Diseminasi Teknologi

Teknologi Budidaya Padi Khusus dan Biofortifikasi

Selasa, 27 Apr 2021
Sumber Gambar : Koleksi Sugito, SP

Pendahuluan 

Produk instan dari pangan dengan kandungan karbohidrat semakin banyak beredar saat ini di tengah masyarakat. Produk instan ini memberikan banyak kemudahan baik dalam proses maupun waktu pengolahannya yang relatif singkat, namun beberapa produk instan ini mengandung nilai gizi yang rendah dan juga dapat memberikan dampak yang buruk bagi tubuh dalam jangka panjang karena beberapa kandungan pengawet dan pewarna yang berbahaya bagi kesehatan. Oleh karena itu masyarakat yang sudah sadar akan hidup yang sehat tentu akan beralih kepada pangan dengan kandungan gizi yang tinggi dan tentu memberikan fungsi kesehatan.

Pada tahun 2018 Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian berkolaborasi dengan IRRI dan Harvest Plus telah melepas varietas padi  Inpari IR Nutri Zinc. Varietas ini telah teruji dapat memberikan fungsi kesehatan dengan kandungan gizi Zn yang tinggi serta dapat mengatasi kekurangan gizi zinc dan dapat mengatasi stunting. Kekurangan Zn dalam tubuh selain berakibat menurunnya daya tahan tubuh, produktifitas, dan kualitas hidup manusia, kekurangan gizi Zn juga menjadi salah satu faktor kekerdilan atau stunting. Stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Varietas padi Inpari IR Nutri Zinc juga mengandung biofortifikasi. Biofortifikasi merupakan proses menambahkan dan atau meningkatkan kualitas nutrisi dalam tanaman bahan pangan sebelum tanaman tersebut diolah atau dikonsumsi secara langsung. Biofortifikasi pada Inpari IR Nutri Zinc diharapkan dapat membantu peningkatan nilai gizi sekaligus mengatasi kekurangan gizi besi pada masyarakat. Varietas Inpari IR Nutri Zinc memiliki kadar amilosa 16,6 persen, selain kaya nutrisi, varietas ini juga memiliki produktivitas tinggi, tahan WBC, Blas, dan Tungro, serta rasa nasi enak dan pulen sehingga di rekomendasikan untuk dapat di budidayakan oleh petani.

 

Varietas

Yang dimaksudkan varietas khusus dan biofortifikasi untuk peningkatan kandungan nutrisi dalam naskah ini adalah varietas untuk peningkatan kandungan Zinc (Zn) pada beras, yaitu inpari IR Nutrizinc. Varietas ini mempunyai banyak kelebihan dibandingkan varietas lain dalam hal kandungan Zn. Berdasarkan data deskripsi yang dikeluarkan melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian tahun 2019, bahwa kandungan Zn pada varietas ini sebesar 34,51 ppm sementara varietas lain seperti Ciherang memiliki kandungan Zn 24.06 ppm.  Inpari IR Nutri Zinc memiliki karakteristik umur tanaman ± 115 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman ± 95 cm, tekstur nasi pulen, kadar amilosa 16,60 %, rata-rata hasil ± 6,21 t/ha dengan potensi hasil ± 9,98 t/ha.

 

Teknologi Budidaya

a. Penyiapan Lahan

Jenis lahan yang baik ditanam untuk budidaya padi Inpari IR Nutri Zinc adalah sawah irigasi dengan ketinggian tempat dataran rendah hingga dataran menengah 0-600 m dpl. Penyiapan lahan bisa dilakukan dengan olah tanah basah dimana lahan sawah digenangi setinggi 2-5 cm di atas permukaaan selama 2-3 hari sebelum tanah dibajak. Pembajakan tanah pertama sedalam 15-20 cm menggunakan traktor bajak singkal, kemudian tanah di inkubasi selama 3-4 hari. Satu minggu setelah pembajakan pertama dilakukan pembajakan tanah kedua untuk pelumpuran tanah dan pembenaman gulma.

b. Persemaian

Persemaian bisa dilakukan dengan dua teknik yaitu semai basah dan semai dapog. Semai basah dengan cara pertama, dibuatkan bedengan dengan tinggi 5-10 cm, lebar 110 cm dan panjang disesuaikan dengan ukuran petak dan kebutuhan. Luas lahan yang digunakan sekitar 400 m² per hektar tanaman. Benih diperam selama dua hari kemudian ditiriskan dan disebar merata di persemaian.  Kemudian benih yang telah mulai berkecambah ditaburkan di lahan bedengan yang telah disiapkan sebelumnya dengan kerapatan 25-50 g/m² atau 0,5-1 kg benih per 20 m² lahan. Pindah tanam dilakukan setelah bibit berumur 15-18 hari setelah semai dan maksimal 21 hari setelah semai.

Persemaian dengan sistem dapog yaitu dengan cara benih disebar pada kotak dapog berukuran 18 cm x 56 cm.  Media tanam yang digunakan terdiri atas campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 3:2. Sebelum benih disebar didapog terlebih dahulu dilakukan pemeraman benih selama dua hari kemudian ditiriskan. Selanjutnya benih disebar merata pada persemaian dapog dengan jumlah benih sekitar 100-125 gram/kotak. Bibit dapat dipindah tanamkan ke lapangan dengan menggunakan mesin tanam transplanter pada umur 14-17 hari setelah semai (HSS)  atau tanaman  sudah  tumbuh  dengan  tinggi 10-15 cm dan memiliki 2-3 helai daun. Kebutuhan bibit antara 200-230 dapog untuk setiap hektar lahan.

c. Penanaman

Penanaman secara manual dilakukan secara manual  inpari IR Nutrizinc dapat dilakukan secara manual atau menggunakan mesin tanam transplanter. Sistem tanam dapat menggunakan sistem tanam tegel 25 cm x 25 cm atau sistem tanam legowo 2:1. Penanaman secara manual dilakukan dengan bantuan caplak. Tanam dengan cara manual menggunakan bibit muda umur 15-18 hari setelah semai dengan ditanam 2-3 batang per rumpun. Untuk tanam menggunakan mesin, kondisi air pada saat tanam macak macak untuk menghindari selip roda dan memudahkan pelepasan bibit dari alat tanam.

d. Pemeliharaan

Penyulaman dilakukan bila ada tanaman yang mati, bibit yang digunakan adalah sisa bibit dari persemaian. Penyulaman dilakukan secepat mungkin pada 5-7 HST agar pertumbuhan tanaman tetap seragam. Pengairan dilakukan dengan mengelola manajemen air yang dimulai dari pembuatan saluran pemasukan dan pembuangan. Untuk mendukung pertumbuhan aktif tanaman maka tinggi muka air 3-5 cm harus dipertahankan mulai dari pertengahan  pembentukan anakan hingga satu minggu menjelang panen. Namun pada saat pemupukan maka kondisi air harus dalam keadaan macak-macak.

Kegiatan pengendalian gulma dapat dilakukan secara manual, gasrok, alat mesin maupun herbisida. Penyiangan gulma dengan bantuan alat bantu maupun secara manual dilakukan pada saat tanaman berumur 21 hari setelah tanam dan 42 hari setelah tanam. Penyiangan dengan menggunakan gasrok dilakukan bila gulma telah mempunyai 3-4 helai daun, kemudian digenangi selama 1 hari agar akar gulam mati. Aplikasi herbisida selektif dapat dilakukan untuk mengendalikan gulma jenis tertentu

e. Pemupukan

Pemupukan dilakukan sesuai dengan rekomendasi pemupukan spesifik lokasi. Untuk memperbaiki dan meningkatkan kesuburan lahan, dapat diaplikasikan pupuk kandang matang dengan dosis 2 t/ha yang diberikan pada saat pengolahan tanah kedua. Pada lahan dengan pH agak masam seperti di Bangka belitung dapat diaplikasikan amelioran berupa kapur dengan dosis 1-2 t/ha.

f. Pengendalian hama dan penyakit

Pengendalian Hama dan Penyakit dapat dilakukan dengan prinsip pengendalian hama dan penyakit secara terpadu. Komponen pengendalian diantaranya tanam serempak, pemantauan populasi hama atau serangan penyakit secara rutin sejak persemaian, penggunaan pupuk N sesuai anjuran, Sanitasi lingkungan, mempertahankan keberadaan musuh alami, dan penanaman refugia

g. Panen dan Pascapanen

Panen dilakukan saat tanaman matang fisiologis 90-95% bulir gabah telah menguning dan kadar air gabah 22-27 %. Panen dapat dilakukan menggunakan alat dan mesin panen. Untuk mengatasi keterbatasan tenaga kerja pemanenan dapat dilakukan menggunakan mesin combine harvester. Gabah panen dikemas dan diangkut untuk selanjutnya dilakukan pengeringan. Pengeringan dapat dilakukan dengan menjemur gabah di bawah sinar matahari langsung atau dengan mesin pengering. Penjemuran dihentikan setelah kadar air gabah mencapai 14% (Gabah Kering Giling/GKG). Gabah dikemas dalam karung atau kantung plastik yang berfungsi sebagai wadah. Selanjutnya gabah disimpan dengan teknik yang benar agar dapat memperpanjang umur simpan gabah serta mencegah kerusakan beras.

 

Penutup

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian mempunyai tugas melaksanakan pengkajian, perakitan, pengembangan dan diseminasi teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi. Salah satu bentuk tugasnya adalah penyebarluasan inovasi dan teknologi melalui berbagai media informasi agar dapat diketahui, lalu diadopsi dan dimanfaatkan oleh petani. Teknologi Budidaya Padi Khusus dan Biofortifikasi diharapkan dapat dibudidayakan petani untuk membantu mengatasi kekurangan gizi zinc dan mengatasi stunting pada utamanya gizi anak Indonesia.

 

 

 

PENGUNJUNG

56270

HARI INI

73870

KEMARIN

50761902

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook