hujan dan 60 hari pada musim kemarau. Tinggi potongan rumput Brachiaria decumbens dari permukaan tanah pada musim hujan sekitar 5 – 15 cm, sedangkan pada musim kemarau dapat lebih dari 15 cm.

 

SUMBER PUSTAKA

AKK. 1983. Hijauan Pakan TernakPotong, Kerja dan Perah. Kanisius. Yogyakarta.

Anonim-Dirjen Peternakan. 1999. Petunjuk Teknis Budidaya Pakan Hiajaun Dirjen Peternakan Direktorat Bina Produksi dan JICA. Jakarta.

Ibrahim, T. M. Dan C. N. Jacobson. 1985. Evaluation of Grass and Legume in Swards for Extensive Management in South Sulawesi. Research Report 1984/1985. Balai Penelitian Ternak. Bogor.

Kismono, I. Dan S. Susetyo. 1977. Pengenalan Jenis Hijauan Tropika Penting. Produksi Hijauan Pakan Ternak untuk Sapi Perah. BPLPP. Lembang. Bandung.1977.

Siregar,M. E. 1987. Produktivitas dan Kemampuan Menahan Erosi Species Rumputdan Leguminosa Terpilih Sebagai Pakan Ternak yang Ditanam Pada Tampingan Teras Bangku di DAS Citanduy. Ciamis.

 

 

Penyusun : Andi Maryanto dan Tika Nafiah Ramadhani (BPTP Lampung)

PENGUNJUNG

40685

HARI INI

38137

KEMARIN

37018560

TOTAL