Diseminasi Teknologi

MANAJEMEN PERKAWINAN: KUNCI KEBERHASILAN KEBUNTINGAN SAPI

Jum'at, 30 Apr 2021
Sumber Gambar : Koleksi pribadi Fauziah YA

Secara nasional Provinsi Lampung adalah salah satu lokasi program percepatan swasembada daging sapi (P2SDS). Program ini bertumpu pada usaha pembibitan, dimana secara alami satu periode produksi sapi potong betina perlu waktu 1,5 tahun atau dua kali beranak dalam tiga tahun (Disnak Keswan Lampung 2008). Upaya meningkatkan populasi ternak tidak terlepas dari ketersediaan pakan dan mutu pakan, karena kekurangan pakan akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan ternak yang dapat berdampak pada gangguan reproduksi. Selain pakan, kurangnya pengetahuan peternak terhadap gejala birahi dapat mengakibatkan rendahnya keberhasilan perkawinan ternak baik alami maupun inseminasi buatan (IB). Beberapa hal harus diperhatikan dalam manajemen perkawinan, baik melalui kawin alam maupun Inseminasi Buatan (IB) sehingga dapat meningkatkan kebuntingan ternak.

DEWASA KELAMIN DAN PERKAWINAN YANG PERTAMA

Seperti halnya makhluk hidup lainnya, sapi memiliki siklus hidup yang dimulai dari pedet (anak sapi), sapi remaja (dara) dan sapi dewasa. Memasuki tahap dewasa, sapi dara akan mengalami dewasa kelamin. Pada fase ini, sapi dara telah siap dikawinkan. Apabila perkawinan pertama dilakukan sebelum sapi masuk dewasa kelamin maka perkawinan akan sia-sia karena sapi tidak akan bunting, sedangkan apabila perkawinan pertama dilakukan setelah melewati fase dewasa kelamin maka peternak akan mengalami kerugian waktu untuk mendapatkan tambahan populasi ternak.

Pada ternak sapi, perkembangan follicle yang berisikan sel telur menjadi masak dan siap di ovulasikan yang pertama. Umumnya masa puber terjadi sebelum pertumbuhan jasmaniah mencapai kesempurnaan. Beberapa literature menyebutkan bahwa sapi mencapai kedewasaan tubuh antara umur 10-12 bulan dan lainnya menyatakan pada usia 15-18 bulan.  Secara alami sapi dara pada umur itu dapat menghasilkan keturunan apabila dikawinkan pada waktu yang tepat. Sedangkan sapi pejantan baru boleh dipakai sebagai pemacek yang pertama kali setelah mencapai umur 18 bulan.

Setelah mencapai dewasa kelamin, sapi dara baru boleh dikawinkan. Dewasa kelamin ditunjukkan adanya tanda-tanda birahi.

PENGAMATAN MASA BIRAHI, SIKLUS BIRAHI

Pengamatan masa birahi. Untuk melakukan pengabirahi dan siklus birahi, peternak harus memiliki pengetahuan dan pengalaman di lapangan. Sapi dara yang telah mencapai umur dewasa kelamin, pada saat-saat tertentu akan mengalami birahi. Tanda-tanda birahi:

  1. Sapi tampak gelisah, sering mengeluarkan suara khas dan melenguh-lenguh.
  2. Mengibas-ngibaskan ekor, dan jika ekor itu dipegang akan diangkat keatas.
  3. Nafsu makan berkurang, jika sapi digembalakan serng berhenti merumput.
  4. Sering menaiki temannya atau membiarkan dinaiki kawannya.
  5. Dari vagina keluar cairan putih, bening, dan pekat.

Masa birahi sapi perah berlangsung selama rata-rata 17-18 jam. Sapi dara pada umumnya mengalami masa birahi lebih singkat daripada yang dewasa. Tanda-tanda birahi itulah yang dapat menolong peternak untuk melakukan pengaturan perkawinan yang tepat. Pada saatnya siklus birahi itu tiba, peternak harus dapat melakukan pengamatan dengan seksama, minimal sehari dua kali.

Siklus birahi. Bagi sapi yang sehat atau normal, masa birahi akan terulang kembali secara teratur dengan jarak waktu (interval) 21 hari sekali, dan sapi dara 20 hari atau bevariasi 17-26 hari. Terulangnya masa birahi secara periodik ini disebut siklus birahi. Pada saat terjadinya masa birahi ini, proses kematangan follicle dan ovulasi pun akan terulang kembali secara teratur.

 

PERKAWINAN YANG TEPAT PADA SAAT BIRAHI

Siklus birahi berdasarkan gejala yang terlihat dai luar tubuh. Siklus birahi terdiri dari 4 (empat) fase yaitu proestrus, estrus, metestrus dan diestrus. Proestrus (persiapan), pada fase ini terlihat perubahan tingkah laku dan perubahan alat kelamin luar. Selanjutnya adalah fase estrus dengan gejala gelisah, nafsu makan berkurang atau hilang sama sekali, menghampiri pejantan, tidak lari ketika pejantan menungganginya, vulva bengkak dan memerah serta keluarnya lendir yang bening. Selanjutnya adalah fase metestrus, pada fase ini gejala estrus masih ada tetapi ternak menolak untuk dikawinkan (Partodihardjo. 1980).

Perkawinan yang tepat bagi sapi dilakukan pada masa-masa subur. Masa subur yang dialami sapi perah berlangsung selama 15 jam. Masa subur ini mencapai 9 jam sesudah tanda birahi terlihat dan 6 jam sesudah birahi itu berakhir. Ovulasi terjadi 10-12 jam sesudah birahi berakhir. Pergeseran 3 jam kebelakang masih memberikan angka konsepsi (pembuahan) yang baik, akan tetapi lebih awal atau terlambat dari saat tersebut akan menghasilkan angka konsepsi yang rendah.

 

UMUR PERKAWINAN

Kedewasaan tubuh bagi sapi potong rata-rata dicapai pada umur 15-18 bulan, dan mereka tumbuh terus dengan baik sampai umur 4 -5 tahun. Batas tertinggi sapi induk dikawinkan umur 10-12 tahun.

Sapi jantan mulai dapat dipakai sebagai pemacek untuk mengawini betina yang pertama pada umur 18 bulan. Sebagai pemacek baru boleh melayani betina seminggu sekali.

Pada saat sapi jantan mencapai umur dua tahun, mereka baru dapat dipakai sebagai pemacek yang andal. Mereka dalam satu minggu sudah dapat melayani  dua sampai tiga ekor betina.

Sesudah pejantan mencapai umur 3-4 tahun dapat dipakai empat kali dalam seminggu. Tetapi pemakaian pejantan tersebut dalam melayani betina harus diatur, tidak boleh lebih dari dua minggu. Sesudah mereka diistirahatkan 10-14 hari baru boleh dipergunakan kembali. Kekuatan dan kepastian hasil perkawinan yang terbaik ialah pada pejantan umur 5-7 tahun. Sebab pertumbuhan pejantan mencapai puncaknya pada umur lima tahun.

 

KEBUNTINGAN

Peristiwa semenjak terjadinya pembuahan sampai masa kelahiran atau selama perkembangan janin sampai menjadi foetus di dalam uterus disebut kebuntingan. Tanda-tanda kebuntingan:

  1. Birahi berikutnya tidak muncul.
  2. Sapi menjadi lebih tenang tidak suka mendekat pada sapi jantan.
  3. Nafsu makan meningkat.
  4. Sering menjilat-jilat batu merah, genting atau tembok.
  5. Adanya kecenderungan kenaikan berat badan.
  6. Dalam pertengahan kebuntingan perut tampak besar, terutama disebelah kanan.

Pada bulan ke-5 atau ke-6, kebuntingan tersebut dapat dirasakan pada tangan kita yang dikepalkan dengan cara mendorong dinding perut sebelah kanan perlahan-lahan.

Bagi sapi dara yang baru pertama kali bunting, pada umur kebuntingan bulan ke-4 dan ke-5 terjadi perkembangan ambing yang mencolok.

Selama sapi itu bunting, bebannya meningkat karena uterus harus mampu menampung janin yang tumbuh, otot-otot harus kuat guna persiapan merejam pada saat melahirkan, dinding uterus harus dapat dimodifikasikan untuk menampung pembentukan placenta dan lain-lain.

 

PERKAWINAN SESUDAH MELAHIRKAN

Beberapa hari setelah melahirkan (60-90 hari sesudah melahirkan), sapi harus sudah dikawinkan kembali. Penundaan perkawinan kembali pada sapi perah yang terlalu lama akan berakibat jarak kelahiran (calving interval) berikutnya terlalu panjang. Sebaliknya, mengawinkan kembali sapi yang habis melahirkan terlalu awal (<50 hari) kurang bijaksana karena pada saat itu jaringan alat reproduksi yang rusak/robek akibat sapi itu melahirkan, kemungkinan belum pulih kembali.

Pelaksanaan perkawinan dan terjadinya kebuntingan mempunyai hubungan yang erat dengan jarak kelahiran. Antara jarak kelahiran pertama dan jarak kelahiran berikutnya harus diupayakan tidak lebih dari 1 tahun. Hal ini dapat diatur atau dijadwalkan dengan mempertimbangkan data-data teknis sebagai berikut :

  1. Lama birahi kira-kira 18 jam.
  2. Siklus birahi selalu terulang kembali pada setiap 21 hari sekali.
  3. Lama kebuntingan ± 9 bulan (280 hari)

Pengetahuan mengenai manajemen perkewinan ternak bermanfaat bagi peternak dalam menentukan waktu yang tepat untuk melakukan perkawinan baik secara alami maupun inseminasi buatan. Ketepatan waktu perkawinan memungkinkan sapi dapat bunting dan dengan pemberian pakan yang baik, produksi sapi akan meningkat.

 

Penyusun: Fauziah Yulia Adriyani (Penyuluh BPTP Lampung)

Sumber: dari berbagai sumber

 

PENGUNJUNG

57583

HARI INI

73870

KEMARIN

50763215

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook