Diseminasi Teknologi

JENIS HAMA KUTU-KUTUAN PADA TANAMAN JERUK SERTA PENGENDALIANNYA

Jum'at, 30 Apr 2021
Sumber Gambar : Koleksi pribadi Sugito, SP

Pendahuluan

Tanaman Jeruk yang saat ini banyak dikembangkan di Indonesia adalah jenis jeruk manis dan sitrun yang berasal dari Asia Timur (Cina) dan jeruk nipis, purut dan pamelo berasal dari Asia Tenggara. Tanaman jeruk dapat dikembangkan di daerah subur maapun kurang subur/suboptimal, seperti rawa, lahan kering dan sawah.

Untuk mendapatkan tanaman jeruk yang sehat, maka harus menggunakan bibit yang sehat dan bersertifikat. Hal ini karena akan berpengaruh terhadap ketahanan hama dan penyakit serta produktivitas. Hama utama pada tanaman jeruk banyak disebabkan oleh jeni kutu-kutuan, yaitu :

 

  1. Kutu Loncat (Diaphorina citri Kuw)

 

Kutu loncat merupakan serangga penular atau vector penyakit CVPD. Jika di kebun jeruk tidak ada pohon yang terinfeksi penyakit CVPD karena ditanami dengan  bibit jeruk bebas penyakit, maka kehadiran serangga penular ini hanya merupakan hama biasa yang merusak tunas muda.

Gejala serangan pada kuncup, tunas, daun muda, dan tangkai daun yaitu menyebabkan tunas-tunas muda keriting dan pertumbuhannya terhamba Periode kritis populasi D. citri khususnya saat pertunasan. Ambang kendali 1 ekor kalau ada tanaman sakit. Pengendalian: penyemprotan insektisida b.a.Dimethoate, Alfametrin, Profenofos, Sipermetrin (2 cc/l).

 

  1. Kutu Daun Coklat (T. citricidus) dan Kutu Daun Hitam (T. aurantii)

 

Kutu daun coklat dan hitam, pembawa virus CTV (Citrustristesa Virus).

  • Kutu daun ini menghisap cairan tanaman sehingga helaian daun muda menggulung. Kutu menghasilkan embun madu pada permukaan daun sehingga merangsang jamur tumbuh (embun jelaga). Kutu juga mengeluarkan toksin sehingga timbul gejala kerdil, deformasi, dan terbentuk puru pada helaian daun.
  • Fase kritis pada tunas muda.
  • Ambang pengendalian: 20 ekor/tunas.
  • Pengendalian (Dimethoate, Alfametrin, Profenofos, Sipermetrin 2 cc/l). Apabila serangan parah dapat dikendalikan dengan imidaklopirid yang diaplikasikan melalui saputan batang.

  1. THRIPS (Schirtotrhips citri)
  • Gejala: mengakibatkan helai daun muda menebal, kedua sisi daun agak menggulung ke atas dan pertumbuhannya tidak normal. Serangan pada buah meninggalkan bekas luka berwarna coklat keabuabuan yang disertai garis nekrotis di sekeliling luka, tampak di permukaan kulit buah di sekeliling tangkai atau melingkar pada sekeliling kulit buah.
  • Fase kritis pada tunas muda dan bunga 5-10% terserang.
  • Ambang pengendalian: 5-10 ekor/kelopak bunga.
  • Pengendalian (Alfametrin/Abamektin 2 ml/l). Menjaga agar lingkungan tajuk tanaman tidak terlalu rapat sehingga sinar matahari bisa menerobos sampai ke bagian dalam tajuk. Hindari penggunaan mulsa jerami yang dapat digunakan untuk tempat bertelur.

 

  1. Kutu Sisik atau Kutu Prisai ( Lepidosaphes beckii, Aonidiela aurantii)

 

  • Gejala: daun yang terserang akan berwarna kuning, terdapat bercak-bercak klorotis, dan seringkali membuat daun menjadi gugur. Jika serangan terjadi di sekeliling batang, akan menyebabkan buah gugur. Kutu sisik ini menyebabkan tanaman menjadi meranggas dan kering bahkan menyebabkan kematian ranting dan tanaman.
  • Fase kritis pada batang dan buah.
  • Ambang pengendalian 5 ekor/10 cm cabang.
  • Pengendalian kimia dengan organophosphates, carbamat, imidakloprid 2 cc/l. Pengendalian mekanis dengan pemangkasan, penyemprotan air bertekanan tinggi, dan penggunaan cairan deterjen.


Penulis : sugito, SP

Sumber Bacaan: Otto Endarto dan Andri Martini, 2016, Pedoman Budidaya Jeruk Sehat, Balitjestro

Bekerjasama dengan Agfor Sulawesi.

 

 

 

PENGUNJUNG

60208

HARI INI

73870

KEMARIN

50765840

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook