Diseminasi Teknologi

TEKNOLOGI BUDIDAYA PADI SAWAH TADAH HUJAN

Jum'at, 21 Mei 2021
Sumber Gambar : https://www.google.com/search?safe=strict&source=univ&tbm=isch&q=gambar+sawah+tadah+hujan&client

Sawah tadah hujan merupakan jenis sawah sistim perairannya sangat bergantung pada hujan, tanpa bangunan-banguna irigasi permanen. Penanaman padi akan dimulai ketika memasuki musim penghujan. Lahan tadah hujan merupakan lumbung padi kedua setelah lahan sawah irigasi. Namun ada beberapa permasalahan yang menonjol pada lahan tersebut yakni produktivitas masih rendah disebebkan pasokan air hujan yang sulit dipridiksi. Selain itu kesuburan dan pH tanah rendah, sifat fisik tanah kompak, permasalahn tersebut menjadi hambatan dalam produksi padi sawah tadah hujan.

Ekosistem sawah tadah hujan cukup berbeda dengan ekosistem sawah irigasi, dimana pada awal musim hujan padi ditanam, menjelang kemarau masih ada air, dapat ditanam palawija atau sayuran karena penanamannya bergantung pada musim hujan. Potensi sawah tadah hujan di Sulawesi Barat cukup luas yang tersebar diseluruh daerah terutama di Kab. Mamuju, mempunyai luas lahan  yang cukup siknifikan untuk menunjang peningkatan produksi padi Sehingga dibutuhkan strategi untuk dapat memperbaiki produktivitas lahan sawah tadah hujan. Startegi itu dapat kita lakukan melalui pendekatan metode Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi sawah tadah hujan spesifik lokasi,  didalammya terdapat komponen-komponen teknologi yang terintegrasi, sehingga mampu meningkatkan produktivitas padi.

Pengertian PTT adalah:

Pengelolaan Tanaman Terpadu atau disingkat PTT adalah pendekatan dalam upaya mengelola lahan, air, tanaman, OPT dan iklim secara terpadu/menyeluruh/holistik dan dapat diterapkan secara lumintu (berkelanjutan). PTT dapat diilustrasikan sebagai sistem pengelolaan yang menggabungkan berbagai sub sistem pengelolaan, seperti subsistem pengelolaan hara tanaman, konservasi tanah dan air, bahan organik dan organisme tanah, tanaman (benih, varietas, bibit, populasi tanaman dan jarak tanaman), pengendalian hama dan penyakit/organisme penggangu tanaman, dan sumber daya manusia. PTT adalah  cara untuk mempertahankan atau meningkatkan produktivitas padi secara berkelanjutan (sustainable) dan efesiensi produksi dengan memperhatikan sumber daya, dan kemampuan petani. PTT menekankan pada prinsip partisipasi. yakni petani  berperan aktif  dalam memilih dan menguji teknologi yang sesuai dengan kondisi setempat dan kemampuan petani melalui proses pembelajaran dalam bentuk laboratorium lapangan. Pendekatan PTT disadari oleh : (1) Kajian akan kebutuhan dan aspirasi petani setempat (2) Perlunya memadukan pengelolaan tanaman, lahan, air dan organisme penggangu sesuai dengan kemauan dan kemampuan petani, (3) kesesuain, interaksi dan sinergi antar komponen teknologi, dan (4) sistem budidaya yang dinamis sesuai dengan perkembangan teknologi dan kemampuan petani (Puslitbang Tanaman Pangan. 2006).

PTT ini adalah salah satu cara /upaya agar produksi meningkat namun tetap efesian dalam  biaya produksi, adapaun komponen teknologi terdiri dari Komponen dasar dan pilihan disesuaikan spesifik wilayah setempat yang paling tepat diterapkan. Komponen teknologi pilihan dapat menjadi dasar apabila Kajian Kebutuhan dan Peluang (KKP) memproritaskan permasalahn tersebut menjadi sebuah keharusan untuk mencari pemecahan masalah utama suatu wilayah. Intinya petani berperan aktif dalan merumuskan hl-hal yang menjadi prioritas kendala yang dihadapi, kemudian mengklasterkan permasalahan tersebut  ke dalam dua komponen teknologi  dasar ataupun pilihan. Komponen teknologi dasar adalah teknologi yang wajib harus kita terapkan sedangkan pilihan bisa dilaksankan bisa juga tidak.  Permasalahan yang sering kita jumpai dilapangan adalah pertumbuhan tanaman yang kuran merata, Kurangnya penegatahuan terkait muti  bibit, penggunaan pupuk yang tidak berimbang, Lahan kekurangan bahan organic  dan pertimbuhn gulma yang sangat siknifikan. Sehingga hal demikian  memberikan dampak pada hasil produksi.  Melalui Pendekatan PTT Sawah  tadah hujan dapat kita antisipasi dengan penerapan beberapa teknologi sebagai berikut:

Penggunaan Varietas  Unggul

Menggunakan VUB (varietas Unggul Baru) yang mampu beradaptasi dengan lingkungan untuk menjamin pertumbuhan tanaman yang baik, hasil tinggi dan kualitas baik serta rasa nasi diterima pasar. Penggunan Tanaman VUB secara bergantian dapat berguna memutus siklus hidup hama dan penyakit. (BB2TP. 2008). Contoh Varietas Unggul :  Mekongga, Chiherang, Ciliwung.

Varietas Unggul Baru adalah varietas yang telah dilepas oleh pemerintah yang mempunyai kelebihan dan potensi hasil dan atau sifat-sifat lainnya. Varietas unggul dapat berupa hasil pemuliaan, baik secara konvensional biasanya disebut varietas Unggul Inbrida, melalui cara inkonvensional/non-konvensional biasanya disebut Varietas Unggul Hibrida. (BPTP Jawa Barat. 2009)

Bibit Bermutu dan Sehat

Benih bermutu adalah benih dengan tingkat kemurnian dan daya tumbuh yang tinggi. Pada umumnya benih bermutu dapat diperoleh dari benih yang berlabel yang sudah lulus proses sertifikasi. Benih bermutu akan menghasilkan benih yang sehat dengan akar yang banyak. (Litbang Pertanian. 2009)

  • Mutu benih padi inbrida dapat diuji dengan teknik pengapungan, dengan menggunakan larutan garam 2-3 % atau larutan pupuk ZA 20-30 g/liter air. Benih yang tenggelam adalah dipakai dan benih yang terpung dibuang
  • Mutu benih hibrida diuji dengan uji daya kecambah.

Keuntungan menggunakan benih bermutu: (1) benih tumbuh cepat dan serempak (2) Jika disemaikan akan menghasilkan bibit yang tegar dan sehat (3) Pada saat tanam pindah, bibit tumbuh cepat (4) Jumlah tanaman optimun, sehingga akan memberikan hasil yang tinggi. (BBP2TP. 2008)

Pengelolaan Hara P dan K berdasarkan PUTS

Pemberian pupuk berimbang yakni pemberian pupuk yang disesuaikan dengan kebutuhan hara tanaman dan ketersediaan hara di dalam tanah. (BB2TP.2009). Pemupukan P dan K disesuaikan dengan hasil analisis status hara tanah sawah dapat ditentukan langsung dilapangan dengan alat PUTS (Perangkat Uji Tanah Sawah). Prinsip kerja PUTS adalah mengukur hara P dan K yang terdapat dalam bentuk tersedia, secara semi kuantitatif dengan metode kolorimetri (pewarna). Pengukuran status P dan K tanah dikelompokkan menjadi 3 katagori yaitu rendah (R), sedang (S) dan tinggi (T). (Litbang Pertanian. 2009). PUTS atau perangkat uji tanah sawah adalah suatu alat yang terdiri dari cairan pengekstrak dan peralatan pendukung untuk analissis kadar hara tanah sawah, yang dapat digunakan di lapangan dengan cepat, mudah, murah dan akurat. PUTS ini dirancang untuk mengukur kadar N,P, k dan pH tanah. Penentuan kebutuhan hara N tanaman dibantu dengan Bagan Warna Daun (BWD) yang disertai petunjuk cara penggunaannnya (Balai Penelitian Tanah.2012)

Kegunaan alat ini untuk mengetahui dan menentukan status hara sawah dilapangan sehingga menghasilkan rekomendasi pupuk yang ditetapkan sesuai kebutuhan tanaman spesifik lokasi.

Pemberian Bahan Organik

Bahan organik berupa sisa tanam, jerami, kotoran hewan, pupuk hijau dan kompos (humus) merupakan unsur utama pupuk organik yang dapat berbentuk padat atau cair. Bahan organik bermanfaat untuk memperbaiki kesuburan fisik kimia, dan biologis tanah. Oleh karena itu jerami perlu dikembalikan kelahan sawah dengan cara dibenam atau diolah menjadi kompos atau dijadikan pakan ternak yang kotorannya diproses menjadi pupuk kandang.

Menurut hasil penelitian Pada tanaman padi sebagian hara K dari pupuk dapat digantikan oleh jerami padi yang dikembalikan sebagai pupuk organik. Kadar K dalam jerami umumnya sekitar 1% sehingga dalam 5 ton jerami terdapat 50 kg setara K dengan pemupukan 50 kg KCL/ha, selain mengandung unsur K, jerami juga mengandung unsur hara lain seperti N,P, Ca, Mg dan unsur hara mikro, hormon pengatur tumbuh serta asam-asam organik yang sangat berguna bagi tanaman. Penambahan jerami dan bahan organik lain dapat memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah yang secara tidak langsung dapat meningkatkan dan mengefesiensikan unsur hara bagi tanaman. (Balai Penelitian Tanah. 2012). Persyaratan teknis pupuk organik mengacu kepada Permentan No 02/2006, kecuali diproduksi untuk keperluan sendiri. Takaran pupuk organik dan pupuk an-organik mengacu pada Permentan No.40/2007 tentang pemupukan spesifik lokasi. (Litbang Pertanian. 2009).

Pengendalian Gulma Terpadu

Pengendalian  gulma dapat dilakukan dengan cara : (1) Pengolahan tanah secara sempurna : mengatur air dipetakan sawah, menggunakan benih padi bersertifikat, hanya menggunakan kompos sisa tanaman dan kompos pupuk kandang, menggunakan herbisida apabila intensitas gulma sudah tinggi.  (2) Pengendalian gulma secara manual dengan menggunakan gasrok atau landak, karena ini sinergi dengan pengelolaan lainnya. (3) Pengendalian gulma secara manual hanya efektif dilakukan apabila kondisi air di petakan sawah mancak-mancak atau tanah jenuh air (BB2TP. 2008). .

Kseimpulannay PTT akan berhasil jika kita tetap memperhatikan prinsip kerja dalam penerapan dilapangan yakni:

  1. Terpadu : PTT merupakan suatu pendekatan agar sumberdaya tanaman, tanah dan air dapat dikelola dengan sebaik-baiknya secara terpadu,
  2. Sinergitas : PTT memanfaatkan teknologi pertanian terbaik, dengan memperhatikan keterkaitan yang saling mendukung antar komponen teknologi,
  3. Spesifik lokasi : Memperhatikan kesesuain teknologi dengan lingkungan fisik maupun sosial budaya ekonomi petani setempat.

 

Penyusun : Marwayanti Nas (BPTP Sulbar)

Sumber: Balitbangtan

PENGUNJUNG

59655

HARI INI

73870

KEMARIN

50765287

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook