Materi Penyuluhan

Teknologi Mitigasi pada Perkebunan Kakao di Lahan Kering

Senin, 21 Jun 2021
Sumber Gambar : https://www.agronet.co.id/detail/budi-daya/pertanian/2968-Cara-Cerdas-Menanam-Kakao

Teknologi mitigasi adalah usaha menekan penyebab perubahan iklim. Tanaman kakao merupakan tanaman tahunan yang tidak tahan terhadap cekaman air, baik secara langsung maupun tidak langsung. Penanaman kakao pada lahan kering disertai dengan terjadinya perubahan iklim membutuhkan upaya yang tepat sehingga tanaman kakao dapat tumbuh baik dan berproduksi maksimal.

Penurunan produksi akibat kekeringan pada tanaman kakao dapat mencapai 65%.  Untuk mempertahankan produksi maupun luas areal kakao yang ditanam di lahan kering dan efek negatif perubahan iklim, diperlukan aplikasi teknologi yang tepat.

Teknologi mitigasi yang dapat diterapkan pada tanaman kakao untuk memperkuat kemampuan lahan kering dalam  menghadapi perubahan iklim yaitu dengan pemberian mikoriza, penggunaan varietas yang tahan kekeringan, pembuatan rorak, pembuatan penampungan air, pemberian pupuk organik, pemberian pembenah tanah, melakukan pemupukan yang tepat, penanaman penutup tanah, pemberian naungan dan pemangkasan.

a. Pemberian micoriza::

Prinsip kerja mikoriza adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang, memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut mampu meningkatkan kapasitas penyerapan hara. Micoriza merupakan symbiosis antara fungi tanah dengan akar  tanaman yang dapat membantu meningkatkan status hara tanaman, meningkatkan ketahanan terhadap kekeringan, penyakit dan kondisi tidak menguntungkan lainnya. Pemberian inokulum cendawan mikoriza nyata meningkatkan efisiensi penyiraman dari satu hari sekali menjadi tiga hari, dan lima hari sekali sehingga efisiensi 200-400% atau dapat menghemat penyiraman bibit kakao sebesar 2-4 kali dibandingkan penyiraman 1 hari sekali pada bibit kakao

b. Penggunaan varietas tahan kekeringan

Varietas SCA 6, Amelando dan TSH 919. SCA 6 mempunyai kandungan prolin daun yang tinggi pada cekaman kekeringan.  SCA 6 dan Amelonado merupakan klon yang paling tahan/toleran terhadap kadar lengas tanah rendah/cekaman kekeringan, yang toleransi sedang yaitu SCA 12, GC 7 dan ICS 6; sedangkan yang toleransi rendah adalah ICS 60 dan UIT 1.  Klon PA 191 juga lebih toleran terhadap cekaman kekeringan.

 c. Pembuatan rorak

Rorak adalah galian yang dibuat di sebelah pokok  tanaman untuk menempatkan pupuk organik dan dapat berfungsi sebagai lobang drainase. Rorak dapat diisi  sisa hasil pangkasan tanaman kakao dan gulma hingga penuh dan ditutup dengan tanah.  Pemanfaatan rorak merupakan alternatif untuk memanen air dan meningkatkan kelengasan tanah, serta mengendalikan erosi.  Rorak yang dikombinasikan dengan mulsa vertikal (slot mulch) mampu mengurangi erosi sampai 94%.

d.Pembuatan Penampungan

Penampungan air dapat dilakukan dengan menampung air hujan atau aliran air pada tempat penampungan sementara atau permanen. Penampungan air ini berfungsi menyediakan air irigasi pada musim kemarau, juga dapat mengurangi resiko banjir pada musim hujan. Teknologi ini bermanfaat untuk lahan yang tidak mempunyai jaringan irigasi atau sumber air bawah permukaan (ground water)  Kolam permanen menggunakan bahan beton/bahan kedap air  mampu menahan air ± 65% dari volume hujan di daerah tangkapan air hujan. Kolam permanen cocok untuk daerah dengan tipe tanah yang memiliki permeabilitas tinggi. Kolam semi permanen, dibangun dari formasi timbunan tanah, dengan kemampuan menyerap dan menahan air sekitar 30-50% dari volume hujan di daerah tangkapan air hujan. Kolam semi permanen cocok dibangun di daerah dengan tanah yang mempunyai permeabilitas lebih rendah.

 e. Pemberian pupuk organik

Limbah kulit buah kakao dapat diolah menjadi kompos untuk menambah bahan organik tanah . Kandungan hara kompos yang dibuat dari kulit buah kakao adalah 1,81 % N, 26,61 % C-organik, 0,31% P2O5, 6,08% K2O,1,22% CaO, 1,37 % MgO, dan 44,85 cmol/kg KTK. Aplikasi kompos kulit buah kakao dapat meningkatkan produksi hingga 19,48%. Serasah daun kakao umur 6-12 tahun dapat memberikan sumbangan unsur hara ke tanah sebanyak 75-94 kg N, 4-5 kg P, 84-100 kg K, 28-34 kg Mg, dan 58-78 kg Ca, masing-masing per hektar per tahun

f. Pemberian pembenah tanah:

Bahan pembenah tanah ada dua jenis yaitu pembenah tanah organik dan anorganik. Pembenah tanah organik alami salah satunya seperti blotong, lateks, sari kering limbah (SKL), bahan organik dengan C/N ratio = 7-12  sedangkan pembenah tanah anorganik alami seperti emulsi aspal (Bitumen: hidrophobik dan hidrofilik), zeolit, kapur pertanian, dan fosfat alam  Bahan pembenah yang mulai dikenal, yaitu batu basal merupakan jenis batuan yang terbentuk dari magma yang membeku di permukaan bumi disebut juga batu vulkanik .

 

g.Melakukan pemupukan yang tepat

Pemupukan bertujuan untuk memperbaiki kondisi tanaman agar tumbuh dengan baik, sehingga mempunyai struktur akar yang lebih lebar sehingga tanaman mampu menggunakan air tanah lebih efektif. Untuk itu pada akhir musim hujan dapat diberikan pupuk campuran 0,5% urea, 10,5% MgSO4 dan 0,2% MnSO4., atau dapat juga menggunakan pupuk organik.   Pupuk hijau sangat penting untuk tipe tanah yang kurang subur untuk memperbaiki kondisi tanah. Pupuk hijau digunakan secara efektif pada dosis 20-30 ton/hektar/tahun menggunakan limbah organik seperti kompos limbah kakao dan limbah pertanian lainnya serta kompos yang berasal dari serasah pohon naungan.

h. Penanaman penutup tanah:

Penggunaan sistem penanaman ganda yaitu dengan menanam tanaman pupuk hijau sepanjang baris tanaman. Pupuk hijau biasanya dari tanaman leguminosa karena tanaman tersebut mempunyai akar yang ditempeli oleh bakteri  Rhizobium yang dapat mengikat nitrogen dari udara.   Tanaman pupuk hijau dipangkas secara rutin, agar tingginya tidak lebih dari 30 cm dan limbah pangkasan digunakan sebagai mulsa yang ditimbun di dalam rorak.

 i. Pemberian naungan

Penyebab utama kerusakaan pertanaman kakao akibat kemarau panjang adalah  kurangnya tanaman penaung. Penananaman penaung yang tepat dapat menekan radiasi matahari. Salah satu jenis pohon penaung yang efektif di daerah kekeringan adalah tanaman lamtoro (varietas PG79, L16, L13, La dan L2) dengan kepadatan 200-300 pohon/hektar di daerah basah, sedang di daerah kering dengan tingkat kepadatan 600 pohon/hektar.

j. Pemangkasan

Pemangkasan dilakukan secara selektif dengan cara membuang bagian tanaman yang tidak produktif guna mengurangi tingkat transpirasi yang secara tidak langsung mengawetkan kandungan air tanah. Pemangkasan berat dilakukan pada awal musim hujan dan pemangkasan ringan dilakukan pada saat kekeringan yang panjang. (Sri Wijiastuti, Pusluhtan).

Sumber:

  1. http://perpustakaan.pertanian.go.id_.
  2. https://unhas.ac.id/v2/article/title/dampak-bencana-di-luwu-utara-terhadap-produksi-kakao-sulsel-dan-nasional/
  3. Jurnal tanah dan sumberrdaya lahan vol.2 no.2:191-197,2015
  4. http://ntt.litbang.pertanian.go.id
PENGUNJUNG

1800

HARI INI

64232

KEMARIN

37669676

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook