Diseminasi Teknologi

Tajar Tanaman Lada

Jum'at, 25 Jun 2021
Sumber Gambar : Koleksi Ria Maya

Pendahuluan

 

Perkebunan lada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masih merupakan perkebunan rakyat.  Kegiatan budidaya lada sudah dilakukan sejak zaman penjajahan belanda dan telah memberikan kontribusi nyata sebagai sumber devisa, sumber pendapatan petani dan penyedia lapangan kerja. Namun sebagian besar petani masih menerapkan teknik budidaya secara tradisional dan turun temurun. Budidaya lada yang dilakukan, sebagian belum menerapkan konsep ramah lingkungan, masih menggunakan tajar atau tiang panjat mati, pemupukan dengan jenis dan dosis tidak tepat, sebagian belum menggunakan bahan organik, serta pengendalian dan pemberantasan hama penyakit belum tepat sasaran. 

Lada merupakan tanaman memanjat karena memiliki sulur panjat yang tumbuh ke atas. Dalam proses pertumbuhannya tanaman lada memerlukan media untuk memanjat. Media untuk memanjat ini dikenal sebagai tajar. Tajar berfungsi sebagai tempat melekatkan akar yang keluar pada setiap buku sulur panjat. Dalam budidaya lada ditingkat petani ada dua jenis tajar yang dapat digunakan yaitu tiang panjat mati dan tiang panjat hidup. Di Bangka Belitung sampai saat ini penggunaan tiang panjat atau tajar mati sebagian besar masih digunakan petani secara turun menurun meskipun telah dianjurkan untuk penggunaan tajar hidup yang lebih ekonomis dan efektif.

Tajar Mati

 

Penggunaan tajar mati ditingkat petani umumnya dimulai pada ketinggian 2-3,5 m dengan hasil rataan produktivitas per pohon atau satuan luas lebih tinggi dibanding tajar hidup, tetapi mempunyai umur ekonomi lebih pendek (singkat). Tajar mati yang digunakan petani dalam budidaya lada antara lain kayu dan tiang beton. Penggunaan tajar kayu lebih banyak diminati petani daripada tajar tiang beton. Tajar kayu yang biasa digunakan petani antara lain kayu besi, mendaru, pelawan dan melangir serta kayu ulin. Tajar kayu terutama kayu ulin banyak dipilih petani karena kayu ini lebih kokoh, kuat, tahan lama, praktis, ekonomis dan tahan rayap. Namun kayu ulin atau kayu lainnya jika digunakan terus menerus tanpa ada pelestarian tentu akan mengancam kepunahannya. Sementara itu penggunaan tajar mati dari beton akan lebih bertahan lama daripada kayu ulin dan sejenisnya namun kelemahannya adalah kurang praktis dan biaya yang mahal.

Untuk tumbuh optimal tanaman lada memerlukan naungan, penggunaan tajar mati memungkinkan tanaman terkena cahaya matahari dan tetesan air hujan secara langsung, karena tajar mati tidak memiliki daun. Kondisi ini akan menyebabkan tanaman lada menjadi rentan dan mudah terserang penyakit.

Tajar Hidup

 

Penggunaan tajar hidup pada tanaman lada adalah alternatif yang tepat karena merupakan salah satu komponen teknologi budidaya lada ramah lingkungan. Tajar hidup dapat berfungsi sebagai tempat perlekatan lada serta naungan. Dengan tajar hidup populasi tanaman dapat terjaga dan periode panen menjadi lebih panjang karena umur tanaman lebih lama. Penggunaan tajar hidup juga dapat melindungi tanaman dari paparan sinar matahari secara langsung karena tanaman lada hanya membutuhkan intensitas penyinaran 50-70 %. Keuntungan lainnya dari penggunaan tajar hidup yaitu biaya lebih murah dibanding tajar mati, dapat mengurangi penebangan pohon dan melestarikan lingkungan. Selain itu penggunaan tajar hidup  dapat meningkatkan hasil tanaman lada juga dapat  menekan pertumbuhan dan serangan penyakit hawar beludru.  

Tajar hidup yang ideal memiliki ciri-ciri tumbuh tegak, ramping (slender) tetapi kuat dengan permukaan kasar, tahan pemangkasan, dan yang terpenting, memungkinkan akar lekat dapat melekat dengan baik. Beberapa alternatif tajar hidup yang dapat digunakan dalam budidaya lada adalah gamal (Glyricidia spp), dadap dan kapuk randu.

Pohon gamal merupakan tanaman perdu dari kerabat polong-polongan yang sering digunakan sebagai pagar hidup atau peneduh. Tanaman ini sangat cocok digunakan sebagai tajar tanaman lada karena pertumbuhannya yang cepat. Pada budidaya lada tajar hidup dari pohon gamal dipasang atau ditanam sebelum penanaman lada. Ukuran yang digunakan untuk tajar adalah panjang 2 m dan diameter 5 cm. Tajar hidup ditanam pada jarak ± 20 cm di sebelah barat lubang tanam sedalam 30 cm. Pengunaan tajar hidup pada tanaman lada juga membutuhkan pemeliharaan berupa pemangkasan tajar, tujuannya adalah untuk mengurangi persaingan hara dan menciptakan kondisi optimal bagi lada. Pemangkasan tajar hidup biasa dilakukan pada 7-10 hari sebelum pemupukan dengan frekuensi pemangkasan 2-4 kali dalam setahun. Pemangkasan tajar dilakukan dengan cara memperjarang cabang pohon, yaitu memotong cabang-cabang dengan menyisakan sebanyak 2-3 buah cabang saja yang berfungsi sebagai naungan bagi tanaman lada dibawahnya. Tajar hidup yang tidak dipangkas atau jarang dipangkas akan menyebabkan penaungan berlebih pada tanaman lada dan akibatnya dapat menghambat proses pembentukan bunga dan buah serta menurunkan produksi.

Kapuk randu sebagai tajar hidup tanaman lada telah dikenalkan oleh BPTP Balitbangtan Kepulauan Bangka Belitung beberapa tahun lalu kepada petani. Kelebihan tajar kapuk randu adalah dapat membantu pertumbuhan tanaman lada hingga ketinggian lebih dari lima meter. Selain itu, tajar ini juga memiliki umur panen lada yang panjang hingga lima belas tahun jika dibandingkan dengan menggunakan tajar mati yang hanya bertahan tiga hingga lima tahun saja. Penerapan teknologi tajar kapuk randu ini telah diadopsi oleh petani di Kepulauan Bangka Belitung, khususnya di Desa Puput, Kecamatan Simpang Katis, Kabupaten Bangka Tengah.

Tanaman Dadap atau cangkring adalah sejenis pohon anggota suku Fabaceae yang biasa digunakan sebagai penahan angin, pagar hidup dan peneduh di kebun Kopi, kakao atau pohon rambatan bagi tanaman lada, sirih, panili dan umbi gadung. Di Bangka Belitung penggunaan dadap sebagai tajar lebih sedikit diterapkan petani dibandingkan dengan gamal dan kapuk randu.  Petani lebih menyukai gamal sebagai tajar hidup tegakan lada, karena beberapa manfaat dari pohon ini diantaranya daun gamal dapat dimanfaatkan petani sebagai pakan ternak.

PENGUNJUNG

34965

HARI INI

38137

KEMARIN

37012840

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook