Materi Lokalita
JAWA BARAT > KABUPATEN TASIKMALAYA > PANCATENGAH

Pentingnya Pupuk Boron Bagi Tanaman

Sabtu, 27 Feb 2021
Sumber Gambar : https://www.atpnutrition.ca/plant-nutrition/boron/

Peningkatan produksi tanaman dapat dilakukan dengan mengoptimalkan kegiatan budidaya tanaman dengan pemilihan nutrisi yang dipergunakan baik unsur makro maupun unsur mikro melalui pemupukan. Pemupukan adalah kegiatan pemberian pupuk ke tanah dan atau ke tanaman untuk memenuhi kebutuhan suatu unsur hara. Selama masa pertumbuhan, tanaman memerlukan nutrisi yang seimbang untuk menunjang kelangsungan hidupnya. Selain unsur hara makro, terdapat juga unsur hara mikro yang dapat menunjang pertumbuhan tanaman. Kebutuhan unsur hara mikro pada tanaman hanya sedikit, namun unsur mikro harus tersedia bagi tanaman. Penambahan unsur mikro dengan dosis yang tepat akan berpengaruh baik bagi tanaman tetapi akan bersifat toksik apabila ditambahkan secara berlebihan (Hanafiah, 2007). Salah satu unsur mikro yang dibutuhkan oleh tanaman adalah boron (B).

Meski Boron hanya merupakan salah satu unsur mikro yang diperlukan dengan jumlah yang sedikit namun keberadaannya harus tetap ada karena unsur ini memiliki fungsi tersendiri dalam pertumbuhan tanaman. Boron memiliki fungsi penting terhadap sintesis dan transport karbohidrat, pertumbuhan, dan perkembangan polen, serta aktivitas sel (Jones, 2005). Ketersediaan boron dalam tanah adalah sebesar 0,5 sampai dengan 2,0 ppm tetapi hanya 0,5 hingga 2,5% yang tersedia untuk tanaman (Kelling, 1999). Boron diserap tanaman dalam bentuk H3BO3 (Matoh, 1997). Seperti halnya nutrisi mikro lainnya, pupuk boron dapat diberikan melalui penyemprotan daun, fertigasi, perlakuan benih dan pemupukan tanah.

Pemberian boron pada konsentrasi yang tepat diharapkan dapat mengoptimalkan pertumbuhan tanaman dan perkecambahan serbuk sari sehingga proses penyerbukan akan menjadi lebih baik dan produksi tanaman yang dihasilkan juga baik. Pemberian boron melalui daun dapat langsung diserap oleh tanaman guna menunjang proses fisiologis.

Boron merupakan unsur mikro esensial dan kahat boron menyebabkan hambatan pertumbuhan tanaman. Kekurangan Boron dapat menyebabkan pertumbuhan pucuk-pucuk tanaman berhenti dan kemudian mati, daun muda berwarna hijau pucat dan jaringan pangkal daun rusak, serta terjadi kerusakan pada akar (Hanafiah, 2007). Huang et al. (1999) menyatakan bila tanaman kekurangan unsur boron dapat menyebabkan pembentukan dinding sel serbuk sari terganggu, terjadi penghambatan transportasi karbohidrat sehingga kadar gula dan pati menurun, dan kekurangan boron juga cenderung menurunkan viabilitas serbuk sari.

Boron dianggap mempengaruhi perkembangan sel dengan mengendalikan transpor gula dan pembentukan polisakarida (Gardner et al., 1991). Selain itu, Boron juga berperan dalam penggabungan dan struktur dinding sel, metabolisme asam nukleat, karbohidrat, protein, fenol, dan auksin. Di samping itu Boron juga berperan dalam pembelahan, pemanjangan, dan diferensiasi sel, permeabilitas membran, dan perkecambahan serbuk sari. Hal ini terkait dengan perannya dalam sintetis RNA yaitu bahan dasar pembentukan sel (Salisbury and Ross, 1995).

Kekurangan maupun kelebihan boron dapat menyebabkan pertumbuhan vegetatif tanaman terhambat karena unsur ini berfungsi sebagai aktivator maupun inaktivator hormon auksin dalam pembelahan dan pembesaran sel. Dengan terganggunya pertumbuhan sel berarti terganggunya pertumbuhan pucuk. Kebutuhan akan unsur boron tersebut harus terpenuhi, tetapi kebutuhan tersebut harus sesuai dengan kebutuhan varietas yang digunakan dan ketersediaan unsur boron dalam media tumbuhnya.

Menurut Mengel dan Kirby (2001), kelebihan boron dapat menjadi racun bagi tanaman, namun jumlah yang pasti untuk mencapai tingkat tersebut tergantung jenis tanah, tipe tanah, dan varietas tanaman yang ditanam. Selain itu, konsentrasi boron yang tinggi dapat mengakibatkan depresi fisiologis dan kerusakan pada protoplasma. Kerusakan protoplasma karena membran plasma yang rusak sehingga menyebabkan aktivitas H+-ATP-ase terhambat. Boron memengaruhi aktivitas H+-ATP-ase untuk menginisiasi perkecambahan dan pertumbuhan tabung serbuk sari.

 

Penulis : Ramdhana Karimah, S.P. (BPP Pancatenga Kab. Tasikmalaya)

  

Daftar Pustaka

Gardner, F. , R. Brent Pearce, R.L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya (terjemahan). UI Press, Jakarta.

 Hanafiah, K. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

 Huang, L. J. Pant. Bernie Dell, and Richard W. Bell. 1999. Effects of Boron Deficiency on Anther Development and Floret Fertility in Wheat (Triticum aestivum L. `Wilgoyne`). Annals of Botany. 85 : 493-500.

 Jones, J. B. 2005. Hidroponics: a practical guide for the soilles grower second edition. CRC Press. Boca Raton, London.

Kelling, K.A. 1999. Soil and Applied Boron. In Understanding Plant and Nutrition. <http://www.soils.wisc.edu/extension/pubs/A2522.pdf.>. Diakses pada tanggal 22 Februari 2021.

 Matoh, T. 1997. Boron in Plant Cell Walls. Plant and Soil. 193 (5) : 59-70.

 Mengel, K. and Kirby, E. A. 2001. Principles of Plant Nutrition Edition 5th.. Kluwer Academic Publisher.

 Salisbury, F. B. dan C. W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid I. Diterjemahkan oleh Diah R. Lukman dan Sumaryono dari buku Plant Physiology. ITB. Bandung, Bandung.

PENGUNJUNG

51246

HARI INI

55732

KEMARIN

40809711

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook