Diseminasi Teknologi

MENGENAL HAMA PENYAKIT UTAMA TANAMAN PISANG DAN PENGENDALIANNYA

Selasa, 18 Mei 2021
Sumber Gambar : Koleksi pribadi Fauziah YA

Pisang (Musa sp.) adalah salah satu komoditas buah unggulan Indonesia. Luas panen dan produksinya selalu menempati posisi pertama. Pada tahun 2015 produksinya mencapai 4.864.384 ton dengan nilai ekonomi lebih kurang Rp. 7,5 triliun (BPS, 2016). Potensi pasar baik domestik maupun mancanegara masih cukup besar, baik dalam bentuk segar maupun olahan (Saptana dkk., 2005). Ttrend ekspor buah ini meningkat sedangkan impor menurun dengan negara tujuan ekspor yaitu, Uni Emirat Arab, Tiongkok, Kuwait, Malaysia, Arab Saudi dan Singapura, rata-rata persentase ekspor terhadap produksi pisang dalam kurun waktu 5 tahun mencapai 0.17% (Dirjen Hortikultura, 2017).

Pemenuhan ekspor pisang masih terkendala baik dari segi kuantitas maupun kualiltas pisang yang memenuhi kriteria mutu untuk ekspor dan sebagian sisir buah yang tidak masuk kriteria mutu ekspor masih bisa dijual di pasar lokal desa/kecamatan dengan harga yang rendah. Permasalahan tersebut terutama disebabkan oleh serangan hama dan penyakit.

 

PENTINGNYA PENGENALAN GEJALA HAMA DAN PENYAKIT UTAMA TANAMAN

Hama dan penyakit pada satu jenis tanaman tidak hanya satu dan masing-masing memiliki gejala yang memiliki perbedaan. Pengenalan hama dan penyakit tanaman dapat menjadi dasar perlindungan tanaman Mengidentifikasi hama dan penyakit sangat diperlukan untuk mengetahui cara penanggulangan yang tepat agar kerusakan tanaman dapat diminimalisir.

 

HAMA UTAMA TANAMAN PISANG: GEJALA DAN TEKNIK PENGENDALIANNYA

1. Ulat penggulung daun (Erionata thrax L.)

Larva yang baru menetas memakan daun pisang dengan membuat gulungan daun. Seluruh siklus hidupnya terjadi di dalam gulungan daun. kerusakan parah akan berakibat terganggunya proses fotosintesis.

Cara pengendalian: Pemangkasan daun yang terserang kemudian dibakar. Penyemprotan insektisida berbahan aktif Kuinalfos dan Triklorfon. Insektisida yang bersifat sistemik akan lebih efektif mengingat ulat daun ini tersembunyi dalam gulungan daun.

2. Penggerek bonggol (Cosmopolites sordidus Germar)

Larva membuat terowongan pada bonggol pisang. Kerusakan berakibat pada lemahnya pertahanan tanaman terhadap penyakit dan terganggunya transportasiunsur hara. Gejala luar pada tanaman terlihat daun menguning dan ukuran tandan berkurang sehingga produksi menurun.

Cara pengendalian: Sanitasi lingkungan, menangkap kumbang dewasa dengan perangkap yang terbuat dari bonggol pisang, menggunakan musuh alami dan insektisida berbahan aktif karbofuran, monokrotofos.

3. Penggerek batang (Odoiporus longicolis (Oliv)

Kerusakan akibat hama ini ditandai dengan adanya lubang di sepanjang batang semu.

Cara pengendalian: Sanitasi kebun, menggunakan musuh alami Plaesius javanicus dan penggunaan insektisida berbahan aktif Carbofuran.

4. Thrips (Chaetanaphotrips signipennis)

Hama ini menyerang bunga dan buah muda, gejala serangan adalah adanya bintik-bintik dan goresan pada kulit buah yang telah tua. Akibat serangan berpengaruh pada mutu buah

Cara pengendalian:  Pembungkusan tandan buah saat bunga akan mekar dan penyaputan tangkai tandan dengan insektisida berbahan aktif monocrotophos.

5. Burik pada buah (Nacolea octasema)

Serangan menyebabkan perkembangan buah menjadi terhambat, menimbulkan kudis pada buah sehingga menurunkan kualitas buah. Hama ini meletakkan telurnya diantara pelepah bunga segera setelah bunga muncul dari tanaman pisang. Hama langsung menggerek pelepah bunga dan bakal buah, terutama saat buah masih dilindungi oleh pelepah buah.

Cara pengendalian:  Pembungkusan tandan buah saat bunga akan mekar.

 

PENYAKIT UTAMA TANAMAN PISANG: GEJALA DAN TEKNIK PENGENDALIANNYA

1. Layu Bakteri dan Layu Fusarium

Penyakit layu bakteri atau penyakit darah disebabkan oleh bakteri (Pseudomonas solanacearum) dan penyakit layu Fusarium atau penyakit Panama disebabkan oleh cendawan (Fusarium oxysporum sp. Cubense). Kedua penyakit ini sukar dikendalikan, mudah berpindah dan mampu bertahan di dalam tanah dalam jangka waktu yang cukup lama.

Gejala serangan kedua penyakit dapat dibedakan sebagai berikut

Daun:

  • Layu bakteri: warna daun kuning pucat dan total pada daun nomor 2 dan 3 dari pangkal daun terus ke bagian pinggir dan berlanjut ke semua daun; pohon induk umumnya terlihat sehat, anakan dengan segera memperlihatkan gejala serangan kerdil, layu, daun kuning ketika anakan berumur 2-3 bulan.
  • Layu fusarium: warna daun tua kuning kehijauan dimulai dari pinggir daun berlanjut kedaun yang lebih muda dan yang terakhir adalah daun yang baru membuka; batang semu pecah membujur beberapa cm di atas tanah (dapat juga terjadi pada tanaman muda atau anakan). Anakan kerdil, daun menyempit, batang semu pecah dan mengembang ke atas (mirip serangan kerdil pisang).

 

Batang Semu:

  • Layu bakteri: pohon induk umumnya terlihat sehat, anakan dengan segera memperlihatkan gejala serangan kerdil, layu, daun kuning ketika anakan berumur 2-3 bulan. Bila dipotong, bagian dalam (empulur) terlihat membusuk, berwarna coklat kemerahan.
  • Layu fusarium: batang semu pecah membujur beberapa cm di atas tanah (dapat juga terjadi pada tanaman muda atau anakan). Anakan kerdil, daun menyempit, batang semu pecah dan mengembang ke atas (mirip serangan kerdil pisang). Bila dipotong, ditemukan jaringan/benang berupa garis berwarna hitam/ungu/coklat/ kekuningan. Empulur biasanya tidak membusuk/hitam.

 

Bonggol:

  • Layu bakteri: Bila dipotong akan mengeluarkan cairan berwarna coklat kemerahan.
  • Layu fusarium: Bila dipotong, bagian tengah berwarna hitam, coklat atau ungu.

 

Buah:

  • Layu bakteri: Pada tanaman induk yang baru terserang, penampilan buah normal, tapi bila dipotong buah busuk dengan warna coklat kehitaman. Pada tanaman terserang sejak awal, buah tidak terbentuk sempurna dan kering.
  • Layu fusarium: Umumnya tidak sampai panen. Bila panen ukurannya menjadi kecil, layu dan matang sebelum waktunya.

 

Tampilan jantung

  • Layu bakteri: Jantung mengering, kelopak sukar lepas, bergelantungan di sekitar jantung. Bila dipotong, mengeluarkan cairan berupa susu. Bila potongan jantung ini dimasukkan ke dalam air, akan terbentuk materi berupa benang-benang.
  • Layu fusarium: Awalnya normal, kemudian tumbuh kerdil dan layu. Bila dipotong tidak memperlihatkan perbedaan dengan jantung pisang sehat.

 

Cara Pengendalian:

penyakit layu Fusarium/Panama

  • Penggunaan bibit bebas penyakit.
  • Sanitasi lahan.
  • Deteksi/pengamatan cepat keberadaan fusarium.
  • Pemakaian agensia hayati.
  • Karantina wilayah atau karantina lokal.
  • Eradikasi/pemusnahan.
  • Sterilisasi alat.

 

penyakit layu bakteri/darah

  • Penggunaan bibit sehat.
  • Sanitasi lahan.
  • Membuat drainase di kebun
  • Pengendalian serangga penular.
  • Pemakain jenis pisang tahan.
  • Pembungkusan.
  • Karantina wilayah atau karantina lokal.
  • Sterilisasi alat.

 

2. Bercak daun Sigatoka

Disebabkan oleh cendawan Mycosphaerella musicola. Penyakit ini menyebabkan permukaan daun menjadi rusak dan mati sehingga menggangu proses fotosintesa (pemasakan makanan di daun), akibat akhirnya adalah produksi (kualitas dan kuantitas) menjadi menurun, buah masak sebelum waktunya, bahkan pada serangan berat mengakibatkan kematian tanaman.

Gejala awal penyakit terlihat pada daun ketiga atau daun keempat, sedangkan pada daun muda yang baru membuka gejala penyakit tidak ditemukan. Gejala berupa bercak kecil berwarna kuning  pucat. Bercak atau garis-garis ini makin lama makin membesar  dan memanjang sehingga membentuk bercak bulat telur dengan pusat mengering berwarna abu-abu. Pada tanaman muda biasanya ukuran bercak lebih lebar dibanding pisang yang sudah tua.

Kekuatan dan perkembangan penyakit dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain jenis pisang, umur tanaman,  faktor iklim dan lain-lain. Jenis pisang komersial yang mudah terserang antara lain: kelompok Ambon (Cavendish dan Gross Michell), Mas, Barangan dan Raja sere. Kondisi lingkungan yang baik untuk perkembangan penyakit yaitu pada musim hujan.   

Pengendalian:

  • Jarak tanam jangan terlalu rapat untuk mengurangi kelembaban.
  • Pemangkasan daun tua yang terserang
  • Sanitasi kebun: Membuang/membakar serasah daun-daun yang terserang
  • Penyemprotan fungisida sistemik berbahan aktif Benzimidazoledan Dithiocarbamate.

 

3. Kerdil pisang (Banana Bunchy Top Virus/BBTV)

Penyakit kerdil pisang adalah penyakit virus yang paling berbahaya pada tanaman pisang.  Gejala awal dari penyakit ini sulit terdeteksi. Serangan lanjut terlihat dengan gejala kerdil, pemendekan ruas daun dengan daun-daun yang menyempit dan tegak, tepi daun biasanya menggulung dengan warna kekuningan. Sering dijumpai garis-garis hijau gelap pada tulang daun dan tangkai daun dan selanjutnya meluas ke arah batang semu.  Gejala bercak hijau gelap sepanjang tulang daun akan kelihatan jelas pada permukaan bawah daun apabila dilihat ke arah cahaya.

Penyakit secara lokal ditularkan oleh kutu daun (Pentalonia negronervosa) yang tersebar pada tanaman sakit maupun pada tanaman sehat. Kutu ini biasanya tampak pada pangkal batang semu di permukaan tanah, diantara pelepah daun, juga pada anakan muda yang baru muncul di permukaan tanah. Pada kondisi lingkungan yang cocok, kutu daun juga ditemukan pada puncakbatang semu, berkelompok di sekitar leher daun dan pangkal tangkai daun. Embun madu yang dihasilkan kutu akan menarik semut untuk datang, sehingga kehadiran semut merupakan awal terdapatnya kutu daun. Penyebaran jarak jauh biasanya terjadi melalui perpindahan bibit.

Cara Pengendalian

  • Menanam bibit sehat
  • Sanitasi kebun
  • Pengendalian serangga penular dengan menggunakan insektisida sistemik
  • Eradikasi/pembongkaran rumpun yang sakit.

 

SANITASI LINGKUNGAN PADA TANAMAN PISANG

Pengendalian utama hama dan penyakit pada tanaman pisang adalah menjaga lingkungan tumbuh tetap bersih atau biasa disebut sanitasi. Sanitasi kebun bertujuan untuk menjaga lingkungan kebun tetap sehat, sehingga pertumbuhan tanaman dapat berlangsung dengan baik. Pemeliharaan dilakukan 45 hari sekali meliputi kegiatan pembersihan daun kering, penjarangan anakan dan pembuangan sisa tanaman bekas panen.

1. Pembuatan Parit Kelililing dan Rorak

Tujuan Pembuatan draenase adalah untuk mencegah penularan penyakit terutama penyakit tular tanah dari lingkungan sekitar kebun dan sanitasi kebun. Parit dibuat mengelilingi kebun dengan lebar dan 50-60 cm dan kedalaman 40-50 cm, sedangkan rorak/lubang bertujuan untuk mengumpulkan sisa-sisa tanaman dibuat sebanyak 10 buah/ha dengan ukuran 1 m3.

2. Pemangkasan

Pemangkasan daun yang kering bertujuan untuk pencegahan penularan penyakit, mencegah daun-daun yang tua menutupi anakan dan melindungi buah dari goresan daun. Pada saat pembungaan setidaknya ada 6-8 daun sehat agar berat buah maksimal. Setelah pemangkasan bunga jantan tidak dilakukan pemangkasan daun lagi. Daun bekas pangkasan dari tanaman sakit dikumpulkan dan kemudian dibakar selain itu sterilisasi alat pemangkas dengan desinfektan misalnya menggunakan bayclean atau alkohol.

3. Pengendalian gulma

Pengendalian gulma dilakukan pada saat tanaman berumur 1 sampai 5 bulan, terutama 3 bulan pertama harus dilakukan secara intensif. Setelah umur tanaman 5 bulan pengendalian dapat dukurangi. Pada saat ini pengendalian gulma dapat dilakukan dengan herbisida karena tanaman sudah cukup tinggi sehingga daun tanaman tidak terkena herbisida. Penyiangan dilakukan dengan selang waktu 2 – 3 bulan.

Pada daerah yang terserang penyakit layu Panama dan penyakit darah, penyiangan menggunakan herbisida.

4. Penjarangan anakan

Penjarangan anakan dilakukan dengan memelihara 1 tanaman induk (umur 9 bulan), 1 anakan (umur 7 bulan), dan 1 anakan muda (umur 3 bulan), dilakukan rutin setiap 6 – 8 minggu. Anakan yang dipilih atau disisakan adalah anakan yang terletak pada tempat yang terbuka dan berikiutnya yang terletak diseberangnya.

5. Perawatan tandan

Daun sekitar tandan terutama daun yang sudah kering wajib dibersihkan. Pembuangan buah pisang yang tidak sempurna (1 - 2 sisir terakhir dari tandan) juga perlu dilakukan diikuti dengan pemotongan bunga jantan agar buah pada tandan di atasnya dapat tumbuh dengan baik. Kemudian buah dibungkus/dikerodong dengan kantong plastik warna biru ukuran 1 x 45 cm. Hal ini dilakukan untuk melindungi buah dari kerusakan oleh serangga atau karena gesekan daun. Setelah dibungkus, pada tandan yang mempunyai masa pembuahan yang sama dapat diberi tanda (misal dengan tali rafia warna yang sama). Hal ini untuk menentukan waktu panen yang tepat sehingga umur dan ukuran buah seragam. Agar tanaman tidak roboh sebelum buah dipanen, maka dapat ditopang dengan bambu atau dengan mengikat pangkal tandan dengan kabel yang direntang diantara barisan tanaman pisang.

 

Sumber: dari berbagai sumber

Penyusun: Fauziah Yulia Adriyani (Penyuluh BPTP Lampung)

PENGUNJUNG

54631

HARI INI

73870

KEMARIN

50760263

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook