Materi Lokalita
KALIMANTAN UTARA > KABUPATEN BULUNGAN > TANJUNG SELOR

Potensi Teknologi Asap Cair

Selasa, 23 Feb 2021
Sumber Gambar : Fathussalam, M., 2019

Oleh : Agung Kurniawan, S.P.*)

Isu kesehatan dan lingkungan telah menjadi perdebatan panjang sejak terjadinya revolusi hijau, dimana tuntutan akan kebutuhan pangan masyarakat meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk. Dari perkembangan tersebut maka dibutuhkan teknologi yang mengedepankan penggunaan bahan-bahan kimia untuk menunjang pemenuhan kebutuhan makanan setiap individu yang ada di masyarakat. Namun akhir-akhir ini, melalui penelitian jangka panjang, terdapat efek samping residu penggunaan bahan kimia pada bahan pangan yang dikonsumsi oleh masyarakat.

Indonesia sebagai negara tropis, memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah dan memiliki berbagai dayaguna apabila diolah dengan tepat. Berbagai kegiatan penelitian telah dilakukan untuk mengkaji berbagai manfaat yang terkandung dalam bahan alam yang tersedia di negeri ini. Salah satu hasil dari kajian teknologi tepat guna adalah asap cair. Asap cair adalah cairan kondensat hasil pirolisis biomassa yang mengandung senyawa penyusun utama asam, fenol, dan karbonil (Budijanto dkk, 2008). Salah satu manfaat asap cair adalah sebagi pengawet makanan pada produk pangan segar dan pangan olahan.

Asap cair dibagi menjadi 3 grade dan memiliki manfaat yang berbeda di setiap gradenya. Asap cair Grade 3 bermanfaat pada pengolahan karet, penghilang bau, dan pengawet kayu agar tahan terhadap rayap. Cara penggunaan asap cair Grade 3 untuk pengawet kayu agar tahan rayap dan karet tidak bau adalah 1 ml asap cair Grade 3 dilarutkan dalam 300ml air, kemudian semprotkan atau rendam kayu kedalam larutan. Asap cair digunakan untuk pengawet makanan sebagai pengganti formalin dengan taste Asap (daging Asap, Ikan Asap/bandeng Asap) berwarna kecoklatan transparan, rasa asam sedang, aroma asap lemah. Cara penggunaan asap cair Grade 2 untuk pengawet pengganti formalin pada ikan adalah dengan mencelupkan ikan yang telah dibersihkan ke dalam 50% asap cair, tambahkan garam, biasanya ikan yang diawetkan pakai asap cair Grade 2 tahan selama 3 hari dan dapat mempertahankan kesegaran ikan (Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan Ambon. 2017). Asap cair Grade 1 digunakan sebagai pengawet makanan seperti bakso, mie, tahu, bumbu-bumbu barbaque, berwarna bening, rasa sedikit asam, aroma netral, merupakan asap cair yang paling bagus kualitasnya dan tidak mengandung senyawa yang berbahaya saat diaplikasikan untuk produk makanan.

Bahan baku yang banyak digunakan untuk membuat asap cair adalah kayu, bongkol kelapa sawit, ampas hasil penggergajian kayu, tempurung kelapa, jerami padi, dan beberapa limbah pertanian lainnya. Secara teori, asap cair merupakan hasil pendinginan dan pencairan asap dari tempurung kelapa yang dibakar dalam tabung tertutup. Pembuatan asap cair menggunakan metode pirolisis yaitu peruraian dengan bantuan panas tanpa adanya oksigen atau dengan jumlah oksigen yang terbatas. Biasanya terdapat tiga produk dalam proses pirolisis yakni: gas, pyrolisis oil, dan arang, yang mana proporsinya tergantung dari metode pirolisis, karakteristik biomassa dan parameter reaksi. Alat pirolisis seperti ditunjukkan pada gambar 1. Asap hasil pembakaran dikondensasi dengan kondensor yang berupa koil melingkar yang dipasang dalam bak pendingin. Air pendingin dapat berasal dari air hujan yang ditampung dalam bak penampungan, air sumur, air sungai maupun PDAM. Kondensasi adalah proses untuk mengubah suatu gas/uap menjadi cairan. Gas dapat berubah menjadi cairan dengan menurunkan temperaturnya melalui alat yang disebut kondensor. Kondensor berfungsi menurunkan temperatur gas dengan cara dilewatkan pada media pendingin air atau udara. Transfer panas terjadi dari gas panas ke media pendingin, dengan demikian proses kondensasi dapat disebut proses transfer panas atau pertukaran panas. Pada prinsipnya desain kondensor sama dengan desain heat exchanger. Bentuk dari kondensor ini sangat berpengaruh terhadap kapasitas hasil pirolisis. Bentuk yang optimal tentu mempunyai efisiensi yang tinggi. Efisiensi kondensor sangat tergantung pada luas permukaan pendinginan, debit air pendingin, dan perbedaan temperatur antara air pendingin dan gas/asap. Selama ini kondensor yang digunakan sangat sederhana yaitu berupa koil yang dicelupkan dalam air pendingin. Dengan mengganti koil ini menjadi bentuk shell and tube, diharapkan kapasitas hasil akan meningkat lebih baik. Dari Hasil Pyrolisis ini akan didapatkan asap cair Grade 3. Mesin pembuat asap cair dari tempurung kelapa menggunakan teknologi cyclone-redistillation  mampu menghasilkan volume total asap cair 100 Liter yang dapat diklasifikasikan untuk grade A, B dan C masing-masing 65 L, 10 L, dan 25 L. Selain itu, waktu proses pembuatan asap cair lebih singkat yaitu dari 120 jam menjadi 48 jam jika dibandingkan dengan metode konvensional (Fathussalam, dkk., 2019).

*) Penyuluh Pertanian Pertama pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Utara

 

Sumber

Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan Ambon. 2017. Pemanfaatan Asap Cair Berbahan Tempurung Kelapa untuk Pengawetan Ikan Segar. Diakses dari: http://bp3ambon-kkp.org/2017/04/20/pemanfaatan-asap-cair-berbahan-tempurung-kelapa-untuk-pengawetan-ikan-segar/ pada 22 Februari 2020.

Budijanto, S., Hasbullah R., Prabawati, S., Setyadjit, Sukarno, Zuraida, I. (2008). Identifikasi dan Uji Keamanan Asap Cair Tempurung Kelapa untuk Produk Pangan. J. Pascapanen, 5 (1), 32-40.

Fathussalam, M., Putranto, A. W., Argo, B. D., Harianti, A., Oktaviani A., Puspaningarum, F. P., Putri, S. L. O. 2019. Rancangbangun Mesin Produksi Asap Cair dari Tempurung Kelapa Berbasis Teknologi Cyclone-Redistillation. J. Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem Volume 7 Nomor 2.

PENGUNJUNG

20552

HARI INI

71776

KEMARIN

22543293

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook