Diseminasi Teknologi

PENGENDALIAN PENYAKIT HAWAR BAKTERI UBI KAYU

Rabu, 28 Apr 2021
Sumber Gambar : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, Badan Litbang Kementerian Pertanian

Ubi kayu merupakan komoditas tanaman pangan yang mendapat perhatian khusus, diharapkan menjadi salah satu pangan lokal yang dapat meningkatkan perekonomian nasional. Kendala yang dihadapi petani ubi kayu diantaranya penyakit-penyakit. Penyakit-penyakit yang menyerang ubi kayu pada masa pra panen disebabkan oleh jamur, bakteri, virus dan mikroplasma.

Penyakit hawar bakteri ubi kayu (cassava bacterial blight) yang disebabkan oleh Xanthomonas campestris pv. Manihotis merupakan penyakit bakteri terpenting pada ubi kayu.   Serangan hawar bakteri umumnya terjadi pada daun dan batang. Gejala awal berupa lesio berwarna abu-abu mirip bekas tersiram air panas. Kerusakan akibat infeksi hawar bakteri dapat dilihat pada jaringan muda dan dinding bagian luar dari pembuluh kayu. Infeksi bakteri hawar yang menyebabkan penyakit mati pucuk, mengakibatkan penurunan kuantitas dan kualitas bahan tanam (stek).   

Gejala penyakit hawar bakteri, antara lain (a) bercak daun menyudut, (b) bercak membesar saling bersatu, (c) serangan yang lebih berat daun menguning dan akhirnya rontok.  Penyakit hawar bakteri dan mati pucuk menurunkan hasil umbi rata-rata4,5% pada setiap kenaikan intensitas serangan penyakit 10%.   Selain penurunan berat umbi, infeksi penyakit hawar bakteri juga menurunkan kualitas umbi yang dihasilkan. 

Teknologi Pengendalian  penyakit hawar Bakteri, antara lain:

1. Menanam varietas ubi kayu yang tahan

Menanam varietas ubi kayu yang tahan merupakan cara pengendalian yang paling efektif untuk mengendalikan penyakit hawar bakteri.  Di Indonesia, klon-klon Adira II-OP-8c, Adira II-OP-21, Adira II-OP-30, Adira II-OP-31, W1435-OP-89, CM 1006-4, CM 1392-1 dan I-53 tahan terhadap infeksi bakteri tersebut. Hasil pengujian lapang di Lampung menunjukkan bahwa varietas Adira 4, Malang 4, Malang 6, dan Faroka bersifat agak tahan. Klon CMM 03069-6, CMM 03008-11, CMM 03005-12 dan CMM 03021-1 selain agak tahan juga potensi hasilnya tinggi.     

2. Menanam bibit tanam yang sehat, bebas infeksi bakteri CBB.

Cara ini sekaligus dimaksudkan untuk mencegah penyebaran penyakit dari satu daerah ke daerah lainnya, dan dari musim tanam ke musim tanam berikutnya. Pada saat ini telah dikembangkan metode serologi yang cukup sederhana, cepat namun akurat (spesifik) untuk mendeteksi adanya bakteri X. campestris pv. manihotis di dalam biji ubi kayu antara lain PCR, nested PCR dan Dot-blot hybridization.

3. Sanitasi lahan.

Sanitasi lahan dengan cara mencabut dan membakar tanaman yang sakit (roguing), memendam sisa tanaman, dan membiarkan tanah bero minimal selama tiga tahun dapat menghambat atau mencegah penyebaran penyakit di lapangan. Juga disarankan untuk membajak lebih dalam, dan membebaskan lahan tersebut dari gulma selama enam bulan.

4.Pengelolaan tanaman

Pengelolaan tanaman dengan cara pemangkasan, pengaturan waktu tanam, tumpang sari, rotasi tanaman, pengendalian gulma, pemupukan yang berimbang untuk memperbaiki nutrisi, dan pengendalian menggunakan agens biologi Pseudomonas fluorescens dan P. putida dapat menekan perkembangan penyakit CBB.

 

Penyusun : Ely Novrianty

 

Sumber :

Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian,  Kementerian Pertanian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGUNJUNG

49709

HARI INI

73870

KEMARIN

50755341

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook