Diseminasi Teknologi

Teknologi Budidaya Padi Organik

Selasa, 30 Mar 2021
Sumber Gambar : Koleksi Ria Maya

Ragam jenis olahan makanan dari tanaman saat ini sudah dipenuhi dengan bahan pengawet, pemutih dan sebagainya, proses budidayanya pun sudah melewati berbagai penambahan bahan kimia, yang tentunya semakin sering kita konsumsi dalam jangka waktu panjang tentu akan berakibat akan terganggunya kesehatan. Oleh karena itu konsumen yang sudah sadar akan hidup sehat tentu akan memilih dari jenis ragam pangan yang dikonsumsi berasal dari budidaya tanaman yang dikelola secara organik, salah satunya besar organik. Beras organik tentu saja dihasilkan dari budidaya padi secara organik. Budidaya padi organik adalah teknik budidaya padi yang berorientasi pada pemanfaatan bahan-bahan alami (lokal)  tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintesis.  Komponen budidaya padi organik dapat dibagi menjadi beberapa kegiatan utama yaitu varietas, benih, persemaian, penyiapan lahan, penyulaman , pengairan, penyiangan, pemupukan, pengendalian hama penyakit, panen dan pasca panen.

Varietas

 

         Varietas untuk padi organik merupakan varietas unggul baru atau varietas lokal yang tahan OPT utama, mempunyai nilai ekonomis yang tinggi seperti Sintanur, Inpari 23 Bantul, beras berpigmen seperti Inpari 24 Gabusan, Jeliteng, amelan dan Pamera, Baroma dan sebagainya. Varietas dan benih yang digunakan untuk padi organik adalah benih yang sebelumnya berasal dari benih organik juga.  

Benih

 

         Benih yang digunakan adalah benih bermutu/bersertifikat, benih memiliki berat jenis tinggi, daya kecambah dan vigor tinggi, mampu memberikan pertumbuhan cepat dan seragam. Benih murni, bernas, bersih, sehat dan masa dormansi benih telah terlewati. Perlakuan benih dengan cara merendam benih selama 12 jam lalu ditiriskan benih selama 12 jam dengan tujuan untuk mematahkan dormansi benih namun menghindari tumbuhnya calon akar.

Persemaian

 

         Lahan untuk persemaian haruslah aman dari gangguan binatang dan lahan mudah diairi. Persemaian dapat dilakukan dilahan sawah, lahan kering atau pekarangan yang dilapisi plastik atau menggunakan nampan. Media tumbuh persemaian berupa campuran tanah dengan kompos jerami atau pupuk kandang dan abu dengan perbandingan tanah : kompos : abu 7 : 2 : 1. Kebutuhan benih yaitu 40 kg per ha. Persemaian padi organik dilakukan dengan cara kering tidak digenangi dan dilakukan penyiraman setiap hari.  Saat benih mulai berkecambah dilakukan penambahan air kemudian persemaian dipantau setiap 23 hari sekali untuk memonitor serangan hama (wereng, penggerek batang dan hama lainnya). Apabila ditemukan ada hama yang menyerang persemaian maka bisa dikendalikan dengan menggunakan insektisida nabati-hayati. Pindah tanam dapat dilakukan pada saat bibit sudah berumur 15-18 hari setelah sebar atau tanaman sudah memiliki tinggi sekitar 25 cm, memiliki 5-6 helai daun, batang bawah besar dan keras, bebas dari hama penyakit, serta jenisnya seragam.

 

Penyiapan Lahan

 

         Pada pertanian organik penyiapan lahan organik juga harus diperhatikan, lingkungan disekitar lahan harus bebas dari pencemaran bahan kimia. Tahapan penyiapan lahan terlebih dahulu adalah membajak lahan dengan bajak singkal atau garu, kemudian menaburkan secara merata pupuk kompos atau pupuk kandang sebanyak 5-10 ton/ha. Pengolahan tanah dilakukan dengan olah tanam minimum atau bisa juga dengan menggunakan olah tanah kering. Pengolahan tanah ini tujuannya adalah agar tanah melumpur dengan baik, kedalaman lumpur minimal 20 cm, tanah bebas dari gulma, pengairan lancar, struktur tanah baik dan ketersediaan hara bagi tanaman meningkat.

Penyulaman

 

         Bila ada tanaman yang mati maka dilakukan penyulaman dengan menggunakan bibit yang diambil dari sisa bibit dipersemaian. Penyulaman harus dilakukan sedini mungkin agar pertumbuhan tanaman tetap seragam. 

Pengairan

 

         Pintu masuk air atau inlet dibuat pada pematang bagian depan dekat saluran  tesier dan pada ujung petakan sawah dibuat celah pintu atau outlet pembuangan kelebihan air. Tinggi celah pintu pembuangan 5 cm dari permukaan tanah/lumpur, atau dapat bervariasi tergantung fase pertumbuhan padi. Sepuluh hari pertama setelah tanam, dilakukan penggenangan sedalam 2-5 cm, selanjutnya dibuat macak-macak, seterusnya secara intermitten yaitu kondisi basah-kering dengan interval 7-10 hari selama fase vegetatif. Selanjutnya pada fase generatif, lahan digenangi lagi hingga ketinggian 2-5 cm diatas permukaan. Selanjutnya lahan dikeringkan pada 10-14 hari sebelum panen.

Penyiangan 

 

         Selama pertumbuhannya budidaya padi organik dilakukan penyiangan sebanyak 4 kali dengan selang waktu setiap 10 hari, setiap selesai penyiangan dilakukan penyemprotan suplement Pupuk Organik Cair (POC) atau Mikro Organisme Lokal (MOL). Penyiangan gulma secara manual dan mekanis menggunakan landak/gasrok atau hand rotary. Penyiangan dilakukan pada kondisi air macak-macak.

.

Pemupukan

 

         Pemupukan dengan menggunakan pupuk kompos atau bahan organik yang sudah lapuk diberikan pada saat pengolahan tanah atau menjelang tanam. MOL yang dibuat terbuat dari bahan-bahan alami yang disemprotkan secara periodik 10 hari sekali dimulai dari 10 hari setelah tanam dengan takaran 1-2 l MOL/14 L air. Pemberian MOL dimaksudkan untuk menambah nutrisi bagi tanaman. MOL dapat dibuat sendiri dari bahan limbah sayuran, buahan, keong mas, buah maja, bonggol pisang, nasi dan rebung bambu. Sebagai bahan campurannya ditambahkan air bekas cucian beras, gula/molase/air kelapa dan urin sapi/kelinci yang difermentasikan selama 10-15 hari. Sebagai sumber N bisa juga ditambahkan dengan pemberian Sesbania rostrata dan Azolla dan Blue Algae sebanyak 2 ton/ha. 

 

Pengendalian Hama dan Penyakit

 

         Aplikasi pestisida organik dalam budidaya padi organik sama pentingnya dengan penggunaan pestisida kimia. Pestisida organik merupakan pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan maupun hewan. Pestisida organik relatif mudah dibuat dengan penggunaan bahanbahan yang ada di sekitar kita. Pada padi organik tindakan pengendalian dan pencegahan terhadap hama dan penyakit dilakukan melalui pendayagunaan fungsi musuh alami dan pemantauan berkala. Pengendalian hama dimulai saat pengolahan tanah, persemaian hingga fase generatif tanaman, berdasarkan pada hasil pemantauan menggunakan pestisida nabati-hayati. Hama dan Penyakit dapat dikendalikan dengan menggunakan varietas tahan serta menanam secara serentak.     

 

Panen dan Pasca Panen

 

Panen dilakukan saat tanaman matang fisiologis 90-95% bulir gabah telah menguning dan kadar air gabah 22-27 %, panen dapat dilakukan dengan  sabit dirontok menggunakan threser atau combine harvester. Perontokan dilakukan sesegera mungkin setelah pemotongan, kemudian gabah kering panen dibersihkan dulu sebelum dilakukan pengeringan, Pengeringan dapat dilakukan secara manual dengan menjemur dibawah sinar matahari atau menggunakan mesin pengeringan sampai kadar air kurang atau sama dengan 14 %. Sebelum digiling atau dikemas gabah kering giling sebaiknya diistirahatkan selama satu malam.

 

Sumber  Tulisan      : - BB Padi. 2020. Rekomendasi Budidaya Padi pada Berbagai Agroekosistem. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Sukamandi.

                                - BPTP Jawa Barat. 2015. Petunjuk Teknis Budidaya Padi Organik. BPTP Jawa Barat Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Lembang.

PENGUNJUNG

57359

HARI INI

81057

KEMARIN

26264056

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook