Diseminasi Teknologi

MENGENALI CIRI-CIRI, GEJALA SERANGAN DAN PENGENDALIAN HAMA TANAMAN KOPI (Coffea sp.)

Jum'at, 21 Mei 2021
Sumber Gambar : Religius Heryanto (Diedit dari berbagai sumber)

Permasalahan utama pada perkebunan kopi rakyat, yaitu rendahnya produktivitas dan mutu yang kurang memenuhi standar ekspor. Rendahnya produktivitas kopi antara lain disebabkan oleh serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Serangan OPT dapat menimbulkan kerugian secara ekonomis baik kualitas maupun kuantitas. Serangan OPT tidak hanya pada tanaman dewasa di lapang tetapi juga di pembibitan, kebun entres, dan penyimpanan. OPT pada tanaman kopi di antaranya adalah kelompok hama dan penyakit. Salah satu OPT yang harus dihindari adakah serangan hama. Hama pada tanaman kopi adalah penggerek buah kopi, penggerek batang merah, penggerek cabang dan ranting, kutu hijau, dan Sanurus indecora.

Penggerek Buah Kopi (Hypothenemus hampei)

Kumbang penggerek buah kopi (PBKo) Hypothenemus hampei (Ferrari) (Coleoptera: Scolytidae) bermetamorfosa sempurna (holometabola), yaitu telur–larva–pupa–dewasa. Tubuh kumbang berbentuk bulat pendek dengan pronotum menutupi kepala. Kumbang betina meletakkan telur di dalam lubang gerekan sebanyak 35–50 butir selama hidupnya, dan apabila menetas 33–46 butir (92%) menjadi betina. Siklus hidup PBKo (dari telur sampai dewasa) 24–45 hari. Kumbang betina dapat bertahan hidup sampai 190 hari, sedangkan 4 jantan maksimum 40 hari. Hama PBKo ini sangat merugikan karena dapat berkembang biak sangat cepat dengan jumlah yang banyak. Jika tidak dikendalikan, dari 1 ekor betina dalam waktu 1 tahun dapat menghasilkan keturunan mencapai 100.000 ekor.

Gejala Serangan

Hama PBKo menyerang semua jenis kopi (Arabika, Robusta, dan Liberika). Kumbang betina mulai menyerang pada 8 minggu setelah pembungaan saat buah kopi masih lunak untuk mendapatkan makanan sementara, kemudian menyerang buah kopi yang sudah mengeras untuk berkembang biak. Kumbang betina akan menggerek bagian ujung bawah buah, dan biasanya terlihat adanya kotoran bekas gerekan di sekitar lubang masuk. Ada dua tipe kerusakan yang disebabkan oleh hama ini, yaitu gugur buah muda dan kehilangan hasil panen secara kuantitas maupun kualitas.

Serangan pada buah kopi yang bijinya masih lunak mengakibatkan buah tidak berkembang, warnanya berubah menjadi kuning kemerahan, dan akhirnya gugur, sedangkan serangan pada buah yang bijinya telah mengeras akan berakibat 5 penurunan mutu biji kopi karena biji berlubang. Biji kopi yang cacat sangat berpengaruh negatif terhadap susunan senyawa kimianya, terutama pada kafein dan gula pereduksi yang akan mempengaruhi citarasa.

Pengendalian

Pengendalian dapat dilakukan melalui a). Pemupukan secara berkala sesuai dosis anjuran, untuk memicu waktu pembungaan yang relatif seragam sehingga dapat memutus siklus hidup PBKo.; b). Pengendalian gulma setelah panen, agar memudahkan pengambilan sisa-sisa buah kopi yang jatuh ke tanah; c). Pemangkasan tanaman kopi dan penaungnya dilakukan secara rutin untuk mengurangi tingkat kelembapan dan suhu lingkungan sehingga menciptakan kondisi yang kurang cocok untuk perkembangan PBKo; d) Petik bubuk, yaitu memetik semua buah yang sudah terserang PBKo pada saat 15-30 hari menjelang panen raya. Kemudian semua buah tersebut direndam dengan air panas atau dikubur untuk membunuh serangga yang ada di dalam buah; e). Rampasan/racutan, yaitu memetik semua buah kopi yang ada, baik yang sudah matang maupun yang belum pada akhir masa panen raya; f). Lelesan, yaitu mengumpulkan semua buah yang jatuh, kemudian dikubur untuk dijadikan kompos atau dibakar, agar PBKo yang terdapat dalam buah mati; g). Pengendalian secara fisik dan mekanis dengan menggunakan alat dan senyawa perangkap kumbang betina. Alat perangkap sederhana terbuat dari botol air mineral yang dicat merah dilubangi di bagian samping untuk masuk kumbang dan pada bagian dasar diisi air ditambah dengan deterjen sebagai tempat penampung hama. Senyawa penarik hama (atractant) berupa cairan dengan bahan dasar etanol dalam plastik atau botol kecil yang digantungkan di dalam alat perangkap;

h). Pemanfaatan jamur patogen serangga Beauveria bassiana yang relatif lebih mudah untuk diisolasi dari lapangan, diperbanyak secara massal, diformulasikan, dan diaplikasikan. Cara aplikasi di lapangan sangat mudah, yaitu buah masak pertama yang terserang PBKo, dikumpulkan, dicampur dengan jamur, dan 8 dibiarkan selama satu malam, kumbangnya akan keluar dan dilepas sehingga dapat menularkan jamur kepada pasangannya di kebun; i). Insektisida nabati untuk mengendalikan PBKo telah digunakan di beberapa perkebunan kopi. Beberapa bahan diketahui mampu menolak kumbang betina, yaitu mimba (Azadirachta indica), kacang babi (Tephrosia sp.), akar tuba (Derris eliptica), tembakau (Nicotiana tabacum), dan babadotan (Ageratum conyzoides). Cara membuatnya adalah 50–100 gram bahan tersebut dihaluskan, direndam selama 48 jam dalam 1 liter air, kemudian diperas. Air perasan tersebut diencerkan 10 kali dan ditambah dengan sedikit deterjen, kemudian disemprotkan pada dompolan buah kopi.

 

Penggerek Batang Merah (Zeuzera coffeae)

Ngengat penggerek batang merah Zeuzera coffeae (Lepidoptera: Cossidae) bermetamorfosa sempurna (holometabola), yaitu telur–larva–pupa–dewasa. Telur berbentuk bujur dengan permukaan bawahnya memipih. Telur berukuran panjang 1 mm dan lebar 0,5 mm, berwarna kuning-kemerahan, dan berumur 10–11 hari. Larva Z. coffeae berwarna merah cerah sampai ungu, panjangnya 3–5 cm (Gambar 4B) dengan stadia 81–151 hari. Pupa berada di liang gerekan dengan panjang 7–12 cm. Umur pupa 17–120 hari tergantung pada nilai gizi makanannya dan keadaan iklim pada fase kepompong. Serangga dewasa berupa kupu-kupu menarik berwarna putih dengan bercak hitam, abdomen biasanya abu-abu. Satu ekor imago Z. coffeae mampu menghasilkan telur sebanyak 500–1.000 butir dalam waktu 1 sampai 2 minggu., setelah 10–11 hari biasanya telur akan menetas. Larva menggerek batang muda (± 3 tahun) dan cabang berdiameter 3 cm. Pupa berada di dalam "kamar pupa" yang panjangnya 7–12 cm pada liang gerek. Biasanya pada bagian atas dan bawah kamar pupa disumbat oleh sisa-sisa gerekan.

Gejala Serangan

Ngengat betina meletakkan telur di permukaan kulit batang kopi, setelah menetas, larva langsung menggerek bagian batang atas dari kopi. Larva mengebor kulit kayu hingga ke bagian kambium dan kayu, kemudian menggerek sampai ke bagian xylem dan terus bergerak ke arah vertikal, dan atau membuat liang gerek melingkar batang. Rata-rata panjang gerekan 40–50 cm dan diameter gerekan 1–1,2 cm. Apabila luas gerekan melingkar dan bertemu maka bagian tanaman di atas gerekan akan mengering, mati, dan mudah patah. Hal itu disebabkan distribusi hara dan air dari tanah terganggu sehingga daun tanaman yang diserang menjadi layu, kemudian rontok, tanaman menjadi kering, dan akhirnya mati. Bagian permukaan kulit batang atau cabang tanaman yang digerek terdapat lubang masuk larva dengan diameter sekitar 2 mm. Apabila larva masih aktif di dalam maka akan terlihat adanya serbuk gerek berbentuk bulatan kecil berdiameter 1–2 mm dengan warna cokelat kemerahan yang terkumpul di bawah pohon tanaman terserang. Serangga ini dapat bertahan hidup berbulan-bulan pada batang kopi.

Pengendalian

a). Pemeliharaan tanaman kopi dilakukan sesuai dengan good agricultural practices (GAP) untuk menjaga kesehatan tanaman; b). Bagian tanaman yang telah terserang, dipotong dan dimusnahkan, kemudian dibakar agar telur, larva, dan imago yang masih ada di dalamnya mati; c). Penggunaan alat perangkap ngengat dengan cahaya lampu di malam hari karena serangga dewasa aktif pada malam hari dan tertarik pada cahaya lampu; d). Pemanfaatan parasitoid larva Bracon zeuzerae (Hymenoptera: Braconidae), Carcelia (Senometopia) kockiana Towns., dan lsosturmia chatterjeeana (Cam.) (Diptera: Tachinidae); e).Penggunaan insektisida nabati BIOTRIS yang berbahan aktif alpha-eleostearic acid. Aplikasinya dengan cara menginjeksi lubang gerek aktif, kemudian dipasak dengan bambu; f). Insektisida kimia menjadi alternatif pengendalian terakhir dan pada waktu yang tepat. Hasil penelitian di Cina dengan cara menginjeksikan 80% Dichlorvos EC (1:100) ke dalam lubang gerekan mampu mengendalikan 90% populasi.

 

Penggerek Cabang dan Ranting (Xylosandrus compactus)

Kumbang penggerek cabang dan ranting kopi Xylosandrus compactus Eichhoff (Coleoptera: Scolytidae) bermetamorfosa sempurna (holometabola), yaitu telur–larva–pupa–dewasa. Telur berbentuk oval, berwarna putih transparan, dan berukuran kecil 0,3 mm x 0,5 mm. Kepala larva berbentuk kapsul cokelat, tubuh berwarna putih krem, dan bulat telur.  Pupa berwarna krem bertipe eksarata dengan ukuran pupa sama panjang dengan imago. Kumbang betina berukuran panjang 1,4–1,9 mm dan lebar 0,7–0,8 mm. Badan kokoh, silindris memanjang berwarna cokelat kehitaman. Bagian posterior pronotum berlubang jelas dan pada bagian basalnya ditumbuhi seta yang panjang dan kaku. Kumbang jantan berukuran panjang 0,8–1,1 mm dan lebar 0,4–0,5 mm dengan bentuk tubuh bulat dan berwarna merah kecokelatan.

Kumbang jantan tidak dapat terbang. Betina yang sudah kopulasi terbang pada siang hari, mencari ranting baru untuk peletakkan telur. Betina bersifat partenogenetik. Kumbang betina membangun lorong sepanjang 1–3 cm di dalam ranting dan menetaskan telurnya. Betina meletakkan telur 30–50 butir. Telurnya diletakkan dalam kelompok kecil yang terdiri dari 8–15 butir. Kumbang X. compactus merupakan ambrosia beetle, imago dan larva memperoleh tambahan nutrisi dengan memakan jamur daripada jaringan tanaman kopi. Jamur ini tumbuh dan berkembang di dalam 13 lubang gerek dan juga dapat mematikan tanaman inang. Siklus hidup mulai dari telur sampai menjadi dewasa berlangsung selama 28 hari pada suhu 25° C.

Gejala Serangan

Penggerek cabang dan ranting ini dianggap sebagai hama yang sangat penting karena mudah beradaptasi dengan lingkungan, meskipun hidupnya terbatas di daerah panas dan tropis. Kumbang betina menggerek cabang dan ranting, kemudian meletakkan telur di dalam lubang gerekan. Larva dan kumbang dewasa aktif menggerek jaringan kayu dari cabang dan ranting kopi sehingga terputus aliran makanan ke bagian atas cabang yang mengakibatkan bagian tanaman tersebut mengering. Lebih dari 224 spesies tanaman, dalam 62 famili, menjadi inang penggerek cabang ini.

Pengendalian

a). Pemeliharaan tanaman kopi sesuai dengan GAP untuk menjaga kesehatan tanaman; b). Pemotongan dan pemusnahan bagian tanaman telah terserang, kemudian dibakar agar telur, larva dan imago yang masih ada di dalamnya mati; c). Pengendalian secara fisik dan mekanis dengan menggunakan alat dan senyawa perangkap kumbang betina PBKo; d). Pemanfaatan jamur patogen serangga Beauveria bassiana yang relatif lebih mudah untuk diisolasi dari lapang, diperbanyak secara massal, diformulasikan, dan diaplikasikan.

 

Kutu Hijau (Coccus viridis)

Kutu hijau Coccus viridis (Green) (Hemiptera: Coccidae) bermetamorfosa tidak sempurna (hemimetabola), yaitu telur–nimfa– dewasa. Telur berwarna hijau keputihan, diletakkan secara tunggal di bawah badan kutu betina sampai menetas. Nimfa berbentuk oval, berwarna hijau kekuningan, terdiri dari tiga instar, tetap berada di bawah badan induknya sampai pada saatnya akan pindah tempat dan hidup terpisah. Nimfa yang baru muncul panjangnya kurang dari 1 mm. Dewasa berukuran 2,5-5 mm, berbentuk bulat telur, berwarna hijau muda, tubuhnya dilindungi oleh perisai agak keras yang berwarna hijau muda hingga hijau tua. Kebanyakan koloni kutu berkelamin betina, dan pada kepadatan yang tinggi akan dihasilkan koloni kutu berkelamin jantan. Kutu dewasa mampu memproduksi telur 50-600 butir. Reproduksinya secara parthenogenesis dan ovovivipar yang mampu menghasilkan keturunan hingga 200 ekor.

Gejala Serangan

Kutu hijau menyerang tanaman kopi dengan cara mengisap cairan daun dan cabang yang masih hijau sehingga menyebabkan daun menguning dan mengering. Kutu ini biasanya menggerombol dan tinggal di permukaan bawah daun, terutama pada tulang daun. Daun atau ranting-ranting muda yang terserang, terutama permukaan bawah daun ditumbuhi jamur embun jelaga (Capnodium sp.) yang berwarna hitam. Terjadi simbiosis mutualisme antara kutu hijau dengan semut. Beberapa semut seperti Azteca instabilis, Camponotus spp., dan Crematogaster spp. aktif melindungi koloni kutu hijau dari predator dan parasitoid. Semut mendapatkan embun madu sebagai sumber makanannya, hasil sekresi dari kutu hijau. Bila populasi kutu hijau terlalu besar, senyawa ekskresi tadi biasanya 17 sering menutupi bagian permukaan tanaman. Senyawa gula yang terkandung di dalamnya menjadi media tumbuh yang sangat baik bagi jamur embun jelaga sehingga pada intensitas serangan berat, beberapa bagian tanaman kopi seperti daun dan batang muda akan ditutupi oleh embun jelaga. Hal ini menyebabkan gangguan fotosintesis dan terhambatnya pertumbuhan tanaman. Perkembangan kutu hijau sangat dibantu oleh keadaan cuaca kering, kepadatan populasinya terjadi pada akhir musim kemarau. Kutu hijau juga berkembang lebih baik di dataran rendah daripada dataran tinggi. Populasi kutu hijau akan meningkat dengan cepat apabila mendapat asuhan semut yang tepat, yaitu semut gramang. Dengan kehadiran semut gramang 50 individu kutu hijau berkembang menjadi 1.500–1.800 individu dalam 4 bulan, sedangkan dengan kehadiran semut hitam berkembang hanya menjadi 400– 1.000 individu

Pengendalian

a). Pengendalian secara kultur teknis ditekankan pada pemangkasan dan pengaturan tanaman penaung agar tidak terlalu rimbun; b). Aplikasi insektisida nabati yang paling mudah adalah dengan menggunakan air rendaman tembakau (1 kg tembakau/ 2 liter air) yang diencerkan menjadi 10 kali; c). Pemanfaatan musuh alami berupa predator, prasitoid, dan patogen. Predator yang dilaporkan efektif adalah kumbang Azya lutiepes dan Halmus chalybeus. Parasitoid yang banyak digunakan adalah Coccophagus rusti dan Encarsia sp. Selain predator dan parasitoid, pengendalian biologi untuk mengendalikan C. viridis adalah jamur patogen serangga, yaitu Lecanicillium lecanii. Jamur 19 ini dapat menyebabkan kematian kutu hijau sampai 90% selama musim hujan dan akhir musim kemarau.

 

Wereng (Sanurus indecora)

Hama Sanurus indecora Jacobi (Hemiptera: Flatidae) semula dikenal dengan nama Lawana candida, namun hasil reidentifikasi diketahui bahwa serangga tersebut adalah Sanurus indecora Jacobi. Wereng S. indecora mengalami metamorfosa tidak sempurna (hemimetabola), yaitu telur–nimfa–imago. Telur berwarna putih, tidak tertutup oleh lapisan lilin, diletakkan berderet memanjang 2−6 baris pada permukaan bawah daun, tulang daun, tunas yang masih lunak, dan tangkai daun. Nimfa berwarna krem, tertutup oleh zat lilin berwarna putih dan lengket. Wereng dewasa bersayap dengan garis berwarna jingga. Pada saat istirahat, sayap dilipat seperti tenda, jika direntangkan mencapai 30–35 mm. Siklus hidup S. indecora pada musim hujan perkembangannya lambat sehingga di lapang populasinya ditemukan lebih sedikit dibandingkan dengan musim kemarau.

Gejala serangan

Hama S. indecora dapat menyerang kopi Arabika dan Robusta, tetapi lebih menyukai Arabika. Wereng menyerang baik pada daun, cabang, dan batang tanaman. Pada daun lebih banyak ditemukan di permukaan bawah, terutama fase nimfa, dan tampak nimfa tertutup dengan lapisan lilin tebal, menyelimuti tanaman sehingga bagian yang terserang seperti tertutup kapas. Fase nimfa dan imago aktif makan. Wereng menusuk dan mengisap cairan tanaman. Bagian tanaman yang terserang akan terhambat pertumbuhannya, tunas mengalami malformasi, rontok, atau mati. Kerusakan tanaman dapat bertambah parah jika lapisan lilin tersebut ditumbuhi embun jelaga karena dapat menghambat fotosintesis. Penampakan keseluruhan terlihat kotor, hitam, daun terhambat menjalani fotosintesis. Embun jelaga merupakan salah satu bentuk asosiasi jamur dengan wereng ini. Imago bertengger pada batang dan ranting tanaman, terlihat seperti duri. Jika diganggu, imago bergeser menjauh atau terbang.

Pengendalian

a). Pengendalian S. indecora dapat dilakukan dengan penyemprotan air secara kuat agar nimfa mati dan mengurangi embun jelaga; b). Tanaman yang lebih disukai oleh wereng dapat ditanam sebagai tanaman perangkap; c).  Pemanfaatan insektisida nabati yang mengandung minyak dianjurkan untuk menembus lapisan lilin wereng; d). Pengendalian dengan jamur patogen serangga Synnematium sp. dan parasitoid telur Aphanomerus sp. (Hymenoptera) juga dapat dilakukan; e). Ektoparasitoid ngengat Epipyropidae (Lepidoptera) dapat mengendalikan wereng ini; f). Pengendalian dengan insektisida sintetis juga efektif, tetapi penggunaannya harus bijaksana agar tidak menimbulkan dampak negatif seperti pencemaran lingkungan, resistensi dan resurjensi hama sasaran, terbunuhnya musuh alami, dan keracunan bagi petani; g). Penggunaan pestisida yang bersifat sistemik lebih efektif daripada kontak karena wereng mempunyai lapisan lilin yang sulit ditembus; h). Pengendalian secara terpadu dengan memanfaatkan berbagai komponen pengendalian yang ramah lingkungan.

Demikian naskah ini saya buat semoga bermanfaat bagi kita semua.

Ditulis oleh                 : Religius Heryanto (BPTP Sulawesi Barat)

Sumber                      : Balitbangtan

PENGUNJUNG

49495

HARI INI

55732

KEMARIN

40807960

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook